Friday, July 13, 2012

Hush, Hush


Seiring dengan tren cerita fantasi berseri, gw memutuskan untuk menambahkan Hush, Hush kedalam koleksi gw. Alasannya cukup superfisial: Patch Cipriano, tokoh utama pria di buku ini, terdaftar dalam lima besar nominasi YA Crush Tourney. Bahkan posisinya sempat naik diatas James Carstairs (The Infernal Devices). Ya ya ya.. Superfisial, gw tau. Seakan memang jodoh, bukunya ternyata didiskon di Periplus jadi seharga lima puluh ribu rupiah saja.

Hush, Hush adalah buku pertama dari Hush, Hush Saga yang terdiri dari 4 buku, karangan Becca Fitzpatrick.

Pertemuan Nora dengan Patch berawal di kelas Biologi sebagai partner praktikum. Tugas mereka adalah saling mengenal satu sama lain untuk kemudian dibuat laporan. Mau tidak mau, Nora berusaha mengenal Patch yang masa lalunya misterius dan pintar bermain kata-kata untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Nora. Lebih menyebalkan lagi, entah bagaimana, Patch justru tahu banyak tentang Nora bahkan melebihi teman dekatnya sendiri.
Sejak berpartner dengan Patch, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi dalam hidup Nora. Berkali-kali Nora merasa diikuti orang asing. Bahkan sosok misterius bertopeng ski berkali-kali muncul dan berusaha mencelakainya. Lebih aneh lagi, kemanapun Nora pergi, dia selalu bertemu Patch. Dengan daya tarik Patch, Nora bimbang antara rasa tertarik dan rasa takutnya terhadap Patch. 
Perlahan-lahan, Nora mulai mengenal Patch. Masa lalu Patch. Siapa Patch sebenarnya. Bahkan siapa Nora sebenarnya. Dan pada akhirnya Nora harus memilih, siapakah yang bisa dia percaya?

Karena gw sangat suka menulis kesimpulan gw di awal review, jadi gw bilang aja dari sekarang kalo menurut gw buku ini membosankan. Okei. Let's start.

Pertama-tama, dari alur ceritanya yang menurut gw sangat lambat dan terasa diseret-seret. Sepertinya Fitzpatrick berusaha keras membangun chemistry antara Patch dan Nora, sampai-sampai setengah buku pertama cuma diisi pertemuan Patch dan Nora. Intinya cuma: kemana pun Nora pergi, termasuk ke dalam toilet perempuan yang dikunci, ada Patch! Disertai dengan dialog tarik ulur antara Patch dan Nora. Karena gw ga tau genre buku ini, sepanjang awal sampai setengah buku gw kira buku ini masuk dalam kategori buku romantis. Kejadian-kejadian aneh sedikit sekali terjadi, tapi ga segitu hebohnya mempengaruhi jalan cerita. Pokoknya, intinya, cuma tentang Patch dan Nora dan pendapat Nora tentang Patch, that at one point I was like, "Okay, I get it. Give me something else to be excited about!"

Kejadian-kejadian misterius baru mulai di-follow up di pertengahan buku, yang sebelumnya gw udah mati-matian menahan ngantuk. Bahkan sampai disini pun, gregetnya cuma sebatas curiga-curigaan aja, tentang siapa yang jahat dan siapa yang bisa dipercaya. Tapi ga ada petunjuk-petunjuk seru yang menyita perhatian untuk kemudian pembacanya bisa merangkai petunjuk-petunjuk tersebut dan menebak-nebak jalan ceritanya. Sebaliknya, semua misteri baru dibeberkan sekaligus di sepertiga akhir buku dan karena tidak ada jejak-jejak untuk diingat diawal-awal cerita, ya otomatis ceritanya terlupakan begitu aja. Plot-nya fokus disitu-situ aja, ga ada subplot seru yang bisa mengalihkan perhatian pembaca dari investigasi Nora terhadap Patch yang ga maju-maju sepanjang cerita. Bosan. Bahkan tokoh-tokoh lain yang pada akhirnya mempengaruhi jalan cerita ga banyak dikasih porsi di awal, jadi ga meninggalkan kesan.

Tokoh Patch sebenernya punya potensi untuk jadi character-crush. Secara dia digambarkan sebagai misterius, sexy, ganteng, percaya diri dan eloquent (ga bisa menemukan istilah bahasa Indonesia yang tepat. help!). Tapi karena ceritanya diceritakan dari sudut pandang Nora dan mungkin Fitzpatrick berusaha menjaga agar karakter Patch tetap terkesan misterius, untuk mengenal Patch kita lebih banyak bergantung pada pendapat Nora tentang Patch, sementara dialog Patch sendiri pendek-pendek aja. "Dialog" ini pun kebanyakan cuma sekedar flirting-flirting ga jelas, yang sama sekali ga membangun karakter Patch. Buat gw ini malah bikin tokoh Patch jadi agak-agak detached, ga memorable. Tokoh Nora ga jadi favorit gw. Mungkin positifnya, Nora punya karakter yang perhatian sama orang-orang terdekatnya. Tapi keseluruhan, Nora terlalu lemah dan ga taktis.

Akhirnya, mungkin ide cerita Hush, Hush lumayan berpotensi untuk dibikin jadi cerita yang seru. Sayangnya cara penulisannya membuat gw bosan. Selain itu, begitu ceritanya selesai, ceritanya bener-bener selesai. Ga ada jalan cerita yang perlu di-follow up. Did you realize where am I going with this? Yes, gw ga ngerti kenapa mesti ada tiga buku selanjutnya (Dan sayangnya gw udah beli buku kedua, Crescendo, dengan alasan yang sama dengan Hush, Hush. Diskon.)

No comments:

Post a Comment