Saturday, October 20, 2012

The Survival Kit

Setelah ibunya meninggal karena kanker, Rose Madison menemukan Survival Kit buatan ibunya yang ditujukan untuknya. Di dalamnya, bersama benda-benda lainnya, terdapat pesan dari ibunya bahwa Survival Kit ini dibuat ibunya untuk membantu Rose melewati masa duka dan kehilangan sepeninggal ibunya. Satu-satunya petunjuk penggunaan yang diberikan oleh ibunya adalah: Use your imagination.
Sambil berusaha mencari tahu maksud dari benda-benda pemberian ibunya dalam Survival Kit, Rose berusaha menata ulang hidupnya, bersama kakaknya berusaha mengatasi rasa kehilangan atas meningalnya ibunya, mengurus ayahnya yang begitu terpuruknya sejak ibunya meninggal dan menjadikan alkohol sebagai pelarian, serta memperbaiki kehidupan sosialnya. Dalam perjalanannya, Rose dipertemukan dengan Will Doniger, pengurus tanaman di rumahnya yang juga pemain hockey di sekolah. 
Ga tau kenapa gw lagi ngidam buku genre romantis. Menemukan The Survival Kit dalam list Best Young Adult Realistic Novels di Goodreads, I decided to give this book a try. Teknisnya, The Survival Kit bukan genre romantis sih. Ceritanya lebih berpusat pada Rose dan perjalanannya menghadapi rasa kehilangan setelah ibunya meninggal. Kepergian ibunya memberi imbas yang dalam pada Rose. Dia berhenti jadi cheerleader, menolak masuk stadion dan menonton pertandingan pacarnya, tidak mau disentuh, dia bahkan berhenti mendengarkan musik karena musik membuatnya sedih.

Biasanya gw bukan penggemar buku yang mood-nya mellow gini. Buku tentang kepergian anggota keluarga bukan ide yang sepenuhnya baru, bahkan secara garis besar buku ini ngingetin gw sama The Truth About Forever karangan Sarah Dessen. Dan tema seperti ini pun bisa dengan mudah jadi mood-killer, yang adalah alasan kenapa gw ga sanggup selesein The Lovely Bones karangan Alice Sebold. Karena itu, gw ga nyangka gw ternyata menikmati baca The Survival Kit.

Mulai dari ide ceritanya, Survival Kit peninggalan ibunya Rose. Saat Rose menelusuri satu-persatu benda pemberian ibunya, gw jadi penasaran kemana kira-kira benda-benda itu akan membawa Rose. Bukan cuma itu yang bikin gw bertahan baca. Walaupun awalnya gw mengharapkan cerita romantis, ternyata kisah Rose dengan keluarga dan teman-temannya juga menarik untuk diikutin. Hubungan Rose dengan kakaknya, Jim, manis banget. Digambarin gemana deketnya Rose dan Jim, juga betapa protektifnya Jim terhadap adiknya. Saat Rose dan Jim nangis bareng karena teringat ibu mereka di hari Natal pertama sejak kepergian ibu mereka sambil diiringin lagu Natal, bikin gw trenyuh. (I know I'm being extra cheesy right now, but I've told you that this is a mellow novel!)

Hubungan Rose dengan Will juga manis banget. Tokoh Will bukan sekedar tempelan doang, tapi dia pun punya konflik sendiri, yang justru jadi awal kedekatannya dengan Rose. Walaupun buat gw hubungan mereka bukan daya tarik utama novel ini, karena gw lebih tertarik sama cerita Rose sendiri. Dan pada akhirnya menurut gw Rose dan Will are too fragile to be together, tetep aja they're such a cute couple. Favorit gw adalah saat mereka main salju malem-malem saat badai. Dan kok bisa-bisanya Freitas kepikiran bikin tokoh macam Will yang adalah kombinasi pemain hockey dan tukang kebun?!

Satu lagi yang bikin buku ini menarik adalah keterlibatan musik dalam ceritanya! Ah! Lagi-lagi, kepikiran aja sih?! Setelah memboikot musik dari hidupnya, Rose pelan-pelan berusaha mendengarkan musik lagi. Walaupun ga baca sambil dengerin musik, secara ga sadar, gw jadi berasa seperti lagi nonton film lengkap dengan soundtrack yang membangun suasana! Bahkan tiap bab di buku ini dijuduli dengan judul lagu. Beberapa diantaranya The Heart of Life (John Mayer), My Baby Just Cares for Me (Nina Simone), All at Sea (Jamie Cullum) dan tentunya All I Want for Christmas is You (Mariah Carey).

Dalam satu cerita yang secara garis besar bertemakan 'kehilangan,' di dalamnya ada konflik Rose dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya, dengan pacar dan teman-temannya. Semuanya dalam takaran yang pas. Dan Donna Freitas berhasil mengemas semuanya dengan ringan dan indah, bahkan kadang-kadang bikin gw terharu.

Satu aja yang gw mo protes dari buku ini, yaitu judul-judul bab-nya yang kadang terlalu obvious. Gw ngerti Freitas berusaha menemukan lagu yang pas untuk ngegambarin ceritanya. Tapi kalau hubungan Rose dan pacarnya bermasalah, dan kita lagi nebak-nebak gemana kira-kira kelanjutannya, terus balik halaman berikutnya, belum juga baca isinya, udah baca judul bab-nya 'How It Ends,' kayanya buzzkill banget. Ga banyak sih yang kaya gini, but it totally ruined the whole chapter for me. But, whatever, that's minor.

In a nutshell, reading The Survival Kit was such a pleasant journey. Kalau lagi mood baca yang mellow-mellow, boleh deh disempetin baca The Survival Kit.

No comments:

Post a Comment