Thursday, June 28, 2012

City of Bones


Akhirnya baca juga seri The Mortal Instruments. Akhirnya kenalan juga sama Jace dan Clary. Jadi itulah alasan kenapa gw menghilang dari blog ini. Gw sibuk ngebut baca TMI dan sekarang baru selesein City of Fallen Angels, yang adalah buku keempat. Sambil nungguin jatah beli buku bulan depan buat beli City of Lost Souls, gw mo nulis tentang City of Bones dulu. 

City of Bones adalah buku pertama dari seri The Mortal Instruments karangan Cassandra Clare. Asli, buku ini (dan seri The Mortal Instruments, secara keseluruhan) bener-bener bikin gw ketagihan. Menurut gw review tentang apapun, kalo isinya cuma kata sifat yang bagus-bagus, adalah review kosong. Tapi sekarang gw baru ngerasain, gw segitu terpesonanya sama satu buku, sampe yang gw punya cuma, ya itu tadi, kata sifat yang bagus-bagus buat menggambarkan buku ini. Gw berkali-kali berniat nulis review tentang City of Bones karena pengen banget berbagi cerita tentang betapa kerennya buku ini. Tapi berkali-kali batal nulis, saking ga tau mo nulis apa, selain: "Buku ini keren banget."

Gw ga mau nulis sinopsis buku ini secara detail, biar tetep penasaran sebelom baca. Tapi kurang lebih sih begini:
"Clary, gadis mundane, ga sengaja ketemu sama rombongan Shadowhunters yang lagi demon-hunting, terdiri dari Jace, Alec dan Isabelle.  Para Shadowhunters saat itu sedang pake glamour, yang mana harusnya Clary ga bisa liat mereka. Tapi kenyataannya, Clary bisa. Berawal dari situ, Clary mulai kenalan dengan dunia Shadowhunter, yang ternyata ada hubungannya dengan ibunya, temen ibunya yang bernama Luke dan bahkan almarhum ayahnya. Temen deket Clary yang selalu bareng dari kecil, Simon, pun ikut terbawa dalam petualangan Clary dan para Shadowhunters. Dan itu baru awal dari City of Bones"

Sebagai orang yang salah kaprah dan malah baca The Infernal Devices duluan, gw udah keburu fanatik sama dunianya Will, Jem dan Tessa. Jujur aja, walopun menikmati bukunya waktu pertama baca, gw tetep pede jaya kalo City of Bones ga bakal ngalahin kerennya Clockwork Prince. Nah gini deh kalo salah kaprah. Karena The Mortal Instruments adalah seri yang pertama terbit, di awal banyak dijelasin tentang kehidupan Shadowhunter dan penjelasannya lebih detail dari The Infernal Devices. Ya bosenlah eike. Kurang lebihnya kan udah tau dari seri The Infernal Devices.


Tapi tapi tapi... Lama-lama ceritanya jadi tambah menarik. Dikit-dikit bandingin sama seri The Infernal Devices. Kalo The Infernal Devices ceritanya lebih fokus ke para Shadowhunters, seri The Mortal Instruments ini lebih divergen, melibatkan segala mahluk. Semua Downworlders punya cerita disini. Ada Magnus Bane, High Warlock of Brooklyn, yang juga muncul di The Infernal Devices mengingat warlock hidup selamanya. Juga para vampires dan kumpulan werewolves. Seru banget!!! Gw selalu suka cerita dengan twisted ending. Tapi buku ini bukan twisted ending lagi namanya, tapi twisted stories. Ahaha.. Gak, bukan maksudnya ceritanya membingungkan. Maksud gw, saking jalan ceritanya ga bisa ditebak, semua tokoh yang muncul di cerita ini bikin gw bertanya-tanya: Siapa nih? Dia temen apa musuh? Apa nih sejarahnya? Ada aja yang bikin penasaran! Dan cara nulisnya Cassie Clare bisa banget bikin gw terbawa suasana sampe tegang sendiri. Seakan-akan waktu Jace dan Clary nyusup ke Hotel Dumort, gw juga ikutan. Ceritanya banyak sub-plot. Semuanya seru dan bikin penasaran, karena ada aja twist baru dan misteri baru di tiap halaman.

Kalo soal penulisan dan kosakata yang dipilih, untungnya cerita The Mortal Instruments ini ber-setting di kota New York pada abad 21. Jadi kalo baca bahasa Inggrisnya, setelah setengah mati pegang Clockwork Prince di tangan kanan dan kamus di tangan kiri, gw bisa agak santai baca City of Bones yang kosakatanya lebih akrab di telinga. Selain itu percakapan mereka pun lebih apa adanya dan slebor. Humornya pun pas.

He squinted at her. “Do you remember back at the hotel when you promised that if we lived, you’d get dressed up in a nurse’s outfit and give me a sponge bath?"
"Actually I think you misheard.” Clary said. “It was Simon who promised you the sponge bath."
Jace looked involuntarily over at Simon, who smiled at him widely. "As soon as I’m back on my feet, handsome."

Di City of Bones, dua tokoh utama yang jadi pasangan adalah Jace dan Clary. Coba deh google kata kunci Jace dan Clary, banyak banget fan art cantik-cantik lengkap dengan quotes dan semacemnya. Nah, ini nih salahnya gw. Belom mulai baca, udah euforia duluan sama Jace dan Clary. Akhirnya pas baca gw jadi terlalu semangat dan bacanya jadi ga sabaran. Hahaha.. Secara ini bukunya Cassie Clare, ga afdol rasanya kalo ga bikin pembacanya jadi harap-harap cemas. Ternyata segala antisipasi gw untuk suka sama pasangan Jace - Clary berujung blunder karena gw malah nge-fans berat sama Simon. Bahkan sampe buku kedua, gw masih head over heels sama Simon.


Jujur aja, gw ga nangkep chemistry di awal-awal ketemunya Clary dan Jace. Ga nangkep kapan Jace mulai suka sama Clary, dan sebaliknya. Emang sih, Jace selalu nawarin untuk nemenin Clary dalam misi-misi berbahaya. Tapi untuk seorang Shadowhunter yang hobi cari mati macem Jace, kesannya itu semua untuk kesenengan dia sendiri. Terutama di awal cerita, obrolan Jace ke Clary selalu berhubungan dengan urusan Shadowhunters, selain itu dicuekin. Sedangkan Simon? *dramatic sigh* Dari awal buku udah keliatan banget manisnya Simon sama Clary. Kalo bisa, rasanya gw pengen goncang-goncang Clary sambil ngomong, "Clary, buka mata!"


Nah diatas tuh quote-nya Simon yang jadi favorit gw. Baca sendiri bukunya biar tau apa adegannya. Gw sendiri sampe sedih pas baca.

Mungkin pendapat gw kalo City of Bones ga bakal ngalahin Clockwork Angel atau Clockwork Prince akhirnya terbukti salah besar. Tapi setelah selesai baca buku pertama, setidaknya satu pendapat gw yang ga berubah.


Daripada gw ngoceh lebih panjang lagi dan mulai spoiler ga penting (gw mati-matian menahan diri loh ini), mendingan gw kembali menyatakan kesimpulan yang udah gw tulis di awal: "Buku ini keren banget!" Biar lebih meyakinkan, gemana kalo gw bilang, gw mulai baca buku ini tanggal 11 Juni dan selesai tanggal 12 Juni? Iyes, gw selesein buku ini dalam semalem aja saking ga rela berenti baca. Setelah selesai, tutup bukunya, tarik napas sambil bengong, terus nge-tweet:

Saturday, June 9, 2012

Sunshine Becomes You


Sunshine Becomes You adalah novel kelima karya Ilana Tan. Gw sendiri belum pernah baca buku-buku Ilana Tan walaupun berkali-kali liat Tetralogi 4 Musim dipajang di toko buku. Setelah sekian lama melewatkan novel-novel Metropop, iseng-iseng gw menambahkan novel ini ke dalam daftar belanjaan gw. Cap "National Bestseller" di sampul bukunya itu lumayan menggoda. Lagian, akhir-akhir ini gw udah terlalu banyak membaca buku-buku ber-genre fantasi, sepertinya gw butuh selingan. Dari judulnya yang mellow dan bahkan dari gambar sampulnya, bisa ditebak lah kalau novel ini genre-nya romantis.
"Dengan kota New York sebagai setting, dua tokoh utama dalam cerita ini adalah Alex Hirano yang adalah seorang pianis terkenal dan Mia Clark yang adalah seorang penari. Mereka bertemu di studio tari kecil tempat Mia dan Ray, adik Alex, mengajar tari. Pertemuan pertama berkesan buruk karena diawali dengan Mia yang jatuh dari tangga dan menimpa Alex sehingga pergelangan tangannya cedera. Sebagai pianis, pergelangan tangan yang tidak berfungsi tentunya berpengaruh sangat buruk. Semua konsernya hingga akhir tahun terpaksa dibatalkan. Tapi bukan cuma masalah konsernya, untuk kehidupan sehari-hari pun gerakan Alex terbatas. Merasa tidak enak terhadap dampak yang dihasilkannya, walaupun ketakutan melihat sikap Alex yang dingin dan ketus, Mia menawarkan untuk membantu Alex menjadi pengurus rumahnya selama tangannya dalam perawatan.
Alex awalnya cuma menganggap Mia sebagai malaikat maut yang berusaha menebus kesalahannya dengan membantunya dan Mia hanya berusaha membantu Alex hanya didorong oleh rasa bersalah dan kewajiban untuk bertanggungjawab. Tapi seiring berjalannya waktu, sering menghabiskan waktu berdua dan saling mengenal satu sama lain, akhirnya mereka saling tertarik.
Setelah hubungan mereka makin dekat, Alex harus mengatur perasaannya karena Ray, adiknya, juga menyukai Mia. Selain itu, Mia ternyata menyembunyikan kenyaataan bahwa dia menderita sakit yang mempengaruhi karir tarinya." 

Gw sendiri suka sama dua tokoh utamanya. Alex yang dingin dan ga banyak ngomong, tapi perhatian. Dan Mia yang ceria, tegar dan baik hati. Dua tokoh ini memang sering berdebat, berantem dan gondok-gondokan tapi masih dalam batas normal, bahkan malah berkesan manis.

Satu hal yang langsung gw perhatiin dari awal baca buku adalah bahasa dan dialognya yang terasa seperti buku terjemahan. Walaupun gw ngerti setting ceritanya adalah di New York dan tokoh-tokohnya di dalamnya dimaksudkan berdialog dalam bahasa Inggris, tapi tetep aja terasa aneh buat gw mengingat ini adalah novel Indonesia. Beberapa frase bahkan bener-bener terjemahan kata per kata dari bahasa Inggris. Sepanjang cerita, gw lewatin aja. Sampai Alex ngomong, "Wow.. tahan pikiran itu (hold that thought)" gw ga tahan untuk ga ketawa. Di kepala gw, mau ga mau gw ngebayangin tokoh-tokoh ini ngomong dengan intonasi dubber di film-film seri impor. 

Satu lagi yang mau ga mau gw perhatiin, sepertinya semua klise dalam cerita romantis dimasukin disini. Dari dua orang yang saling ga suka lama-lama jadi suka, cemburu-cemburuan padahal saling ga mengakui perasaan satu sama lain, cinta segitiga sampe sakit berat ada semua disini. Agak gengges tiap kali Alex berusaha mengingkari perasaannya sendiri dalam pikirannya. Berapa kali dia mikir, "Tunggu tunggu.. Masa gw gini (*masukan gesture perasaan sayang*) sih? Ah gak lah, pasti karena ini (*masukan alasan denial*)." Yah, kalo tokohnya remaja labil macam Tita di Eiffel... I'm in Love masih cocok lah yah. Tapi untuk cowok cool macem Alex koq rasanya ga pas aja sama karakternya.

Selanjutnya ceritanya mengalir manis. Ilana Tan ngasih waktu yang cukup untuk membangun chemistry antara dua tokohnya, bikin pembaca jadi suka sama Mia dan Alex. Pelan-pelan kita bisa ngerasain perubahan perasaan Mia dan Alex. Dan para pembaca perempuan (yang pastinya mayoritas) pasti menempatkan posisi sebagai Mia, dibikin klepek-klepek (matilah bahasa gw!) sama Alex. Favorit gw adalah saat Alex menyatakan perasaannya secara ga langsung pada Mia.

Seperti yang gw bilang, skenarionya tipikal cerita romantis lah. Tapi selama digunakan dan diolah dengan benar, tetep aja bisa menarik hati pembaca. Dan sebagai seorang penggemar cerita romantis, dari awal sampe pertengahan gw bener-bener terbawa sama ceritanya karena pengarangnya piawai menciptakan adegan-adegan manis antara Mia dan Alex. Beruntunglah gw baca buku ini di rumah karena beberapa kali gw senyum-senyum sendiri.


Sayangnya, semua resep tipikal yang awalnya diolah dengan bagus, jadi terlalu berlebihan. Rasanya pengarangnya berusaha terlalu keras memancing emosi sedih pembacanya.

Buat gw, nambahin penyakit ke dalam sebuah cerita itu tricky ya, karena pengarangnya setidaknya harus tahu tentang penyakit. At least, kasih diagnosis lah. Penyakit apakah ini yang diderita Mia? Tapi dari awal sampai akhir buku ini ga ada satupun keterangan tentang penyakitnya. Gali lah penyakitnya lebih dalam supaya pembaca ngerasa 'ngeh' dan ngerasa berapa parah penyakit itu. Sebaliknya, pengarangnya bikin jalan keluar mudah dengan menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit keturunan yang tidak bisa didiagnosa karena Mia adalah anak adopsi yang keberadaan orang tua kandungnya tidak diketahui. Seakan-akan penyakit ini sekedar bumbu yang ditambahin supaya tokoh wanitanya punya alasan untuk pingsan sesering mungkin dan pembaca bisa liat betapa cemas, perhatian dan cintanya tokoh laki-laki terhadap tokoh perempuan. Too easy. Semua sinetron Indonesia menggunakan resep yang sama.

Selanjutnya, kalau belom baca bukunya silakan skip paragraf berikut karena mengandung spoiler.
.
.
.
Dan gw ga suka endingnya karena terlalu menyedihkan. Bukan karena Mia akhirnya mati. Definisi sad ending, menurut gw, ga sesimpel: "tokoh utamanya mati". Banyak cerita yang tokoh utamanya mati tapi tetep berkesan buat gw. Yang saat ini langsung kepikir di kepala gw, Ps. I Love You dan A Walk To Remember.  Memang sedih waktu nonton. Tapi secara garis besar, ceritanya indah.

Saat kondisi Mia makin buruk, otomatis pembaca menempatkan diri sebagai Alex yang jatuh cinta sepenuh hati sama Mia, harap-harap cemas dengan kondisinya. Sayangnya sampai akhir hayat Mia, Alex ga tau kalau Mia ternyata cinta sama dia. Dan ga sempet ngerasain momennya dimana mereka berdua udah nyatain perasaan mereka. Itu lah sad ending buat gw. Kalopun dua bulan kemudian Alex nerima camcorder yang berisi pernyataan cinta Mia, terus dia bisa apa? Udah bagus dalam dua bulan itu dia ga keburu jadi gila karena stress (Now that's a depressing ending).
.
.
.
 End of spoiler

Buku ini banyak penggemarnya, apalagi melihat cap National Bestseller di sampulnya. Gw sih ga heran karena Ilana Tan mengambil semua skenario klise yang jadi jaminan sukses cerita romantis. Sayangnya, terlalu berlebihan. Menurut gw, endingnya ditambahkan hanya untuk melengkapi segala skenario generik yang sudah ada dari awal, supaya pembacanya terharu. Reaksi gw? Sambil baca, keceplosan ngomong, "Halah! Males banget.." Untuk sebuah novel romantis, buku ini berawal dengan ramuan yang standar dan berakhir dengan basi. Beneran, waktu mulai baca gw sama sekali ga nyangka bakal bilang buku ini not recommended. Tapi sekarang kenyataannya ya begitu.

Wednesday, June 6, 2012

Heaven, Texas



Heaven, Texas falls in romantic genre. Romantic comedy, I’d say. I am a huge fan of romantic comedy myself, but I know better than to expect more in those stories. To me, romantic comedy stories will always fall in mediocre level thus make it prone to fall into below average. I rarely find new recipe. It’s usually a guy, a girl, some conflicts and in the end they end up together. Cliché yet addictive. Because just admit it, everybody wants their life to be like some kind of romantic comedy stories. So if someone says that a romantic comedy story is predictable, I say, what do you expect? Don’t overthink it, it’s just for fun. It’s like eating candy. It’s sweet but obviously it won’t satisfy your hunger. Still, who doesn’t like candy?

The story involves Gracie Snow and Bobby Tom Denton. Of course they’ll end up together. But sometimes it’s not about the end. It’s about the journey, right?
“Bobby Tom Denton is a football player forced to retired early because of a knee injury. Being completely lost, grumpy Bobby Tom decided to sign a contract to do a movie only to find out afterwards that he reluctant to do it. He started to act up to prolong the making of the movie. That’s when the movie company sends Gracie Snow to be his chaperone. Bobby Tom detested her at first of course, insisting he doesn’t need a chaperone, only to find out how interesting Gracie has become to him and made peace with her.

Doing a movie in his own birthplace, Telarosa, formerly known as Heaven, he was attacked by a barrage of girls, wanting to be future Mrs. Booby Tom Denton. So to keep him from trouble, he asked Gracie to cooperate with him and tell people of Telarosa that they are engaged. So what started as fake-engagement apparently made impact on Bobby Tom’s feeling.

In the end he realized that, despite their constant fights, Bobby Tom wants to be around Gracie all the time.”
Oh my God. Even I managed to make the synopsis sounds tacky. Anyway, when it comes to romantic stories, I think characters and chemistry play huge roles. I mean, we already now the ending. So better make the journey worth it. It’s important that readers must desperately want the two main characters to be together. They must fit.

Gracie Snow is a prim and proper girl who turns neurotic when it comes to her job. She's a type a girl who likes to take care of everything. Not really an original idea. But everybody loves neurotic Sunday School teacher (Katherine Heigl, everyone? She might be in 27 Dresses and The Ugly Truth, but let’s be real, Jane and Abby really are just a same character). Here’s what Bobby Tom said to Gracie when she insisted to drag Bobby Tom to his work place, “Just out of curiosity, sweetheart; did you ever talk to your doctor about givin' you some tranquilizers?”

Bobby Tom, however, in his own words, "I happen to be immature, undisciplined, and self-centered, pretty much a little boy in a man's body, although I'd appreciate it if you didn't quote me on that." He knows his way around women, knows how treat them and says what the ladies want to hear. And of course, never settle with one girl.

The setting is in Telarosa, Texas. A small city on the brink of bankruptcy. The city tries to survive by expanding their tourism sector, using Bobby Tom’s popularity. Bobby Tom of course reluctant to do it, while angelic Gracie tries to help everybody. The interactions between the two main character starts cute and interesting. How Gracie is a bit scared of bit Bobby Tom yet she forced herself to be brave is so adorable. She threw herself into Bobby Tom’s Thunderbird when he tried to leave her. And when Bobby Tom’s purposely teased her and made her buy him condoms, she fought back by inviting fangirls into his trailer. Bobby Tom’s careless attitude and the way he teases Gracie results in comical dialogues.

It was enjoyable but somehow Susan Elizabeth Phillips, the author, decided to take it too far. Gracie falls too hard and too easily for Bobby Tom that at one point it’s just borderline pathetic. Bobby Tom is very consistent in his role as a ladies man who wants to settle with noone, he makes fun of Gracie even though he’s sure Gracie is in love with him. And that’s how you turn a man into a jerk. You know when you read a book, you have this access to read the character’s mind so you know what the character actually think when he’s doing something? Even when we’re in Bobby Tom’s mind, we know he annoys Gracie just to annoy her. Not because he secretly likes her or whatever. It’s just mean, I had to push myself to read this part. The idea about a goody-two-shoes girl desperately chases after a jerk is just not entertaining. Now tell me if this conversation below is not disgusting.
He tilted the brim of his Stetson back with his thumb. “The thing of it is, for me to make certain this is going to be a good experience for you, I’d have to pretty much take control of your body right from the beginning. I’d have to own it, so to speak.”
She sounded vaguely hoarse. “You’d have to own my body?”
“Uh-huh.”
“Own it?”
“Yep. Your body’d belong to me instead of to you. It’d be just like I took a big ole Magic Marker and put my initials on every little part of you.”
Somewhat to his surprise, she seemed more stunned than insulted. “It sounds like slavery.”
Of course things slowly turned near the end. And the humorous dialogues helped a lot. But it was still annoying. Thankfully there is a secondary romance plot between Suzy Denton, Bobby Tom’s mother, and Way Sawyer, Telarosa’s public enemy. The story of course doesn’t get a lot of portion. But I love the background story about Suzy who has been a widow for four years, trying to fight her feelings when she realized she might be betraying her late husband and falls for a guy who used to be a high school brat. The story is beautiful and graceful. 

The last scene where the guy tries to woo the girl, which to me is a defining moment in every romantic stories, is just fine. It's too public and involves too many people meddling so I don't really like it. But that's personal preference. In general, it's still cute and so Bobby Tom (you'll know what I mean when you read the book). The author wrote an epilogue for this book but ended up cutting it. However, the epilogue was published on her website.

The book that I purchased is published by GagasMedia. The translation is good and very much enjoyable. But they really need to work on the typos. It's everywhere. I even found an English word, untranslated. I also love the casual cover. Just because it's a love story it doesn't mean the cover have to be tacky, right? I won't look twice at the book if it came with Harlequin-type of cover. By the way, the love scene in this book is pretty graphic. Call me old-fashioned but I think this book should come with such information to prevent underage kids from reading it. Unfortunately I see no information whatsoever on the cover.

As a romantic book, I think this book is okay. I don't mind spending my time reading it since it's quite entertaining. But it's not memorable either. If you have a heart for romantic story, it won't hurt to add this to your collection.