Monday, December 31, 2012

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Best Book Covers

Tema kedua dalam Book Kaleidoscope adalah Best Book Cover. Secara jaman sekarang istilah don't judge a book by its cover udah ga berlaku lagi. Sebenernya gw bukan tipe yang terlalu memusingkan gambar sampul, selama ga mengganggu kenyamanan gw membaca di tempat umum (makanya kalo baca buku romance yang covernya pasangan yang terlalu hot gitu mending gw baca di iPod atau sampulnya, entah gemana caranya, ditutup-tutupin), tapi seneng juga liat gambar sampul buku sekarang yang makin kreatif dan menarik.  

So, here's my version of top five book covers. In no particular order.
 
Bunheads ini bener-bener kasus 'judge a book by its cover' Biasanya gw ribet cari-cari review dulu di Goodreads sebelum memutuskan untuk beli buku. Tapi gambar Corps de ballet (yang kalo diperhatiin dari dekat ternyata copy paste) dengan tutu putih langsung menarik perhatian gw.

Unearthly (Cynthia Hand)
Secara gw belum selesai baca bukunya, tebakan gw gadis yang ada di sampul buku ini adalah Clara, tokoh utama Unearthly. Gw ga tau sih Clara lagi ngapain pake gaun panjang di tengah hutan. Tapi gaunnya, gradasi warna ungu dan font yang digunakan bikin sampul buku ini terlihat anggun.

Sebenernya konsep sampulnya The Infernal Devices sama semua. Bangunan khas London sebagai latar (untuk Clockwork Prince ini gw ga tau bangunan apa yang jadi latar. Pastinya sih jembatan), stamp gambar transparan yang jadi terkesan seperti kabut, dan tokoh utamanya (Will di Clockwork Angel, Jem di Clockwork Prince dan Tessa di Clockwork Princess). Sebenernya gw pengen masukin Clockwork Princess di list ini, tapi bukunya baru terbit tahun depan. 

Gw suka Clockwork Prince karena stamp gambar mesin jam tidak terlalu mendominasi, sehingga latar belakangnya masih kelihatan. Dan wajah Jem yang keliatan jelas. Overall, gw suka kesan misterius pada gambar sampul ini. Imajinasi gw langsung terbang ke dunia para Shadowhunter di London pada Victorian era.


Walaupun super kecewa sama ceritanya dan Patch bisa diikutsertakan dalam nominasi Top-Five-Guys-Girls-Should-Never-Date, tapi gw mengakui kalau cover Hush, Hush ini cantik banget. Latar belakang awan abu-abu yang simpel kontras dengan sang Fallen Angels dan sayap-sayap hitamnya. Pilihan warnanya pun pas untuk menggambarkan tokoh Patch yang misterius.

Seperti yang udah gw mention di review bukunya, The Night Circus ini buku tercantik yang gw punya. Sampul depannya aja udah cantik. Bayangin kertanya glossy dan lengkung-lengkung di sekitar judulnya itu hologram. Tidak hanya sampai di situ, halaman-halaman di dalamnya pun dilengkapi garis-garis hitam putih dan taburan bintang. Cantik!

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Book Boyfriends


Jadi ceritanya postingan ini ditulis sebagai postingan pertama dari tiga postingan dalam rangka ikutan Book Kaleidoscope 2012 blog klasikfanda. Sebagai pembaca yang ngakunya gampang banget jatuh cinta sama tokoh dalam buku, event ini seru banget. Dan pastinya gw langsung tertarik pengen ikutan. Sayangnya gw baca postingan mbak Fanda udah telat, jadi postingan ini pun munculnya telat. But better late than never, they say.

Selama tahun 2012 ini sepertinya ga terlalu banyak buku yang gw baca. Secara gw baru kembali mulai maraton baca novel setelah dunia koas gw mendekati akhir dan gw punya lebih banyak waktu untuk fangirling baca novel. Tapi tetep aja, pilih Top Five Book Boyfriends ga mudah juga.

Untuk menghindari review gw yang udah panjang jadi semakin panjang, biasanya gw jarang membahas mendalam tentang tokoh-tokoh dalam buku. Kecuali tokohnya beneran stand out. Dan ternyata lima tokoh yang gw pilih di list ini udah gw bahas di review bukunya. So in this post I won't have to explain and convinced you as to why these guys are on this list.  Tadinya list ini mau dibikin in no particular order. But where's the fun in that? So, with no further ado, ini dia pria-pria fiktif yang berhasil bikin gw jatuh cinta.

 What? Jace Wayland who? That's right. Jace and his I-was-born-amazing attitude could step aside and make room for the nerdy Simon Lewis.

Seperti yang gw bilang di review gw tentang City of Bones, instead of falling for Jace, gw malah lebih suka sama Simon yang nerdy dan agak clumsy. He's loyal. Dia jatuh cinta sama Clary selama sepuluh tahun, bahkan setelah Clary cuekin dia dan swoon over Jace, Simon tetep ada buat Clary. Hastajim. Selama baca City of Bones, gw sibuk mengirimkan toyoran-toyoran mental buat Clary yang ga nyadar ada cowok sebaik Simon di deketnya, dan dicuekin gitu aja.

Yang ngikutin fandom The Mortal Instruments pasti udah denger kalau film City of Bones akan ditayaningin Agustus 2013. Waktu gw liat Robert Sheehan didandanin pake kacamata dan rambut ikal.... Argh! Gemes banget liatnya. Serasa Simon Lewis di buku lompat ke layar! GREAT CAST! Even more reason to love Simon!

4.  Augustus Waters (The Fault In Our Stars)
Think about rollercoaster; unlit cigarette; 17-year old guys with one leg. Did those words remind you of a specific guy?

Sepertinya Gus disebut-sebut di hampir semua postingan Top 5 Book Boyfriends. Rasanya ga mungkin bikin list ini tanpa Augustus yang berhasil membuat gw menghabiskan persediaan tissue di rumah setelah dua kali baca The Fault In Our Stars. Optimisme, selera humor bahkan gombalannya jadi daya tarik Augustus. Hell, I'm terrified of roller coaster but if Augustus is on the roller coaster that only goes up then count me in!

3. Étienne St Clair (Anna and the French Kiss)
Kalau Anna mendeskripsikan Étienne sebagai 'English French American Boy Masterpiece' terus gemana gw ga head over heels gitu? Étienne ini tipe-tipe boyfriend/bestfriend gitu. Despite his issue with his family, his height and his acrophobia, he's kind of cocky. But he's really fun to be with. He has a great sense of humor and he made me Anna laugh.

2. Jase Garret (My Life Next Door)
Ini dia pacar paling sempurna edisi 2012. Serba bisa, dewasa, pinter ngurusin anak kecil dan super baik hati. Samantha Reed beruntung banget punya pacar macam Jase. Sekarang tinggal nyari kopiannya Jase di dunia nyata. Cari dimana ya?

1. Will Herondale (The Infernal Devices)
Sebenernya, dari awal gw udah tau siapa yang jadi pemegang urutan pertama dalam list ini. Tinggal ngisi urutan dua sampai lima aja. Ini dia satu-satunya tokoh fiksi yang khusus gw buatin postingan sendiri di bawah label 'Character Crush' jadi gw ga perlu panjang lebar njelasin kenapa Will ada di urutan pertama.

Selain itu, gw punya alasan personal. Will Herondale (dan The Infernal Devices) menemani gw saat melewati masa-masa putus pacar yang ribet dan bikin jengkel. In a way,  gw bersimpati sama Will Herondale yang patah hati karena cintanya pada Tessa terpaksa mentok.

Buku ketiga The Infernal Devices, Clockwork Princess, bakal terbit Maret 2013 dan gw ga sabar baca Will versi bebas-kutukan-tapi-tetep-makan-hati-karena-Tessa-udah-tunangan-sama-Jem. Kira-kira seperti apa ya dia? Masih sinis dan sarkastik kah? Apa jadi perhatian sama penghuni lain di Institut? Apa dia udah bisa ketawa? Ah, penasaran!

Sunday, December 16, 2012

The Night Circus

The circus arrives without warning. No announcements precede it. It is simply there, when yesterday it was not.

Memasuki The Circus of Dreams, seperti namanya, seperti memasuki dunia mimpi penuh keajaiban. Di balik setiap tenda bergaris hitam putih menanti berbagai wahana unik yang tidak terlupakan. Tidak heran pengunjungnya selalu menanti-nantikan The Circus of Dreams yang kedatangannya tidak diduga-duga dan hanya buka setelah matahari terbenam. Namun tidak banyak yang tahu tentang kompetisi antara dua illusionis di balik The Circus of Dreams.

Sejak kecil, tanpa mengenal satu sama lain, Marco dan Celia dilatih untuk menjadi illusionis hebat dan terikat dalam kompetisi aneh yang mereka sendiri tidak tahu peraturannya. Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya Celia mengetahui bahwa Marco adalah kompetitornya. Masalah menjadi pelik saat Celia dan Marco saling jatuh cinta dan ingin melepaskan diri dari kompetisi yang mengikat mereka. Tapi satu-satunya cara mengakhiri kompetisi berarti mengakhiri kelangsungan The Circus of Dreams.

Walaupun gw jarang membahas bentuk fisik dari buku yang gw review, tapi khusus untuk buku The Night Circus ini, perlu banget dibuat pengecualian. Without a doubt, The Night Circus hardcover US edition adalah buku paling cantik yang pernah gw punyai. Bukan hanya sekedar menampilkan gambar tenda sirkus  di sampulnya, buku ini juga dihiasi dengan warna yang menjadi tema The Circus of Dreams yaitu hitam putih/perak, lengkap dengan hologram dan taburan bintang. Cetakan UK edition pun tidak kalah cantik dengan gambar siluet Marco dan Celia pada sampulnya. Tepian kertasnya yang berwarna hitam bikin gw naksir berat! Bukunya sungguh berhasil menampilkan keajaiban dari The Circus of Dreams.

Onto the content, honestly, I was in a love/hate relationship with this book. Dari awal, buku The Night Circus sudah terasa sarat dengan deskripsi dan minim dialog. Lebih dari sekedar minim dialog, dalam beberapa bagian, saat tokohnya berdialog pun ditulis dalam kalimat pasif. Erin Morgenstern sangat mencurahkan perhatian terhadap detail, sampai yang terkecil sekalipun, seperti warna tenda, wahana dalam sirkus, warna api dalam belanga di tengah-tengah sirkus, tempat para pemain akrobat berdiri. Bahkan ada satu bab sendiri khusus untuk menceritakan proses pembuatan dan detail jam yang dipajang di gerbang sirkus! Dari awal, love/hate relationship antara gw dengan buku ini sudah dimulai. Saat membaca, gw merasa bosan dengan deskripsi panjang lebar yang terlalu mendetail dalam buku ini. Tapi saat berhenti membaca, gw kembali terbayang-bayang keajaiban The Circus of Dreams dan kepingin lanjut baca. Begitu terus, macem lingkaran setan.

Terlepas dari penulisan sarat deskripsi yang super panjang, harus diakui kalau pengarangnya punya imajinasi yang luar biasa indahnya. Dan dengan suksesnya menginterpretasikan imajinasinya kepada para pembacanya. Di awal setiap bagian pun diselipkan kisah pendek yang ditulis dengan sudut pandang orang kedua, dimana kita, pembacanya, dilibatkan sebagai pengunjung sirkus. Yang membuat gw semakin takjub, setelah membaca sekian halaman, gw menyadari bahwa kosakata yang digunakan cukup sederhana. Setidaknya gw ga bolak-balik buka kamus waktu membaca buku ini. Ga nyangka pilihan kata yang begitu sederhana bisa menerjemahkan imajinasi pengarangnya dengan begitu rinci dan nyata.

Para penulis memang punya cara sendiri untuk menyihir pembacanya. Dalam buku ini, Erin Morgestern menggunakan sirkusnya untuk menyita perhatian gw. Setelah dibuat terpesona dengan proses awal pembuatan sirkus, dari konsepnya, proses mengumpulkan para pemainnya hingga berbagai atraksi di dalam lingkungan sirkus seperti labirin awan, taman es, pohon permohonan dan pembaca tarot, setengah buku sudah gw lalui saat gw nyadar... Kok cerita tentang Marco dan Celia serta kompetisi mereka ga maju-maju ya?!

Ringkasan cerita di sampul belakang buku ini yang menggunakan kata-kata yang cukup provokatif macam  'fierce competition' dan 'duel' sebaiknya tidak usah terlalu diambil hati. Tidak ada duel saling mengacungkan tongkat a la Harry dan Draco disini. Kata 'fierce' mungkin lebih mengacu pada kemampuan Marco dan Celia. Tetep aja, ga bisa disalahin juga sih kalau banyak yang protes gara-gara ringkasan bukunya.

However, selama baca buku ini, sejujurnya gw ga terlalu menikmati jalan ceritanya yang maha lambat. Kompetisi yang sepertinya jadi inti cerita terus jadi tanda tanya sampai hampir mendekati akhir buku. Bahkan sampai sejarah dari kompetisi aneh ini dibahas, tidak banyak yang diceritakan. Latar belakang kedua pelatih yang menciptakan kompetisi ini pun tidak diceritakan. Yang gw tangkap hanya: Ya pokoknya ada kompetisi dari jaman dulu kala, titik. Hubungan antara Marco dan Celia pun tidak kalah lambatnya. Buku ini diceritakan dengan alur bolak-balik dengan setting waktu dan tempat yang berpindah-pindah, ditandai oleh tanggal yang dicantumkan di setiap awal bab. Lambatnya plot antara Marco dan Celia bukan hanya terasa lambat karena sedikitnya interaksi mereka tapi memang lambat, dilihat dari tahun-tahun yang mereka lalui.
Prague, 1894. 
Marco: "I would very much like to speak with you, if you care to join me for a drink."
Celia: "Of course you would. Perhaps another time."

London, 1896.
Marco: "I was hoping I could trouble you for that drink we did not have in Prague"

London, 1899.
But before she can vocalize her surprise, his lip close over hers and she is lost in wordless bliss. Marco kisses her as though they are the only two people in the world.

Apa yang terjadi antara Marco dan Celia di antara tahun-tahun di atas? Jawabannya: tidak dibahas. Dengan plot yang begitu lambat di dua pertiga awal buku, seakan-akan mau mengejar ketertinggalan, plot baru dikejar habis-habisan di sepertiga akhir buku. Saat menuju akhir cerita, baru lah buku ini dipenuhi dengan dialog dan interaksi antar para tokohnya.

Pada akhirnya, sepertinya terlalu berlebihan kalau gw mengategorikan buku ini sebagai 'jelek'. Toh ada saat-saat dimana gw menikmati membaca buku ini dan terbawa dalam keajaiban The Circus of Dreams. Kontras dengan setting tempat yang begitu kuat, plot dan penokohan di buku ini sangat lemah. Gw tau banyak juga pembaca yang menikmati The Night Circus. Mungkin pada akhirnya, bagus atau tidaknya buku ini lebih ditentukan oleh selera pribadi. Sedangkan pendapat gw, sepertinya buku ini bukan buat gw.

Friday, December 14, 2012

Daughter of Smoke and Bone


Seumur hidupnya Karou, gadis berambut biru yang adalah mahasiswa seni di Praha, hanya mengenal mahluk-mahluk setengah manusia setengah hewan -chimaera- sebagai keluarganya, tanpa tahu asal-usul mereka. Karou bahkan tidak tahu asal-usul dirinya sendiri. Yang dia tahu, Brimstone, dengan dibantu para asistennya, Issa, Twiga, Yasri dan Kishmish, tinggal dalam sebuah toko dimana Brimstone dapat mengabulkan keinginan para pelanggannya dengan gigi sebagai bayarannya. Toko Brimstone memiliki dua pintu. Satu pintu yang menghubungkannya ke dunia, tempat Karou keluar masuk. Dan satu pintu misterius yang tidak pernah dibuka di hadapan Karou. Brimstone hanya memberitahunya bahwa pintu itu menuju ke Elsewhere.

Hingga suatu saat tanda berbentuk tangan berwarna hitam bermunculan di berbagai pintu, termasuk pada pintu menuju toko Brimstone. Dan umat manusia di penujuru dunia dikagetkan dengan kemunculan serafim yang meninggalkan tanda di pintu-pintu. Saat itu lah Karou bertemu dengan Akiva, serafim yang punya jawaban atas semua misteri dalam hidup Karou. Siapa Brimstone. Apa yang Brimstone lakukan dengan gigi yang diterima dari para pelanggannya. Apa yang ada di balik pintu misterius di toko Brimstone. Akiva bahkan punya jawaban atas misteri terbesar dalam hidup Karou, yaitu masa lalunya.

Daughter of Smoke and Bone adalah buku pertama dari trilogi berjudul sama karangan Laini Taylor. Sebenernya udah lama denger buku ini dipuji-puji oleh para penggemar fantasi. Tapi idenya yang mengangkat angel dan devil kok terdengar ga menarik buat gw. Secara, yang langsung kebayang di kepala adalah dua mahluk, yang satunya pake jubah putih dan halo di atas kepala, sementara mahluk satunya berwarna merah, bertanduk, bertaring, serta bawa trisula. Deskripsi umum ala kartun. Hehe. Seperti biasa, setelah kalah oleh rasa penasaran, apalagi dengan banyaknya review menjanjikan tentang buku ini, gw memutuskan untuk berkenalan dengan dunia Karou dan Akiva. Hanya dalam dua bab, Laini Taylor berhasil meyakinkan gw bahwa bukunya sangat worth to read!

Satu hal yang tidak mungkin terlewat untuk disinggung saat membicarakan tulisan Laini Taylor adalah bagaimana pengarangnya memilih diksi dan merangkainya menjadi barisan-barisan kalimat yang indah dari awal sampai akhir cerita. Pernah ga sih baca buku yang penulisannya kasual banget tapi ada satu dua kata asing yang diselipkan sehingga rangkaian kalimatnya terkesan agak dipaksakan, macam satu kata asing itu diolah di thesaurus dulu? (Yes, Richelle Mead and Huntley Fitzpatrick, I was talking about you!) Laini Taylor memang banyak menggunakan kosakata yang terdengar asing, setidaknya buat gw yang memang kosakata bahasa Inggrisnya terbatas, tapi gw sama sekali ga keberatan bolak-balik buka kamus karena pilihan kosakata Laini Taylor terasa pas dengan mood dan gaya penulisannya. Kalau sudah biasa baca buku bahasa Inggris atau, seperti gw, ga keberatan bolak-balik kamus saat baca buku, gw saranin baca buku ini dalam bahasa aslinya deh. Gaya penulisan Laini Taylor sayang banget untuk dilewatkan.

Bukan cuma gaya penulisannya yang membuat gw kagum, tapi juga dunia fantasi a la Laini Taylor pun memberi efek yang sama buat gw. Bukan hanya berhasil menggambarkan Praha dan Marrakesh, yang jadi setting buku ini. Tapi juga Eretz, dunia tempat tinggal para chimaera dan serafim. Gw paling suka kalau pengarang genre fantasi bener-bener niat menciptakan dunia khayalan sampai gw segitu terhanyutnya. Dan Laini Taylor dengan suksesnya bikin gw lupa sama dunia nyata. Selain Karou dan Akiva, tokoh-tokoh lain dalam buku ini pun lovable dan memorable. Baik tokoh protagonis maupun antagonis. Dan mood penulisan Laini Taylor disesuaikan dengan karakter para tokoh-tokohnya. Lebih santai dan penuh humor saat bercerita tentang Karou dan Zuzana, sahabatnya. Agak serius dan sedikit puitis saat menceritakan tentang Akiva. Dari segi ceritanya sendiri, seperti hal-nya buku pertama, lebih banyak perkenalan. Baik memperkenalkan tokoh-tokohnya, dunia yang jadi setting cerita, juga konflik-konfliknya. Tapi bisa dibilang buku ini lebih cenderung ke arah cerita romantis sih. Pas buat gw yang memang penggemar genre fantasi dan romantis, secara buku ini menawarkan keduanya.

Dengan komposisi yang pas antara jalan ceritanya yang bikin penasaran, karakter tokoh-tokohnya yang kuat dan setting yang magical, gw sangat menikmati membaca Daughter of Smoke and Bone. Highly recommended.

Thursday, November 29, 2012

The Statistical Probability of Love at First Sight

Walaupun enggan, Hadley Sullivan terpaksa menuruti permintaan kedua orangtuanya untuk pergi ke London dan menghadiri pernikahan ayahnya yang kedua kali. Di luar rencana, Hadley tiba terlambat di airport dan terpaksa mengambil penerbangan berikutnya. Saat itu lah dia bertemu Oliver, pemuda Inggris yang akhinya menemaninya dalam perjalanan.

Who would have guessed that four minutes could change everything?

Sebagai orang yang gampang banget naksir sama tokoh di buku, bisa dibilang penokohan penting buat gw. Saking gampangnya naksir sama tokoh fiksi, gw sempet berpikir bahwa menciptakan tokoh yang lovable itu mudah. Haha.. This book slapped me right in the face.

Penokohan dalam The Statistical Probability of Love at First Sight (Alamak! Panjangnya judulnya..) ini kurang banget. Bahkan setelah gw selesai baca buku ini, gw masih merasa tidak kenal dengan Hadley Sullivan, selain sebagai seorang gadis yang ketinggalan pesawat yang akan membawanya ke London untuk menghadiri pernikahan ayahnya. Dan punya claustrophobia. Sedangkan tokoh cowoknya, Oliver? Gw bahkan ga inget nama lengkapnya. Atau apakah nama lengkapnya pernah disebut di buku. Kurangnya character development bukan cuma bikin gw ga merasa kenal dengan tokoh-tokohnya, tapi juga bikin gw ga peduli dengan cerita mereka. Gw berkali-kali tergoda untuk berhenti baca saking bosennya, tapi sebisa mungkin gw selalu selesein buku yang gw baca.

Dengan begitu sedikit hal yang gw tau tentang Hadley, gw dicekokin curhat-curhat Hadley tentang bagaimana dia beradaptasi dengan kehidupannya setelah ayahnya meninggalkan dia dan ibunya, sementara ayah dan ibunya udah move on. Yang bukan cuma membuat gw melihat Hadley sebagai tokoh yang bitter dan agak drama queen, juga membuat gw makin bosen baca bukunya. Ini juga yang memberi kesan seolah-olah "chemistry" antara Hadley dan Oliver hanya sekedar efek samping karena mereka sedang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Satu-satunya tokoh yang mendapat sedikit simpati dari gw hanya Andrew Sullivan, ayah Hadley. Dari kisah-kisah flashback yang diceritakan oleh Hadley, kerasa banget gemana ayahnya sangat sayang sama Hadley. Tapi ini pun jadi terasa tidak masuk akal. Kok bisa ayah yang sangat sayang dan dekat sama anak perempuannya, bisa dalam sekejap begitu aja meninggalkan keluarganya demi wanita lain tanpa alasan jelas selain "I fell in love." Excuse me? What are you, a teenager? Pembaca tidak dikasih alasan untuk mengerti perbuatan ayah Hadley baik dengan memberi latar belakang cerita atau pun dengan membangun tokoh Charlotte, istri baru Andrew.

Dari awal baca, terasa ada yang kurang dengan cara penulisan Jennifer E. Smith. Sejujurnya, sampai saat ini pun gw ga tau apa yang bikin penulisannya terasa kurang, tapi kok dari awal gw ga merasa terlibat dalam cerita. Jalan ceritanya pun tidak ada yang istimewa. Dua orang asing bertemu di airport, ngobol dan saling cocok. Gitu thok. Tapi bukannya kita semua sering mengalami itu saat traveling sendiri? Terus apa yang bikin kisah Hadley dan Oliver beda, sampe mereka bisa jatuh cinta? Padahal judulnya cukup bikin penasaran. Gw penasaran bagaimana kira-kira Jennifer E. Smith bisa meyakinkan pembaca yang sinis logis seperti gw, bahwa cinta pandangan pertama bisa terjadi. Sayangnya, sampai akhir cerita, penulis gagal meyakinkan gw.

Buku ini sebenernya pendek dan bisa diselesaikan dalam waktu beberapa jam saja. Tapi saking bosennya, gw sampai butuh dua hari untuk menyelesaikan buku ini. Padahal kurang menjiwai gemana lagi? Demi menyesuaikan dengan setting, gw mulai baca buku ini di pesawat. Tapi tetep aja ga ngefek. You won't miss anything by not reading this book.


Wednesday, November 7, 2012

My Life Next Door

 
My Life Next Door adalah buku pertama karangan Huntley Fitzpatrick. Sebelumnya, sekali lagi gw ingatkan bahwa pemilik blog ini adalah penggemar berat genre romantis dan gampaaang sekali jatuh cinta sama tokoh fiksi. Jadi kalau penilaiannya rada-rada bias, harap maklum.
Sejak keluarga Garret pindah ke sebelah rumah Sam Reeds saat dia masih berusia tujuh tahun, ibunya sudah mewanti-wanti Sam dan kakaknya, Tracy, untuk tidak berurusan dengan keluarga dengan delapan anak dan rumah yang berantakan itu. Selama ini Sam hanya mengamati keluarga Garret dari jauh, sambil duduk di atap rumahnya.
Semuanya berubah ketika suatu musim panas, sepuluh tahun kemudian, Jase Garret menghampiri Sam di atap rumahnya. Maka dimulai lah hari-hari Sam sebagai bagian dari keluarga Garret, sambil berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Jase dari keluarganya, terutama ibunya.

Perkenalkan: Jase Garret. Cowok paling sempurna yang pernah gw temui di buku. Rasanya ga mungkin ngomongin buku ini tanpa ngomongin Jase, secara he is literally flawless. Sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara, Jase perhatian sama sodara-sodaranya, pinter ngurus adik-adiknya yang masih kecil (termasuk di dalamnya, bisa ganti popok), dekat dengan ayahnya seperti teman dan protektif terhadap ibunya. Itu baru urusan keluarga. Dalam urusan pacaran, Jase perhatian sama Sam, protektif, pengertian dan ga pernah nyakitin Sam. Sama sekali. Dari awal sampe akhir cerita.

Setelah semua sifat Jase didaftarin, sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk reality check. Tokoh Jase ini sempurna. Terlalu sempurna untuk jadi kenyataan, sehingga terkesan fictional banget. Tapi apa gw peduli? Sepertinya gw terlalu sibuk terkagum-kagum sama Jase untuk peduli. In my defense, tokoh Jase terasa nyata karena… well, dia gampang ditemuin secara dia tinggal di sebelah rumah! Okay, lame excuse. Alasan lain, karena Jase itu low profile dan ga ngerasa kalo dia sempurna (kebalikan dari tokoh fiksi bernama mirip dengan quote-nya yang terkenal: “I think I'm better than anyone else. An opinion that has been backed up with ample evidence”) Does anyone know where I can find me a Jase Garrett, pretty please?

Selanjutnya, kita punya Samantha Reeds. The Sailor Supergirl! A cool, calm and collected girl. Jago berenang, mengisi liburan musim panasnya menjadi lifeguard, tau banyak tentang astronomi dari hasil belajar sendiri dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan adik-adik Jase yang masih kecil, bahkan membantu adiknya yang masih remaja saat bersiap-siap kencan pertama. Gemana Jase gak naksir?

Pasangkan Jase dan Sam yang sama-sama dewasa untuk ukuran umur mereka dan, voilà, jadilah kisah romantis musim panas yang manis, menyenangkan dan bebas drama. Hubungan mereka terasa beda karena ga banyak konflik, ga pake tarik ulur atau pun berantem-beranteman. Masalah yang terjadi pun bukan antara Jase dengan Sam. Tapi antara mereka dengan orang di luar hubungan mereka. They made relationship looks so easy. I’m jealous! Kencan mereka di pantai, di mercusuar, di tepi sungai dan di atas atap rumah bikin suasana musim panas dalam buku ini berasa banget.

Awal-awal cerita lebih banyak bercerita tentang perkenalan Jase dan Sam dan awal hubungan mereka. Bukan cuma fokus dengan hubungan Sam dan Jase aja, tapi untuk lebih kenal dengan background karakter mereka, kita pun kenalan dengan keluaga Reeds dan Garrett dan masalahnya masing-masing. Saat hubungan Jase dan Sam udah settle, dan masih banyak halaman tersisa, gw mikir, walopun gw suka sama Sam dan Jase tapi kalo ceritanya gini-gini aja sampe akhir, ya bakalan bosen juga. Seakan bisa membaca pikiran gw, Fitzpatrick menambahkan konflik antara Jase, Sam dan keluarga mereka. Disini keliatan gemana Sam dan Jase sama-sama menghadapi masalah. Cerita pun kembali seru sampai ke halaman terakhir!

Dengan banyaknya tokoh dalam buku ini, sayangnya ada beberapa tokoh yang ga bisa banyak disorot. Mungkin karena mau memfokuskan konflik hanya antara Jase, Sam dan ibunya, terpaksa Tracy ‘diusir’ dari cerita. Padahal menurut gw insight-nya Tracy, yang adalah pemberontak dalam keluarga Reeds, bisa jadi menarik. Begitu juga Joel, kakak Jase yang paling tua, hanya muncul di saat-saat ga terlalu penting dan terlupakan begitu saja. Sebenernya ga penting juga ngebahas Joel lebih banyak. Tapi dengan absennya Joel dari cerita, jadi terkesan Jase-lah yang jadi anak pertama di keluarga Garrett dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, apalagi dengan pembawaan Jase yang dewasa.

Selain itu ada beberapa konflik yang terlewat untuk diselesaikan. Misalnya konflik antara Sam dan sahabatnya, Nan. Rencana masa depan Jase. Kelanjutan cerita Mr. Garrett. Gw bahkan berharap ada cerita tentang pasangan yang sepertinya tidak pernah dengar tentang program KB ini. Sayangnya, itu semua terlewat. Sejujurnya sih, call this another lame excuse, tapi gw segitu fokusnya sama cerita Jase dan Sam, gw ga nyadar ada konflik-konflik yang ga terselesaikan sampai gw menutup halaman terakhir.

Pada akhirnya, buku ini masuk dalam daftar favorit gw, berjejer manis bersama Anna and the French Kiss. Gw suka mood yang dihasilkan saat membaca buku ini. I can easily point out the book's flaws but I can just write those off as minors and doesn't change the fact that I like this book very much. Kalo suka genre YA contemporary romance, I think My Life Next Door deserves a spot in your bookshelf!


Wednesday, October 31, 2012

The Mark of Athena


Baru aja selesai baca, niatnya pengen langsung nulis review gitu. Ternyata gw butuh waktu untuk memperbaiki diri dari kondisi berikut.


The Mark of Athena adalah buku ketiga dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang diceritakan dari sudut pandang tiga demigod, di The Mark of Athena kita punya empat narator.
Kunjungan para demigod dari Camp Half-Blood ke Camp Jupiter yang berujung ricuh, memaksa kapal Argo II tinggal landas, dengan tujuh demigod di dalamnya. Annabeth, Percy, Jason, Piper, Leo, Frank dan Hazel. Tanpa tau tujuan, satu-satunya petunjuk yang mereka punyai adalah sepotong informasi dari Thanatos untuk mencari pintu kematian di Roma.
 
Dalam misi ini, para demigod tidak bisa banyak mengharapkan bantuan para dewa karena berdasarkan informasi yang mereka dengar, dengan bertemunya demigod Romawi dan Yunani, para dewa bagaikan kehilangan identitas diantara wujud Romawi dan Yunani mereka. Dewi yang mengalami dampak paling buruk adalah Athena.
Saat bertemu dewi Athena, Annabeth mendapatkan tugas untuk mengikuti tanda Athena, sebuah legenda turun temurun dari ribuan tahun yang lalu, yang bisa memicu pertarungan atau perdamaian antara demigod Yunani dan Romawi. Pilihan ada di tangan Annabeth. Dan dia harus menjalankan misinya sendirian.
Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas perkenalan para demigod, dimana masing-masing punya konflik di masa lalu mereka, yang membangun karakter para tokoh. Di buku ketiga ini, setelah kita kenal dengan semua demigod, cerita para tokoh ini lebih ke perkembangan karakter dan peran mereka masing-masing dalam cerita. Yang jadi tokoh utama dalam buku ini adalah keempat demigod Yunani: Annabeth, Leo, Piper dan Percy.

Gw jarang-jarang protes tentang gambar cover, tapi menurut gw cover kali ini agak misleading. Gambar mata burung hantu sih keren, dan udah menggambarkan ceritanya yang berhubungan dengan Athena. Yang ga cocok tuh dua orang demigod di atas kuda itu. Dua orang demigod di gambar udah pasti Jason dan Percy. Ada satu adegan dimana kedua demigod ini bertarung melawan satu sama lain, tapi itu cuma sebagian kecil dari cerita. Kenapa gambarnya bukan Annabeth aja gitu? Dan Argo II?

Dari judulnya, The Mark of Athena, dari setahun yang lalu pun pasti udah bisa nebak kalau Annabeth akan jadi salah satu tokoh utama di buku ini, yang jadi alasan gw ga sabar nunggu buku ini terbit. Dari seri sebelumnya, Annabeth selalu diceritakan dari sudut pandang Percy. Disini, dengan kita bisa kenal lebih dalam sama Annabeth. Seorang demigod anak dewi Perang, yang selalu berani dan selalu punya rencana dalam menghadapi segala kemungkinan masalah, ternyata juga bisa takut, putus asa, sampai menangis.

Setelah menghabiskan enam bulan dalam bunker 9 merakit Argo II, udah sepantasnya Leo punya jatah di The Mark of Athena. Masih inget di The Son of Neptune, Hazel kaget waktu pertama kali melihat Leo dan menyebut Leo sebagai Sammy, yang adalah pacarnya di kehidupan sebelumnya? Nah, di buku ini kita dapet jawabannya. Di buku ini juga menceritakan konflik Leo, yang lebih piawai berinteraksi dengan mesin daripada manusia. Menjalankan misi bertiga aja dia merasa asing dari Jason dan Piper, apalagi bersama enam orang lainnya?

Piper lagi-lagi tidak memberikan kesan berarti disini. Yang jadi "konflik" buat Piper adalah pengelihatan yang muncul di belatinya, Katoptris, yang berkaitan dengan misi mereka. Yeah, nothing special. Semua demigod dapet pengelihatan. Biasanya lewat mimpi, kebetulan aja Piper lewat belati. Bukan cuma itu. Saat Annabeth pusing mikirin misinya mencari tanda Athena, Leo sibuk mengendalikan kapalnya, belum lagi posisinya yang jadi odd man out, yang jadi konflik Piper adalah rasa takutnya kehilangan Jason, apalagi sejak Jason kembali mengunjungi Camp Jupiter. REALLY, PIPER?!

Dengan tujuh tokoh sentral, Riordan menambahkan satu tokoh utama untuk bercerita. Dan posisi keempat diberikan kepada Percy. Menurut gw, Percy disini mewakili interaksi antara para demigod Romawi dan Yunani. Jangankan mempertemukan dua camp. Dalam satu rombongan berisi empat demigod Yunani dan tiga demigod Romawi aja suasananya udah tegang. Percy, yang terbiasa memimpin, harus belajar menyesuaikan posisi dengan adanya Jason, yang juga terbiasa jadi pemimpin. Sebenernya kalo konfliknya cuma sampai disitu, posisi Percy sebagai narator bisa diganti dengan Jason. Tapi disini Percy juga bergumul dengan perasaannya karena harus melepaskan Annabeth yang akan menghadapi misi mematikan sendirian.

Menurut gw, yang bakalan jadi tantangan di The Mark of Athena adalah menceritakan ketujuh demigod, membuat mereka semua terlihat sama pentingnya. Cuma menceritakan tiga demigod aja ceritanya Rick Riordan udah cukup njelimet. Apalagi bertujuh?! Walaupun di awal cerita, beberapa tokoh, seperti Frank dan Jason, agak tersembunyi di belakang layar. Tapi dengan telaten Rick Riordan membangun plot sehingga semua dapat jatah cerita, tanpa ada yang ketinggalan.

The Mark of Athena adalah buku Rick Riordan yang kesebelas yang gw baca. Bisa dibilang gw udah familiar dengan gaya menulis Rick Riordan yang jago meramu cerita penuh humor, aksi laga dan ketegangan. Mau ga mau gw pasti berasa kalo gaya nulisnya berubah, walaupun sedikit. Perasaan gw doang apa emang The Mark of Athena ini mood-nya agak mellow? Baru kali ini gw ngerasain dibikin nangis sama Riordan. Pas lagi baca cerita tentang masa lalu Sammy, lah kok tulisan tiba-tiba burem? Hehehe. Interaksi Percy dan Annabeth pun beda dari yang biasa kita baca di Percy Jackson and the Olympians. Walopun gw menunggu-nunggu reuni antara Percy dan Annabeth, sepanjang baca tetep aja gw butuh waktu untuk membiasakan diri dengan Percy dan Annabeth versi romantis. Saat Percy bilang, "We're staying together. You're not getting away from me. Never again." Nah, mewek lagi deh gw. Percy Jackson is a demigod warrior in The Son of Neptune. But he's simply just a sweet boyfriend in The Mark of Athena. Suka sih dengan cerita Percy-Annabeth, Jason-Piper dan Frank-Hazel-Leo. Tapi gw harap kedepannya cerita romantis ini ga mengambil lebih banyak porsi. Buat gw, action, plot twist dan humor tetep jadi daya tarik utama buku-buku Rick Riordan.


Ngomongin Rick Riordan kayanya ga lengkap kalo ga ngomongin cliffhanger. Hahaha *ketawa miris* Kalo cliffhanger cuma sebatas kapal Argo II yang melayang di atas Camp Jupiter, mungkin kita masih bisa makan dan tidur tenang. Tapi kali ini... Pfft! Bahkan Riordan pun mengakui cliffhanger di buku The Mark of Athena sebagai 'a different sort of cliffhanger.' Cliffhanger di akhir cerita lumayan udah membuka jalan untuk misi mereka selanjutnya. Tapi tetep aja bikin deg-degan. Dan sedih! (Yang menjelaskan gambar di awal postingan ini)

So, read The Mark of Athena on your own risk. Knowing you'll have one miserable year ahead of you, wondering what will happen in The House of Hades.

Friday, October 26, 2012

The Son of Neptune


The Son of Neptune adalah buku kedua dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan yang terbit tahun 2011. Kalau tiga tokoh utama di buku pertama, The Lost Hero, berasal dari Camp Half-Blood, sekarang giliran para demigod dari Camp Jupiter yang beraksi.
Kemunculan Percy Jackson di Camp Jupiter, dengan menggendong seorang wanita tua a la hippie sementara dikejar-kejar gorgon, tidak langsung diterima dengan tangan terbuka oleh para demigod Romawi. Ingatannya yang hilang pun tidak membantu sama sekali. Setelah pertarungan singkat melawan para gorgon, Percy menemukan dua orang teman di perkemahan, yakni Hazel Levesque dan Frank Zhang. 

Untuk misi kali ini, Camp Jupiter kedatangan dewa Mars yang memberitahu bahwa Gaea telah membuka Pintu Kematian sehingga musuh-musuh mereka tidak bisa mati, bahkan mahluk-mahluk mitologi yang sudah lama mati dibawa Gaea kembali ke bumi untuk dijadikan kaki-tangannya. Gaea pun menyandera Thanatos, dewa penjaga Pintu Kematian. Mars mengutus Frank dan dua orang temannya (tentunya Percy dan Hazel yang dipilih) untuk pergi ke tanah di luar jangkauan para dewa untuk membebaskan Thanatos. Bukan misi yang mudah karena tempat tujuan mereka juga merupakan tempat Alcyoneus, anak Gaea yang adalah raksasa tertua.

I'll let you in one little secret. Pertama kali gw baca buku ini, setahun yang lalu, gw ga terlalu terkesan dengan The Son of Neptune.

Sekarang, setelah gw baca buku ini kedua kalinya, dengan lebih konsentrasi, gw baru menyadari betapa kerennya The Son of Neptune! Gw sampe mikir, kok bisa-bisanya gw nganggep buku ini gak berkesan?! Walopun sekarang gw bisa nangkep apa kira-kira yang bikin ceritanya agak sulit diikuti. God bless my slow brain!

Bisa dibilang, perkenalan dengan Camp Jupiter lumayan membingungkan. Kalau ga familiar dengan mitologi atau sejarah Romawi, lumayan pusing ngikutinnya. Contohnya, para penghuni Camp Jupiter disebut Twelfth Legion. Pertama kali baca, gw kira, di dalam perkemahan ada dua belas legion. Ternyata setelah baca ulang, gw baru ngeh bahwa seluruh penghuni Camp Jupiter adalah anggota Twelfth Legion yang, menurut sejarahnya, pernah berperang bersama Julius Caesar. Dari hasil intip-intip Wikipedia, kerajaan Romawi punya tiga puluh legion. Dari jaman kerajaan Romawi, legion ini banyak berpencar-pencar, bahkan hilang.

Berbeda dengan Camp Half-Blood yang lebih santai dan ga banyak peraturan, Camp Jupiter punya aturan yang lebih ribet. Dalam buku ini, Rick Riordan bener-bener mengikutin struktur organisasi Romawi sedekat mungkin dengan sejarah. Dalam Camp Jupiter, mereka memilih dua orang praetor sebagai pemimpin. Dalam membuat keputusan, kedua praetor ini akan mengadakan rapat bersama senate. Camp Jupiter bahkan punya Pomerian Line, garis perbatasan kota. Dimana, seperti sejarahnya, rapat senat ini biasa diadakan di perbatasan kota. Ribet? Oh, pastinya. Jadi males baca bukunya? JANGAN!!

Bukan cuma detail tentang Romawi yang bikin ribet. Kalo ga familiar dengan cerita mitologi, udah pasti mesti nyediain ruang di otak untuk menghapal nama-nama mahluk yang pelafalannya lumayan bikin lidah keriting. Apalagi disini, tokoh Frank Zhang punya latar belakang cerita yang lumayan njelimet, yang berkaitan dengan mitologi. Walaupun keturunan dewa Romawi, dari namanya, Zhang, bisa ditebak dong kalo Frank ini keturunan Asia. Perjalanan misi para demigod biasanya penuh dengan detail geografis Amerika. Walaupun pengarangnya menggambarkan setiap kota dalam cerita, tentunya akan lebih membantu kalau kita familiar dengan landscape kota itu sendiri. Sepanjang baca, gw berkali-kali bolak balik halaman ke belakang karena ada aja detail yang kelupaan. Mungkin waktu baca pertama kali gw gak konsen atau terlalu semangat malah bacanya buru-buru. Sampai disini sepertinya gw bisa ngerti kenapa awalnya The Son of Neptune ga berkesan buat gw.

Dibalik detail-detail ribet cerita The Son of Neptune, gw bener-bener semakin kagum sama Rick Riordan. Gak gampang mengadaptasi cerita-cerita yang udah duluan terkenal menjadi sebuah cerita yang baru dan segar. Salah-salah, bisa jadi cuma terkesan njiplak. Tapi dengan kepiawaian pengarangnya, Percy, Frank dan Hazel serta misi mereka tetap jadi kisah utama yang menonjol di buku ini.

Frank, Percy and Hazel made one super awesome team! Gw suka ketiga demigod di cerita ini. Percy Jackson karena... well, he's Percy Jackson! Haha.. Bisa dibilang buku ini jadi obat kangen buat para penggemar Percy (Abis browsing-browsing di internet, gw baru tau ternyata buku The Lost Hero banyak dicerca penggemarnya karena tidak ada Percy di dalamnya. Pfft.. Teenagers!). Setelah sekian lama Percy absen, disini lagi-lagi gw diingetin sama tokoh Percy yang bukan cuma sekedar seorang pemimpin yang jago bertarung. Tapi Percy yang begitu loyal sama teman-temannya. Dan tentunya ungkapan-ungkapannya yang kadang konyol, dan kadang sarkastik.

Sementara Hazel Levesque dan Frank Zhang, keduanya adalah misfits di Camp Jupiter. Karena keserakahan ibunya, Hazel lahir dengan kutukan, dimana saat emosinya berlebihan, batu-batu berharga yang mematikan berjatuhan di sekitar Hazel. Untuk menambah keanehannya, Hazel lahir sebelum waktunya. Dan yang lebih aneh lagi, Hazel seharusnya sudah mati. Sementara Frank, setelah kematian ibunya, dikirim oleh neneknya ke Camp Jupiter. Setelah sebelumnya neneknya menceramahinya tentang leluhurnya yang adalah para pahlawan dan Frank pun adalah pahlawan dengan bakat keturunan keluarganya. Masalahnya, tubuhnya yang gempal dan pembawannya yang kikuk serta cenderung ceroboh sama sekali tidak membuat Frank merasa seperti pahlawan.

Dengan ingatan Percy yang hilang, lagi-lagi kita bertemu dengan tim underdog! Gw suka chemistry antara tiga orang ini. Kalau yang jadi konflik intrinsik di rombongan sebelumnya adalah Leo yang merasa terasing dan tidak penting dibanding Jason dan Hazel, lain lagi dengan rombongan Percy. Ketiganya sama-sama merasa ga bisa apa-apa. Tapi itu lah yang justru bikin mereka jadi dekat. Bukan cuma saling kerjasama, mereka saling membesarkan hati satu sama lain setelah hampir mati melawan musuh-musuh mereka. Begitu juga saat satu persatu mereka mulai membuka rahasia masa lalu mereka. Walaupun Hazel dan Frank bertarung dengan hebat, mereka tetep ga menyadari pentingnya peran mereka. Hazel dan Frank punya cerita latar belakang yang bagus banget. Seiring berjalannya cerita, mereka belajar tentang masa lalu mereka, keluarga mereka bahkan takdir mereka. Dan semuanya jadi penyemangat Frank dan Hazel untuk bertarung.

Baca The Son of Neptune bener-bener memprovokasi segala emosi! Buku ini bikin gw ketawa, kesel, terharu. Bahkan ikut bangga saat membaca pertarungan Frank di akhir misi. Untungnya sepanjang cerita gw masih bisa menahan diri untuk gak meninju udara sambil teriak "YEEESSS!!!!" Kalo pinjem bahasanya para fangirl, kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini adalah, umm.. asdkjaerkjjsh!!!!! Bener-bener wajib baca! 

Sebelum review yang sudah super panjang ini semakin bertambah panjang, sebaiknya gw akhiri sekarang dengan meminjam salam perpisahan a la Leo Valdez.

"See you soon. Yours in demigodishness, and all that. Peace out"

Saturday, October 20, 2012

The Lost Hero


The Lost Hero adalah buku pertama dari seri The Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Dimana seri The Heroes of Olympus ini adalah sekuel dari seri Percy Jackson and the Olympians. Sama seperti seri sebelumnya, seri The Heroes of Olympus juga terdiri dari lima buku. The Lost Hero terbit tahun 2010. Terus kenapa baru gw bahas sekarang? Karena gw lagi baca ulang buku ini, dan buku keduanya, The Son of Neptune, dalam rangka terbitnya buku ketiga, The Mark of Athena.

Secara ceritanya Rick Riordan selalu kompleks, lengkap dengan konflik masa lalu dan masa kini para demigod, cerita tentang musuh-musuh mereka dan perintilan lainnya, jadi agak susah membuat rangkuman singkat ceritanya. But in a nutshell:
Cerita diawali dengan Jason Grace yang terbangun dalam bis sekolah khusus anak-anak bermasalah tanpa ingatan sama sekali. Dimana dia bertemu dengan Piper McLean, gadis yang masuk Wilderness School karena 'mencuri' BMW, dan ternyata adalah pacar Jason. Dan Leo Valdez, yang berkali-kali melarikan diri dari keluarga yang menampungnya sejak kematian ibuya, dan ternyata adalah sahabat Jason. Singkat cerita, ketiganya akhirnya tiba di Camp Half-Blood, dimana para anggotanya pun sedang mengalami masalah karena pemimpin mereka, Percy Jackson, mendadak hilang tanpa kabar berita.
Keberadaan Jason, Piper dan Leo di Camp Half-Blood tidak bertahan lama karena adanya penampakan dewi Hera yang mengutus mereka menjalankan misi untuk membebaskannya. Maka dimulailah petualangan Jason, Piper dan Leo. 
Berbeda dengan serial Percy Jackson and The Olympians yang diceritakan dari sudut pandang Percy sebagai orang pertama, seri The Heroes of Olympus diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dengan tiga tokoh utama bergantian jadi inti cerita setiap dua bab (Empat tokoh utama untuk The Mark of Athena). Dengan cara penulisan seperti ini, setiap tokoh utama dapet porsi sama banyak dalam cerita dan kita jadi punya banyak kesempatan untuk kenal mendalam sama masing-masing tokoh. Konsekuensinya yah, ga ada tokoh utama yang lebih menonjol dari yang lain. Mungkin ada kecenderungan untuk mengutamakan tokoh Jason, secara dia yang berperan sebagai pemimpin, tapi Piper dan Leo pun punya cerita masing-masing, jadi tokoh Jason tidak sepenuhnya menyita perhatian. (Terutama kalau dibandingkan dengan seri Percy Jackson and the Olympians dimana Percy jadi pusat utama cerita).

Rasanya ga mungkin membicarakan tokoh-tokoh dalam sekuel Percy Jackson tanpa membandingkan dengan Percy Jackson sendiri. Yang paling mungkin dibandingin dengan Percy, ya tentunya Jason. Poor Jason Grace, he came after Percy Jackson. Kayaknya agak sulit ya berusaha mengalahkan pesona seorang Percy Jackson, apalagi yang baca The Lost Hero pastinya penggemar berat Percy Jackson (macem gw!) Mungkin karena pembawaan Romawi-nya, Jason terkesan lebih serius. Terlepas dari ingatannya yang hilang, Jason tetap bisa diandalkan saat bertarung. Dan secara natural, bahkan tanpa resmi ditunjuk, berperan jadi pemimpin. Dibandingkan karakternya, buat gw, daya tarik utama dari cerita Jason justru latar belakangnya. Ingatan Jason yang hilang dan hanya tersisa sedikit jadi salah satu faktor yang bikin gw penasaran dan ga rela berenti baca.

And then, enter Leo Valdez. The boy who hides his inner pain with rapier wit (Lah? Koq jadi Jace Wayland?!). Leo adalah tokoh favorit gw di The Lost Hero! He's the joker in the group. Just for fun, ini deskripsi tentang Leo di buku: Leo looks like a Latino Santa's elf, with curly black hair, pointy ears, a cheerful babyish face, and a mischiveous smile that told you right away this guy should not be trusted around matches or sharp objects. Dan sejujurnya, menurut gw, tanpa Leo misi di buku ini ga bisa jalan. Selain itu, latar belakang cerita Leo, tentang ibunya yang meninggal secara misterius, babysitter-nya waktu kecil yang berusaha ngebunuh dia, dan gambar coret-coret yang dia buat waktu kecil, semua bikin tokoh Leo jadi menarik dan ceritanya bikin penasaran.

Sementara Piper McLean ga terlalu mengesankan buat gw. Baik latar belakangnya maupun motifnya ikutan misi bersama Jason dan Leo. Para demigod biasanya punya latar belakang cerita yang menarik, yang mengantar mereka ke perkemahan. Dan dibanding cerita para demigod lain, menurut gw masalahnya Piper ini termasuk ringan sih.

Seri The Heroes of Olympus ini menggabungkan mitologi Yunani dan Romawi. Yang selalu jadi daya tarik dari buku-buku Rick Riordan adalah gemana Riordan mengadaptasi kisah mitologi ke dalam cerita di jaman modern. Lucu aja tiap ada tokoh asing muncul, kita bisa nebak-nebak siapa kira-kira tokoh ini dalam cerita mitologi, berdasarkan settingnya, cara bicara atau berpakaiannya. Sayangnya, gw ga terlalu familiar dengan mitologi Romawi. Tapi ga bikin buku ini jadi tidak menarik untuk diikutin. Selain itu, yang selalu gw suka dari tulisan Rick Riordan adalah humornya. Sampe sekarang pun, kalau lihat foto om Rick yang rambutnya putih semua, gw masih kagum kok bisa beliau menulis lelucon-lelucon yang nyambung sama pembaca remaja (No offense, om). Dan tentunya, kalau ngomongin cerita petualangan yang seru, kemampuan Rick Riordan udah ga perlu diragukan lagi.

Tulisan ini juga sebenernya bukan review, cuma gw mo membujuk siapapun yang baca tulisan ini untuk membaca The Lost Hero dan buku-buku Rick Riordan lainnya. Karena kalo ga baca, beneran rugi deh!

The Survival Kit

Setelah ibunya meninggal karena kanker, Rose Madison menemukan Survival Kit buatan ibunya yang ditujukan untuknya. Di dalamnya, bersama benda-benda lainnya, terdapat pesan dari ibunya bahwa Survival Kit ini dibuat ibunya untuk membantu Rose melewati masa duka dan kehilangan sepeninggal ibunya. Satu-satunya petunjuk penggunaan yang diberikan oleh ibunya adalah: Use your imagination.
Sambil berusaha mencari tahu maksud dari benda-benda pemberian ibunya dalam Survival Kit, Rose berusaha menata ulang hidupnya, bersama kakaknya berusaha mengatasi rasa kehilangan atas meningalnya ibunya, mengurus ayahnya yang begitu terpuruknya sejak ibunya meninggal dan menjadikan alkohol sebagai pelarian, serta memperbaiki kehidupan sosialnya. Dalam perjalanannya, Rose dipertemukan dengan Will Doniger, pengurus tanaman di rumahnya yang juga pemain hockey di sekolah. 
Ga tau kenapa gw lagi ngidam buku genre romantis. Menemukan The Survival Kit dalam list Best Young Adult Realistic Novels di Goodreads, I decided to give this book a try. Teknisnya, The Survival Kit bukan genre romantis sih. Ceritanya lebih berpusat pada Rose dan perjalanannya menghadapi rasa kehilangan setelah ibunya meninggal. Kepergian ibunya memberi imbas yang dalam pada Rose. Dia berhenti jadi cheerleader, menolak masuk stadion dan menonton pertandingan pacarnya, tidak mau disentuh, dia bahkan berhenti mendengarkan musik karena musik membuatnya sedih.

Biasanya gw bukan penggemar buku yang mood-nya mellow gini. Buku tentang kepergian anggota keluarga bukan ide yang sepenuhnya baru, bahkan secara garis besar buku ini ngingetin gw sama The Truth About Forever karangan Sarah Dessen. Dan tema seperti ini pun bisa dengan mudah jadi mood-killer, yang adalah alasan kenapa gw ga sanggup selesein The Lovely Bones karangan Alice Sebold. Karena itu, gw ga nyangka gw ternyata menikmati baca The Survival Kit.

Mulai dari ide ceritanya, Survival Kit peninggalan ibunya Rose. Saat Rose menelusuri satu-persatu benda pemberian ibunya, gw jadi penasaran kemana kira-kira benda-benda itu akan membawa Rose. Bukan cuma itu yang bikin gw bertahan baca. Walaupun awalnya gw mengharapkan cerita romantis, ternyata kisah Rose dengan keluarga dan teman-temannya juga menarik untuk diikutin. Hubungan Rose dengan kakaknya, Jim, manis banget. Digambarin gemana deketnya Rose dan Jim, juga betapa protektifnya Jim terhadap adiknya. Saat Rose dan Jim nangis bareng karena teringat ibu mereka di hari Natal pertama sejak kepergian ibu mereka sambil diiringin lagu Natal, bikin gw trenyuh. (I know I'm being extra cheesy right now, but I've told you that this is a mellow novel!)

Hubungan Rose dengan Will juga manis banget. Tokoh Will bukan sekedar tempelan doang, tapi dia pun punya konflik sendiri, yang justru jadi awal kedekatannya dengan Rose. Walaupun buat gw hubungan mereka bukan daya tarik utama novel ini, karena gw lebih tertarik sama cerita Rose sendiri. Dan pada akhirnya menurut gw Rose dan Will are too fragile to be together, tetep aja they're such a cute couple. Favorit gw adalah saat mereka main salju malem-malem saat badai. Dan kok bisa-bisanya Freitas kepikiran bikin tokoh macam Will yang adalah kombinasi pemain hockey dan tukang kebun?!

Satu lagi yang bikin buku ini menarik adalah keterlibatan musik dalam ceritanya! Ah! Lagi-lagi, kepikiran aja sih?! Setelah memboikot musik dari hidupnya, Rose pelan-pelan berusaha mendengarkan musik lagi. Walaupun ga baca sambil dengerin musik, secara ga sadar, gw jadi berasa seperti lagi nonton film lengkap dengan soundtrack yang membangun suasana! Bahkan tiap bab di buku ini dijuduli dengan judul lagu. Beberapa diantaranya The Heart of Life (John Mayer), My Baby Just Cares for Me (Nina Simone), All at Sea (Jamie Cullum) dan tentunya All I Want for Christmas is You (Mariah Carey).

Dalam satu cerita yang secara garis besar bertemakan 'kehilangan,' di dalamnya ada konflik Rose dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya, dengan pacar dan teman-temannya. Semuanya dalam takaran yang pas. Dan Donna Freitas berhasil mengemas semuanya dengan ringan dan indah, bahkan kadang-kadang bikin gw terharu.

Satu aja yang gw mo protes dari buku ini, yaitu judul-judul bab-nya yang kadang terlalu obvious. Gw ngerti Freitas berusaha menemukan lagu yang pas untuk ngegambarin ceritanya. Tapi kalau hubungan Rose dan pacarnya bermasalah, dan kita lagi nebak-nebak gemana kira-kira kelanjutannya, terus balik halaman berikutnya, belum juga baca isinya, udah baca judul bab-nya 'How It Ends,' kayanya buzzkill banget. Ga banyak sih yang kaya gini, but it totally ruined the whole chapter for me. But, whatever, that's minor.

In a nutshell, reading The Survival Kit was such a pleasant journey. Kalau lagi mood baca yang mellow-mellow, boleh deh disempetin baca The Survival Kit.

Friday, October 19, 2012

Where She Went


Where She Went adalah sekuel dari If I Stay, karangan Gayle Forman. Masih bercerita tentang Adam dam Mia, Where She Went dimulai tiga tahun setelah If I Stay. Dalam buku ini, If I Stay hanya sekedar latar belakang cerita, jadi Where She Went bisa dibaca tanpa harus membaca If I Stay lebih dulu. Gw sendiri pun belum baca If I Stay.
Tiga tahun setelah putus dengan Mia, Adam Wilde sekarang adalah penyanyi rock terkenal yang sering diliput majalah gosip bersama pacarya, bermasalah dengan sesama anggota band-nya dan terutama, bosan dengan kehidupannya.
Hingga suatu hari Adam dipertemukan kembali dengan Mia. Mereka berjalan-jalan seputar kota New York sementara Adam berharap Mia punya jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang mereka yang dia simpan selama ini.

Where She Went diceritakan dari sudut pandang Adam, yang buat gw jadi angin segar dalam genre cerita romantis. Jarang-jarang ada cerita romantis yang naratornya cowok. Ceritanya diceritakan dengan alur maju mundur. Di satu bab bercerita tentang Adam di masa ini, sementara bab berikutnya mundur ke masa lalu, selanjutnya balik lagi ke masa kini. Kalau bab tentang masa lalu Adam disingkirkan, sebenernya ceritanya pendek aja sih. Tapi dari kilas balik itu kita jadi lebih mengenal tokoh Adam.

Sejujurnya, gw kurang bisa menempatkan diri dalam posisi Adam yang masih hang up sama cinta masa lalunya, bahkan setelah tiga tahun tidak ada kabar. Bukan sinis, cuma logis. Tapi kalau dari cerita-cerita kilas baliknya, bisa diliat gemana sayangnya Adam sama Mia. They've gone through a lot together. Adam bahkan ikut terlibat menolong Mia yang setelah kecelakaan kehilangan orangtua serta adiknya. Dan tentunya cerita tentang seorang cowok yang cinta mati dan bahkan setelah tiga tahun masih hang up sama mantan pacarnya cukup menjanjikan untuk jadi tema dalam cerita romantis. Bisa ditebak, gw penasaran banget apa yang bakal terjadi saat Adam dan Mia akhirnya bicara. 

Sayangnya, alur yang maju mundur malah jadi sumber pengganggu buat gw. Secara ga mungkin juga setelah tiga tahun ga ada komunikasi, begitu ketemu langsung konfrontasi, makanya pertemuan mereka diawali dengan Mia membawa Adam jalan-jalan keliling Manhattan. Ya itu gw ngerti banget. Yang ganggu adalah, saat lagi seru dan penasaran ngikutin cerita Adam dan Mia di masa kini, tiba-tiba ceritanya dipotong ke masa lalu. Dan ini terjadi terus, selang-seling, membuat gw yang awalnya penasaran, malah jadi gemes, dan pada akhirnya jadi kehilangan minat. Saat membangun chemistry antara Adam dan Mia, yang terjadi saat mereka jalan-jalan, jadi berasa tambah panjang dengan adanya sisipan kilas balik, dan ceritanya jadi berasa ga sampe-sampe ke inti permasalahan. Sebenernya cerita kilas balik Adam dan Mia itu menarik, pembaca jadi punya gambaran betapa manisnya hubungan mereka. Bahkan diceritain gemana ancurnya Adam setelah ditinggal Mia, yang lagi-lagi nunjukin betapa cintanya Adam pada Mia. Sayangnya penempatan kilas balik ini kurang pas. Maybe I am such an impatient reader. 

Dan saat akhirnya sampe juga pada puncaknya, dengan kecewanya, kesan gw adalah, 'Udah nih, gitu aja?' Grrrr!! Setelah bertahan melewati alur maju mundur yang gengges itu!!!! Setelah tiga tahun gantung dan hidup Adam jadi kacau balau gitu, jawaban Mia sangat ga memuaskan. Gw ga mau ngebocorin ceritanya, tapi kalau udah baca bukunya, you'll get this: Adam is not a God. No matter what he did or said while she was in a comma, it had nothing to do with her recent life. And definitely not a reason to leave him hanging. Gw mencoba ngertiin tokoh Mia dengan alasan-alasan seperti: Saat itu Mia masih bergumul dengan rasa sedih dan kehilangan setelah kecelakaan jadi ga bisa berpikir jernih dan membuat keputusan. Atau alasan seperti, Mia adalah musisi, dan biasanya musisi dan pekerja seni punya pemikiran yang emosional, yang gw ga ngertiin. But, nope, tetep ga bikin tokoh Mia jadi relatable buat gw. She told him she hated him and then she told him she loved him. Aduh, ga ngerti deh.

Kecuali alurnya, penulisan Gayle Forman cukup menarik untuk diikutin. Diksi dan caranya merangkai kata cukup sederhana dan apa adanya. Ga menye-menye untuk sebuah novel romantis, yang mana cocok karena naratornya cowok. Caranya membangun karakter tokoh-tokohnya juga menarik. Walapun Adam ga sampe jadi character crush buat gw, tapi kalau lagi bosen sama cowok-cowok serba sempurna yang fiksional banget, Adam Wilde yang clueless, anxious dan fragile bisa jadi selingan. Curhat-curhatnya Adam ngingetin gw sama artikel-artikel selebriti yang muak dengan popularitas, bikin tokoh Adam jadi terasa nyata.

Despite all the dazzling reviews about Where She Went, buku ini ga terlalu memorable buat gw. Gw sendiri adalah penggemar novel romantis tapi buku ini ga sampe ngambil hati gw. Banyak yang nangis-nangis baca buku ini, gw bahkan ga kebayang bagian mana yang bikin nangis. However, ceritanya toh ga terlalu panjang. Bukunya keliatan tebel tapi margin dan spasinya lebar, font-nya juga gede, bisa selesai dibaca dalam sehari. Ya lumayan lah buat ada bacaan.

Insurgent


Insurgent adalah buku kedua dari trilogi Divergent oleh Veronica Roth.
Serangan dari Erudite dan pengkhianatan para petinggi Dauntless memaksa Tris dan Tobias serta para Abnegation dan Dauntless untuk mencari perlindungan pada faction lainnya, yakni Amity dan Candor. Yang kemudian justru membawa kedua faction tersebut dalam masalah karena mereka dianggap melawan Erudite. Maka konflik antar faction pun terjadi. Penyerangan terjadi, para Divergent menjadi mangsa utama dari Erudite.
Dalam perjalanannya mencari perlindungan, Tris dan Tobias bertemu dengan para factionless yang ternyata punya misi yang sama untuk melawan Erudite. Tobias, bersama para factionless, setuju untuk melawan Erudite dengan menghancurkan mereka. Sementara Tris percaya bahwa ada alasan dibalik serangan-serangan Erudite dan bertekad mencari jawabannya, walaupun harus mengkhianati Tobias.

Sebenernya ga banyak yang gw protes dari buku ini. Tapi karena ini yang langsung gw inget, jadi langsung gw tulis. I HATE CLIFFHANGER, dammit! Insurgent dimulai tepat di adegan yang sama dimana Divergent berakhir. Bayangin rasanya harus nunggu setahun sambil penasaran apa yang akan langsung terjadi. Hiks. Kalo menurut om Rick Riordan, yang juga hobi mengakhiri buku-bukunya dengan cliffhanger, teknisnya, akhir sebuah buku disebut cliffhanger kalo ada nyawa tokohnya yang terancam. Blah blah blah.. Po-tay-to po-tah-to. Tentunya cliffhanger ini ga bikin gw berhenti baca trilogi Divergent. Yang ada malah jadi tambah penasaran. Tapi sekedar mengingatkan saja. Kalo suka gemes sama ending yang gantung, yang siap-siap gemes aja baca Insurgent (dan Divergent).

Selain protes gw di atas, gw rasa gw ga punya kritik berarti buat Insurgent. Seperti yang udah sempet gw singgung di review gw tentang Divergent, gw sangat terkesan sama Insurgent. Gw beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan buku kedua (beberapa diantaranya adalah The Sea Monster, City of Ashes, Catching Fire). Bahkan Becca Fitzpatrick, pengarang Hush Hush saga, mengakui kalau para pengarang biasanya mengalami kesulitan menulis buku kedua. Tapi rupanya Insurgent adalah salah satu pengecualian, setidaknya menurut gw.

Di Insurgent, bukan cuma kelima factions yang terlibat dalam cerita. Kita bahkan berkenalan dengan para factionless! Dan buat gw, ini adalah salah satu poin yang menarik. Buat apa menciptakan sistem factions kalo tidak dilibatkan dalam cerita? Walaupun dari awal gw ga terlalu bisa terima ide tentang pembagian factions ini, tetep aja mengenal masing-masing factions dan cara mereka menghadapi konflik yang terjadi jadi salah satu daya tarik Insurgent.

Kalau mengharapkan banyak adegan romantis antara Tris dan Tobias di Insurgent, siap-siap aja kecewa. Bukan cuma tidak banyak adegan romantis, Tris dan Tobias pun banyak kali berantem. Tapi untuk mengobati kekecewaan gw, di buku ini gw bener-bener terkagum-kagum sama Tris. Kalau di buku sebelumnya peran Divergent belum terlalu jelas –despite the title– di Insurgent mulai bermunculan tokoh-tokoh Divergent lainnya, dan mereka lebih memegang peran dalam cerita. Terutama Tris. Sesuai hasil aptitude test-nya, dia pemberani, tidak memikirkan dirinya sendiri dan pintar. Jadi bisa dibayangkan seperti apa tokoh Tris yang taktis, apalagi karena harus berhadapan dengan petinggi Erudite. Dan dia sendiri dengan beraninya menjalankan rencana-rencananya yang lebih cocok disebut “Misi Cari Mati.” I’m all about smart dan brave heroine jadi ga heran kalo gw jatuh cinta setengah mati sama tokoh Tris. Bisa dibilang, Tobias sedikit terlupakan di cerita ini.

Dari segi cerita, menurut gw Insurgent WOKEH banget. Divergent is not at all bad, tapi sebenernya ceritanya ringan banget. Mostly cuma tentang masa-masa inisiasi Tris. Dimana kita kenalan sama Dauntless dan tokoh Tris. Sementara Insurgent ceritanya lebih twisted. Bukan cuma bikin kita tertarik untuk mengikuti konflik yang sedang terjadi, tapi bikin kita jadi penasaran dan berusaha nebak-nebak apa yang jadi asal muasal konfliknya, dan siapa yang beneran kawan atau lawan. Gw paling suka cerita yang ga ketebak kaya gini! Oh ya, sekedar peringatan, if you're easily attached to characters in books, siap-siap aja sering patah hati. Sama seperti buku sebelumnya, Veronica Roth ga kira-kira kalo ngebunuh tokoh ceritanya. You’d think, "Oh, ini tokoh yang banyak berperan. She’ll stick until the end." Umm.. think again.

Secara keseluruhan gw bener-bener impressed sama Insurgent! Ga nyangka gw bisa segitu attached sama buku distopian, padahal gw sendiri bukan penggemar distopian. Insurgent really sets the bar up high. Gw harap buku ketiga dari trilogi ini sama kerennya, bahkan lebih!