Saturday, May 5, 2012

Aku dan Buku

Pengalaman gw dengan buku dimulai sejak gw SD. Dengan bokap yang hidungnya hampir selalu tenggelam di antara halaman-halaman buku, ga heran kalo sekarang anak-anaknya pun punya hobi yang sama. Buku pertama gw pun adalah pemberian bokap gw. Buku pertama disini maksudnya buku yang gw bener-bener baca sendiri, bukannya dibacain bokap. Seperti anak-anak generasi 90an pada umumnya, buku pertama gw adalah karangan Enid Blyton, judulnya Petualangan di Gunung Bencana (yang sayangnya sekarang udah hilang). Gw inget gw baru baca beberapa halaman udah mengeluh sama bokap, gw bosen dan ga bisa selesain baca karena bukunya ga ada gambarnya. Untungnya waktu itu bokap kekeuh mendorong gw untuk nyelesain baca sambil ngebayangin ceritanya menggunakan imajinasi. Dan untungnya gw waktu itu nurut sama kata-kata bokap. Karena kalo gak, malah gw yang sekarang rugi. Hehe.. Buku-buku Enid Blyton emang pas banget untuk melatih imajinasi anak-anak karena dia selalu menggambarkan segala sesuatu dengan detail dan menggunakan banyak kata. Apalagi kalo mendeskripsikan pemandangan dan makanan. Dulu gw sampe ngiler-ngiler kepengen limun jahe, walopun gw ga ngerti itu minuman apa dan ga tau panasnya rasa jahe.

Beberapa buku karangan Enid Blyton yang berhasil gw dapet setelah menjelajahi toko buku bekas di internet

Dari satu buku, akhirnya ketagihan gw akan buku pun dimulai. Awalnya cuma terbatas dengan buku-buku Enid Blyton, akhirnya meluas ke segala jenis buku. Waktu gw SD, gw bahkan gw suka baca buku cerita rakyat. Beruntunglah gw yang sekolahnya waktu SD memfasilitasi perpustakaannya dengan banyak sekali buku petualangan anak-anak. Dari yang males baca buku ga bergambar, gw bisa dengan rakusnya melahap Seri Pasukan Mau Tahu, seri Lima Sekawan yang gw koleksi lengkap dan cerita-cerita lepas Enid Blyton. Satu orang pengarang ini punya karya yang cukup banyak untuk menemani masa kecil gw. Dari Enid Blyton, gw kenalan dengan Edith Unnerstad dengan karya-karya terkenalnya tentang keluarga Larsson seperti O Mungil, Si Bandel dan Tamasya Panci Ajaib (ada juga Tamasya Laut, sayangnya gw belom pernah baca). Juga Astrid Lindgren dengan cerita-ceritanya tentang si Pippi Kaus Kaki Panjang. Selain itu, tentunya masa kecil seseorang belum lengkap kalo belum baca dongeng-dongeng klasik macam Pangeran Bahagia, Angsa-angsa Liar, Gadis Penjual Korek Api atau Prajurit Timah (semuanya karya HC. Andersen kecuali Pangeran Bahagia yang adalah karangan Oscar Wilde). Tentunya ada banyak sekali kisah dongeng, tapi gw selalu jatuh cinta sama karya-karyanya Andersen.

Mungkin karena kisah gw sendiri berawal dari buku petualangan anak-anak, ga tau kenapa sampai sekarang buku petualangan anak dan praremaja masih jadi favorit gw walopun umur gw udah sangat ga cocok dikategorikan remaja. Dan dengan berbangga hati gw bisa bilang gw percaya sama insting gw terhadap buku anak. Yah setidaknya temen-temen gw puas kalo gw rekomendasiin buku. Hehe.. Karena sayang sekali era Blyton dan Unnerstad udah lewat (walopun sampe saat ini gw masih mengharapkan supaya buku-buku mereka dicetak ulang), gw menemukan kepuasan terhadap petualangan anak-anak dalam buku-buku Rick Riodrdan dan JK. Rowling, walopun sayangnya karya-karya mereka belom cukup banyak. Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia adalah hasil temuan kebanggan gw. Secara pertama kali liat, bukunya terkubur diantara buku-buku lain dan volume pertamanya bahkan cuma sisa satu. Tapi melihat ramuannya yang menggabungkan petualangan dan dewa dewi Yunani, dua hal yang amat sangat menarik buat gw, akhirnya gw memutuskan untuk beli. Dan sampai sekarang gw selalu ngikutin karya-karya Riodan. Dari buku yang terkubur di antara tumpukan buku, sekarang hasil karya Riordan berjejeran di rak gw dan adek gw, yang dengan suksesnya gw racunin untuk baca buku-buku Riordan.


Karya Rick Riordan koleksi gw, selain seri Percy Jackson and The Olympians.
The Heroes of Olympus dan Kane Chronicles.

Gw selalu merasa kalo gw tumbuh sebagai anak pecinta buku yang beruntung karena di masa kecil gw tersedia buku-buku cerita yang topiknya beragam mulai dari dongeng sampai kisah tentang keluarga sehari-hari. Seaneh-anehnya pengalaman mereka pun, palingan jadi detektif. Sejujurnya gw agak prihatin dengan buku-buku anak jaman sekarang yang ceritanya jauh lebih condong ke arah fantasi. Seakan-akan ga ada genre lain yang lebih menarik daripada fantasi. Terutama sejak boomingnya Harry Potter dan diikuti Twilight. Ya ga salah sih. Yang penting inti dari cerita itu bisa ngasih pesan untuk pembacanya. Apalagi kita ini ngomongin buku untuk anak-anak, jadi harus pilih-pilih juga dalam menyampaikan topik. Misalnya Harry Potter dan Percy Jackson yang banyak mengajarkan tentang persahabatan dan kerjasama. Atau Twilight yang mengajarkan betapa pentingnya punya pacar. Tapi alangkah baiknya kalo anak-anak ini dikasih pilihan lain selain fantasi. Cerita tentang keluarga manusia normal juga menarik koq. I grew up with that kind of stories!

Sebenernya postingan ini gw tulis cuma untuk berbagi cerita gw tentang pengalaman gw dengan buku. Tapi semoga tulisan ini mewakili suara para pecinta buku lainnya supaya buku-buku lama bisa dicetak ulang. Secara tiap kali ngobrol tentang Blyton atau Unnerstad, selalu ujung-ujungnya nyeritain susahnya berburu buku lama di toko buku bekas atau berharap bukunya dicetak ulang.

3 comments:

  1. Berkunjung mbak Marcelle.
    Datang dari Resensi buku ala Esa di esanugrahaputra.blogspot.com.
    Blog ini bagus, menjadi blog pertama yang saya
    tampilkan di program B2B blog saya.
    Untuk itu saya mohon ijin untuk ekspos.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  2. Mba Marcelle,

    Saya lagi cari buku-buku anak jaman saya kecil dulu. Kira2 ada rekomendasi toko buku bekas online yang terpercaya ga ya, mba? Mohon infonya. Terima kasih

    ReplyDelete