Thursday, November 29, 2012

The Statistical Probability of Love at First Sight

Walaupun enggan, Hadley Sullivan terpaksa menuruti permintaan kedua orangtuanya untuk pergi ke London dan menghadiri pernikahan ayahnya yang kedua kali. Di luar rencana, Hadley tiba terlambat di airport dan terpaksa mengambil penerbangan berikutnya. Saat itu lah dia bertemu Oliver, pemuda Inggris yang akhinya menemaninya dalam perjalanan.

Who would have guessed that four minutes could change everything?

Sebagai orang yang gampang banget naksir sama tokoh di buku, bisa dibilang penokohan penting buat gw. Saking gampangnya naksir sama tokoh fiksi, gw sempet berpikir bahwa menciptakan tokoh yang lovable itu mudah. Haha.. This book slapped me right in the face.

Penokohan dalam The Statistical Probability of Love at First Sight (Alamak! Panjangnya judulnya..) ini kurang banget. Bahkan setelah gw selesai baca buku ini, gw masih merasa tidak kenal dengan Hadley Sullivan, selain sebagai seorang gadis yang ketinggalan pesawat yang akan membawanya ke London untuk menghadiri pernikahan ayahnya. Dan punya claustrophobia. Sedangkan tokoh cowoknya, Oliver? Gw bahkan ga inget nama lengkapnya. Atau apakah nama lengkapnya pernah disebut di buku. Kurangnya character development bukan cuma bikin gw ga merasa kenal dengan tokoh-tokohnya, tapi juga bikin gw ga peduli dengan cerita mereka. Gw berkali-kali tergoda untuk berhenti baca saking bosennya, tapi sebisa mungkin gw selalu selesein buku yang gw baca.

Dengan begitu sedikit hal yang gw tau tentang Hadley, gw dicekokin curhat-curhat Hadley tentang bagaimana dia beradaptasi dengan kehidupannya setelah ayahnya meninggalkan dia dan ibunya, sementara ayah dan ibunya udah move on. Yang bukan cuma membuat gw melihat Hadley sebagai tokoh yang bitter dan agak drama queen, juga membuat gw makin bosen baca bukunya. Ini juga yang memberi kesan seolah-olah "chemistry" antara Hadley dan Oliver hanya sekedar efek samping karena mereka sedang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Satu-satunya tokoh yang mendapat sedikit simpati dari gw hanya Andrew Sullivan, ayah Hadley. Dari kisah-kisah flashback yang diceritakan oleh Hadley, kerasa banget gemana ayahnya sangat sayang sama Hadley. Tapi ini pun jadi terasa tidak masuk akal. Kok bisa ayah yang sangat sayang dan dekat sama anak perempuannya, bisa dalam sekejap begitu aja meninggalkan keluarganya demi wanita lain tanpa alasan jelas selain "I fell in love." Excuse me? What are you, a teenager? Pembaca tidak dikasih alasan untuk mengerti perbuatan ayah Hadley baik dengan memberi latar belakang cerita atau pun dengan membangun tokoh Charlotte, istri baru Andrew.

Dari awal baca, terasa ada yang kurang dengan cara penulisan Jennifer E. Smith. Sejujurnya, sampai saat ini pun gw ga tau apa yang bikin penulisannya terasa kurang, tapi kok dari awal gw ga merasa terlibat dalam cerita. Jalan ceritanya pun tidak ada yang istimewa. Dua orang asing bertemu di airport, ngobol dan saling cocok. Gitu thok. Tapi bukannya kita semua sering mengalami itu saat traveling sendiri? Terus apa yang bikin kisah Hadley dan Oliver beda, sampe mereka bisa jatuh cinta? Padahal judulnya cukup bikin penasaran. Gw penasaran bagaimana kira-kira Jennifer E. Smith bisa meyakinkan pembaca yang sinis logis seperti gw, bahwa cinta pandangan pertama bisa terjadi. Sayangnya, sampai akhir cerita, penulis gagal meyakinkan gw.

Buku ini sebenernya pendek dan bisa diselesaikan dalam waktu beberapa jam saja. Tapi saking bosennya, gw sampai butuh dua hari untuk menyelesaikan buku ini. Padahal kurang menjiwai gemana lagi? Demi menyesuaikan dengan setting, gw mulai baca buku ini di pesawat. Tapi tetep aja ga ngefek. You won't miss anything by not reading this book.


Wednesday, November 7, 2012

My Life Next Door

 
My Life Next Door adalah buku pertama karangan Huntley Fitzpatrick. Sebelumnya, sekali lagi gw ingatkan bahwa pemilik blog ini adalah penggemar berat genre romantis dan gampaaang sekali jatuh cinta sama tokoh fiksi. Jadi kalau penilaiannya rada-rada bias, harap maklum.
Sejak keluarga Garret pindah ke sebelah rumah Sam Reeds saat dia masih berusia tujuh tahun, ibunya sudah mewanti-wanti Sam dan kakaknya, Tracy, untuk tidak berurusan dengan keluarga dengan delapan anak dan rumah yang berantakan itu. Selama ini Sam hanya mengamati keluarga Garret dari jauh, sambil duduk di atap rumahnya.
Semuanya berubah ketika suatu musim panas, sepuluh tahun kemudian, Jase Garret menghampiri Sam di atap rumahnya. Maka dimulai lah hari-hari Sam sebagai bagian dari keluarga Garret, sambil berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Jase dari keluarganya, terutama ibunya.

Perkenalkan: Jase Garret. Cowok paling sempurna yang pernah gw temui di buku. Rasanya ga mungkin ngomongin buku ini tanpa ngomongin Jase, secara he is literally flawless. Sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara, Jase perhatian sama sodara-sodaranya, pinter ngurus adik-adiknya yang masih kecil (termasuk di dalamnya, bisa ganti popok), dekat dengan ayahnya seperti teman dan protektif terhadap ibunya. Itu baru urusan keluarga. Dalam urusan pacaran, Jase perhatian sama Sam, protektif, pengertian dan ga pernah nyakitin Sam. Sama sekali. Dari awal sampe akhir cerita.

Setelah semua sifat Jase didaftarin, sepertinya sekarang adalah saat yang tepat untuk reality check. Tokoh Jase ini sempurna. Terlalu sempurna untuk jadi kenyataan, sehingga terkesan fictional banget. Tapi apa gw peduli? Sepertinya gw terlalu sibuk terkagum-kagum sama Jase untuk peduli. In my defense, tokoh Jase terasa nyata karena… well, dia gampang ditemuin secara dia tinggal di sebelah rumah! Okay, lame excuse. Alasan lain, karena Jase itu low profile dan ga ngerasa kalo dia sempurna (kebalikan dari tokoh fiksi bernama mirip dengan quote-nya yang terkenal: “I think I'm better than anyone else. An opinion that has been backed up with ample evidence”) Does anyone know where I can find me a Jase Garrett, pretty please?

Selanjutnya, kita punya Samantha Reeds. The Sailor Supergirl! A cool, calm and collected girl. Jago berenang, mengisi liburan musim panasnya menjadi lifeguard, tau banyak tentang astronomi dari hasil belajar sendiri dan dengan cepat menyesuaikan diri dengan adik-adik Jase yang masih kecil, bahkan membantu adiknya yang masih remaja saat bersiap-siap kencan pertama. Gemana Jase gak naksir?

Pasangkan Jase dan Sam yang sama-sama dewasa untuk ukuran umur mereka dan, voilĂ , jadilah kisah romantis musim panas yang manis, menyenangkan dan bebas drama. Hubungan mereka terasa beda karena ga banyak konflik, ga pake tarik ulur atau pun berantem-beranteman. Masalah yang terjadi pun bukan antara Jase dengan Sam. Tapi antara mereka dengan orang di luar hubungan mereka. They made relationship looks so easy. I’m jealous! Kencan mereka di pantai, di mercusuar, di tepi sungai dan di atas atap rumah bikin suasana musim panas dalam buku ini berasa banget.

Awal-awal cerita lebih banyak bercerita tentang perkenalan Jase dan Sam dan awal hubungan mereka. Bukan cuma fokus dengan hubungan Sam dan Jase aja, tapi untuk lebih kenal dengan background karakter mereka, kita pun kenalan dengan keluaga Reeds dan Garrett dan masalahnya masing-masing. Saat hubungan Jase dan Sam udah settle, dan masih banyak halaman tersisa, gw mikir, walopun gw suka sama Sam dan Jase tapi kalo ceritanya gini-gini aja sampe akhir, ya bakalan bosen juga. Seakan bisa membaca pikiran gw, Fitzpatrick menambahkan konflik antara Jase, Sam dan keluarga mereka. Disini keliatan gemana Sam dan Jase sama-sama menghadapi masalah. Cerita pun kembali seru sampai ke halaman terakhir!

Dengan banyaknya tokoh dalam buku ini, sayangnya ada beberapa tokoh yang ga bisa banyak disorot. Mungkin karena mau memfokuskan konflik hanya antara Jase, Sam dan ibunya, terpaksa Tracy ‘diusir’ dari cerita. Padahal menurut gw insight-nya Tracy, yang adalah pemberontak dalam keluarga Reeds, bisa jadi menarik. Begitu juga Joel, kakak Jase yang paling tua, hanya muncul di saat-saat ga terlalu penting dan terlupakan begitu saja. Sebenernya ga penting juga ngebahas Joel lebih banyak. Tapi dengan absennya Joel dari cerita, jadi terkesan Jase-lah yang jadi anak pertama di keluarga Garrett dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, apalagi dengan pembawaan Jase yang dewasa.

Selain itu ada beberapa konflik yang terlewat untuk diselesaikan. Misalnya konflik antara Sam dan sahabatnya, Nan. Rencana masa depan Jase. Kelanjutan cerita Mr. Garrett. Gw bahkan berharap ada cerita tentang pasangan yang sepertinya tidak pernah dengar tentang program KB ini. Sayangnya, itu semua terlewat. Sejujurnya sih, call this another lame excuse, tapi gw segitu fokusnya sama cerita Jase dan Sam, gw ga nyadar ada konflik-konflik yang ga terselesaikan sampai gw menutup halaman terakhir.

Pada akhirnya, buku ini masuk dalam daftar favorit gw, berjejer manis bersama Anna and the French Kiss. Gw suka mood yang dihasilkan saat membaca buku ini. I can easily point out the book's flaws but I can just write those off as minors and doesn't change the fact that I like this book very much. Kalo suka genre YA contemporary romance, I think My Life Next Door deserves a spot in your bookshelf!