Sunday, December 16, 2012

The Night Circus

The circus arrives without warning. No announcements precede it. It is simply there, when yesterday it was not.

Memasuki The Circus of Dreams, seperti namanya, seperti memasuki dunia mimpi penuh keajaiban. Di balik setiap tenda bergaris hitam putih menanti berbagai wahana unik yang tidak terlupakan. Tidak heran pengunjungnya selalu menanti-nantikan The Circus of Dreams yang kedatangannya tidak diduga-duga dan hanya buka setelah matahari terbenam. Namun tidak banyak yang tahu tentang kompetisi antara dua illusionis di balik The Circus of Dreams.

Sejak kecil, tanpa mengenal satu sama lain, Marco dan Celia dilatih untuk menjadi illusionis hebat dan terikat dalam kompetisi aneh yang mereka sendiri tidak tahu peraturannya. Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya Celia mengetahui bahwa Marco adalah kompetitornya. Masalah menjadi pelik saat Celia dan Marco saling jatuh cinta dan ingin melepaskan diri dari kompetisi yang mengikat mereka. Tapi satu-satunya cara mengakhiri kompetisi berarti mengakhiri kelangsungan The Circus of Dreams.

Walaupun gw jarang membahas bentuk fisik dari buku yang gw review, tapi khusus untuk buku The Night Circus ini, perlu banget dibuat pengecualian. Without a doubt, The Night Circus hardcover US edition adalah buku paling cantik yang pernah gw punyai. Bukan hanya sekedar menampilkan gambar tenda sirkus  di sampulnya, buku ini juga dihiasi dengan warna yang menjadi tema The Circus of Dreams yaitu hitam putih/perak, lengkap dengan hologram dan taburan bintang. Cetakan UK edition pun tidak kalah cantik dengan gambar siluet Marco dan Celia pada sampulnya. Tepian kertasnya yang berwarna hitam bikin gw naksir berat! Bukunya sungguh berhasil menampilkan keajaiban dari The Circus of Dreams.

Onto the content, honestly, I was in a love/hate relationship with this book. Dari awal, buku The Night Circus sudah terasa sarat dengan deskripsi dan minim dialog. Lebih dari sekedar minim dialog, dalam beberapa bagian, saat tokohnya berdialog pun ditulis dalam kalimat pasif. Erin Morgenstern sangat mencurahkan perhatian terhadap detail, sampai yang terkecil sekalipun, seperti warna tenda, wahana dalam sirkus, warna api dalam belanga di tengah-tengah sirkus, tempat para pemain akrobat berdiri. Bahkan ada satu bab sendiri khusus untuk menceritakan proses pembuatan dan detail jam yang dipajang di gerbang sirkus! Dari awal, love/hate relationship antara gw dengan buku ini sudah dimulai. Saat membaca, gw merasa bosan dengan deskripsi panjang lebar yang terlalu mendetail dalam buku ini. Tapi saat berhenti membaca, gw kembali terbayang-bayang keajaiban The Circus of Dreams dan kepingin lanjut baca. Begitu terus, macem lingkaran setan.

Terlepas dari penulisan sarat deskripsi yang super panjang, harus diakui kalau pengarangnya punya imajinasi yang luar biasa indahnya. Dan dengan suksesnya menginterpretasikan imajinasinya kepada para pembacanya. Di awal setiap bagian pun diselipkan kisah pendek yang ditulis dengan sudut pandang orang kedua, dimana kita, pembacanya, dilibatkan sebagai pengunjung sirkus. Yang membuat gw semakin takjub, setelah membaca sekian halaman, gw menyadari bahwa kosakata yang digunakan cukup sederhana. Setidaknya gw ga bolak-balik buka kamus waktu membaca buku ini. Ga nyangka pilihan kata yang begitu sederhana bisa menerjemahkan imajinasi pengarangnya dengan begitu rinci dan nyata.

Para penulis memang punya cara sendiri untuk menyihir pembacanya. Dalam buku ini, Erin Morgestern menggunakan sirkusnya untuk menyita perhatian gw. Setelah dibuat terpesona dengan proses awal pembuatan sirkus, dari konsepnya, proses mengumpulkan para pemainnya hingga berbagai atraksi di dalam lingkungan sirkus seperti labirin awan, taman es, pohon permohonan dan pembaca tarot, setengah buku sudah gw lalui saat gw nyadar... Kok cerita tentang Marco dan Celia serta kompetisi mereka ga maju-maju ya?!

Ringkasan cerita di sampul belakang buku ini yang menggunakan kata-kata yang cukup provokatif macam  'fierce competition' dan 'duel' sebaiknya tidak usah terlalu diambil hati. Tidak ada duel saling mengacungkan tongkat a la Harry dan Draco disini. Kata 'fierce' mungkin lebih mengacu pada kemampuan Marco dan Celia. Tetep aja, ga bisa disalahin juga sih kalau banyak yang protes gara-gara ringkasan bukunya.

However, selama baca buku ini, sejujurnya gw ga terlalu menikmati jalan ceritanya yang maha lambat. Kompetisi yang sepertinya jadi inti cerita terus jadi tanda tanya sampai hampir mendekati akhir buku. Bahkan sampai sejarah dari kompetisi aneh ini dibahas, tidak banyak yang diceritakan. Latar belakang kedua pelatih yang menciptakan kompetisi ini pun tidak diceritakan. Yang gw tangkap hanya: Ya pokoknya ada kompetisi dari jaman dulu kala, titik. Hubungan antara Marco dan Celia pun tidak kalah lambatnya. Buku ini diceritakan dengan alur bolak-balik dengan setting waktu dan tempat yang berpindah-pindah, ditandai oleh tanggal yang dicantumkan di setiap awal bab. Lambatnya plot antara Marco dan Celia bukan hanya terasa lambat karena sedikitnya interaksi mereka tapi memang lambat, dilihat dari tahun-tahun yang mereka lalui.
Prague, 1894. 
Marco: "I would very much like to speak with you, if you care to join me for a drink."
Celia: "Of course you would. Perhaps another time."

London, 1896.
Marco: "I was hoping I could trouble you for that drink we did not have in Prague"

London, 1899.
But before she can vocalize her surprise, his lip close over hers and she is lost in wordless bliss. Marco kisses her as though they are the only two people in the world.

Apa yang terjadi antara Marco dan Celia di antara tahun-tahun di atas? Jawabannya: tidak dibahas. Dengan plot yang begitu lambat di dua pertiga awal buku, seakan-akan mau mengejar ketertinggalan, plot baru dikejar habis-habisan di sepertiga akhir buku. Saat menuju akhir cerita, baru lah buku ini dipenuhi dengan dialog dan interaksi antar para tokohnya.

Pada akhirnya, sepertinya terlalu berlebihan kalau gw mengategorikan buku ini sebagai 'jelek'. Toh ada saat-saat dimana gw menikmati membaca buku ini dan terbawa dalam keajaiban The Circus of Dreams. Kontras dengan setting tempat yang begitu kuat, plot dan penokohan di buku ini sangat lemah. Gw tau banyak juga pembaca yang menikmati The Night Circus. Mungkin pada akhirnya, bagus atau tidaknya buku ini lebih ditentukan oleh selera pribadi. Sedangkan pendapat gw, sepertinya buku ini bukan buat gw.

No comments:

Post a Comment