Saturday, April 27, 2013

Negeri Para Bedebah


 
Suatu malam, Thomas, seorang penasehat keuangan profesional, mendapat panggilan dari Om Liem, adik papanya yang dimusuhinya selama bertahun-tahun, untuk meminta bantuannya karena bank milik Om Liem, Bank Semesta, terancam ditutup.  

Thomas membuat keputusan untuk membantu pamannya. Dan untuk menyelamatkan Bank Semesta, dia hanya punya waktu dua hari. Dalam perjalanannya, Thomas mengumpulkan potongan teka-teki dan menyadari bahwa kasus yang dihadapinya bukan sekedar masalah bisnis. Tapi personal. Dan Thomas bertekad menyelesaikan masalah ini demi membalaskan dendam masa lalunya.
Negeri Para Bedebah adalah pengalaman pertama gw dengan Tere Liye. Sekilas browsing buku-bukunya di toko buku, sepertinya kebanyakan bertema cinta, baik pada keluarga maupun pasangan. Tapi, berdasarkan review di linimasa Goodreads maupun Twitter, sepertinya Negeri Para Bedebah mengusung tema yang berbeda. 

Dari gambar sampulnya, tema dari Negeri Para Bedebah sudah bisa dikira-kira. Pria berpakaian rapih lengkap dengan jas dan dasi, menggunakan topeng. Topengnya berhidung panjang pula. Mengingatkan kita pada Pinokio yang hidungnya bertambah panjang setiap mengucapkan kebohongan. Untuk memperkuat pesan yang disampaikan, ditambahkan gambar musang berbulu domba. Hmm.. Sepertinya menarik.

Pada beberapa bab pertama novel ini, gw sempat dibuang pusing dengan segala istilah-istilah ekonomi dan perbankan. Mohon maaf, gw tidak tertarik di bidang itu. Walaupun penjelasan itu diselipkan dalam percakapan, tetap saja rasanya seperti baca textbook. Tapi gw ngerti kenapa penjelasan-penjelasan itu harus disertakan dalam cerita. Gw sih hajar bleh aja, tetep berusaha ngerti walaupun nyantolnya sedikit. Tapi setelah berhasil melewati bab-bab awal, jalan cerita mulai terbentuk.

Negeri Para Bedebah mengusung tema suspense, mystery dengan bumbu action. Sayangnya, menurut selera gw, bumbunya lebih banyak mengambil porsi. Gw adalah penggemar cerita misteri, pengkhianatan, yang jalan ceritanya ga bisa ditebak dan tokoh-tokoh yang muncul ternyata tidak seperti dugaan kita. There's a reason why I love Dan Brown. Robert Langdon itu ga bisa berantem. Tapi dia bisa lepas dari musuh-musuhnya dan memecahkan misteri dengan akalnya (Just to be clear, gw adalah penggemar Dan Brown sebelum gw menyadari jalan cerita semua novelnya ternyata sama dan pada akhirnya gw berhenti baca novel-novelnya).

Thomas adalah tokoh utama yang menarik. Gw suka Thomas mostly karena dia smart. Semakin jauh membaca, cerita pun semakin menarik. Suspense mulai dibangun. Beberapa kali kita diajak mengintip masa lalu Thomas yang membentuk karakternya serta melatarbelakangi cerita tentang Bank Semesta. Dalam waktu dua hari berpetualang bersama Thomas, masalah yang awalnya hanya berlatarbelakang bisnis ternyata berkembang lebih jauh menjadi masalah yang lebih personal. Alangkah senangnya gw kalau cerita lebih banyak fokus ke misteri pengkhianatan di balik kasus Bank Semesta dan akal-akal Thomas dalam mengendalikan 'bidak-bidaknya' demi menyelamatkan Bank Semesta. 

Yang gw sayangkan:
  1.  Tidak banyak tokoh dari masa lalu Thomas dan keluarganya yang bisa dijadikan tersangka dalam kasus Bank Semesta. Jadi yah, tebak-tebakannya kurang seru dan dari awal sudah bisa dikira-kiralah siapa otak di belakang cerita.
  2. Kisah misterinya kalah porsi sama actionnya. Yang mana, menurut gw, actionnya kurang menarik pula. Terlalu banyak adegan dimana Thomas dikepung polisi dan sukses melepaskan diri dalam waktu singkat. Setiap mau melangkah, pasti adegannya terulang. Terlalu banyak tokoh yang 'kebetulan' terlibat dan bisa membantu Thomas kabur. Sampai-sampai gregetnya jadi berkurang dan pada akhirnya gw cuma berpikir, "Ah, palingan di akhir bab dia udah bebas lagi." Oh well..

Denger-denger novel ini diangkat dari kasus Bank bernama mirip yang terjadi entah tahun berapa itu. Sebagai orang yang tidak hobi mengikuti berita, ga heran lah kalau gw ga tahu menahu tentang kasus yang nyata terjadi itu. Gw menikmati Negeri Para Bedebah murni sebagai kisah fiksi. Walaupun dalam beberapa hal gw kurang puas, secara keseluruhan Negeri Para Bedebah cukup menarik untuk diikuti. Ga terlalu pas dengan selera gw, tapi jelas well-written dan sukses mengangkat topik yang jarang diangkat oleh penulis Indonesia lainnya. I can totally understand the hype.

Tuesday, March 19, 2013

Warm Bodies


Should I mention, yet again, that I am not a fan of dystopian? But here's another dystopian reading and I found myself liking it, yet again.
Warm Bodies sets in a time where a mysterious plague has invaded the world and divided humanity into two categories. The Dead and the Living. This is a dead end world where the Deads eat the Living and the Living live their life constantly training on how to keep themselves save from the Dead Not exactly an ideal life.

R is one of the Deads, also known as Zombie. On his way hunting the Living, he met Julie. While the Deads feed on the Living, instead, R decided to take Julie home. Once they got to know each other, R and Julie decided they want to make a change together. For a better world.

I read this book in order to join my very first book discussion ever. The event is held by @BookClubID and the participants are going to discuss the book together, via twitter, on April. Honestly, I was kind of disappointed when Nic, the admin, picked dystopian for our first genre. Not only I am not a fan of dystopian, I also have an aversion to stories about zombie. It always feel too scifi-ish and too future-ish. I almost decided to skip on the first book discussion. Thank goodness I didn't go with my instinct.

The first thing couldn't escape my attention was the writing. OH MY GOD! Found another author who made it to the list of authors-I-love-for-their-writing, together with Melina Marchetta and Laini Taylor. So very beautiful. I finished the book with so many highlighted passages. To think that I found these beautiful quotes in a story about an ugly world infected by a deadly plague is just overwhelming.

While, in my opinion, Julie's character doesn't really stand out, when I started this book I didn't anticipate that I will have my fangirl-mode turned on during reading. It sounds really absurd to say that I love R, -because he's, you know, a zombie- but I do. Since the story is told from R's point of view, it's expected that R stands out so much. I love that he is a very eloquent narrator, yet with his limited capability to talk, he managed to deliver what he had in mind in just a few syllables. This cheeseball zombie got me all teary a few times.

When together with R, I love Julie. I love that she stands up for herself and not one of those damsels in distress. Because, honestly, I've had enough with those kind of heroines every authors came up with lately. I love how R and Julie struggle together to start a better world. Ah.. This is so The Beatles. (The band is Julie's favorite, by the way)

I'm not one who look for 'messages' in a book, because to me book is there to tell story. But the 'message' in this story is very clear. That we usually fear things we don't understand and mark it as a threat. But if we try to understand, it might not be as bad as we thought. It might even surprise us. Beautiful, isn't it?

If there's one thing I don't really enjoy about this book, it's the setting. No matter how much I enjoy the story and all, I am just not a fan of post-apocalyptic world. The world where R and Julie live that I imagined in my head is really dull. And I hate that.

If you think this story feels familiar, well, that's not surprising. Warm Bodies is a spin-off of Shakespeare's Romeo and Juliet. Even by now I'm sure the main character's names, R and Julie, ring a bell, huh?

All in all, I love that I gave this book a try. I love the diction, I love the story, I love the characters. I did enjoy reading this book. I believe this book might appeal even to those who don't usually read dystopian. And imagining Nicholas Hoult as R sure make reading the book even more enjoyable!

Friday, March 1, 2013

The Coincidence of Callie and Kayden

Callie and Kayden grew up in the same neighborhood with him didn't acknowledge her at all. He was the quarterback and she was a loner. Until one night, Callie saved Kayden from his abusive father.

Months after the incident, they met in college. They got close with each other and the attraction between then was undeniable. However, there's something happened in Callie's past that kept her from trusting people, let alone being in a relationship. While Kayden had secret that made him think that Callie deserved better.

I’ve been reading too many romance novels lately, I wonder if it kinda deadens my excitement towards this particular genre that happens to be my favorite. After a few of unimpressive readings, I had high hopes when I started The Coincidence of Callie and Kayden. But this disappointed me even more.

There is already a long line of books about two people with dark secrets, meet each other, understand each other and fall in love. In order to stand out, please make it interesting?

In the beginning of the story, the author, I think, try to taunt the readers with bits and pieces of Callie and Kayden's dark secrets. I was fine with that. Where's the fun if everything was revealed since the very beginning? However, the story goes on and on, developing the chemistry between Callie and Kayden, focusing too much on their daily interactions and how they were weighing whether or not the relationship is worth it, keeping aside the development of the thing that kept them from being together in the first place. Their "dark secrets".

Callie's secret is obvious, even from the beginning. There's no taunting necessary. The culprit wasn't revealed until near the end of the book when really it was already obvious since the very beginning. In contrast, throughout the book, Kayden is all 'I have a secret I have to tell you but now is not the time' but apparently 'the time' is not until the very end of the book. So yeah, the taunting. It's boring.

Also, some minors. I know Seth and Luke are just sidekicks but I wish there were more about them. Like, what’s the deal with Braiden and Amy? Why mentioned it if there were nothing more to it? Is it just to make it appears as if everyone’s life in this book is a mess? Seth is supposed to play an important role. He’s the first guy Callie shared her secrets with. He keeps mentioning about how much he cares about Callie. But what is it that Seth did that earned Callie’s trust? But there wasn’t even a story about that. He's even kinda forgotten once Kayden got into the picture.

I was kinda bored when reading this; I even think the cliffhanger is where things finally got a little bit exciting. It’s unnecessary, though. Just a way to expand the already dragging story. Had the secrets developed earlier, the story could end in just one book.

Sunday, January 13, 2013

Virtuosity

Carmen Bianchi adalah pemain biola berbakat dengan penghargaan Grammy yang berhasil diraihnya pada usia enam belas tahun. Di usianya yang ke tujuh belas Carmen harus memfokuskan diri untuk mengikuti kompetisi bergengsi, Guarneri. Dalam perjalanannya menuju kompetisi, Carmen berkenalan dengan Jeremy King, saingan terberatnya. Walaupun sempat kesal dengan pembawaan Jeremy yang menurutnya arogan, seiring berjalannya waktu dan mereka semakin dekat, Carmen menyadari sebagai sesama musisi, Jeremy justru bisa mengerti kehidupan Carmen. Tapi posisi Jeremy sebagai pesaing terberatnya justru membuat hubungan mereka menjadi ruwet. Belum lagi ibu Carmen yang berulang kali mengingatkan Carmen bahwa Jeremy hanya akan memanfaatkannya demi memenangkan kompetisi Guarneri.
Waktu gw memutuskan untuk beli buku ini, sebenernya gw ga punya ekspektasi apa-apa. Bahkan gambar sampul a la iklan sampo sempat bikin buku ini terlantar di rak buku gw untuk waktu yang lumayan lama. Hampir seperti Bunheads, dimana pengarang dan tokoh utama ceritanya berprofesi sama, Jessica Martinez juga pemain biola solo. Gw ga tau sejauh mana buku ini mendekati kenyataan yang terjadi dalam dunia musik klasik, tapi gw suka membaca buku yang membawa gw mengintip lebih jauh tentang dunia yang ga bakal gw tau. Dan dari selera pribadi, walopun bukan pendengar musik klasik, somehow musik klasik selalu terdengar indah dan anggun kalo dideskripsiin, makanya gw suka buku dan film seputar itu (Hello, August Rush!)

Mengawali baca Virtuosity, ceritanya banyak membahas tentang kehidupan Carmen sebagai violinist dan statusnya sebagai 'Child Prodigy' serta dunia musik. Mungkin sekilas Carmen terlihat sebagai tokoh yang spineless dan ga bisa membela dirinya sendiri. Tapi dengan cara bercerita Martinez, gw bisa melihat bahwa seorang performer berskala internasional harus bekerja dengan tim dan semua keputusannya harus dibicarakan bersama-sama. Belum lagi latar belakang ibunya yang adalah penyanyi opera yang harus kehilangan karirnya karena penyakitnya.

Cerita Carmen sendiri sudah cukup complicated. Cerita jadi tambah seru saat pembaca diperkenalkan dengan Jeremy King. Gw kira buku ini bakalan lebih banyak membahas tentang Carmen. Tapi ternyata ceritanya juga banyak unsur romance. Hubungan antara Carmen dan Jeremy yang adalah saingan berat bikin gw penasaran. Gw suka saat mereka saling bercanda dan kadang-kadang sisi kompetitif mereka keluar. Dan gw berkali-kali menebak-nebak apa Jeremy punya motif lain saat mendekati Carmen, serta apa yang bakal terjadi sama hubungan mereka di akhir buku? Semua masalah antara Carmen dan ibunya, kompetisi Guarneri serta hubungan Carmen dengan Jeremy diakhiri dengan klimaks yang seru sekaligus manis. Gw sampe setengah kecewa saat bukunya selesai karena gw masih pengen membaca tentang Carmen dan Jeremy.

Since Carmen was described as Italian, my mind automatically thought about Ariana Grande. And I like that she has that innocent look that really matches Carmen's personality.


By the by, Freddie Stroma is my Jeremy King. And he's British! Yum, eh?
 

Pada kesimpulannya, gw menikmati banget membaca Virtuosity. Lebih puas lagi, karena awalnya gw ga punya ekspektasi apa-apa terhadap buku ini. Setelah kurang puas dengan beberapa buku yang gw baca di awal tahun ini, Virtuosity justru jadi buku pertama yang paling gw nikmatin. Bahkan saat baca novel lain setelah ini, gw masih aja kebayang-bayang ceritanya Carmen dan Jeremy. Highly recommended.

Sunday, January 6, 2013

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Most Favorite Books of 2012


Dan akhirnya, ini dia 'gong' dari postingan Book Kaleidoscope. Jaraknya agak jauh dari postingan sebelumnya karena... Err.. Ternyata sulit memilih lima buku. However, dari seluruh bacaan gw selama tahun 2012, ini dia lima buku -dalam urutan acak- yang memorable buat gw. 

Top Five Most Favorite Books of 2012

Perahu Kertas - (Dewi Lestari)
 Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh - Luhde

Setelah berkali-kali kejebak dan kecewa baca novel Indonesia sejenis Metropop dan kawan-kawannya dalam genre romance, setidaknya Perahu Kertas berhasil merubah image. Penulisannya ngingetin gw sama gaya cerpen dan novel singkat jaman 90an. Ceritanya lucu sekaligus mengharukan.

 
I'm not Dauntless. I'm Divergent. I am whatever I choose to be - Tris

Divergent dan Insurgent berkesan buat gw karena dua buku berasal dari genre yang bukan favorit gw, dystopian. Tapi Veronica Roth berhasil menciptakan dunia masa depan dan membuat gw tertarik mengikuti ceritanya. Kedua bukunya bagus, tapi buat gw Insurgent jauh lebih keren. Sampai saat ini sih gw masih bukan penggemar dystopian. Tapi yang pasti gw ga sabar nunggu buku ketiga dari trilogi Divergent.

Life is only precious because it ends, kid. Take it from a god. You mortals don't know how lucky you are - Mars

List buku favorit gw belum lengkap kalau belum ada buku karangan Rick Riordan. Gw baca ulang The Son of Neptune dalam rangka menunggu The Mark of Athena terbit. Walaupun suka sama The Mark of Athena, sampai saat ini The Son of Neptune masih jadi buku favorit gw dari seri Heroes of Olympus.

You don't get to choose if you get hurt in this world, old man, but you do have some say in who hurts you. I like my choices. - Augustus

Walaupun ini adalah karya terbaru, The Fault in Our Stars adalah pengalaman pertama gw dengan John Green. Dalam review gw, gw mendeskripsikan buku ini sebagai 'heartwarming'. Kalau gw bilang ceritanya 'agak sedih' sepertinya understatement ya (temen gw sampe nolak baca buku ini waktu gw rekomendasiin, karena ga mau baca buku sedih *sigh*). Bahkan sekarang, sekedar baca sekilas bukunya atau quotes-nya masih bikin gw terharu. Setelah membaca beberapa karya John Green lainnya, The Fault in Our Stars masih menempati urutan pertama sebagai buku karangan John Green favorit gw.

Mercy breeds mercy as slaughter breeds slaughter. We can’t expect the world to be better than we make it. - Akiva

Tahun ini gw banyak berpetualang di dunia fantasi. Banyak yang berkesan jadi susah pilih satu. However, ini bacaan fantasi terakhir yang gw baca di 2012 dan gw bener-bener dibuat terpesona sama dunia karangan Laini Taylor. 


Favorite Author 2012
 One must always be careful of books, and what is inside them,
 for words have the power to change us - Tessa, Clockwork Angel

Karena genre YA Fantasy sudah diisi Days of Blood and Starlight, terpaksa buku-buku karya Cassandra Clare tersingkirkan dari daftar. Tapi sepertinya ga mungkin membuat postingan Book Kaleidoscope tanpa menyebut nama Cassandra Clare secara selama dua bulan gw marathon melahap tujuh buku dan berpetualang di dunia Shadowhunter. And loved every minute of it! The Mortal Instruments dan The Infernal Devices adalah dua seri yang menarik gw ke dalam dunia TMI fandom. Beneran, sebelum ini sama sekali ga pernah ikutan yang namanya fandom-fandoman apalagi fangirling malu sama umur!

Gw pernah nulis di twitter bahwa, "Gw bisa buka buku Cassie Clare yang mana aja, dan buka halaman mana aja secara acak, pasti ada aja quote yang bagus." Segitu sukanya dengan cerita dan tulisannya, gw sampai membuat satu akun twitter khusus untuk memposting kutipan-kutipan dari buku-buku Cassie Clare. 

Yang sesama penggemar buku-bukunya Cassie Clare, boleh lho follow @TMIwords, for your daily dose of Cassandra Clare's The Mortal Instruments and The Infernal Devices quotations. *uhuk*iya,promosi*uhuk*

*** 

And.. that's a wrap for Book Kaleidoscope 2012! Terima kasih mba Fanda dari klasikfanda yang udah ngadain event ini. I really had fun.

Walaupun telat, gw mo ngucapin Selamat Tahun Baru 2013 buat yang siapa aja yang membaca postingan ini. Selamat memulai petualangan baru lewat buku-bukunya. Kalau ada buku bagus, boleh ya diinfoin kesini :)

Bunheads

Hannah Ward adalah salah satu penari Corps de Ballet di Manhattan Ballet Academy, karir yang dimulainya sejak menginjak usia empat belas tahun. Lima tahun yang dilewatinya di MBA tidak lah mudah. Hari-harinya dilewati dengan jadwal latihan dan disiplin keras. Juga tekanan dari para pelatihnya untuk menjaga bentuk tubuhnya, karena dunia ballet punya standar sendiri. Semua itu ditambah dengan persaingan ketat di antara para penari untuk mendapat kesempatan dipromosikan menjadi soloist. Dunia yang Hannah kenal hanyalah dunia di dalam studio dan teater ballet.

Hingga suatu hari Hannah bertemu Jacob Cohen, seorang mahasiswa/musisi/guru les. Hal-hal sederhana seperti keinginan mencoba hal-hal lain di luar ballet, waktu untuk menyelesaikan membaca Frankenstein dan lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama Jacob membuat Hannah mempertanyakan kecintaannya pada dunia ballet.
Dari catatan pengarangnya: Bunheads is an insider ballet term for a dancer who's obsessed with ballet and who always has her hair pulled up in a bun.

Dari awal membaca sudah kerasa banget gemana Sophie Flack bisa membawa gw ke balik layar pertunjukan ballet. Dengan fasihnya pengarangnya menggambarkan kehebohan yang terjadi di balik layar sebelum pertunjukan. Tidak lupa istilah-istilah asing mengenai gerakan-gerakan ballet. Bahkan cara diet para penari. Waktu baca biografi singkat pengarangnya baru lah gw tau kalau ternyata Sophie Flack pun mantan penari ballet di New York City Ballet. Wow!

Secara keseluruhan, Bunheads adalah cerita tentang dunia ballet. Ada bumbu-bumbu romance, tapi mostly tentang perjuangan seorang anggota Corps de Ballet. Iya, bukan mau lebay tapi beneran 'perjuangan'. Di sini Hannah menceritakan bahwa di balik pertunjukan ballet yang luar biasa indahnya, di baliknya ada kerja keras yang menuntut fokus 100% dan jauh dari keindahan panggung ballet.

Tokoh Hannah mungkin sedikit terinspirasi dari penulisnya sendiri yang juga mantan penari ballet dan hobi menulis. Tapi hanya sejauh itu yang gw tau tentang pengarangnya. Overall, gw suka tokoh-tokoh yang diciptakan Sophie Flack dalam buku ini. Para penari dengan berbagai kepribadian. Yang terang-terangan berusaha mengintimidasi saingannya. Atau yang langsung stress-eating begitu ada sesama penari yang dipromosikan. Atau yang menjalani karirnya dengan pasrah aja dan ga mengharapkan lebih. Tokoh Jacob pun menarik dan lovable. Sayangnya, karena ceritanya lebih fokus ke ballet, Jacob tidak muncul sesering teman-teman Hannah. Tapi gw suka interaksi antara Hannah dan Jacob. Buat gw, Jacob mewakili apa yang Hannah liat di luar dunia ballet (mahasiswa yang bisa juggling tiga pekerjaan sekaligus) dan bagaimana orang luar melihat dunia ballet (Hannah yang hampir tidak mengenal New York sama sekali dan hampir tidak pernah punya waktu untuk berkencan)

Tentunya butuh lebih dari sekedar pengalaman di dunia ballet untuk menulis novel tentang ballet. Gw udah males aja kalo ceritanya bakalan full deskripsi dan ga kuat di plot. Ternyata Sophie Flack bukan cuma bisa menari tapi juga menulis. Cara berceritanya sederhana tapi jalan ceritanya menarik. Dan gw suka endingnya yang ga klise. Walaupun dibuat bingung dengan istilah-istilah gerakan ballet, gw menikmati baca Bunheads.

Saturday, January 5, 2013

Days of Blood & Starlight

Setelah kembali mendapatkan memori tentang masa lalunya, Karou memutuskan untuk kembali ke Loramendi dan menggantikan Brimstone menjadi resurrectionist, berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Berkali-kali Karou berusaha meyakinkan dirinya bahwa rasa cintanya pada Akiva di masa lalu hanyalah kebodohan semata. Sementara itu, para chimaera tidak begitu saja menerima kembalinya Karou di antara mereka, bahkan mengucilkannya. Satu-satunya yang mau menerima Karou hanya Thiago.

Akiva, tidak berhasil menemukan Karou di Loramendi, menyangka Karou sudah mati dan memutuskan kembali ke pasukannya dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, Hazael dan Liraz. Ingin meneruskan impian yang direncanakannya bersama Madrigal, Akiva pelan-pelan menyabotase gerakan pasukannya sendiri, melindungi penduduk chimaera sebanyak yang dia bisa.
Para penggemar Akiva dan Karou, silahkan kecewa kalau mengharapkan banyak adegan romantis di buku ini. Bukan hanya karena Karou yang berusaha keras membuat dirinya membenci Akiva. Tapi interaksi antara Karou dan Akiva di buku ini sedikit sekali. Keduanya lebih banyak berurusan dengan bangsanya masing-masing. Tapi ga masalah sama sekali buat gw. Setelah mengenal Akiva sebagai serafim yang jatuh cinta dan kabur dari pasukannya di Daughter of Smoke and Bone (and admit it, that's not very manly of him), Akiva versi Days of Blood and Starlight adalah Akiva versi pejuang tangguh. Misbegotten. Beast's Bane. The Prince of Bastards. Basically he fits every scary names given to him. Sejujurnya, gw lebih suka Akiva versi Days of Blood and Starlight.

Selain itu, tipikal Laini Taylor yang dengan kemampuannya menciptakan tokoh-tokoh yang lovable, di buku ini kita kenal lebih jauh dengan saudara-saudara Akiva, Hazael dan Liraz. Hazael yang sedikit licik sekaligus peacemaker. Liraz yang tangguh, galak, uncontrollable, dan sangat sayang pada kedua saudaranya. I love both Hazael and Liraz! Not happy with what Laini Taylor did to Hazael, though (HOW COULD YOU!!!!). Saat setting cerita berpindah ke Eretz, gw sempet khawatir Zuzana bakalan menghilang dari cerita. Tapi ternyata kekhawatiran gw bisa disingkirkan. Tentunya Zuzana yang setengah gila itu akan menyusul Karou, sahabatnya, lengkap dengan membawa Mik! Gw puas dibuat ketawa dan terharu oleh Zuzana dan Mik yang sangat setia pada Karou.

Kalau Daughter of Smoke and Bone lebih condong ke cerita romantis, Days of Blood of Starlight punya tema yang jauh berbeda. Ceritanya kental dengan kisah peperangan dan politik. Untuk mendapatkan sudut pandang dari para penduduk chimaera yang tertindas oleh perang, Laini Taylor menciptakan beberapa tokoh minor dan menyelipkan cerita tentang para chimaera yang melarikan diri dari tentara serafim. Dari situ gw kenal lebih jauh dengan kehidupan para chimaera, dan mengerti bahwa para chimaera lebih dari sekedar mahluk-mahluk menyeramkan tidak berperasaan di bawah pimpinan The White Wolf. Kita pun berkenalan lebih jauh dengan pemimpin kekaisaran serafim yang haus kekuasaan dan menyerang para chimaera hanya sekedar untuk  memperluas kerajaannya.

Dengan Days of Blood of Starlight sepertinya Laini Taylor berhasil membuktikan kalau buku kedua tidak selalu gagal. Sejujurnya, gw bahkan lebih suka Days of Blood of Starlight dari buku pertamanya.