Wednesday, October 31, 2012

The Mark of Athena


Baru aja selesai baca, niatnya pengen langsung nulis review gitu. Ternyata gw butuh waktu untuk memperbaiki diri dari kondisi berikut.


The Mark of Athena adalah buku ketiga dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang diceritakan dari sudut pandang tiga demigod, di The Mark of Athena kita punya empat narator.
Kunjungan para demigod dari Camp Half-Blood ke Camp Jupiter yang berujung ricuh, memaksa kapal Argo II tinggal landas, dengan tujuh demigod di dalamnya. Annabeth, Percy, Jason, Piper, Leo, Frank dan Hazel. Tanpa tau tujuan, satu-satunya petunjuk yang mereka punyai adalah sepotong informasi dari Thanatos untuk mencari pintu kematian di Roma.
 
Dalam misi ini, para demigod tidak bisa banyak mengharapkan bantuan para dewa karena berdasarkan informasi yang mereka dengar, dengan bertemunya demigod Romawi dan Yunani, para dewa bagaikan kehilangan identitas diantara wujud Romawi dan Yunani mereka. Dewi yang mengalami dampak paling buruk adalah Athena.
Saat bertemu dewi Athena, Annabeth mendapatkan tugas untuk mengikuti tanda Athena, sebuah legenda turun temurun dari ribuan tahun yang lalu, yang bisa memicu pertarungan atau perdamaian antara demigod Yunani dan Romawi. Pilihan ada di tangan Annabeth. Dan dia harus menjalankan misinya sendirian.
Berbeda dari dua buku sebelumnya yang membahas perkenalan para demigod, dimana masing-masing punya konflik di masa lalu mereka, yang membangun karakter para tokoh. Di buku ketiga ini, setelah kita kenal dengan semua demigod, cerita para tokoh ini lebih ke perkembangan karakter dan peran mereka masing-masing dalam cerita. Yang jadi tokoh utama dalam buku ini adalah keempat demigod Yunani: Annabeth, Leo, Piper dan Percy.

Gw jarang-jarang protes tentang gambar cover, tapi menurut gw cover kali ini agak misleading. Gambar mata burung hantu sih keren, dan udah menggambarkan ceritanya yang berhubungan dengan Athena. Yang ga cocok tuh dua orang demigod di atas kuda itu. Dua orang demigod di gambar udah pasti Jason dan Percy. Ada satu adegan dimana kedua demigod ini bertarung melawan satu sama lain, tapi itu cuma sebagian kecil dari cerita. Kenapa gambarnya bukan Annabeth aja gitu? Dan Argo II?

Dari judulnya, The Mark of Athena, dari setahun yang lalu pun pasti udah bisa nebak kalau Annabeth akan jadi salah satu tokoh utama di buku ini, yang jadi alasan gw ga sabar nunggu buku ini terbit. Dari seri sebelumnya, Annabeth selalu diceritakan dari sudut pandang Percy. Disini, dengan kita bisa kenal lebih dalam sama Annabeth. Seorang demigod anak dewi Perang, yang selalu berani dan selalu punya rencana dalam menghadapi segala kemungkinan masalah, ternyata juga bisa takut, putus asa, sampai menangis.

Setelah menghabiskan enam bulan dalam bunker 9 merakit Argo II, udah sepantasnya Leo punya jatah di The Mark of Athena. Masih inget di The Son of Neptune, Hazel kaget waktu pertama kali melihat Leo dan menyebut Leo sebagai Sammy, yang adalah pacarnya di kehidupan sebelumnya? Nah, di buku ini kita dapet jawabannya. Di buku ini juga menceritakan konflik Leo, yang lebih piawai berinteraksi dengan mesin daripada manusia. Menjalankan misi bertiga aja dia merasa asing dari Jason dan Piper, apalagi bersama enam orang lainnya?

Piper lagi-lagi tidak memberikan kesan berarti disini. Yang jadi "konflik" buat Piper adalah pengelihatan yang muncul di belatinya, Katoptris, yang berkaitan dengan misi mereka. Yeah, nothing special. Semua demigod dapet pengelihatan. Biasanya lewat mimpi, kebetulan aja Piper lewat belati. Bukan cuma itu. Saat Annabeth pusing mikirin misinya mencari tanda Athena, Leo sibuk mengendalikan kapalnya, belum lagi posisinya yang jadi odd man out, yang jadi konflik Piper adalah rasa takutnya kehilangan Jason, apalagi sejak Jason kembali mengunjungi Camp Jupiter. REALLY, PIPER?!

Dengan tujuh tokoh sentral, Riordan menambahkan satu tokoh utama untuk bercerita. Dan posisi keempat diberikan kepada Percy. Menurut gw, Percy disini mewakili interaksi antara para demigod Romawi dan Yunani. Jangankan mempertemukan dua camp. Dalam satu rombongan berisi empat demigod Yunani dan tiga demigod Romawi aja suasananya udah tegang. Percy, yang terbiasa memimpin, harus belajar menyesuaikan posisi dengan adanya Jason, yang juga terbiasa jadi pemimpin. Sebenernya kalo konfliknya cuma sampai disitu, posisi Percy sebagai narator bisa diganti dengan Jason. Tapi disini Percy juga bergumul dengan perasaannya karena harus melepaskan Annabeth yang akan menghadapi misi mematikan sendirian.

Menurut gw, yang bakalan jadi tantangan di The Mark of Athena adalah menceritakan ketujuh demigod, membuat mereka semua terlihat sama pentingnya. Cuma menceritakan tiga demigod aja ceritanya Rick Riordan udah cukup njelimet. Apalagi bertujuh?! Walaupun di awal cerita, beberapa tokoh, seperti Frank dan Jason, agak tersembunyi di belakang layar. Tapi dengan telaten Rick Riordan membangun plot sehingga semua dapat jatah cerita, tanpa ada yang ketinggalan.

The Mark of Athena adalah buku Rick Riordan yang kesebelas yang gw baca. Bisa dibilang gw udah familiar dengan gaya menulis Rick Riordan yang jago meramu cerita penuh humor, aksi laga dan ketegangan. Mau ga mau gw pasti berasa kalo gaya nulisnya berubah, walaupun sedikit. Perasaan gw doang apa emang The Mark of Athena ini mood-nya agak mellow? Baru kali ini gw ngerasain dibikin nangis sama Riordan. Pas lagi baca cerita tentang masa lalu Sammy, lah kok tulisan tiba-tiba burem? Hehehe. Interaksi Percy dan Annabeth pun beda dari yang biasa kita baca di Percy Jackson and the Olympians. Walopun gw menunggu-nunggu reuni antara Percy dan Annabeth, sepanjang baca tetep aja gw butuh waktu untuk membiasakan diri dengan Percy dan Annabeth versi romantis. Saat Percy bilang, "We're staying together. You're not getting away from me. Never again." Nah, mewek lagi deh gw. Percy Jackson is a demigod warrior in The Son of Neptune. But he's simply just a sweet boyfriend in The Mark of Athena. Suka sih dengan cerita Percy-Annabeth, Jason-Piper dan Frank-Hazel-Leo. Tapi gw harap kedepannya cerita romantis ini ga mengambil lebih banyak porsi. Buat gw, action, plot twist dan humor tetep jadi daya tarik utama buku-buku Rick Riordan.


Ngomongin Rick Riordan kayanya ga lengkap kalo ga ngomongin cliffhanger. Hahaha *ketawa miris* Kalo cliffhanger cuma sebatas kapal Argo II yang melayang di atas Camp Jupiter, mungkin kita masih bisa makan dan tidur tenang. Tapi kali ini... Pfft! Bahkan Riordan pun mengakui cliffhanger di buku The Mark of Athena sebagai 'a different sort of cliffhanger.' Cliffhanger di akhir cerita lumayan udah membuka jalan untuk misi mereka selanjutnya. Tapi tetep aja bikin deg-degan. Dan sedih! (Yang menjelaskan gambar di awal postingan ini)

So, read The Mark of Athena on your own risk. Knowing you'll have one miserable year ahead of you, wondering what will happen in The House of Hades.

Friday, October 26, 2012

The Son of Neptune


The Son of Neptune adalah buku kedua dari seri Heroes of Olympus karangan Rick Riordan yang terbit tahun 2011. Kalau tiga tokoh utama di buku pertama, The Lost Hero, berasal dari Camp Half-Blood, sekarang giliran para demigod dari Camp Jupiter yang beraksi.
Kemunculan Percy Jackson di Camp Jupiter, dengan menggendong seorang wanita tua a la hippie sementara dikejar-kejar gorgon, tidak langsung diterima dengan tangan terbuka oleh para demigod Romawi. Ingatannya yang hilang pun tidak membantu sama sekali. Setelah pertarungan singkat melawan para gorgon, Percy menemukan dua orang teman di perkemahan, yakni Hazel Levesque dan Frank Zhang. 

Untuk misi kali ini, Camp Jupiter kedatangan dewa Mars yang memberitahu bahwa Gaea telah membuka Pintu Kematian sehingga musuh-musuh mereka tidak bisa mati, bahkan mahluk-mahluk mitologi yang sudah lama mati dibawa Gaea kembali ke bumi untuk dijadikan kaki-tangannya. Gaea pun menyandera Thanatos, dewa penjaga Pintu Kematian. Mars mengutus Frank dan dua orang temannya (tentunya Percy dan Hazel yang dipilih) untuk pergi ke tanah di luar jangkauan para dewa untuk membebaskan Thanatos. Bukan misi yang mudah karena tempat tujuan mereka juga merupakan tempat Alcyoneus, anak Gaea yang adalah raksasa tertua.

I'll let you in one little secret. Pertama kali gw baca buku ini, setahun yang lalu, gw ga terlalu terkesan dengan The Son of Neptune.

Sekarang, setelah gw baca buku ini kedua kalinya, dengan lebih konsentrasi, gw baru menyadari betapa kerennya The Son of Neptune! Gw sampe mikir, kok bisa-bisanya gw nganggep buku ini gak berkesan?! Walopun sekarang gw bisa nangkep apa kira-kira yang bikin ceritanya agak sulit diikuti. God bless my slow brain!

Bisa dibilang, perkenalan dengan Camp Jupiter lumayan membingungkan. Kalau ga familiar dengan mitologi atau sejarah Romawi, lumayan pusing ngikutinnya. Contohnya, para penghuni Camp Jupiter disebut Twelfth Legion. Pertama kali baca, gw kira, di dalam perkemahan ada dua belas legion. Ternyata setelah baca ulang, gw baru ngeh bahwa seluruh penghuni Camp Jupiter adalah anggota Twelfth Legion yang, menurut sejarahnya, pernah berperang bersama Julius Caesar. Dari hasil intip-intip Wikipedia, kerajaan Romawi punya tiga puluh legion. Dari jaman kerajaan Romawi, legion ini banyak berpencar-pencar, bahkan hilang.

Berbeda dengan Camp Half-Blood yang lebih santai dan ga banyak peraturan, Camp Jupiter punya aturan yang lebih ribet. Dalam buku ini, Rick Riordan bener-bener mengikutin struktur organisasi Romawi sedekat mungkin dengan sejarah. Dalam Camp Jupiter, mereka memilih dua orang praetor sebagai pemimpin. Dalam membuat keputusan, kedua praetor ini akan mengadakan rapat bersama senate. Camp Jupiter bahkan punya Pomerian Line, garis perbatasan kota. Dimana, seperti sejarahnya, rapat senat ini biasa diadakan di perbatasan kota. Ribet? Oh, pastinya. Jadi males baca bukunya? JANGAN!!

Bukan cuma detail tentang Romawi yang bikin ribet. Kalo ga familiar dengan cerita mitologi, udah pasti mesti nyediain ruang di otak untuk menghapal nama-nama mahluk yang pelafalannya lumayan bikin lidah keriting. Apalagi disini, tokoh Frank Zhang punya latar belakang cerita yang lumayan njelimet, yang berkaitan dengan mitologi. Walaupun keturunan dewa Romawi, dari namanya, Zhang, bisa ditebak dong kalo Frank ini keturunan Asia. Perjalanan misi para demigod biasanya penuh dengan detail geografis Amerika. Walaupun pengarangnya menggambarkan setiap kota dalam cerita, tentunya akan lebih membantu kalau kita familiar dengan landscape kota itu sendiri. Sepanjang baca, gw berkali-kali bolak balik halaman ke belakang karena ada aja detail yang kelupaan. Mungkin waktu baca pertama kali gw gak konsen atau terlalu semangat malah bacanya buru-buru. Sampai disini sepertinya gw bisa ngerti kenapa awalnya The Son of Neptune ga berkesan buat gw.

Dibalik detail-detail ribet cerita The Son of Neptune, gw bener-bener semakin kagum sama Rick Riordan. Gak gampang mengadaptasi cerita-cerita yang udah duluan terkenal menjadi sebuah cerita yang baru dan segar. Salah-salah, bisa jadi cuma terkesan njiplak. Tapi dengan kepiawaian pengarangnya, Percy, Frank dan Hazel serta misi mereka tetap jadi kisah utama yang menonjol di buku ini.

Frank, Percy and Hazel made one super awesome team! Gw suka ketiga demigod di cerita ini. Percy Jackson karena... well, he's Percy Jackson! Haha.. Bisa dibilang buku ini jadi obat kangen buat para penggemar Percy (Abis browsing-browsing di internet, gw baru tau ternyata buku The Lost Hero banyak dicerca penggemarnya karena tidak ada Percy di dalamnya. Pfft.. Teenagers!). Setelah sekian lama Percy absen, disini lagi-lagi gw diingetin sama tokoh Percy yang bukan cuma sekedar seorang pemimpin yang jago bertarung. Tapi Percy yang begitu loyal sama teman-temannya. Dan tentunya ungkapan-ungkapannya yang kadang konyol, dan kadang sarkastik.

Sementara Hazel Levesque dan Frank Zhang, keduanya adalah misfits di Camp Jupiter. Karena keserakahan ibunya, Hazel lahir dengan kutukan, dimana saat emosinya berlebihan, batu-batu berharga yang mematikan berjatuhan di sekitar Hazel. Untuk menambah keanehannya, Hazel lahir sebelum waktunya. Dan yang lebih aneh lagi, Hazel seharusnya sudah mati. Sementara Frank, setelah kematian ibunya, dikirim oleh neneknya ke Camp Jupiter. Setelah sebelumnya neneknya menceramahinya tentang leluhurnya yang adalah para pahlawan dan Frank pun adalah pahlawan dengan bakat keturunan keluarganya. Masalahnya, tubuhnya yang gempal dan pembawannya yang kikuk serta cenderung ceroboh sama sekali tidak membuat Frank merasa seperti pahlawan.

Dengan ingatan Percy yang hilang, lagi-lagi kita bertemu dengan tim underdog! Gw suka chemistry antara tiga orang ini. Kalau yang jadi konflik intrinsik di rombongan sebelumnya adalah Leo yang merasa terasing dan tidak penting dibanding Jason dan Hazel, lain lagi dengan rombongan Percy. Ketiganya sama-sama merasa ga bisa apa-apa. Tapi itu lah yang justru bikin mereka jadi dekat. Bukan cuma saling kerjasama, mereka saling membesarkan hati satu sama lain setelah hampir mati melawan musuh-musuh mereka. Begitu juga saat satu persatu mereka mulai membuka rahasia masa lalu mereka. Walaupun Hazel dan Frank bertarung dengan hebat, mereka tetep ga menyadari pentingnya peran mereka. Hazel dan Frank punya cerita latar belakang yang bagus banget. Seiring berjalannya cerita, mereka belajar tentang masa lalu mereka, keluarga mereka bahkan takdir mereka. Dan semuanya jadi penyemangat Frank dan Hazel untuk bertarung.

Baca The Son of Neptune bener-bener memprovokasi segala emosi! Buku ini bikin gw ketawa, kesel, terharu. Bahkan ikut bangga saat membaca pertarungan Frank di akhir misi. Untungnya sepanjang cerita gw masih bisa menahan diri untuk gak meninju udara sambil teriak "YEEESSS!!!!" Kalo pinjem bahasanya para fangirl, kata yang tepat untuk menggambarkan buku ini adalah, umm.. asdkjaerkjjsh!!!!! Bener-bener wajib baca! 

Sebelum review yang sudah super panjang ini semakin bertambah panjang, sebaiknya gw akhiri sekarang dengan meminjam salam perpisahan a la Leo Valdez.

"See you soon. Yours in demigodishness, and all that. Peace out"

Saturday, October 20, 2012

The Lost Hero


The Lost Hero adalah buku pertama dari seri The Heroes of Olympus karangan Rick Riordan. Dimana seri The Heroes of Olympus ini adalah sekuel dari seri Percy Jackson and the Olympians. Sama seperti seri sebelumnya, seri The Heroes of Olympus juga terdiri dari lima buku. The Lost Hero terbit tahun 2010. Terus kenapa baru gw bahas sekarang? Karena gw lagi baca ulang buku ini, dan buku keduanya, The Son of Neptune, dalam rangka terbitnya buku ketiga, The Mark of Athena.

Secara ceritanya Rick Riordan selalu kompleks, lengkap dengan konflik masa lalu dan masa kini para demigod, cerita tentang musuh-musuh mereka dan perintilan lainnya, jadi agak susah membuat rangkuman singkat ceritanya. But in a nutshell:
Cerita diawali dengan Jason Grace yang terbangun dalam bis sekolah khusus anak-anak bermasalah tanpa ingatan sama sekali. Dimana dia bertemu dengan Piper McLean, gadis yang masuk Wilderness School karena 'mencuri' BMW, dan ternyata adalah pacar Jason. Dan Leo Valdez, yang berkali-kali melarikan diri dari keluarga yang menampungnya sejak kematian ibuya, dan ternyata adalah sahabat Jason. Singkat cerita, ketiganya akhirnya tiba di Camp Half-Blood, dimana para anggotanya pun sedang mengalami masalah karena pemimpin mereka, Percy Jackson, mendadak hilang tanpa kabar berita.
Keberadaan Jason, Piper dan Leo di Camp Half-Blood tidak bertahan lama karena adanya penampakan dewi Hera yang mengutus mereka menjalankan misi untuk membebaskannya. Maka dimulailah petualangan Jason, Piper dan Leo. 
Berbeda dengan serial Percy Jackson and The Olympians yang diceritakan dari sudut pandang Percy sebagai orang pertama, seri The Heroes of Olympus diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dengan tiga tokoh utama bergantian jadi inti cerita setiap dua bab (Empat tokoh utama untuk The Mark of Athena). Dengan cara penulisan seperti ini, setiap tokoh utama dapet porsi sama banyak dalam cerita dan kita jadi punya banyak kesempatan untuk kenal mendalam sama masing-masing tokoh. Konsekuensinya yah, ga ada tokoh utama yang lebih menonjol dari yang lain. Mungkin ada kecenderungan untuk mengutamakan tokoh Jason, secara dia yang berperan sebagai pemimpin, tapi Piper dan Leo pun punya cerita masing-masing, jadi tokoh Jason tidak sepenuhnya menyita perhatian. (Terutama kalau dibandingkan dengan seri Percy Jackson and the Olympians dimana Percy jadi pusat utama cerita).

Rasanya ga mungkin membicarakan tokoh-tokoh dalam sekuel Percy Jackson tanpa membandingkan dengan Percy Jackson sendiri. Yang paling mungkin dibandingin dengan Percy, ya tentunya Jason. Poor Jason Grace, he came after Percy Jackson. Kayaknya agak sulit ya berusaha mengalahkan pesona seorang Percy Jackson, apalagi yang baca The Lost Hero pastinya penggemar berat Percy Jackson (macem gw!) Mungkin karena pembawaan Romawi-nya, Jason terkesan lebih serius. Terlepas dari ingatannya yang hilang, Jason tetap bisa diandalkan saat bertarung. Dan secara natural, bahkan tanpa resmi ditunjuk, berperan jadi pemimpin. Dibandingkan karakternya, buat gw, daya tarik utama dari cerita Jason justru latar belakangnya. Ingatan Jason yang hilang dan hanya tersisa sedikit jadi salah satu faktor yang bikin gw penasaran dan ga rela berenti baca.

And then, enter Leo Valdez. The boy who hides his inner pain with rapier wit (Lah? Koq jadi Jace Wayland?!). Leo adalah tokoh favorit gw di The Lost Hero! He's the joker in the group. Just for fun, ini deskripsi tentang Leo di buku: Leo looks like a Latino Santa's elf, with curly black hair, pointy ears, a cheerful babyish face, and a mischiveous smile that told you right away this guy should not be trusted around matches or sharp objects. Dan sejujurnya, menurut gw, tanpa Leo misi di buku ini ga bisa jalan. Selain itu, latar belakang cerita Leo, tentang ibunya yang meninggal secara misterius, babysitter-nya waktu kecil yang berusaha ngebunuh dia, dan gambar coret-coret yang dia buat waktu kecil, semua bikin tokoh Leo jadi menarik dan ceritanya bikin penasaran.

Sementara Piper McLean ga terlalu mengesankan buat gw. Baik latar belakangnya maupun motifnya ikutan misi bersama Jason dan Leo. Para demigod biasanya punya latar belakang cerita yang menarik, yang mengantar mereka ke perkemahan. Dan dibanding cerita para demigod lain, menurut gw masalahnya Piper ini termasuk ringan sih.

Seri The Heroes of Olympus ini menggabungkan mitologi Yunani dan Romawi. Yang selalu jadi daya tarik dari buku-buku Rick Riordan adalah gemana Riordan mengadaptasi kisah mitologi ke dalam cerita di jaman modern. Lucu aja tiap ada tokoh asing muncul, kita bisa nebak-nebak siapa kira-kira tokoh ini dalam cerita mitologi, berdasarkan settingnya, cara bicara atau berpakaiannya. Sayangnya, gw ga terlalu familiar dengan mitologi Romawi. Tapi ga bikin buku ini jadi tidak menarik untuk diikutin. Selain itu, yang selalu gw suka dari tulisan Rick Riordan adalah humornya. Sampe sekarang pun, kalau lihat foto om Rick yang rambutnya putih semua, gw masih kagum kok bisa beliau menulis lelucon-lelucon yang nyambung sama pembaca remaja (No offense, om). Dan tentunya, kalau ngomongin cerita petualangan yang seru, kemampuan Rick Riordan udah ga perlu diragukan lagi.

Tulisan ini juga sebenernya bukan review, cuma gw mo membujuk siapapun yang baca tulisan ini untuk membaca The Lost Hero dan buku-buku Rick Riordan lainnya. Karena kalo ga baca, beneran rugi deh!

The Survival Kit

Setelah ibunya meninggal karena kanker, Rose Madison menemukan Survival Kit buatan ibunya yang ditujukan untuknya. Di dalamnya, bersama benda-benda lainnya, terdapat pesan dari ibunya bahwa Survival Kit ini dibuat ibunya untuk membantu Rose melewati masa duka dan kehilangan sepeninggal ibunya. Satu-satunya petunjuk penggunaan yang diberikan oleh ibunya adalah: Use your imagination.
Sambil berusaha mencari tahu maksud dari benda-benda pemberian ibunya dalam Survival Kit, Rose berusaha menata ulang hidupnya, bersama kakaknya berusaha mengatasi rasa kehilangan atas meningalnya ibunya, mengurus ayahnya yang begitu terpuruknya sejak ibunya meninggal dan menjadikan alkohol sebagai pelarian, serta memperbaiki kehidupan sosialnya. Dalam perjalanannya, Rose dipertemukan dengan Will Doniger, pengurus tanaman di rumahnya yang juga pemain hockey di sekolah. 
Ga tau kenapa gw lagi ngidam buku genre romantis. Menemukan The Survival Kit dalam list Best Young Adult Realistic Novels di Goodreads, I decided to give this book a try. Teknisnya, The Survival Kit bukan genre romantis sih. Ceritanya lebih berpusat pada Rose dan perjalanannya menghadapi rasa kehilangan setelah ibunya meninggal. Kepergian ibunya memberi imbas yang dalam pada Rose. Dia berhenti jadi cheerleader, menolak masuk stadion dan menonton pertandingan pacarnya, tidak mau disentuh, dia bahkan berhenti mendengarkan musik karena musik membuatnya sedih.

Biasanya gw bukan penggemar buku yang mood-nya mellow gini. Buku tentang kepergian anggota keluarga bukan ide yang sepenuhnya baru, bahkan secara garis besar buku ini ngingetin gw sama The Truth About Forever karangan Sarah Dessen. Dan tema seperti ini pun bisa dengan mudah jadi mood-killer, yang adalah alasan kenapa gw ga sanggup selesein The Lovely Bones karangan Alice Sebold. Karena itu, gw ga nyangka gw ternyata menikmati baca The Survival Kit.

Mulai dari ide ceritanya, Survival Kit peninggalan ibunya Rose. Saat Rose menelusuri satu-persatu benda pemberian ibunya, gw jadi penasaran kemana kira-kira benda-benda itu akan membawa Rose. Bukan cuma itu yang bikin gw bertahan baca. Walaupun awalnya gw mengharapkan cerita romantis, ternyata kisah Rose dengan keluarga dan teman-temannya juga menarik untuk diikutin. Hubungan Rose dengan kakaknya, Jim, manis banget. Digambarin gemana deketnya Rose dan Jim, juga betapa protektifnya Jim terhadap adiknya. Saat Rose dan Jim nangis bareng karena teringat ibu mereka di hari Natal pertama sejak kepergian ibu mereka sambil diiringin lagu Natal, bikin gw trenyuh. (I know I'm being extra cheesy right now, but I've told you that this is a mellow novel!)

Hubungan Rose dengan Will juga manis banget. Tokoh Will bukan sekedar tempelan doang, tapi dia pun punya konflik sendiri, yang justru jadi awal kedekatannya dengan Rose. Walaupun buat gw hubungan mereka bukan daya tarik utama novel ini, karena gw lebih tertarik sama cerita Rose sendiri. Dan pada akhirnya menurut gw Rose dan Will are too fragile to be together, tetep aja they're such a cute couple. Favorit gw adalah saat mereka main salju malem-malem saat badai. Dan kok bisa-bisanya Freitas kepikiran bikin tokoh macam Will yang adalah kombinasi pemain hockey dan tukang kebun?!

Satu lagi yang bikin buku ini menarik adalah keterlibatan musik dalam ceritanya! Ah! Lagi-lagi, kepikiran aja sih?! Setelah memboikot musik dari hidupnya, Rose pelan-pelan berusaha mendengarkan musik lagi. Walaupun ga baca sambil dengerin musik, secara ga sadar, gw jadi berasa seperti lagi nonton film lengkap dengan soundtrack yang membangun suasana! Bahkan tiap bab di buku ini dijuduli dengan judul lagu. Beberapa diantaranya The Heart of Life (John Mayer), My Baby Just Cares for Me (Nina Simone), All at Sea (Jamie Cullum) dan tentunya All I Want for Christmas is You (Mariah Carey).

Dalam satu cerita yang secara garis besar bertemakan 'kehilangan,' di dalamnya ada konflik Rose dengan dirinya sendiri, dengan keluarganya, dengan pacar dan teman-temannya. Semuanya dalam takaran yang pas. Dan Donna Freitas berhasil mengemas semuanya dengan ringan dan indah, bahkan kadang-kadang bikin gw terharu.

Satu aja yang gw mo protes dari buku ini, yaitu judul-judul bab-nya yang kadang terlalu obvious. Gw ngerti Freitas berusaha menemukan lagu yang pas untuk ngegambarin ceritanya. Tapi kalau hubungan Rose dan pacarnya bermasalah, dan kita lagi nebak-nebak gemana kira-kira kelanjutannya, terus balik halaman berikutnya, belum juga baca isinya, udah baca judul bab-nya 'How It Ends,' kayanya buzzkill banget. Ga banyak sih yang kaya gini, but it totally ruined the whole chapter for me. But, whatever, that's minor.

In a nutshell, reading The Survival Kit was such a pleasant journey. Kalau lagi mood baca yang mellow-mellow, boleh deh disempetin baca The Survival Kit.

Friday, October 19, 2012

Where She Went


Where She Went adalah sekuel dari If I Stay, karangan Gayle Forman. Masih bercerita tentang Adam dam Mia, Where She Went dimulai tiga tahun setelah If I Stay. Dalam buku ini, If I Stay hanya sekedar latar belakang cerita, jadi Where She Went bisa dibaca tanpa harus membaca If I Stay lebih dulu. Gw sendiri pun belum baca If I Stay.
Tiga tahun setelah putus dengan Mia, Adam Wilde sekarang adalah penyanyi rock terkenal yang sering diliput majalah gosip bersama pacarya, bermasalah dengan sesama anggota band-nya dan terutama, bosan dengan kehidupannya.
Hingga suatu hari Adam dipertemukan kembali dengan Mia. Mereka berjalan-jalan seputar kota New York sementara Adam berharap Mia punya jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang mereka yang dia simpan selama ini.

Where She Went diceritakan dari sudut pandang Adam, yang buat gw jadi angin segar dalam genre cerita romantis. Jarang-jarang ada cerita romantis yang naratornya cowok. Ceritanya diceritakan dengan alur maju mundur. Di satu bab bercerita tentang Adam di masa ini, sementara bab berikutnya mundur ke masa lalu, selanjutnya balik lagi ke masa kini. Kalau bab tentang masa lalu Adam disingkirkan, sebenernya ceritanya pendek aja sih. Tapi dari kilas balik itu kita jadi lebih mengenal tokoh Adam.

Sejujurnya, gw kurang bisa menempatkan diri dalam posisi Adam yang masih hang up sama cinta masa lalunya, bahkan setelah tiga tahun tidak ada kabar. Bukan sinis, cuma logis. Tapi kalau dari cerita-cerita kilas baliknya, bisa diliat gemana sayangnya Adam sama Mia. They've gone through a lot together. Adam bahkan ikut terlibat menolong Mia yang setelah kecelakaan kehilangan orangtua serta adiknya. Dan tentunya cerita tentang seorang cowok yang cinta mati dan bahkan setelah tiga tahun masih hang up sama mantan pacarnya cukup menjanjikan untuk jadi tema dalam cerita romantis. Bisa ditebak, gw penasaran banget apa yang bakal terjadi saat Adam dan Mia akhirnya bicara. 

Sayangnya, alur yang maju mundur malah jadi sumber pengganggu buat gw. Secara ga mungkin juga setelah tiga tahun ga ada komunikasi, begitu ketemu langsung konfrontasi, makanya pertemuan mereka diawali dengan Mia membawa Adam jalan-jalan keliling Manhattan. Ya itu gw ngerti banget. Yang ganggu adalah, saat lagi seru dan penasaran ngikutin cerita Adam dan Mia di masa kini, tiba-tiba ceritanya dipotong ke masa lalu. Dan ini terjadi terus, selang-seling, membuat gw yang awalnya penasaran, malah jadi gemes, dan pada akhirnya jadi kehilangan minat. Saat membangun chemistry antara Adam dan Mia, yang terjadi saat mereka jalan-jalan, jadi berasa tambah panjang dengan adanya sisipan kilas balik, dan ceritanya jadi berasa ga sampe-sampe ke inti permasalahan. Sebenernya cerita kilas balik Adam dan Mia itu menarik, pembaca jadi punya gambaran betapa manisnya hubungan mereka. Bahkan diceritain gemana ancurnya Adam setelah ditinggal Mia, yang lagi-lagi nunjukin betapa cintanya Adam pada Mia. Sayangnya penempatan kilas balik ini kurang pas. Maybe I am such an impatient reader. 

Dan saat akhirnya sampe juga pada puncaknya, dengan kecewanya, kesan gw adalah, 'Udah nih, gitu aja?' Grrrr!! Setelah bertahan melewati alur maju mundur yang gengges itu!!!! Setelah tiga tahun gantung dan hidup Adam jadi kacau balau gitu, jawaban Mia sangat ga memuaskan. Gw ga mau ngebocorin ceritanya, tapi kalau udah baca bukunya, you'll get this: Adam is not a God. No matter what he did or said while she was in a comma, it had nothing to do with her recent life. And definitely not a reason to leave him hanging. Gw mencoba ngertiin tokoh Mia dengan alasan-alasan seperti: Saat itu Mia masih bergumul dengan rasa sedih dan kehilangan setelah kecelakaan jadi ga bisa berpikir jernih dan membuat keputusan. Atau alasan seperti, Mia adalah musisi, dan biasanya musisi dan pekerja seni punya pemikiran yang emosional, yang gw ga ngertiin. But, nope, tetep ga bikin tokoh Mia jadi relatable buat gw. She told him she hated him and then she told him she loved him. Aduh, ga ngerti deh.

Kecuali alurnya, penulisan Gayle Forman cukup menarik untuk diikutin. Diksi dan caranya merangkai kata cukup sederhana dan apa adanya. Ga menye-menye untuk sebuah novel romantis, yang mana cocok karena naratornya cowok. Caranya membangun karakter tokoh-tokohnya juga menarik. Walapun Adam ga sampe jadi character crush buat gw, tapi kalau lagi bosen sama cowok-cowok serba sempurna yang fiksional banget, Adam Wilde yang clueless, anxious dan fragile bisa jadi selingan. Curhat-curhatnya Adam ngingetin gw sama artikel-artikel selebriti yang muak dengan popularitas, bikin tokoh Adam jadi terasa nyata.

Despite all the dazzling reviews about Where She Went, buku ini ga terlalu memorable buat gw. Gw sendiri adalah penggemar novel romantis tapi buku ini ga sampe ngambil hati gw. Banyak yang nangis-nangis baca buku ini, gw bahkan ga kebayang bagian mana yang bikin nangis. However, ceritanya toh ga terlalu panjang. Bukunya keliatan tebel tapi margin dan spasinya lebar, font-nya juga gede, bisa selesai dibaca dalam sehari. Ya lumayan lah buat ada bacaan.

Insurgent


Insurgent adalah buku kedua dari trilogi Divergent oleh Veronica Roth.
Serangan dari Erudite dan pengkhianatan para petinggi Dauntless memaksa Tris dan Tobias serta para Abnegation dan Dauntless untuk mencari perlindungan pada faction lainnya, yakni Amity dan Candor. Yang kemudian justru membawa kedua faction tersebut dalam masalah karena mereka dianggap melawan Erudite. Maka konflik antar faction pun terjadi. Penyerangan terjadi, para Divergent menjadi mangsa utama dari Erudite.
Dalam perjalanannya mencari perlindungan, Tris dan Tobias bertemu dengan para factionless yang ternyata punya misi yang sama untuk melawan Erudite. Tobias, bersama para factionless, setuju untuk melawan Erudite dengan menghancurkan mereka. Sementara Tris percaya bahwa ada alasan dibalik serangan-serangan Erudite dan bertekad mencari jawabannya, walaupun harus mengkhianati Tobias.

Sebenernya ga banyak yang gw protes dari buku ini. Tapi karena ini yang langsung gw inget, jadi langsung gw tulis. I HATE CLIFFHANGER, dammit! Insurgent dimulai tepat di adegan yang sama dimana Divergent berakhir. Bayangin rasanya harus nunggu setahun sambil penasaran apa yang akan langsung terjadi. Hiks. Kalo menurut om Rick Riordan, yang juga hobi mengakhiri buku-bukunya dengan cliffhanger, teknisnya, akhir sebuah buku disebut cliffhanger kalo ada nyawa tokohnya yang terancam. Blah blah blah.. Po-tay-to po-tah-to. Tentunya cliffhanger ini ga bikin gw berhenti baca trilogi Divergent. Yang ada malah jadi tambah penasaran. Tapi sekedar mengingatkan saja. Kalo suka gemes sama ending yang gantung, yang siap-siap gemes aja baca Insurgent (dan Divergent).

Selain protes gw di atas, gw rasa gw ga punya kritik berarti buat Insurgent. Seperti yang udah sempet gw singgung di review gw tentang Divergent, gw sangat terkesan sama Insurgent. Gw beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan buku kedua (beberapa diantaranya adalah The Sea Monster, City of Ashes, Catching Fire). Bahkan Becca Fitzpatrick, pengarang Hush Hush saga, mengakui kalau para pengarang biasanya mengalami kesulitan menulis buku kedua. Tapi rupanya Insurgent adalah salah satu pengecualian, setidaknya menurut gw.

Di Insurgent, bukan cuma kelima factions yang terlibat dalam cerita. Kita bahkan berkenalan dengan para factionless! Dan buat gw, ini adalah salah satu poin yang menarik. Buat apa menciptakan sistem factions kalo tidak dilibatkan dalam cerita? Walaupun dari awal gw ga terlalu bisa terima ide tentang pembagian factions ini, tetep aja mengenal masing-masing factions dan cara mereka menghadapi konflik yang terjadi jadi salah satu daya tarik Insurgent.

Kalau mengharapkan banyak adegan romantis antara Tris dan Tobias di Insurgent, siap-siap aja kecewa. Bukan cuma tidak banyak adegan romantis, Tris dan Tobias pun banyak kali berantem. Tapi untuk mengobati kekecewaan gw, di buku ini gw bener-bener terkagum-kagum sama Tris. Kalau di buku sebelumnya peran Divergent belum terlalu jelas –despite the title– di Insurgent mulai bermunculan tokoh-tokoh Divergent lainnya, dan mereka lebih memegang peran dalam cerita. Terutama Tris. Sesuai hasil aptitude test-nya, dia pemberani, tidak memikirkan dirinya sendiri dan pintar. Jadi bisa dibayangkan seperti apa tokoh Tris yang taktis, apalagi karena harus berhadapan dengan petinggi Erudite. Dan dia sendiri dengan beraninya menjalankan rencana-rencananya yang lebih cocok disebut “Misi Cari Mati.” I’m all about smart dan brave heroine jadi ga heran kalo gw jatuh cinta setengah mati sama tokoh Tris. Bisa dibilang, Tobias sedikit terlupakan di cerita ini.

Dari segi cerita, menurut gw Insurgent WOKEH banget. Divergent is not at all bad, tapi sebenernya ceritanya ringan banget. Mostly cuma tentang masa-masa inisiasi Tris. Dimana kita kenalan sama Dauntless dan tokoh Tris. Sementara Insurgent ceritanya lebih twisted. Bukan cuma bikin kita tertarik untuk mengikuti konflik yang sedang terjadi, tapi bikin kita jadi penasaran dan berusaha nebak-nebak apa yang jadi asal muasal konfliknya, dan siapa yang beneran kawan atau lawan. Gw paling suka cerita yang ga ketebak kaya gini! Oh ya, sekedar peringatan, if you're easily attached to characters in books, siap-siap aja sering patah hati. Sama seperti buku sebelumnya, Veronica Roth ga kira-kira kalo ngebunuh tokoh ceritanya. You’d think, "Oh, ini tokoh yang banyak berperan. She’ll stick until the end." Umm.. think again.

Secara keseluruhan gw bener-bener impressed sama Insurgent! Ga nyangka gw bisa segitu attached sama buku distopian, padahal gw sendiri bukan penggemar distopian. Insurgent really sets the bar up high. Gw harap buku ketiga dari trilogi ini sama kerennya, bahkan lebih!

Monday, October 1, 2012

Divergent




Divergent adalah buku pertama dari trilogi Divergent yang ber-genre distopian karangan Veronica Roth. Buku ini ber-setting di Amerika di masa depan dimana, untuk menjaga kedamaian, penduduknya dibagi dalam lima factions, berdasarkan sifat positif yang diutamakan masing-masing faction : Candor (kejujuran), Erudite (kecerdasan), Dauntless (keberanian), Amity (kedamaian) dan Abnegation (ketidakegoisan).

Adalah Beatrice Prior, yang menginjak usia enam belas tahun, yang berarti saatnya mengikuti Choosing Ceremony untuk memilih faction. Sebelum menentukan pilihan, setiap peserta diwajibkan mengikuti aptitude test untuk mengetahui faction yang cocok untuk mereka. Saat menjalani aptitude test ini lah, Beatrice mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Divergent. Sebuah istilah yang asing di telinganya, tapi ternyata membahayakan nyawanya sehingga dia harus merahasiakannya dari siapapun.

Terlepas dari hasil aptitude test, Beatrice akhirnya menentukan faction pilihannya dan mengganti namanya menjadi Tris. Sesuai tradisi, para peserta baru, yang disebut Initiates, harus menjalani serangkaian proses inisiasi. Pada proses ini lah Tris bertemu dengan teman-teman baru, belajar bertahan dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya, juga bertemu Four, yang adalah instrukturnya. Dimana, bisa ditebak, Tris akhirnya dekat dengan Four.

Selama berusaha bertahan dalam proses inisiasi, tersiar berita yang tidak mengenakan yang menyerang ayah Tris yang duduk di pemerintahan, yang membuat dia curiga bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memprovokasi pemberontakan. 

Review ini berangkat dari kenyataan bahwa gw bukanlah penggemar distopian. Gw  bukan penggemar cerita yang berlatar belakang masa depan. Lagian, The Hunger Games dan Catching Fire udah cukup bikin gw ilfil terhadap genre distopian.  Terus kenapa gw baca Divergent? Jawaban gw sederhana aja. Because I want to know what the fuss is all about. Jujur aja, gw sempet stuck di tiga bab pertama dalam waktu yang cukup lama. Kenapa sih awal cerita dystopian harus gloomy? Bikin males baca. Tapi gw memutuskan untuk terus baca sampai habis. Lagian, buku ini menang Goodreads Choice Award Favorite Book. There has got to be something. 

Kesan pertama, mau ga mau, gw menganggap sebuah masa dimana penduduknya dibagi berdasarkan factions, yang mana factions ini dibedakan berdasarkan sifat utama para penduduknya, adalah ide yang konyol dan ga masuk akal. Bahkan aptitude test yang digunakan untuk menentukan factions terlalu sederhana untuk mengategorikan sifat manusia yang sangat kompleks. Tapi ya udahlah, namanya juga fiksi. Lagian, pembagian factions ini yang jadi dasar cerita, jadi gw ikutin aja.

Kurang lebih dua pertiga porsi cerita menceritakan tentang proses inisiasi Tris sambil kita kenalan sama dunia distopian a la Veronica Roth. Ceritanya ringan, ga terlalu banyak twist-nya tapi cukup seru  untuk diikutin. Menurut gw, yang bikin proses inisiasi ini jadi menarik adalah tokoh Tris yang disini jadi underdog. Tris sering dianggap remeh, bahkan temen-temennya menganggap dia harus selalu ditolong dan dilindungi. Tapi Tris terus-terusan menunjukan hasil yang ga disangka-sangka dalam menghadapi serangkaian ujian dalam proses inisiasi.  

Selama inisiasi ini tujuannya mengajarkan para Initiates tentang sifat utama dari faction mereka. Sebenernya banyak banget quote-quote bagus yang berhubungan dengan faction yang dipilih Tris. Tapi kalo gw nge-quote yang ada malah jadi spoiler. So I’m just gonna keep it for myself (Not easy, guys!). Tapi gw suka cara nulisnya Victoria Roth.

Satu lagi yang bikin gw betah baca Divergent adalah cerita Tris dan Four yang bikin gw smitten ga keruan. Iya tau, gw gampang banget naksir sama karakter di buku. Haha.. Tapi Four ini unik. Secara dia instruktur inisiasi, pembawaannya tegas, pinter, jago berantem, ganteng (kalo menurut Tris). Tapi aslinya dia punya sifat yang cenderung pemalu, dan ga takut untuk nunjukin rasa takutnya pada Tris. Selain itu, dia percaya Tris itu pemberani dan bisa diandalin. That’s what I love about Tris and Four. That they are both equal. And they equally need each other.

Memasuki sepertiga akhir cerita, tema ceritanya tiba-tiba loncat ke permasalahan antar faction. Di awal udah sempet disinggung-singgung tentang pemberontakan tapi tetep aja rasanya koq penempatan urutan ceritanya agak terkesan dipaksain.  Walaupun disini lah misteri tentang Divergent baru mulai terbuka. Dan menurut gw, penyelesaian konfliknya terlalu biasa. 

Hal remeh yang menurut gw mengganggu tapi mungkin ga penting untuk orang lain adalah buuaaanyaknya tokoh dalam cerita ini yang berarti banyak nama yang harus gw inget. Pada dasarnya gw selalu butuh waktu lama untuk mengingat nama tokoh-tokoh utama dalam cerita. Tapi tokoh-tokoh Divergent ini beneran rame banget! Selain itu, dari lima factions yang ada, ga semuanya terlibat dalam cerita. Tapi ternyata itu semua dibahas di buku selanjutnya, Insurgent.

Menurut gw, secara garis besar, distopian atau bukan, cerita Divergent ini menghibur. Ide ceritanya menarik, walopun ga terlalu spesial. Cukup menyita perhatian gw untuk menyelesaikan membaca tapi ga segitu serunya sampe bikin gw deg-degan dan penasaran. Tapi balik lagi ke atas, gw bukan lah penggemar distopian. Jadi kalo gw sampe menikmati buku ini, I think that statement means more.

Kalau gw belum baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Divergent cukup menghibur, boleh dibaca untuk mengisi waktu luang. Tapi karena gw sudah baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Baca lah Divergent supaya bisa lanjutin ke Insurgent. Sepertinya selama menulis Divergent, Veronica Roth menyimpan ilmu menulis-cerita-super-seru untuk kemudian dilimpahkan habis-habisan di Insurgent! Jadi kalo lagi baca Divergent dan berasa biasa aja, KEEP READING!