Saturday, January 5, 2013

Days of Blood & Starlight

Setelah kembali mendapatkan memori tentang masa lalunya, Karou memutuskan untuk kembali ke Loramendi dan menggantikan Brimstone menjadi resurrectionist, berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Berkali-kali Karou berusaha meyakinkan dirinya bahwa rasa cintanya pada Akiva di masa lalu hanyalah kebodohan semata. Sementara itu, para chimaera tidak begitu saja menerima kembalinya Karou di antara mereka, bahkan mengucilkannya. Satu-satunya yang mau menerima Karou hanya Thiago.

Akiva, tidak berhasil menemukan Karou di Loramendi, menyangka Karou sudah mati dan memutuskan kembali ke pasukannya dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, Hazael dan Liraz. Ingin meneruskan impian yang direncanakannya bersama Madrigal, Akiva pelan-pelan menyabotase gerakan pasukannya sendiri, melindungi penduduk chimaera sebanyak yang dia bisa.
Para penggemar Akiva dan Karou, silahkan kecewa kalau mengharapkan banyak adegan romantis di buku ini. Bukan hanya karena Karou yang berusaha keras membuat dirinya membenci Akiva. Tapi interaksi antara Karou dan Akiva di buku ini sedikit sekali. Keduanya lebih banyak berurusan dengan bangsanya masing-masing. Tapi ga masalah sama sekali buat gw. Setelah mengenal Akiva sebagai serafim yang jatuh cinta dan kabur dari pasukannya di Daughter of Smoke and Bone (and admit it, that's not very manly of him), Akiva versi Days of Blood and Starlight adalah Akiva versi pejuang tangguh. Misbegotten. Beast's Bane. The Prince of Bastards. Basically he fits every scary names given to him. Sejujurnya, gw lebih suka Akiva versi Days of Blood and Starlight.

Selain itu, tipikal Laini Taylor yang dengan kemampuannya menciptakan tokoh-tokoh yang lovable, di buku ini kita kenal lebih jauh dengan saudara-saudara Akiva, Hazael dan Liraz. Hazael yang sedikit licik sekaligus peacemaker. Liraz yang tangguh, galak, uncontrollable, dan sangat sayang pada kedua saudaranya. I love both Hazael and Liraz! Not happy with what Laini Taylor did to Hazael, though (HOW COULD YOU!!!!). Saat setting cerita berpindah ke Eretz, gw sempet khawatir Zuzana bakalan menghilang dari cerita. Tapi ternyata kekhawatiran gw bisa disingkirkan. Tentunya Zuzana yang setengah gila itu akan menyusul Karou, sahabatnya, lengkap dengan membawa Mik! Gw puas dibuat ketawa dan terharu oleh Zuzana dan Mik yang sangat setia pada Karou.

Kalau Daughter of Smoke and Bone lebih condong ke cerita romantis, Days of Blood of Starlight punya tema yang jauh berbeda. Ceritanya kental dengan kisah peperangan dan politik. Untuk mendapatkan sudut pandang dari para penduduk chimaera yang tertindas oleh perang, Laini Taylor menciptakan beberapa tokoh minor dan menyelipkan cerita tentang para chimaera yang melarikan diri dari tentara serafim. Dari situ gw kenal lebih jauh dengan kehidupan para chimaera, dan mengerti bahwa para chimaera lebih dari sekedar mahluk-mahluk menyeramkan tidak berperasaan di bawah pimpinan The White Wolf. Kita pun berkenalan lebih jauh dengan pemimpin kekaisaran serafim yang haus kekuasaan dan menyerang para chimaera hanya sekedar untuk  memperluas kerajaannya.

Dengan Days of Blood of Starlight sepertinya Laini Taylor berhasil membuktikan kalau buku kedua tidak selalu gagal. Sejujurnya, gw bahkan lebih suka Days of Blood of Starlight dari buku pertamanya.

4 comments:

  1. nyari buku kedua yang Days of Blood & Starlight dimana niiihh ???? yang pertama boleh dapet di gramedia cijantung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setauku Days of Blood and Starlight belum diterjemahin. Tapi kalo mau bahasa Inggrisnya, aku pernah liat di Periplus PS

      Delete