Wednesday, October 31, 2012

The Mark of Athena


Baru aja selesai baca, niatnya pengen langsung nulis review gitu. Ternyata gw butuh waktu untuk memperbaiki diri dari kondisi berikut.


The Mark of Athena adalah buku ketiga dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang diceritakan dari sudut pandang tiga demigod, di The Mark of Athena kita punya empat narator.
Kunjungan para demigod dari Camp Half-Blood ke Camp Jupiter yang berujung ricuh, memaksa kapal Argo II tinggal landas, dengan tujuh demigod di dalamnya. Annabeth, Percy, Jason, Piper, Leo, Frank dan Hazel. Tanpa tau tujuan, satu-satunya petunjuk yang mereka punyai adalah sepotong informasi dari Thanatos untuk mencari pintu kematian di Roma.
 
Dalam misi ini, para demigod tidak bisa banyak mengharapkan bantuan para dewa karena berdasarkan informasi yang mereka dengar, dengan bertemunya demigod Romawi dan Yunani, para dewa bagaikan kehilangan identitas diantara wujud Romawi dan Yunani mereka. Dewi yang mengalami dampak paling buruk adalah Athena.
Saat bertemu dewi Athena, Annabeth mendapatkan tugas untuk mengikuti tanda Athena, sebuah legenda turun temurun dari ribuan tahun yang lalu, yang bisa memicu pertarungan atau perdamaian antara demigod Yunani dan Romawi. Pilihan ada di tangan Annabeth. Dan dia harus menjalankan misinya sendirian.
Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas perkenalan para demigod, dimana masing-masing punya konflik di masa lalu mereka, yang membangun karakter para tokoh. Di buku ketiga ini, setelah kita kenal dengan semua demigod, cerita para tokoh ini lebih ke perkembangan karakter dan peran mereka masing-masing dalam cerita. Yang jadi tokoh utama dalam buku ini adalah keempat demigod Yunani: Annabeth, Leo, Piper dan Percy.

Gw jarang-jarang protes tentang gambar cover, tapi menurut gw cover kali ini agak misleading. Gambar mata burung hantu sih keren, dan udah menggambarkan ceritanya yang berhubungan dengan Athena. Yang ga cocok tuh dua orang demigod di atas kuda itu. Dua orang demigod di gambar udah pasti Jason dan Percy. Ada satu adegan dimana kedua demigod ini bertarung melawan satu sama lain, tapi itu cuma sebagian kecil dari cerita. Kenapa gambarnya bukan Annabeth aja gitu? Dan Argo II?

Dari judulnya, The Mark of Athena, dari setahun yang lalu pun pasti udah bisa nebak kalau Annabeth akan jadi salah satu tokoh utama di buku ini, yang jadi alasan gw ga sabar nunggu buku ini terbit. Dari seri sebelumnya, Annabeth selalu diceritakan dari sudut pandang Percy. Disini, dengan kita bisa kenal lebih dalam sama Annabeth. Seorang demigod anak dewi Perang, yang selalu berani dan selalu punya rencana dalam menghadapi segala kemungkinan masalah, ternyata juga bisa takut, putus asa, sampai menangis.

Setelah menghabiskan enam bulan dalam bunker 9 merakit Argo II, udah sepantasnya Leo punya jatah di The Mark of Athena. Masih inget di The Son of Neptune, Hazel kaget waktu pertama kali melihat Leo dan menyebut Leo sebagai Sammy, yang adalah pacarnya di kehidupan sebelumnya? Nah, di buku ini kita dapet jawabannya. Di buku ini juga menceritakan konflik Leo, yang lebih piawai berinteraksi dengan mesin daripada manusia. Menjalankan misi bertiga aja dia merasa asing dari Jason dan Piper, apalagi bersama enam orang lainnya?

Piper lagi-lagi tidak memberikan kesan berarti disini. Yang jadi "konflik" buat Piper adalah pengelihatan yang muncul di belatinya, Katoptris, yang berkaitan dengan misi mereka. Yeah, nothing special. Semua demigod dapet pengelihatan. Biasanya lewat mimpi, kebetulan aja Piper lewat belati. Bukan cuma itu. Saat Annabeth pusing mikirin misinya mencari tanda Athena, Leo sibuk mengendalikan kapalnya, belum lagi posisinya yang jadi odd man out, yang jadi konflik Piper adalah rasa takutnya kehilangan Jason, apalagi sejak Jason kembali mengunjungi Camp Jupiter. REALLY, PIPER?!

Dengan tujuh tokoh sentral, Riordan menambahkan satu tokoh utama untuk bercerita. Dan posisi keempat diberikan kepada Percy. Menurut gw, Percy disini mewakili interaksi antara para demigod Romawi dan Yunani. Jangankan mempertemukan dua camp. Dalam satu rombongan berisi empat demigod Yunani dan tiga demigod Romawi aja suasananya udah tegang. Percy, yang terbiasa memimpin, harus belajar menyesuaikan posisi dengan adanya Jason, yang juga terbiasa jadi pemimpin. Sebenernya kalo konfliknya cuma sampai disitu, posisi Percy sebagai narator bisa diganti dengan Jason. Tapi disini Percy juga bergumul dengan perasaannya karena harus melepaskan Annabeth yang akan menghadapi misi mematikan sendirian.

Menurut gw, yang bakalan jadi tantangan di The Mark of Athena adalah menceritakan ketujuh demigod, membuat mereka semua terlihat sama pentingnya. Cuma menceritakan tiga demigod aja ceritanya Rick Riordan udah cukup njelimet. Apalagi bertujuh?! Walaupun di awal cerita, beberapa tokoh, seperti Frank dan Jason, agak tersembunyi di belakang layar. Tapi dengan telaten Rick Riordan membangun plot sehingga semua dapat jatah cerita, tanpa ada yang ketinggalan.

The Mark of Athena adalah buku Rick Riordan yang kesebelas yang gw baca. Bisa dibilang gw udah familiar dengan gaya menulis Rick Riordan yang jago meramu cerita penuh humor, aksi laga dan ketegangan. Mau ga mau gw pasti berasa kalo gaya nulisnya berubah, walaupun sedikit. Perasaan gw doang apa emang The Mark of Athena ini mood-nya agak mellow? Baru kali ini gw ngerasain dibikin nangis sama Riordan. Pas lagi baca cerita tentang masa lalu Sammy, lah kok tulisan tiba-tiba burem? Hehehe. Interaksi Percy dan Annabeth pun beda dari yang biasa kita baca di Percy Jackson and the Olympians. Walopun gw menunggu-nunggu reuni antara Percy dan Annabeth, sepanjang baca tetep aja gw butuh waktu untuk membiasakan diri dengan Percy dan Annabeth versi romantis. Saat Percy bilang, "We're staying together. You're not getting away from me. Never again." Nah, mewek lagi deh gw. Percy Jackson is a demigod warrior in The Son of Neptune. But he's simply just a sweet boyfriend in The Mark of Athena. Suka sih dengan cerita Percy-Annabeth, Jason-Piper dan Frank-Hazel-Leo. Tapi gw harap kedepannya cerita romantis ini ga mengambil lebih banyak porsi. Buat gw, action, plot twist dan humor tetep jadi daya tarik utama buku-buku Rick Riordan.


Ngomongin Rick Riordan kayanya ga lengkap kalo ga ngomongin cliffhanger. Hahaha *ketawa miris* Kalo cliffhanger cuma sebatas kapal Argo II yang melayang di atas Camp Jupiter, mungkin kita masih bisa makan dan tidur tenang. Tapi kali ini... Pfft! Bahkan Riordan pun mengakui cliffhanger di buku The Mark of Athena sebagai 'a different sort of cliffhanger.' Cliffhanger di akhir cerita lumayan udah membuka jalan untuk misi mereka selanjutnya. Tapi tetep aja bikin deg-degan. Dan sedih! (Yang menjelaskan gambar di awal postingan ini)

So, read The Mark of Athena on your own risk. Knowing you'll have one miserable year ahead of you, wondering what will happen in The House of Hades.

1 comment:

  1. "Perasaan gw doang apa emang The Mark of Athena ini mood-nya agak mellow?" Tidak, Anda tak sendiri karena saya juga merasakan hal serupa...

    And, cliffhanger! As-ta-ga! Buku Mark of Athena ini bikin geregetan!

    -Pembaca Mark of Athena-

    ReplyDelete