Saturday, June 9, 2012

Sunshine Becomes You


Sunshine Becomes You adalah novel kelima karya Ilana Tan. Gw sendiri belum pernah baca buku-buku Ilana Tan walaupun berkali-kali liat Tetralogi 4 Musim dipajang di toko buku. Setelah sekian lama melewatkan novel-novel Metropop, iseng-iseng gw menambahkan novel ini ke dalam daftar belanjaan gw. Cap "National Bestseller" di sampul bukunya itu lumayan menggoda. Lagian, akhir-akhir ini gw udah terlalu banyak membaca buku-buku ber-genre fantasi, sepertinya gw butuh selingan. Dari judulnya yang mellow dan bahkan dari gambar sampulnya, bisa ditebak lah kalau novel ini genre-nya romantis.
"Dengan kota New York sebagai setting, dua tokoh utama dalam cerita ini adalah Alex Hirano yang adalah seorang pianis terkenal dan Mia Clark yang adalah seorang penari. Mereka bertemu di studio tari kecil tempat Mia dan Ray, adik Alex, mengajar tari. Pertemuan pertama berkesan buruk karena diawali dengan Mia yang jatuh dari tangga dan menimpa Alex sehingga pergelangan tangannya cedera. Sebagai pianis, pergelangan tangan yang tidak berfungsi tentunya berpengaruh sangat buruk. Semua konsernya hingga akhir tahun terpaksa dibatalkan. Tapi bukan cuma masalah konsernya, untuk kehidupan sehari-hari pun gerakan Alex terbatas. Merasa tidak enak terhadap dampak yang dihasilkannya, walaupun ketakutan melihat sikap Alex yang dingin dan ketus, Mia menawarkan untuk membantu Alex menjadi pengurus rumahnya selama tangannya dalam perawatan.
Alex awalnya cuma menganggap Mia sebagai malaikat maut yang berusaha menebus kesalahannya dengan membantunya dan Mia hanya berusaha membantu Alex hanya didorong oleh rasa bersalah dan kewajiban untuk bertanggungjawab. Tapi seiring berjalannya waktu, sering menghabiskan waktu berdua dan saling mengenal satu sama lain, akhirnya mereka saling tertarik.
Setelah hubungan mereka makin dekat, Alex harus mengatur perasaannya karena Ray, adiknya, juga menyukai Mia. Selain itu, Mia ternyata menyembunyikan kenyaataan bahwa dia menderita sakit yang mempengaruhi karir tarinya." 

Gw sendiri suka sama dua tokoh utamanya. Alex yang dingin dan ga banyak ngomong, tapi perhatian. Dan Mia yang ceria, tegar dan baik hati. Dua tokoh ini memang sering berdebat, berantem dan gondok-gondokan tapi masih dalam batas normal, bahkan malah berkesan manis.

Satu hal yang langsung gw perhatiin dari awal baca buku adalah bahasa dan dialognya yang terasa seperti buku terjemahan. Walaupun gw ngerti setting ceritanya adalah di New York dan tokoh-tokohnya di dalamnya dimaksudkan berdialog dalam bahasa Inggris, tapi tetep aja terasa aneh buat gw mengingat ini adalah novel Indonesia. Beberapa frase bahkan bener-bener terjemahan kata per kata dari bahasa Inggris. Sepanjang cerita, gw lewatin aja. Sampai Alex ngomong, "Wow.. tahan pikiran itu (hold that thought)" gw ga tahan untuk ga ketawa. Di kepala gw, mau ga mau gw ngebayangin tokoh-tokoh ini ngomong dengan intonasi dubber di film-film seri impor. 

Satu lagi yang mau ga mau gw perhatiin, sepertinya semua klise dalam cerita romantis dimasukin disini. Dari dua orang yang saling ga suka lama-lama jadi suka, cemburu-cemburuan padahal saling ga mengakui perasaan satu sama lain, cinta segitiga sampe sakit berat ada semua disini. Agak gengges tiap kali Alex berusaha mengingkari perasaannya sendiri dalam pikirannya. Berapa kali dia mikir, "Tunggu tunggu.. Masa gw gini (*masukan gesture perasaan sayang*) sih? Ah gak lah, pasti karena ini (*masukan alasan denial*)." Yah, kalo tokohnya remaja labil macam Tita di Eiffel... I'm in Love masih cocok lah yah. Tapi untuk cowok cool macem Alex koq rasanya ga pas aja sama karakternya.

Selanjutnya ceritanya mengalir manis. Ilana Tan ngasih waktu yang cukup untuk membangun chemistry antara dua tokohnya, bikin pembaca jadi suka sama Mia dan Alex. Pelan-pelan kita bisa ngerasain perubahan perasaan Mia dan Alex. Dan para pembaca perempuan (yang pastinya mayoritas) pasti menempatkan posisi sebagai Mia, dibikin klepek-klepek (matilah bahasa gw!) sama Alex. Favorit gw adalah saat Alex menyatakan perasaannya secara ga langsung pada Mia.

Seperti yang gw bilang, skenarionya tipikal cerita romantis lah. Tapi selama digunakan dan diolah dengan benar, tetep aja bisa menarik hati pembaca. Dan sebagai seorang penggemar cerita romantis, dari awal sampe pertengahan gw bener-bener terbawa sama ceritanya karena pengarangnya piawai menciptakan adegan-adegan manis antara Mia dan Alex. Beruntunglah gw baca buku ini di rumah karena beberapa kali gw senyum-senyum sendiri.


Sayangnya, semua resep tipikal yang awalnya diolah dengan bagus, jadi terlalu berlebihan. Rasanya pengarangnya berusaha terlalu keras memancing emosi sedih pembacanya.

Buat gw, nambahin penyakit ke dalam sebuah cerita itu tricky ya, karena pengarangnya setidaknya harus tahu tentang penyakit. At least, kasih diagnosis lah. Penyakit apakah ini yang diderita Mia? Tapi dari awal sampai akhir buku ini ga ada satupun keterangan tentang penyakitnya. Gali lah penyakitnya lebih dalam supaya pembaca ngerasa 'ngeh' dan ngerasa berapa parah penyakit itu. Sebaliknya, pengarangnya bikin jalan keluar mudah dengan menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit keturunan yang tidak bisa didiagnosa karena Mia adalah anak adopsi yang keberadaan orang tua kandungnya tidak diketahui. Seakan-akan penyakit ini sekedar bumbu yang ditambahin supaya tokoh wanitanya punya alasan untuk pingsan sesering mungkin dan pembaca bisa liat betapa cemas, perhatian dan cintanya tokoh laki-laki terhadap tokoh perempuan. Too easy. Semua sinetron Indonesia menggunakan resep yang sama.

Selanjutnya, kalau belom baca bukunya silakan skip paragraf berikut karena mengandung spoiler.
.
.
.
Dan gw ga suka endingnya karena terlalu menyedihkan. Bukan karena Mia akhirnya mati. Definisi sad ending, menurut gw, ga sesimpel: "tokoh utamanya mati". Banyak cerita yang tokoh utamanya mati tapi tetep berkesan buat gw. Yang saat ini langsung kepikir di kepala gw, Ps. I Love You dan A Walk To Remember.  Memang sedih waktu nonton. Tapi secara garis besar, ceritanya indah.

Saat kondisi Mia makin buruk, otomatis pembaca menempatkan diri sebagai Alex yang jatuh cinta sepenuh hati sama Mia, harap-harap cemas dengan kondisinya. Sayangnya sampai akhir hayat Mia, Alex ga tau kalau Mia ternyata cinta sama dia. Dan ga sempet ngerasain momennya dimana mereka berdua udah nyatain perasaan mereka. Itu lah sad ending buat gw. Kalopun dua bulan kemudian Alex nerima camcorder yang berisi pernyataan cinta Mia, terus dia bisa apa? Udah bagus dalam dua bulan itu dia ga keburu jadi gila karena stress (Now that's a depressing ending).
.
.
.
 End of spoiler

Buku ini banyak penggemarnya, apalagi melihat cap National Bestseller di sampulnya. Gw sih ga heran karena Ilana Tan mengambil semua skenario klise yang jadi jaminan sukses cerita romantis. Sayangnya, terlalu berlebihan. Menurut gw, endingnya ditambahkan hanya untuk melengkapi segala skenario generik yang sudah ada dari awal, supaya pembacanya terharu. Reaksi gw? Sambil baca, keceplosan ngomong, "Halah! Males banget.." Untuk sebuah novel romantis, buku ini berawal dengan ramuan yang standar dan berakhir dengan basi. Beneran, waktu mulai baca gw sama sekali ga nyangka bakal bilang buku ini not recommended. Tapi sekarang kenyataannya ya begitu.

2 comments:

  1. Since you're reading Indonesian books, have you ever read Test Pack by Ninit Yunita? I found it to be touching in an unusual way. Topiknya juga jarang dibahas jadi menarik :)

    ReplyDelete
  2. Never heard bout it. Noted, ntar cari deh. Sekarang kalo nyari buku indo yang lama udah susah...

    ReplyDelete