Monday, December 31, 2012

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Best Book Covers

Tema kedua dalam Book Kaleidoscope adalah Best Book Cover. Secara jaman sekarang istilah don't judge a book by its cover udah ga berlaku lagi. Sebenernya gw bukan tipe yang terlalu memusingkan gambar sampul, selama ga mengganggu kenyamanan gw membaca di tempat umum (makanya kalo baca buku romance yang covernya pasangan yang terlalu hot gitu mending gw baca di iPod atau sampulnya, entah gemana caranya, ditutup-tutupin), tapi seneng juga liat gambar sampul buku sekarang yang makin kreatif dan menarik.  

So, here's my version of top five book covers. In no particular order.
 
Bunheads ini bener-bener kasus 'judge a book by its cover' Biasanya gw ribet cari-cari review dulu di Goodreads sebelum memutuskan untuk beli buku. Tapi gambar Corps de ballet (yang kalo diperhatiin dari dekat ternyata copy paste) dengan tutu putih langsung menarik perhatian gw.

Unearthly (Cynthia Hand)
Secara gw belum selesai baca bukunya, tebakan gw gadis yang ada di sampul buku ini adalah Clara, tokoh utama Unearthly. Gw ga tau sih Clara lagi ngapain pake gaun panjang di tengah hutan. Tapi gaunnya, gradasi warna ungu dan font yang digunakan bikin sampul buku ini terlihat anggun.

Sebenernya konsep sampulnya The Infernal Devices sama semua. Bangunan khas London sebagai latar (untuk Clockwork Prince ini gw ga tau bangunan apa yang jadi latar. Pastinya sih jembatan), stamp gambar transparan yang jadi terkesan seperti kabut, dan tokoh utamanya (Will di Clockwork Angel, Jem di Clockwork Prince dan Tessa di Clockwork Princess). Sebenernya gw pengen masukin Clockwork Princess di list ini, tapi bukunya baru terbit tahun depan. 

Gw suka Clockwork Prince karena stamp gambar mesin jam tidak terlalu mendominasi, sehingga latar belakangnya masih kelihatan. Dan wajah Jem yang keliatan jelas. Overall, gw suka kesan misterius pada gambar sampul ini. Imajinasi gw langsung terbang ke dunia para Shadowhunter di London pada Victorian era.


Walaupun super kecewa sama ceritanya dan Patch bisa diikutsertakan dalam nominasi Top-Five-Guys-Girls-Should-Never-Date, tapi gw mengakui kalau cover Hush, Hush ini cantik banget. Latar belakang awan abu-abu yang simpel kontras dengan sang Fallen Angels dan sayap-sayap hitamnya. Pilihan warnanya pun pas untuk menggambarkan tokoh Patch yang misterius.

Seperti yang udah gw mention di review bukunya, The Night Circus ini buku tercantik yang gw punya. Sampul depannya aja udah cantik. Bayangin kertanya glossy dan lengkung-lengkung di sekitar judulnya itu hologram. Tidak hanya sampai di situ, halaman-halaman di dalamnya pun dilengkapi garis-garis hitam putih dan taburan bintang. Cantik!

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Book Boyfriends


Jadi ceritanya postingan ini ditulis sebagai postingan pertama dari tiga postingan dalam rangka ikutan Book Kaleidoscope 2012 blog klasikfanda. Sebagai pembaca yang ngakunya gampang banget jatuh cinta sama tokoh dalam buku, event ini seru banget. Dan pastinya gw langsung tertarik pengen ikutan. Sayangnya gw baca postingan mbak Fanda udah telat, jadi postingan ini pun munculnya telat. But better late than never, they say.

Selama tahun 2012 ini sepertinya ga terlalu banyak buku yang gw baca. Secara gw baru kembali mulai maraton baca novel setelah dunia koas gw mendekati akhir dan gw punya lebih banyak waktu untuk fangirling baca novel. Tapi tetep aja, pilih Top Five Book Boyfriends ga mudah juga.

Untuk menghindari review gw yang udah panjang jadi semakin panjang, biasanya gw jarang membahas mendalam tentang tokoh-tokoh dalam buku. Kecuali tokohnya beneran stand out. Dan ternyata lima tokoh yang gw pilih di list ini udah gw bahas di review bukunya. So in this post I won't have to explain and convinced you as to why these guys are on this list.  Tadinya list ini mau dibikin in no particular order. But where's the fun in that? So, with no further ado, ini dia pria-pria fiktif yang berhasil bikin gw jatuh cinta.

 What? Jace Wayland who? That's right. Jace and his I-was-born-amazing attitude could step aside and make room for the nerdy Simon Lewis.

Seperti yang gw bilang di review gw tentang City of Bones, instead of falling for Jace, gw malah lebih suka sama Simon yang nerdy dan agak clumsy. He's loyal. Dia jatuh cinta sama Clary selama sepuluh tahun, bahkan setelah Clary cuekin dia dan swoon over Jace, Simon tetep ada buat Clary. Hastajim. Selama baca City of Bones, gw sibuk mengirimkan toyoran-toyoran mental buat Clary yang ga nyadar ada cowok sebaik Simon di deketnya, dan dicuekin gitu aja.

Yang ngikutin fandom The Mortal Instruments pasti udah denger kalau film City of Bones akan ditayaningin Agustus 2013. Waktu gw liat Robert Sheehan didandanin pake kacamata dan rambut ikal.... Argh! Gemes banget liatnya. Serasa Simon Lewis di buku lompat ke layar! GREAT CAST! Even more reason to love Simon!

4.  Augustus Waters (The Fault In Our Stars)
Think about rollercoaster; unlit cigarette; 17-year old guys with one leg. Did those words remind you of a specific guy?

Sepertinya Gus disebut-sebut di hampir semua postingan Top 5 Book Boyfriends. Rasanya ga mungkin bikin list ini tanpa Augustus yang berhasil membuat gw menghabiskan persediaan tissue di rumah setelah dua kali baca The Fault In Our Stars. Optimisme, selera humor bahkan gombalannya jadi daya tarik Augustus. Hell, I'm terrified of roller coaster but if Augustus is on the roller coaster that only goes up then count me in!

3. √Čtienne St Clair (Anna and the French Kiss)
Kalau Anna mendeskripsikan √Čtienne sebagai 'English French American Boy Masterpiece' terus gemana gw ga head over heels gitu? √Čtienne ini tipe-tipe boyfriend/bestfriend gitu. Despite his issue with his family, his height and his acrophobia, he's kind of cocky. But he's really fun to be with. He has a great sense of humor and he made me Anna laugh.

2. Jase Garret (My Life Next Door)
Ini dia pacar paling sempurna edisi 2012. Serba bisa, dewasa, pinter ngurusin anak kecil dan super baik hati. Samantha Reed beruntung banget punya pacar macam Jase. Sekarang tinggal nyari kopiannya Jase di dunia nyata. Cari dimana ya?

1. Will Herondale (The Infernal Devices)
Sebenernya, dari awal gw udah tau siapa yang jadi pemegang urutan pertama dalam list ini. Tinggal ngisi urutan dua sampai lima aja. Ini dia satu-satunya tokoh fiksi yang khusus gw buatin postingan sendiri di bawah label 'Character Crush' jadi gw ga perlu panjang lebar njelasin kenapa Will ada di urutan pertama.

Selain itu, gw punya alasan personal. Will Herondale (dan The Infernal Devices) menemani gw saat melewati masa-masa putus pacar yang ribet dan bikin jengkel. In a way,  gw bersimpati sama Will Herondale yang patah hati karena cintanya pada Tessa terpaksa mentok.

Buku ketiga The Infernal Devices, Clockwork Princess, bakal terbit Maret 2013 dan gw ga sabar baca Will versi bebas-kutukan-tapi-tetep-makan-hati-karena-Tessa-udah-tunangan-sama-Jem. Kira-kira seperti apa ya dia? Masih sinis dan sarkastik kah? Apa jadi perhatian sama penghuni lain di Institut? Apa dia udah bisa ketawa? Ah, penasaran!

Sunday, December 16, 2012

The Night Circus

The circus arrives without warning. No announcements precede it. It is simply there, when yesterday it was not.

Memasuki The Circus of Dreams, seperti namanya, seperti memasuki dunia mimpi penuh keajaiban. Di balik setiap tenda bergaris hitam putih menanti berbagai wahana unik yang tidak terlupakan. Tidak heran pengunjungnya selalu menanti-nantikan The Circus of Dreams yang kedatangannya tidak diduga-duga dan hanya buka setelah matahari terbenam. Namun tidak banyak yang tahu tentang kompetisi antara dua illusionis di balik The Circus of Dreams.

Sejak kecil, tanpa mengenal satu sama lain, Marco dan Celia dilatih untuk menjadi illusionis hebat dan terikat dalam kompetisi aneh yang mereka sendiri tidak tahu peraturannya. Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya Celia mengetahui bahwa Marco adalah kompetitornya. Masalah menjadi pelik saat Celia dan Marco saling jatuh cinta dan ingin melepaskan diri dari kompetisi yang mengikat mereka. Tapi satu-satunya cara mengakhiri kompetisi berarti mengakhiri kelangsungan The Circus of Dreams.

Walaupun gw jarang membahas bentuk fisik dari buku yang gw review, tapi khusus untuk buku The Night Circus ini, perlu banget dibuat pengecualian. Without a doubt, The Night Circus hardcover US edition adalah buku paling cantik yang pernah gw punyai. Bukan hanya sekedar menampilkan gambar tenda sirkus  di sampulnya, buku ini juga dihiasi dengan warna yang menjadi tema The Circus of Dreams yaitu hitam putih/perak, lengkap dengan hologram dan taburan bintang. Cetakan UK edition pun tidak kalah cantik dengan gambar siluet Marco dan Celia pada sampulnya. Tepian kertasnya yang berwarna hitam bikin gw naksir berat! Bukunya sungguh berhasil menampilkan keajaiban dari The Circus of Dreams.

Onto the content, honestly, I was in a love/hate relationship with this book. Dari awal, buku The Night Circus sudah terasa sarat dengan deskripsi dan minim dialog. Lebih dari sekedar minim dialog, dalam beberapa bagian, saat tokohnya berdialog pun ditulis dalam kalimat pasif. Erin Morgenstern sangat mencurahkan perhatian terhadap detail, sampai yang terkecil sekalipun, seperti warna tenda, wahana dalam sirkus, warna api dalam belanga di tengah-tengah sirkus, tempat para pemain akrobat berdiri. Bahkan ada satu bab sendiri khusus untuk menceritakan proses pembuatan dan detail jam yang dipajang di gerbang sirkus! Dari awal, love/hate relationship antara gw dengan buku ini sudah dimulai. Saat membaca, gw merasa bosan dengan deskripsi panjang lebar yang terlalu mendetail dalam buku ini. Tapi saat berhenti membaca, gw kembali terbayang-bayang keajaiban The Circus of Dreams dan kepingin lanjut baca. Begitu terus, macem lingkaran setan.

Terlepas dari penulisan sarat deskripsi yang super panjang, harus diakui kalau pengarangnya punya imajinasi yang luar biasa indahnya. Dan dengan suksesnya menginterpretasikan imajinasinya kepada para pembacanya. Di awal setiap bagian pun diselipkan kisah pendek yang ditulis dengan sudut pandang orang kedua, dimana kita, pembacanya, dilibatkan sebagai pengunjung sirkus. Yang membuat gw semakin takjub, setelah membaca sekian halaman, gw menyadari bahwa kosakata yang digunakan cukup sederhana. Setidaknya gw ga bolak-balik buka kamus waktu membaca buku ini. Ga nyangka pilihan kata yang begitu sederhana bisa menerjemahkan imajinasi pengarangnya dengan begitu rinci dan nyata.

Para penulis memang punya cara sendiri untuk menyihir pembacanya. Dalam buku ini, Erin Morgestern menggunakan sirkusnya untuk menyita perhatian gw. Setelah dibuat terpesona dengan proses awal pembuatan sirkus, dari konsepnya, proses mengumpulkan para pemainnya hingga berbagai atraksi di dalam lingkungan sirkus seperti labirin awan, taman es, pohon permohonan dan pembaca tarot, setengah buku sudah gw lalui saat gw nyadar... Kok cerita tentang Marco dan Celia serta kompetisi mereka ga maju-maju ya?!

Ringkasan cerita di sampul belakang buku ini yang menggunakan kata-kata yang cukup provokatif macam  'fierce competition' dan 'duel' sebaiknya tidak usah terlalu diambil hati. Tidak ada duel saling mengacungkan tongkat a la Harry dan Draco disini. Kata 'fierce' mungkin lebih mengacu pada kemampuan Marco dan Celia. Tetep aja, ga bisa disalahin juga sih kalau banyak yang protes gara-gara ringkasan bukunya.

However, selama baca buku ini, sejujurnya gw ga terlalu menikmati jalan ceritanya yang maha lambat. Kompetisi yang sepertinya jadi inti cerita terus jadi tanda tanya sampai hampir mendekati akhir buku. Bahkan sampai sejarah dari kompetisi aneh ini dibahas, tidak banyak yang diceritakan. Latar belakang kedua pelatih yang menciptakan kompetisi ini pun tidak diceritakan. Yang gw tangkap hanya: Ya pokoknya ada kompetisi dari jaman dulu kala, titik. Hubungan antara Marco dan Celia pun tidak kalah lambatnya. Buku ini diceritakan dengan alur bolak-balik dengan setting waktu dan tempat yang berpindah-pindah, ditandai oleh tanggal yang dicantumkan di setiap awal bab. Lambatnya plot antara Marco dan Celia bukan hanya terasa lambat karena sedikitnya interaksi mereka tapi memang lambat, dilihat dari tahun-tahun yang mereka lalui.
Prague, 1894. 
Marco: "I would very much like to speak with you, if you care to join me for a drink."
Celia: "Of course you would. Perhaps another time."

London, 1896.
Marco: "I was hoping I could trouble you for that drink we did not have in Prague"

London, 1899.
But before she can vocalize her surprise, his lip close over hers and she is lost in wordless bliss. Marco kisses her as though they are the only two people in the world.

Apa yang terjadi antara Marco dan Celia di antara tahun-tahun di atas? Jawabannya: tidak dibahas. Dengan plot yang begitu lambat di dua pertiga awal buku, seakan-akan mau mengejar ketertinggalan, plot baru dikejar habis-habisan di sepertiga akhir buku. Saat menuju akhir cerita, baru lah buku ini dipenuhi dengan dialog dan interaksi antar para tokohnya.

Pada akhirnya, sepertinya terlalu berlebihan kalau gw mengategorikan buku ini sebagai 'jelek'. Toh ada saat-saat dimana gw menikmati membaca buku ini dan terbawa dalam keajaiban The Circus of Dreams. Kontras dengan setting tempat yang begitu kuat, plot dan penokohan di buku ini sangat lemah. Gw tau banyak juga pembaca yang menikmati The Night Circus. Mungkin pada akhirnya, bagus atau tidaknya buku ini lebih ditentukan oleh selera pribadi. Sedangkan pendapat gw, sepertinya buku ini bukan buat gw.

Friday, December 14, 2012

Daughter of Smoke and Bone


Seumur hidupnya Karou, gadis berambut biru yang adalah mahasiswa seni di Praha, hanya mengenal mahluk-mahluk setengah manusia setengah hewan -chimaera- sebagai keluarganya, tanpa tahu asal-usul mereka. Karou bahkan tidak tahu asal-usul dirinya sendiri. Yang dia tahu, Brimstone, dengan dibantu para asistennya, Issa, Twiga, Yasri dan Kishmish, tinggal dalam sebuah toko dimana Brimstone dapat mengabulkan keinginan para pelanggannya dengan gigi sebagai bayarannya. Toko Brimstone memiliki dua pintu. Satu pintu yang menghubungkannya ke dunia, tempat Karou keluar masuk. Dan satu pintu misterius yang tidak pernah dibuka di hadapan Karou. Brimstone hanya memberitahunya bahwa pintu itu menuju ke Elsewhere.

Hingga suatu saat tanda berbentuk tangan berwarna hitam bermunculan di berbagai pintu, termasuk pada pintu menuju toko Brimstone. Dan umat manusia di penujuru dunia dikagetkan dengan kemunculan serafim yang meninggalkan tanda di pintu-pintu. Saat itu lah Karou bertemu dengan Akiva, serafim yang punya jawaban atas semua misteri dalam hidup Karou. Siapa Brimstone. Apa yang Brimstone lakukan dengan gigi yang diterima dari para pelanggannya. Apa yang ada di balik pintu misterius di toko Brimstone. Akiva bahkan punya jawaban atas misteri terbesar dalam hidup Karou, yaitu masa lalunya.

Daughter of Smoke and Bone adalah buku pertama dari trilogi berjudul sama karangan Laini Taylor. Sebenernya udah lama denger buku ini dipuji-puji oleh para penggemar fantasi. Tapi idenya yang mengangkat angel dan devil kok terdengar ga menarik buat gw. Secara, yang langsung kebayang di kepala adalah dua mahluk, yang satunya pake jubah putih dan halo di atas kepala, sementara mahluk satunya berwarna merah, bertanduk, bertaring, serta bawa trisula. Deskripsi umum ala kartun. Hehe. Seperti biasa, setelah kalah oleh rasa penasaran, apalagi dengan banyaknya review menjanjikan tentang buku ini, gw memutuskan untuk berkenalan dengan dunia Karou dan Akiva. Hanya dalam dua bab, Laini Taylor berhasil meyakinkan gw bahwa bukunya sangat worth to read!

Satu hal yang tidak mungkin terlewat untuk disinggung saat membicarakan tulisan Laini Taylor adalah bagaimana pengarangnya memilih diksi dan merangkainya menjadi barisan-barisan kalimat yang indah dari awal sampai akhir cerita. Pernah ga sih baca buku yang penulisannya kasual banget tapi ada satu dua kata asing yang diselipkan sehingga rangkaian kalimatnya terkesan agak dipaksakan, macam satu kata asing itu diolah di thesaurus dulu? (Yes, Richelle Mead and Huntley Fitzpatrick, I was talking about you!) Laini Taylor memang banyak menggunakan kosakata yang terdengar asing, setidaknya buat gw yang memang kosakata bahasa Inggrisnya terbatas, tapi gw sama sekali ga keberatan bolak-balik buka kamus karena pilihan kosakata Laini Taylor terasa pas dengan mood dan gaya penulisannya. Kalau sudah biasa baca buku bahasa Inggris atau, seperti gw, ga keberatan bolak-balik kamus saat baca buku, gw saranin baca buku ini dalam bahasa aslinya deh. Gaya penulisan Laini Taylor sayang banget untuk dilewatkan.

Bukan cuma gaya penulisannya yang membuat gw kagum, tapi juga dunia fantasi a la Laini Taylor pun memberi efek yang sama buat gw. Bukan hanya berhasil menggambarkan Praha dan Marrakesh, yang jadi setting buku ini. Tapi juga Eretz, dunia tempat tinggal para chimaera dan serafim. Gw paling suka kalau pengarang genre fantasi bener-bener niat menciptakan dunia khayalan sampai gw segitu terhanyutnya. Dan Laini Taylor dengan suksesnya bikin gw lupa sama dunia nyata. Selain Karou dan Akiva, tokoh-tokoh lain dalam buku ini pun lovable dan memorable. Baik tokoh protagonis maupun antagonis. Dan mood penulisan Laini Taylor disesuaikan dengan karakter para tokoh-tokohnya. Lebih santai dan penuh humor saat bercerita tentang Karou dan Zuzana, sahabatnya. Agak serius dan sedikit puitis saat menceritakan tentang Akiva. Dari segi ceritanya sendiri, seperti hal-nya buku pertama, lebih banyak perkenalan. Baik memperkenalkan tokoh-tokohnya, dunia yang jadi setting cerita, juga konflik-konfliknya. Tapi bisa dibilang buku ini lebih cenderung ke arah cerita romantis sih. Pas buat gw yang memang penggemar genre fantasi dan romantis, secara buku ini menawarkan keduanya.

Dengan komposisi yang pas antara jalan ceritanya yang bikin penasaran, karakter tokoh-tokohnya yang kuat dan setting yang magical, gw sangat menikmati membaca Daughter of Smoke and Bone. Highly recommended.