Saturday, April 27, 2013

Negeri Para Bedebah


 
Suatu malam, Thomas, seorang penasehat keuangan profesional, mendapat panggilan dari Om Liem, adik papanya yang dimusuhinya selama bertahun-tahun, untuk meminta bantuannya karena bank milik Om Liem, Bank Semesta, terancam ditutup.  

Thomas membuat keputusan untuk membantu pamannya. Dan untuk menyelamatkan Bank Semesta, dia hanya punya waktu dua hari. Dalam perjalanannya, Thomas mengumpulkan potongan teka-teki dan menyadari bahwa kasus yang dihadapinya bukan sekedar masalah bisnis. Tapi personal. Dan Thomas bertekad menyelesaikan masalah ini demi membalaskan dendam masa lalunya.
Negeri Para Bedebah adalah pengalaman pertama gw dengan Tere Liye. Sekilas browsing buku-bukunya di toko buku, sepertinya kebanyakan bertema cinta, baik pada keluarga maupun pasangan. Tapi, berdasarkan review di linimasa Goodreads maupun Twitter, sepertinya Negeri Para Bedebah mengusung tema yang berbeda. 

Dari gambar sampulnya, tema dari Negeri Para Bedebah sudah bisa dikira-kira. Pria berpakaian rapih lengkap dengan jas dan dasi, menggunakan topeng. Topengnya berhidung panjang pula. Mengingatkan kita pada Pinokio yang hidungnya bertambah panjang setiap mengucapkan kebohongan. Untuk memperkuat pesan yang disampaikan, ditambahkan gambar musang berbulu domba. Hmm.. Sepertinya menarik.

Pada beberapa bab pertama novel ini, gw sempat dibuang pusing dengan segala istilah-istilah ekonomi dan perbankan. Mohon maaf, gw tidak tertarik di bidang itu. Walaupun penjelasan itu diselipkan dalam percakapan, tetap saja rasanya seperti baca textbook. Tapi gw ngerti kenapa penjelasan-penjelasan itu harus disertakan dalam cerita. Gw sih hajar bleh aja, tetep berusaha ngerti walaupun nyantolnya sedikit. Tapi setelah berhasil melewati bab-bab awal, jalan cerita mulai terbentuk.

Negeri Para Bedebah mengusung tema suspense, mystery dengan bumbu action. Sayangnya, menurut selera gw, bumbunya lebih banyak mengambil porsi. Gw adalah penggemar cerita misteri, pengkhianatan, yang jalan ceritanya ga bisa ditebak dan tokoh-tokoh yang muncul ternyata tidak seperti dugaan kita. There's a reason why I love Dan Brown. Robert Langdon itu ga bisa berantem. Tapi dia bisa lepas dari musuh-musuhnya dan memecahkan misteri dengan akalnya (Just to be clear, gw adalah penggemar Dan Brown sebelum gw menyadari jalan cerita semua novelnya ternyata sama dan pada akhirnya gw berhenti baca novel-novelnya).

Thomas adalah tokoh utama yang menarik. Gw suka Thomas mostly karena dia smart. Semakin jauh membaca, cerita pun semakin menarik. Suspense mulai dibangun. Beberapa kali kita diajak mengintip masa lalu Thomas yang membentuk karakternya serta melatarbelakangi cerita tentang Bank Semesta. Dalam waktu dua hari berpetualang bersama Thomas, masalah yang awalnya hanya berlatarbelakang bisnis ternyata berkembang lebih jauh menjadi masalah yang lebih personal. Alangkah senangnya gw kalau cerita lebih banyak fokus ke misteri pengkhianatan di balik kasus Bank Semesta dan akal-akal Thomas dalam mengendalikan 'bidak-bidaknya' demi menyelamatkan Bank Semesta. 

Yang gw sayangkan:
  1.  Tidak banyak tokoh dari masa lalu Thomas dan keluarganya yang bisa dijadikan tersangka dalam kasus Bank Semesta. Jadi yah, tebak-tebakannya kurang seru dan dari awal sudah bisa dikira-kiralah siapa otak di belakang cerita.
  2. Kisah misterinya kalah porsi sama actionnya. Yang mana, menurut gw, actionnya kurang menarik pula. Terlalu banyak adegan dimana Thomas dikepung polisi dan sukses melepaskan diri dalam waktu singkat. Setiap mau melangkah, pasti adegannya terulang. Terlalu banyak tokoh yang 'kebetulan' terlibat dan bisa membantu Thomas kabur. Sampai-sampai gregetnya jadi berkurang dan pada akhirnya gw cuma berpikir, "Ah, palingan di akhir bab dia udah bebas lagi." Oh well..

Denger-denger novel ini diangkat dari kasus Bank bernama mirip yang terjadi entah tahun berapa itu. Sebagai orang yang tidak hobi mengikuti berita, ga heran lah kalau gw ga tahu menahu tentang kasus yang nyata terjadi itu. Gw menikmati Negeri Para Bedebah murni sebagai kisah fiksi. Walaupun dalam beberapa hal gw kurang puas, secara keseluruhan Negeri Para Bedebah cukup menarik untuk diikuti. Ga terlalu pas dengan selera gw, tapi jelas well-written dan sukses mengangkat topik yang jarang diangkat oleh penulis Indonesia lainnya. I can totally understand the hype.

2 comments:

  1. Belum sempet baca bukunya. Kayaknya tema yang diusung Tere Liye beda dari buku buku sebelumnya.Salam Kenal

    ReplyDelete
  2. Halo mbak, salam kenal... Aku lagi baca buku ini. Seru banget!!! Yaah walaupun bener kata mbak, kalo diawal cerita kita sempet dibuat bingung sama istilah2 ekonomi. Hehe.

    Kunjungan balik ke blog ku ya kalo sempet.. *promosi dikit* =]

    http://bukabuku90.blogspot.com/

    ReplyDelete