Friday, December 14, 2012

Daughter of Smoke and Bone


Seumur hidupnya Karou, gadis berambut biru yang adalah mahasiswa seni di Praha, hanya mengenal mahluk-mahluk setengah manusia setengah hewan -chimaera- sebagai keluarganya, tanpa tahu asal-usul mereka. Karou bahkan tidak tahu asal-usul dirinya sendiri. Yang dia tahu, Brimstone, dengan dibantu para asistennya, Issa, Twiga, Yasri dan Kishmish, tinggal dalam sebuah toko dimana Brimstone dapat mengabulkan keinginan para pelanggannya dengan gigi sebagai bayarannya. Toko Brimstone memiliki dua pintu. Satu pintu yang menghubungkannya ke dunia, tempat Karou keluar masuk. Dan satu pintu misterius yang tidak pernah dibuka di hadapan Karou. Brimstone hanya memberitahunya bahwa pintu itu menuju ke Elsewhere.

Hingga suatu saat tanda berbentuk tangan berwarna hitam bermunculan di berbagai pintu, termasuk pada pintu menuju toko Brimstone. Dan umat manusia di penujuru dunia dikagetkan dengan kemunculan serafim yang meninggalkan tanda di pintu-pintu. Saat itu lah Karou bertemu dengan Akiva, serafim yang punya jawaban atas semua misteri dalam hidup Karou. Siapa Brimstone. Apa yang Brimstone lakukan dengan gigi yang diterima dari para pelanggannya. Apa yang ada di balik pintu misterius di toko Brimstone. Akiva bahkan punya jawaban atas misteri terbesar dalam hidup Karou, yaitu masa lalunya.

Daughter of Smoke and Bone adalah buku pertama dari trilogi berjudul sama karangan Laini Taylor. Sebenernya udah lama denger buku ini dipuji-puji oleh para penggemar fantasi. Tapi idenya yang mengangkat angel dan devil kok terdengar ga menarik buat gw. Secara, yang langsung kebayang di kepala adalah dua mahluk, yang satunya pake jubah putih dan halo di atas kepala, sementara mahluk satunya berwarna merah, bertanduk, bertaring, serta bawa trisula. Deskripsi umum ala kartun. Hehe. Seperti biasa, setelah kalah oleh rasa penasaran, apalagi dengan banyaknya review menjanjikan tentang buku ini, gw memutuskan untuk berkenalan dengan dunia Karou dan Akiva. Hanya dalam dua bab, Laini Taylor berhasil meyakinkan gw bahwa bukunya sangat worth to read!

Satu hal yang tidak mungkin terlewat untuk disinggung saat membicarakan tulisan Laini Taylor adalah bagaimana pengarangnya memilih diksi dan merangkainya menjadi barisan-barisan kalimat yang indah dari awal sampai akhir cerita. Pernah ga sih baca buku yang penulisannya kasual banget tapi ada satu dua kata asing yang diselipkan sehingga rangkaian kalimatnya terkesan agak dipaksakan, macam satu kata asing itu diolah di thesaurus dulu? (Yes, Richelle Mead and Huntley Fitzpatrick, I was talking about you!) Laini Taylor memang banyak menggunakan kosakata yang terdengar asing, setidaknya buat gw yang memang kosakata bahasa Inggrisnya terbatas, tapi gw sama sekali ga keberatan bolak-balik buka kamus karena pilihan kosakata Laini Taylor terasa pas dengan mood dan gaya penulisannya. Kalau sudah biasa baca buku bahasa Inggris atau, seperti gw, ga keberatan bolak-balik kamus saat baca buku, gw saranin baca buku ini dalam bahasa aslinya deh. Gaya penulisan Laini Taylor sayang banget untuk dilewatkan.

Bukan cuma gaya penulisannya yang membuat gw kagum, tapi juga dunia fantasi a la Laini Taylor pun memberi efek yang sama buat gw. Bukan hanya berhasil menggambarkan Praha dan Marrakesh, yang jadi setting buku ini. Tapi juga Eretz, dunia tempat tinggal para chimaera dan serafim. Gw paling suka kalau pengarang genre fantasi bener-bener niat menciptakan dunia khayalan sampai gw segitu terhanyutnya. Dan Laini Taylor dengan suksesnya bikin gw lupa sama dunia nyata. Selain Karou dan Akiva, tokoh-tokoh lain dalam buku ini pun lovable dan memorable. Baik tokoh protagonis maupun antagonis. Dan mood penulisan Laini Taylor disesuaikan dengan karakter para tokoh-tokohnya. Lebih santai dan penuh humor saat bercerita tentang Karou dan Zuzana, sahabatnya. Agak serius dan sedikit puitis saat menceritakan tentang Akiva. Dari segi ceritanya sendiri, seperti hal-nya buku pertama, lebih banyak perkenalan. Baik memperkenalkan tokoh-tokohnya, dunia yang jadi setting cerita, juga konflik-konfliknya. Tapi bisa dibilang buku ini lebih cenderung ke arah cerita romantis sih. Pas buat gw yang memang penggemar genre fantasi dan romantis, secara buku ini menawarkan keduanya.

Dengan komposisi yang pas antara jalan ceritanya yang bikin penasaran, karakter tokoh-tokohnya yang kuat dan setting yang magical, gw sangat menikmati membaca Daughter of Smoke and Bone. Highly recommended.

2 comments:

  1. Blog Walking..
    buku fic fun ini serial juga kah ?
    salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal, mba Nanny. Makasih udah mampir.

      Iya, buku ini trilogi. Buku keduanya, Days of Blood and Starlight, udah terbit. Sedangkan buku ketiganya terbit thn 2013.

      Delete