Friday, October 26, 2012

The Son of Neptune


The Son of Neptune adalah buku kedua dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan yang terbit tahun 2011. Kalau tiga tokoh utama di buku pertama, The Lost Hero, berasal dari Camp Half-Blood, sekarang giliran para demigod dari Camp Jupiter yang beraksi.
Kemunculan Percy Jackson di Camp Jupiter, dengan menggendong seorang wanita tua a la hippie sementara dikejar-kejar gorgon, tidak langsung diterima dengan tangan terbuka oleh para demigod Romawi. Ingatannya yang hilang pun tidak membantu sama sekali. Setelah pertarungan singkat melawan para gorgon, Percy menemukan dua orang teman di perkemahan, yakni Hazel Levesque dan Frank Zhang. 

Untuk misi kali ini, Camp Jupiter kedatangan dewa Mars yang memberitahu bahwa Gaea telah membuka Pintu Kematian sehingga musuh-musuh mereka tidak bisa mati, bahkan mahluk-mahluk mitologi yang sudah lama mati dibawa Gaea kembali ke bumi untuk dijadikan kaki-tangannya. Gaea pun menyandera Thanatos, dewa penjaga Pintu Kematian. Mars mengutus Frank dan dua orang temannya (tentunya Percy dan Hazel yang dipilih) untuk pergi ke tanah di luar jangkauan para dewa untuk membebaskan Thanatos. Bukan misi yang mudah karena tempat tujuan mereka juga merupakan tempat Alcyoneus, anak Gaea yang adalah raksasa tertua.

I'll let you in one little secret. Pertama kali gw baca buku ini, setahun yang lalu, gw ga terlalu terkesan dengan The Son of Neptune.

Sekarang, setelah gw baca buku ini kedua kalinya, dengan lebih konsentrasi, gw baru menyadari betapa kerennya The Son of Neptune! Gw sampe mikir, kok bisa-bisanya gw nganggep buku ini gak berkesan?! Walopun sekarang gw bisa nangkep apa kira-kira yang bikin ceritanya agak sulit diikuti. God bless my slow brain!

Bisa dibilang, perkenalan dengan Camp Jupiter lumayan membingungkan. Kalau ga familiar dengan mitologi atau sejarah Romawi, lumayan pusing ngikutinnya. Contohnya, para penghuni Camp Jupiter disebut Twelfth Legion. Pertama kali baca, gw kira, di dalam perkemahan ada dua belas legion. Ternyata setelah baca ulang, gw baru ngeh bahwa seluruh penghuni Camp Jupiter adalah anggota Twelfth Legion yang, menurut sejarahnya, pernah berperang bersama Julius Caesar. Dari hasil intip-intip Wikipedia, kerajaan Romawi punya tiga puluh legion. Dari jaman kerajaan Romawi, legion ini banyak berpencar-pencar, bahkan hilang.

Berbeda dengan Camp Half-Blood yang lebih santai dan ga banyak peraturan, Camp Jupiter punya aturan yang lebih ribet. Dalam buku ini, Rick Riordan bener-bener mengikutin struktur organisasi Romawi sedekat mungkin dengan sejarah. Dalam Camp Jupiter, mereka memilih dua orang praetor sebagai pemimpin. Dalam membuat keputusan, kedua praetor ini akan mengadakan rapat bersama senate. Camp Jupiter bahkan punya Pomerian Line, garis perbatasan kota. Dimana, seperti sejarahnya, rapat senat ini biasa diadakan di perbatasan kota. Ribet? Oh, pastinya. Jadi males baca bukunya? JANGAN!!

Bukan cuma detail tentang Romawi yang bikin ribet. Kalo ga familiar dengan cerita mitologi, udah pasti mesti nyediain ruang di otak untuk menghapal nama-nama mahluk yang pelafalannya lumayan bikin lidah keriting. Apalagi disini, tokoh Frank Zhang punya latar belakang cerita yang lumayan njelimet, yang berkaitan dengan mitologi. Walaupun keturunan dewa Romawi, dari namanya, Zhang, bisa ditebak dong kalo Frank ini keturunan Asia. Perjalanan misi para demigod biasanya penuh dengan detail geografis Amerika. Walaupun pengarangnya menggambarkan setiap kota dalam cerita, tentunya akan lebih membantu kalau kita familiar dengan landscape kota itu sendiri. Sepanjang baca, gw berkali-kali bolak balik halaman ke belakang karena ada aja detail yang kelupaan. Mungkin waktu baca pertama kali gw gak konsen atau terlalu semangat malah bacanya buru-buru. Sampai disini sepertinya gw bisa ngerti kenapa awalnya The Son of Neptune ga berkesan buat gw.

Dibalik detail-detail ribet cerita The Son of Neptune, gw bener-bener semakin kagum sama Rick Riordan. Gak gampang mengadaptasi cerita-cerita yang udah duluan terkenal menjadi sebuah cerita yang baru dan segar. Salah-salah, bisa jadi cuma terkesan njiplak. Tapi dengan kepiawaian pengarangnya, Percy, Frank dan Hazel serta misi mereka tetap jadi kisah utama yang menonjol di buku ini.

Frank, Percy and Hazel made one super awesome team! Gw suka ketiga demigod di cerita ini. Percy Jackson karena... well, he's Percy Jackson! Haha.. Bisa dibilang buku ini jadi obat kangen buat para penggemar Percy (Abis browsing-browsing di internet, gw baru tau ternyata buku The Lost Hero banyak dicerca penggemarnya karena tidak ada Percy di dalamnya. Pfft.. Teenagers!). Setelah sekian lama Percy absen, disini lagi-lagi gw diingetin sama tokoh Percy yang bukan cuma sekedar seorang pemimpin yang jago bertarung. Tapi Percy yang begitu loyal sama teman-temannya. Dan tentunya ungkapan-ungkapannya yang kadang konyol, dan kadang sarkastik.

Sementara Hazel Levesque dan Frank Zhang, keduanya adalah misfits di Camp Jupiter. Karena keserakahan ibunya, Hazel lahir dengan kutukan, dimana saat emosinya berlebihan, batu-batu berharga yang mematikan berjatuhan di sekitar Hazel. Untuk menambah keanehannya, Hazel lahir sebelum waktunya. Dan yang lebih aneh lagi, Hazel seharusnya sudah mati. Sementara Frank, setelah kematian ibunya, dikirim oleh neneknya ke Camp Jupiter. Setelah sebelumnya neneknya menceramahinya tentang leluhurnya yang adalah para pahlawan dan Frank pun adalah pahlawan dengan bakat keturunan keluarganya. Masalahnya, tubuhnya yang gempal dan pembawannya yang kikuk serta cenderung ceroboh sama sekali tidak membuat Frank merasa seperti pahlawan.

Dengan ingatan Percy yang hilang, lagi-lagi kita bertemu dengan tim underdog! Gw suka chemistry antara tiga orang ini. Kalau yang jadi konflik intrinsik di rombongan sebelumnya adalah Leo yang merasa terasing dan tidak penting dibanding Jason dan Hazel, lain lagi dengan rombongan Percy. Ketiganya sama-sama merasa ga bisa apa-apa. Tapi itu lah yang justru bikin mereka jadi dekat. Bukan cuma saling kerjasama, mereka saling membesarkan hati satu sama lain setelah hampir mati melawan musuh-musuh mereka. Begitu juga saat satu persatu mereka mulai membuka rahasia masa lalu mereka. Walaupun Hazel dan Frank bertarung dengan hebat, mereka tetep ga menyadari pentingnya peran mereka. Hazel dan Frank punya cerita latar belakang yang bagus banget. Seiring berjalannya cerita, mereka belajar tentang masa lalu mereka, keluarga mereka bahkan takdir mereka. Dan semuanya jadi penyemangat Frank dan Hazel untuk bertarung.

Baca The Son of Neptune bener-bener memprovokasi segala emosi! Buku ini bikin gw ketawa, kesel, terharu. Bahkan ikut bangga saat membaca pertarungan Frank di akhir misi. Untungnya sepanjang cerita gw masih bisa menahan diri untuk gak meninju udara sambil teriak "YEEESSS!!!!" Kalo pinjem bahasanya para fangirl, kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini adalah, umm.. asdkjaerkjjsh!!!!! Bener-bener wajib baca! 

Sebelum review yang sudah super panjang ini semakin bertambah panjang, sebaiknya gw akhiri sekarang dengan meminjam salam perpisahan a la Leo Valdez.

"See you soon. Yours in demigodishness, and all that. Peace out"

3 comments:

  1. Hiyaaa....ketauan banget penggemar Rick Riordan dari postnya.
    Ish jd penasaran baca, to see what the hype was all about :))

    Btw blognya kudaftarin di BBI yaa. Biar kedata aja. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha.. I can't get enough of Riordan's. Semakin kesini, malah makin berasa HoO lebih seru dari PJO.

      Makasih ya udah didaftarin di BBI :)

      Delete
  2. Eh ternyata blogmu udah didata di BBI, mbak. Monggo lho klo mo pasang logo BBI di blognya. Klo mau gabung ke fb group juga boleh. Kasi aja usernamenya, tar di-add. Untuk saat ini, grup BBI emang dibikin secret, jd kudu di-add

    ReplyDelete