Saturday, April 28, 2012

Pride & Prejudice. TV vs. Film: Penokohan.


Pride & Prejudice 1995


Pride & Prejudice 2005



Setelah selesai baca buku Pride & Prejudice, tentunya yang gw lakukan selanjutnya adalah membandingkan dengan filmnya. Gw harus nahan diri supaya ga tergoda nonton filmnya dulu, sebelum nyelesein filmnya. Mengingat betapa lamanya gw selesein novelnya.

Pride & Prejudice sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film. Tapi yang paling diinget adalah versi mini seri sebanyak 6 episode yang ditayangkan tahun 1995 dengan Jennifer Ehle berperan jadi Elizabeth Bennet dan Colin Firth berperan jadi Mr Darcy. Versi selanjutnya adalah film tahun 2005 dengan Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennet dan Matthew MacFadyen sebagai Mr Darcy. Kali ini gw mo ngebandingin kedua adaptasi tersebut.

Ada banyak banget sudut pandang yang bisa diangkat saat membahas Pride & Prejudice. Jalan ceritanya, settingnya, tokoh utama dan tokoh - tokoh penunjangnya menarik untuk dibahas. Gw ngerti banget kalau mengharapkan sebuah film yang cuma berdurasi sekitar 2 jam bisa sedetil film seri yang ditayangkan sebanyak 6 episode itu ga masuk akal. Buat gw, film adaptasi yang bagus adalah yang bisa diikuti bahkan oleh mereka yang ga baca bukunya. Gapapa lah ada adegan yang terpaksa dipotong atau tokoh yang dihilangkan, asalkan inti ceritanya tetep dapet. Tapi lain ceritanya sama penokohan. Buat gw, bagaimanapun dimodifikasinya jalan cerita, karakter setiap tokoh harusnya bisa tetap dipertahankan. Walaupun ga menutup kemungkinan kalau setiap aktor punya persepsi sendiri – sendiri tentang karakter tokoh yang diperankannya.

Mengingat Pride & Prejudice sendiri banyak banget subplotnya, ga heran kalau di filmnya banyak cerita yang terpaksa dipotong atau justru dimampatkan jadi satu dan ada beberapa tokoh minor yang kalau ga diikutsertakan dalam film ga akan mengganggu jalan cerita. Misalnya Mr & Mrs Hurst yang adalah saudara Mr Bingley. Atau Denny, prajurit yang ngenalin Mr Wickham ke keluarga Bennet. Bahkan Miss Caroline Bingley dan Miss Georgiana Darcy ga banyak tampil di film. Begitu juga tokoh–tokoh lain yang kalau muncul justru bikin filmnya making panjang ga keruan karena harus ngenalin latar belakang mereka masing-masing.

Disini gw mau ngebandingin tokoh–tokoh yang khas dalam cerita. Dan pastinya dua tokoh utama gw tempatin di urutan terakhir. Save the best for last, begitulah.



Mr & Mrs Bennet
Film: Donald Sutherland & Brenda Blethyn
TV: Benjamin Whitrow & Alison Steadman

Gw bener-bener angkat topi buat Alison Steadman dalam berperan jadi Mrs Bennet di TV. Bahkan denger suaranya aja gw jadi kebawa emosi dan ikutan kesel. Mrs Bennet versi film juga nyebelin, tapi nyebelinnya masih tipe ibu-ibu yang kepo sama urusan keluarganya. Sedangkan Mrs Bennet versi TV dapet banget karakter Mrs Bennet yang kepo, berpikiran dangkal, suka maksain maunya sendiri, selalu nyalah-nyalahin orang dan selalu ngerengek-rengek ga jelas. 

Kalau Mr Bennet, dari versi film dan TV kesan yang ditangkep agak beda. Kalau Mr Bennet versi film terkesan sebagai ayah penyayang dan omongannya terkesan becanda-becanda sama istrinya. Sedangkan versi TV, sesuai bukunya, Mr Bennet lebih banyak mengabaikan istrinya yang banyak maunya, menganggap konyol tiga anak dan paling sayang sama Elizabeth (dan Jane?) Dua-duanya sih impresif dengan sifat yang berbeda, walopun sayang dialog antara Mr dan Mrs Bennet di film ga terlalu banyak. Karena komentar-komentar sarkastik Mr Bennet ini yang suka bikin gw ketawa.



Jane Bennet
Film: Rosamund Pike
TV: Susannah Harker
Sayang banget karena cerita film-nya jauh lebih banyak fokus ke Elizabeth, akhirnya cerita Jane ga terlalu detail dibahas dan tokoh Jane di film pun ga banyak disorot. Padahal Jane adalah salah satu tokoh favorit gw dan ceritanya pun menarik.

Jane versi TV lebih mendekati karakter Jane di buku. Lebih tenang, anggun, ga pernah berprasangka jelek sama orang dan angelic, seperti yang berkali-kali digambarin oleh Lizzy. Sedangkan Jane versi film sama manisnya, tapi karakternya lebih lepas dan lebih terkesan ceria dibanding Jane versi TV yang lebih banyak senyum aja dan sering keliatan serius. Gw suka gemana dua aktris ini menggambarkan versi Jane mereka masing-masing dan kalau Jane versi film dapat lebih banyak porsi di layar, gw lebih suka Jane versi Rosamund Pike.


Mr Bingley
Film: Simon Woods
TV: Crispin Bonham-Carter
Langsung aja, gw ga suka versi filmnya. Menurut gw, Mr Bingley adalah orang yang ramah, supel, percaya diri dan pintar. Dan yang jelas dia ga kikuk. Gambaran Mr Bingley versi TV lebih pas daripada Mr Bingley versi film yang, walopun ramah dan terkesan menyenangkan, menurut gw keliatan bingung dan salah tingkah. Ngomong sama Jane pun sampe salah-salah. Ga suka lah.. Dan kenapa juga sih rambutnya mesti berjambul aneh gitu?


Mr Wickham
Film: Rupert Friend
TV: Adrian Lukis
Nah, ini yang gw heran koq ga banyak dibahas secara Mr Wickham ini lah biang kerok yang secara ga langsung ngerecokin hubungan Elizabeth dan Mr Darcy. Di buku, Mr Wickham digambarkan sebagai orang yang supel, ramah dan pinter bersosialisasi. Luwes dalam memulai pertemanan, tapi kemampuan mempertahankan pertemanannya meragukan, itu kalau kata Mr Darcy. Elizabeth, yang ga tau belangnya Mr Wickham, suka sama Mr Wickham karena pembawaan Mr Wickham yang ramah dan supel ini, juga gemana dia bisa dengan tenangnya cerita tentang Mr Darcy yang, menurut cerita versi Mr Wickham, jahat dan menyebabkan dia jatuh miskin.

Secara Mr Wickham versi film nongolnya sebentar banget dan lebih banyak digambarin lewat narasi, sifat supelnya ini ga banyak keliatan. Dan dari sedikitnya dia muncul, kesan yang gw tangkep malah agak-agak tebar pesona. Tapi yah ngebandingin Mr Wickham versi film yang munculnya sebentar banget sama Mr Wickham versi TV yang muncul di 5 episode, dari total 6 episode, kayanya ga fair. Walopun kalo main fisik, gw ga suka Mr Wickham versi film yang penampilanya terlalu manis dan ngingetin gw sama Legolas.

  

Mr Collins
Film: Tom Hollander
TV: David Bamber
Lagi-lagi versi TV menang JAUH dari versi film. Dari awal muncul, ngeliat Mr Collins versi TV seakan-akan Mr Collins di buku lompat dan langsung masuk ke dalam TV. Begitulah bayangan Mr Collins saat gw baca bukunya. Sok tau, konyol, cengengesan gengges dan selalu ngerasa penting. Belom lagi ekspresinya yang salah tingkah. Aduh.. beneran bikin ketawa geli. Aktornya pun chubby dan innocent yang bikin gambaran karakter Mr Collins tambah pas! Mantep lah pokokqnya... Mr Collins versi film biasa banget dan ga berkesan.


Lady Catherine de Bourg
Film: Judy Dench
TV: Barbara Leigh-Hunt
Akhirnya ada juga karakter yang seri antara versi film dam TV. Walopun sejujurnya kesan pertama liat Lady Catherine de Bourg versi TV agak kurang meyakinkan. Ga segagah yang digambarkan buku. Atau bisa dibilang, yang digambarkan oleh Mr Collins dengan penuh dengan bumbu – bumbu lebayatun. Karakter Lady Catherine de Bourg pada dasarnya memang kepo dan tipe ngatur-ngatur. Awalnya, Lady Catherine de Bourg versi film terlihat lebih berkuasa sedangkan versi TV-nya cuma terkesan kepo. Mau gemana pun, menurut gw tetep begitulah karakternya. Tapi di adegan dia mengkonfrontasi Elizabeth, baru keliatan ketegasan karakter Lady Catherine. Baik yang TV maupun film menurut gw pas ngebawain karakter tokoh Lady Catherine.


Dan.. akhirnya sampe juga ke pemeran utamanya.


Elizabeth Bennet
Film: Keira Knightley
TV: Jennifer Ehle
Sama seperti Jane Bennet, karakter Elizabeth versi TV dan film dibawain dengan agak berbeda. Tapi buat gw, dua-duanya tetep ga melenceng jauh dari gambaran karakter Elizabeth di buku. Pintar, punya pendirian, berani, perhatian dan lebih santai apalagi kalau dibandingin dengan pembawaan Jane yang lemah gemulai. Tapi bahkan sebelum gw nonton filmnya, waktu gw baca bukunya gw ngebayangin Elizabeth ya seperti gambaran yang di film gitu lah. Lebih lepas dan bisa ketawa-ketawa cekikikan. Cara ngomongnya pun lebih santai dan ga se’tertata’ Elizabeth versi TV. Jadi yah, Elizabeth versi film maupun TV sama-sama pas, cuma gw lebih suka versi film.


Mr. Darcy
Film: Matthew MacFadyen
TV: Colin Firth
"Pertama-tama, gw harus mengakui mungkin pendapat gw tentang yang mana Mr Darcy favorit gw agak-agak bias, karena salah satu alasan yang mendorong gw untuk baca Pride and Prejudice adalah saat gw tau film Bridget Jones’ Diary ternyata terinspirasi dari Pride & Prejudice. Dan di film itu gw jatuh cinta setengah mati sama karakter yang diperankan oleh Colin Firth, yaitu Mark Darcy (yang diciptakan oleh Helen Fielding dengan terinspirasi oleh Mr Darcy di Pride and Prejudice). Yang kemudian berujung dengan gw jadi ngefans membabi buta sama Colin Firth yang adalah pemeran Mr Darcy versi TV. Jadi yah, begitu lah... One small world. "

Eniweeeiii...
Berdasarkan bukunya, kesan pertama tentang Mr Darcy adalah angkuh, ga ada basa-basi, sangat yakin pada dirinya sendiri sehingga terkesan arogan dan tertutup. Yang tentunya bukan kesan utama yang impresif, sampai dia belom buka mulut aja orang udah ga suka sama dia. Bahkan satu desa pun (Hertfordshire?) ga suka sama dia, apalagi kalo dijejerin sebelahan sama Mr Bingley. Tentunya itu sebelum sifat aslinya yang baik, dermawan dan lalala yang indah-indah ketauan. Dan menurut gw, disitulah kuncinya karakter Mr Darcy. Dia dibenci kemudian disayang.

Kalau liat karakter Mr Darcy di TV saat pertama kali muncul, emang bener-bener aura sepa’-nya keliatan banget. Keliatan banget dari ekspresi mukanya yang cemberut kalau dia angkuh dan ga suka berada di situasi yang banyak dikelilingi orang asing dan ga mau susah-susah berusaha membaur. Dia memperhatikan Jane dan keluarganya pun karena Mr Bingley keliatan tertarik sama Jane. Dan kesan angkuh ini dipertahanin terus sampai akhirnya sifat-sifat baiknya mulai disebut-sebut. Tapi kesan pertamanya dapet banget. Saat pertama kali diperkenalkan sama keluarga Bennet pun, tiba-tiba dia pergi saat masih diajak ngomong oleh Mrs Bennet. Nah, itu dia belagunya dan ga heran kalo orang jadi benci. Mrs Bennet menggambarkan Mr Darcy saat itu sebagai “proud disagreeable man”

Sedangkan, kesan pertama yang gw dapet dari Mr Darcy versi film adalah tertutup, banyak pikiran bahkan terkesan sedih, agak sombong tapi ga menyebalkan. Pertama kali ngeliat Mr Darcy, Elizabeth menggambarkan dia sebagai “miserable”, yang dari sudut pandang gw bukannya bikin jadi benci malah kesian. Masalahnya dengan Mr Darcy di film adalah, dia tidak cukup angkuh untuk dibenci yang kalau kemudian dia jadi disukain ya ga heran. Intinya sih, menurut gw, karakter yang diperankan MacFayden ini  loveable.. tapi siapapun itu, dia bukan Mr Darcy.

--o0o--

Phew! Banyak juga.. Dan begitulah pendapat gw tentang tokoh-tokoh Pride & Prejudice di film dan TV. Walaupun lebih banyak karakter di TV yang gw suka, dibandingkan dengan di film, tetep aja gw ga bisa (ga tega, tepatnya) bilang kalo versi TV-nya  lebih bagus. Buat gw ga bisa dibandinginlah. Apalagi banyak tokoh yang ga sempet nunjukin karakternya karena ga dapet banyak porsi di film. Jadi yah gw menikmati dua-duanya.

Seperti yang gw bilang, banyak yang bisa dibahas dari Pride & Prejudice. Dan selanjutnya gw mo nulis perbandingan berdasarkan adegan-adegannya. Hope you enjoy!

Thursday, April 26, 2012

The Hunger Games

*SPOILER ALERT*


Bersetting jauh di masa depan dimana Amerika Utara sudah musnah dan sebagai gantinya berdiri negara Panem dengan Capitol sebagai ibukotanya dan dikelilingi dua belas distrik. The Hunger Games adalah nama 'permainan' yang diciptakan oleh Capitol, terinspirasi dari pemberontakan di masa lalu. Dimana peraturannya adalah, setiap distrik mengirim satu orang anak laki - laki dan satu orang anak perempuan untuk bertarung dalam arena, saling membunuh satu sama lain sampai keluar satu orang pemenang. Pemeran utama dalam cerita ini adalah Katniss Everdeen. Anak perempuan dari Distrik 12 yang adiknya terpilih  untuk menjadi peserta sehingga Katniss mengajukan diri untuk menggantikan adiknya.
Gw telat banget denger tentang novel ini, padahal udah booming dari kapan tau. Gw baru mulai denger tentang bukunya setelah film-nya mulai disebut-sebut. Mengingat bukunya dinobatkan jadi New York Times Notable Children's Book of 2008 dan gw adalah penggemar berat buku petualangan anak-anak dan remaja, mulai lah gw nyari-nyari buku ini. Jujur aja, waktu baca sinopsisnya gw ga langsung tertarik sama bukunya. Dari ringkasan di belakang bukunya, gw ngebayangin gemana kejamnya buku ini. Tapi setelah beberapa kali bolak balik ke toko buku, akhirnya gw beli juga ini buku, dengan pemikiran kalau buku ini banyak yang suka sampai booming, mestinya gw juga suka lah..

Pemikiran yang sangat salah.

Okey, jadi dari sekarang gw cuma mo kasih tau kalau gw ga suka buku ini dan ga ngerti kenapa bukunya bisa heboh. Pemikiran gw kalau buku ini kejam beneran terbukti, tapi bukan cuma itu yang bikin gw ga suka. Beginilah tweet gw begitu gw selesai baca bukunya.


Asumsi gw, semua orang udah baca buku ini jadi gw agak-agak spoiler dikit boleh ya. Walopun gw sangat menyarankan untuk baca entry ini setelah baca bukunya, atau emang ga berminat baca bukunya. I can be very annoying when I trash a book, jadi mending mulai dari bagus-bagusnya dulu, walopun ga banyak.

Pertama, alasan gw mungkin agak-agak sexist, tapi gw suka Katniss sebagai pemeran utama perempuan yang tangguh, taktis dan pinter main panah (atau diganti perlengkapan perang apapun, gw suka lah). Di awal permainan Katniss berhasil bertahan sendirian dengan kemampuannya, pokoqnya oke deh. Selain itu gw suka gemana pengarangnya, Suzanne Collins, menggambarkan suatu negara yang bener-bener baru dengan detail penduduknya yang aneh-aneh. Gambaran tentang arena permainan Hunger Games dan mahluk-mahluk hybrid di dalamnya pun menarik dan imajinatif. Dan sampai disini saja hal yang gw suka tentang buku The Hunger Games (ini pun nyarinya maksa).

Ada dua tokoh laki-laki yang berhubungan sama Katniss, yaitu Gale dan Peeta. Gale adalah teman berburu Katniss di Distrik 12 sedangkan Peeta adalah anak laki-laki yang terpilih dari Distrik 12 untuk ikut dalam Hunger Games. Gale mungkin karakter yang menarik dan sama tangguhnya dengan Katniss, sayangnya dia ga banyak dibahas di buku karena settingnya lebih banyak di Capitol dan arena permainan. Jadi otomatis kita lebih kenal sama Peeta. Peeta lebih ke tipe cowok lemah lembut dan sensitif dan ketangkasan yang dimiliki adalah, ehm, melempar benda berat dan melukis, yang kemudian di arena berguna buat kamuflase. Tapi gw suka sifat Peeta yang lemah lembut dan perhatian sama Katniss. Intinya, gw suka Peeta dan Katniss dengan alasan yang sangat bertolak belakang.

Jadi bisa dibayangkan betapa gemesnya gw saat Peeta dan Katniss bekerjasama dalam Hunger Games. Rasanya Peeta langsung berubah jadi cowok cemen yang mesti diurus-urusin. Mana juga dia luka dan harus dirawat sama Katniss. Bahkan berburu pun Peeta ga bisa dan Katniss sampe stress berburu sama dia. Seinget gw, selama Peeta dan Katniss bareng-bareng, selalu Katniss yang berjasa nolongin Peeta. What the? Gw sampe bingung koq cowo-cowo bisa suka sama buku ini? Gentlemen, can't you tell that a girl is kicking you right in the ass?!

Taktik yang dipakai oleh Katniss dan Peeta dengan beradegan romantis untuk dapetin sponsor pun bener-bener cemen, terutama untuk cerita yang bersetting perang dan pemeran utama setangguh Katniss. Adegan selama di gua ga dapet chemistry-nya dan ditambah dengan narasi Katniss, adegannya malah jadi terkesan norak, sampe gw mencibir berkali-kali. Ciuman mereka dibesar-besarin banget, seperti waktu Katniss bujuk-bujuk Peeta untuk makan dengan ciuman dan kalimat "Tidak ada ciuman sampai kau makan!" Aposeehhh?? Awkward city!

Selain itu tentang suspense yang dipanjang-panjangin. Mulai dari adegan dengan Cato di Cornucopia. Itu peserta udah tinggal terakhir. Kalo Cato mati, permainan selesai. Tapi nungguin Cato mati aja lama banget. Terhitung 5 halaman dari sejak Cato jatuh sampai akhirnya Cato mati. Lebih garing lagi begitu yang tersisa cuma peserta terakhir, gw udah penasaran tingkat tinggi, gemana kira-kira serunya akhir dari permainan sadis yang dielu-elukan oleh Capitol? Yang ada, peserta terakhir malah bingung nungguin pengumuman dan di kepala gw terdengar bunyi jangkrik, krik.. krik.. krik.. Akhirnya Capitol mengumumkan pengumuman tentang peraturan permainan yang bikin gw mo berhenti baca saat itu juga. Boleh lah membangun suspense. Tapi kalau klimaksnya diulur-ulur, yang ada malah bikin males lanjutin baca.

Dan seperti yang gw khawatirkan dari awal, ceritanya kejam. Dari ringkasan bukunya udah ketebak lah kira-kira buku ini bakal gahar dengan adegan bunuh-bunuhan. Tapi menurut gw, adegan paling kejam adalah saat sisa tiga peserta terakhir dan tiba-tiba mereka diserang kawanan mutt serigala. Begitu tau apa mutt itu sebenernya, rasanya pengen gw buang ini buku. Koq bisa sih genrenya ditujukan buat anak dan pra-remaja?!

Pada intinya, kayanya ga perlu dirangkum lagi deh, secara postingan ini lebih cocok dijudulin "My Rants About The Hunger Games." Sejujurnya sih gw ga ngerti kenapa bukunya bisa booming.

Pride & Prejudice


Akhirnya setelah menunda-nunda untuk posting, gw memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada Pride and Prejudice untuk postingan pertama di blog ini. Gw baru aja selesai baca bukunya dan lagi di dalam tahap tergila-gila sama Mr. Darcy dan berhalusinasi kalau gw saat ini tinggal di Pemberley.

Sepertinya judul bukunya udah cukup untuk ngasih gambaran tentang isi ceritanya. Dengan dua tokoh utama yang terkenal, Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy. Well, Mr. Darcy is the pride one and Elizabeth is the one who holds prejudice. Ceritanya tentang Mr. Darcy yang jatuh cinta sama Elizabeth tapi ragu-ragu untuk bertindak karena sadar kalau kelas sosial Elizabeth berada dibawahnya. Sedangkan Elizabeth sendiri benci sama Mr. Darcy karena pembawaannya yang terkesan angkuh, ditambah gosip yang beredar tentang Mr. Darcy.

Jujur aja, ini pertama kalinya gw baca literatur klasik. Setidaknya begitulah seinget gw. Buat gw, perbedaan yang menyolok antara buku ini dengan buku-buku roman modern yang gw baca, buku ini ga cuma fokus pada dua tokoh utamanya aja. Bahkan dalam buku ini ada banyak banget tokoh dan jalan cerita yang dibahas, sampai gw agak lambat baca buku pada awalnya karena ga hafal-hafal nama tokohnya (Rumah mereka pun punya nama!) Tapi setelah hafal sama tokoh-tokohnya, gw jadi semakin ketagihan baca bukunya. Jane Austen bener-bener ngasih kepribadian yang khas untuk karakter-karakter di dalam buku dan cerita mereka pun menarik untuk diikutin, selain cerita Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet. Misalnya, cerita tentang Jane, kakaknya Elizabeth, dan Mr. Bingley yang cerita cintanya tarik ulur dan serba ribet karena direcokin oleh Mr. Darcy dan saudara-saudara Mr. Bingley sendiri. Atau karakter Mr. Collins yang bodoh tapi menilai tinggi dirinya sendiri dan hobi banget ngasih puji - pujian berlebihan sampe gw ketawa- ketawa sendiri bacanya. Semua karakter dan cerita mereka bikin bukunya makin menarik buat gw.

Walaupun ceritanya tentang prasangka yang biasanya jadi topik umum dalam kisah percintaan dan di sampul bukunya di tulis ini cerita 'Roman' jangan mengharapkan kisah tarik ulur super romantis dan berapi-api seperti novel cinta jaman sekarang. Lagian kalau mengacu ke definisinya, kata guru bahasa Indonesia, Roman adalah jenis karya sastra dalam bentuk prosa yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Mungkin karena ceritanya juga bersetting di jaman dulu (tahun 1800-an. Bukunya sendiri pertama kali diterbitin tahun 1813) dengan tata krama yang beda banget, jadi cara mereka mengekspresikan perasaan dan pikiran pun berbeda.

Kesimpulannya, gw suka bukunya! Dan ga nyangka semua cerita dan tokoh di dalemnya bikin gw penasaran terus baca sampe abis, walopun tokoh favorit tetep, tak lain tak bukan, Mr. Darcy!
 
Buku Pride and Prejudice yang gw beli adalah versi bahasa Indonesia terbitan Qanita. Bukunya besar dan tebal. Begitu liat versi bahasa Inggrisnya yang mini dan enteng, gw jadi mikir kenapa mereka ga nyetak yang sekecil itu supaya lebih praktis dibaca dimana-mana? 


atas: versi bahasa Inggris; bawah: versi bahasa Indonesia