Sunday, January 13, 2013

Virtuosity

Carmen Bianchi adalah pemain biola berbakat dengan penghargaan Grammy yang berhasil diraihnya pada usia enam belas tahun. Di usianya yang ke tujuh belas Carmen harus memfokuskan diri untuk mengikuti kompetisi bergengsi, Guarneri. Dalam perjalanannya menuju kompetisi, Carmen berkenalan dengan Jeremy King, saingan terberatnya. Walaupun sempat kesal dengan pembawaan Jeremy yang menurutnya arogan, seiring berjalannya waktu dan mereka semakin dekat, Carmen menyadari sebagai sesama musisi, Jeremy justru bisa mengerti kehidupan Carmen. Tapi posisi Jeremy sebagai pesaing terberatnya justru membuat hubungan mereka menjadi ruwet. Belum lagi ibu Carmen yang berulang kali mengingatkan Carmen bahwa Jeremy hanya akan memanfaatkannya demi memenangkan kompetisi Guarneri.
Waktu gw memutuskan untuk beli buku ini, sebenernya gw ga punya ekspektasi apa-apa. Bahkan gambar sampul a la iklan sampo sempat bikin buku ini terlantar di rak buku gw untuk waktu yang lumayan lama. Hampir seperti Bunheads, dimana pengarang dan tokoh utama ceritanya berprofesi sama, Jessica Martinez juga pemain biola solo. Gw ga tau sejauh mana buku ini mendekati kenyataan yang terjadi dalam dunia musik klasik, tapi gw suka membaca buku yang membawa gw mengintip lebih jauh tentang dunia yang ga bakal gw tau. Dan dari selera pribadi, walopun bukan pendengar musik klasik, somehow musik klasik selalu terdengar indah dan anggun kalo dideskripsiin, makanya gw suka buku dan film seputar itu (Hello, August Rush!)

Mengawali baca Virtuosity, ceritanya banyak membahas tentang kehidupan Carmen sebagai violinist dan statusnya sebagai 'Child Prodigy' serta dunia musik. Mungkin sekilas Carmen terlihat sebagai tokoh yang spineless dan ga bisa membela dirinya sendiri. Tapi dengan cara bercerita Martinez, gw bisa melihat bahwa seorang performer berskala internasional harus bekerja dengan tim dan semua keputusannya harus dibicarakan bersama-sama. Belum lagi latar belakang ibunya yang adalah penyanyi opera yang harus kehilangan karirnya karena penyakitnya.

Cerita Carmen sendiri sudah cukup complicated. Cerita jadi tambah seru saat pembaca diperkenalkan dengan Jeremy King. Gw kira buku ini bakalan lebih banyak membahas tentang Carmen. Tapi ternyata ceritanya juga banyak unsur romance. Hubungan antara Carmen dan Jeremy yang adalah saingan berat bikin gw penasaran. Gw suka saat mereka saling bercanda dan kadang-kadang sisi kompetitif mereka keluar. Dan gw berkali-kali menebak-nebak apa Jeremy punya motif lain saat mendekati Carmen, serta apa yang bakal terjadi sama hubungan mereka di akhir buku? Semua masalah antara Carmen dan ibunya, kompetisi Guarneri serta hubungan Carmen dengan Jeremy diakhiri dengan klimaks yang seru sekaligus manis. Gw sampe setengah kecewa saat bukunya selesai karena gw masih pengen membaca tentang Carmen dan Jeremy.

Since Carmen was described as Italian, my mind automatically thought about Ariana Grande. And I like that she has that innocent look that really matches Carmen's personality.


By the by, Freddie Stroma is my Jeremy King. And he's British! Yum, eh?
 

Pada kesimpulannya, gw menikmati banget membaca Virtuosity. Lebih puas lagi, karena awalnya gw ga punya ekspektasi apa-apa terhadap buku ini. Setelah kurang puas dengan beberapa buku yang gw baca di awal tahun ini, Virtuosity justru jadi buku pertama yang paling gw nikmatin. Bahkan saat baca novel lain setelah ini, gw masih aja kebayang-bayang ceritanya Carmen dan Jeremy. Highly recommended.

No comments:

Post a Comment