Monday, May 28, 2012

Clockwork Prince



Clockwork Prince adalah buku kedua dari trilogi Infernal Devices karangan Cassandra Clare yang adalah prequel dari seri The Mortal Instruments. Berbeda dengan Clockwork Angel yang sarat kisah petualangan dengan sedikit cerita romantis, Clockwork Prince seperti menjawab keinginan pembaca untuk menggali lebih dalam cerita seputar kisah cinta Tessa, Jem dan Will dan latar belakang mereka, terutama Will. Gw pengen ngerangkum resume ceritanya juga bingung karena cerita yang menyambung tentang Pandemonium Club dan pencarian The Magister sedikit sekali, lebih banyak fokus ke karakter tokoh-tokohnya. However, in short:

“Dalam Clockwork Prince, posisi Charlotte sebagai kepala Institusi London, tempat para Shadowhunter tinggal, terancam digantikan karena dianggap tidak mampu menangani kasus Pandemonium Club, dimana The Magister berhasil kabur dan Institusi London bahkan sempat kemasukan mata-mata. Untuk mempertahankan kedudukannya, Charlotte dan para Shadowhunter diberi kesempatan selama dua minggu untuk melacak keberadaan The Magister. Dalam pencarian ini lah, banyak kisah pengkhianatan yang akhirnya terbongkar dan ketahuan siapa yang berpihak pada siapa.

Di buku ini lebih banyak cerita tentang latar belakang tokoh-tokohnya, termasuk sedikit tentang Charlotte dan suaminya, Henry. Bukan hanya cerita antara Tessa dan Will atau Tessa dan Jem, tapi juga Jem dan Will dan kisah mereka saat memutuskan untuk jadi parabatai

Dislikes
Biar klimaks, gw tulis dislikesnya dulu. Haha..
  • Kalau mau baca Clockwork Prince dengan harapan bukunya akan banyak cerita tentang petualangan dan adegan ‘berantem-beranteman’ macam Clockwork Angel, mungkin akan kecewa. Clockwork Prince kentel banget adegan-adegan romantisnya. Intrik - intriknya pun lebih banyak tentang pengkhianatan jadi ga ada deh adegan seru, labrak-labrakan antara Shadowhunters dan Underworlders. 
  • Cerita tentang cinta segitiga emang agak-agak tricky ya. Tiap baca adegan antara Jem dan Tessa, abis itu Will dan Tessa, gw jadi geregetan sendiri. It was like, "Come on, Tessa! Make up your mind. Pick one, and I'll take the other!" Disini Tessa terkesan kaya ga bisa nentuin pilihan, walopun ga bisa disalahin juga secara cowok yang bener-bener dia suka sikapnya ga jelas. Sementara yang dianggap temen ternyata nganggep dia lebih dari sekedar temen.
  • Di buku kedua ini cerita tentang Will lebih banyak diungkap. Terutama kisah tentang keluarganya, kenapa dia dateng ke Institute dan alasan kenapa dia bertingkah menyebalkan ke semua orang, kecuali Jem. Pas ceritanya keungkap, menurut gw kisahnya kurang seru bahkan cenderung antiklimaks.

Likes
Argh, who am I kidding?! Despite all the dislikes, I think it's pretty obvious that I am in love with this book. Walopun buku ini temanya beda dari buku pertama, buat gw intrik-intriknya tetep bikin penasaran. And the romantic scenes? Oh I just couldn't get enough. Settingnya pas, emosi yang dialamin oleh tokoh-tokohnya digambarkan detail dan dialognya juga indah. Bukannya gombal ga jelas yang bikin mo muntah. Cassandra Clare bisa banget bikin gw kebawa suasana. Karakter-karakter tokoh-tokohnya pun mendukung. Jem yang gentleman dan lemah lembut. Sedangkan Will yang kasar dan nyeleneh, trus tiba-tiba perhatian, abis itu cuek lagi. After all, if you wanna make a triangle love story, give two equally difficult options. That'll spice things up!

Cerita antara Will dan Jem pun digali lebih dalem. Berkali-kali Cassandra Clare menggunakan kata 'parabatai' atau 'brother', bukan 'best friend' setiap membahas Will dan Jem, menunjukan dekatnya hubungan mereka dan banyak nunjukin sisi lembutnya Will yang ga banyak ditunjukin saat dia berhadapan dengan orang lain.

Dialog-dialog antara tokoh-tokohnya juga terasa lebih santai dan banyak diselipin humor, terkesan kalo penghuninya udah lebih deket satu sama lain, terutama Tessa. Mungkin karena awal ceritanya ga segelap Clockwork Angel.



Verdict
Jadi intinya.. ah, sudahlah. Tulisan ini terlalu eksplisit. Selama gw baca, berkali-kali gw ngomongin buku ini di twitter dan timeline pun gw banjirin dengan quotes dari buku. At one point, gw rasa mungkin gw di-mute orang.



Ini baru quotes-nya. Belom pendapat-pendapat gw tentang bukunya. Bahkan pernah dalam satu hari, tweets gw tentang Clockwork Prince semua. I am obsessed with this book. Bahkan selesai baca bukunya pun gw masih baca-baca ulang bagian favorit gw. Haha.. Ga sabar nungguin Clockwork Princess!


No comments:

Post a Comment