Thursday, June 19, 2014

(mis)Komunikasi

Pagi gw hari ini dibuka dengan artikel nyeleneh. Isinya mengenai pengalaman-pengalaman para dokter saat berhadapan dengan pasien-pasien ngeyel dan kurang berpendidikan. Disertai kutipan kata-kata para pasien yang, ditinjau dari sudut pandang profesi dokter, tidak masuk akal. Atau, kasarnya, bodoh.

Sebelumnya gw ingatkan dulu kalau para dokter tidak jauh beda dengan para pekerja lainnya. Antar sesama rekan profesi, kami suka saling bertukar cerita mengenai pekerjaan kami. Pernah kan dalam pekerjaan ketemu klien aneh, nyebelin, atau apa saja yang bikin jengkel saat dihadapin? Dan akhirnya jadi bahan cerita di akhir jam kerja? Gw rasa semua profesi pasti pernah mengalami hal yang sama.

Artikel yang gw baca pagi ini cukup bikin gw senyum-senyum sendiri. Gw bisa mengerti perasaan para dokter yang berbagi cerita, secara gw sering mengalami hal yang sama. Sempat terpikir untuk membagi artikel tersebut ke linimasa. Tapi akhirnya gw berpikir sendiri:

“Apakah yang jelas remeh dan tidak logis di mata para dokter juga jelas remeh dan tidak logis di mata para pasien?”

Ada satu hal yang gw anggap menarik setelah gw mulai bekerja, dimana sebagian besar waktu gw bukan lagi dihabiskan dengan buku pelajaran, tapi dengan pasien. Saat belajar, para calon dokter dituntut untuk memaksimalkan fungsi otak supaya bisa mengerti dan melogikakan sistem super ribet, mulai dari yang fisiologis sampai yang patologis. Butuh kombinasi antara menghafal dan berlogika. Yang menarik? Setelah mulai berinteraksi dengan pasien, para dokter justru dituntut untuk menyederhanakan ilmu kedokteran yang segitu njelimetnya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang bisa dimengerti oleh masyarakat awam. Ada banyak buku yang mengajarkan tentang patofisiologi. Tapi satu-satunya cara untuk belajar berkomunikasi dengan pasien hanyalah dengan sebanyak mungkin berinteraksi dengan pasien.

Coba bayangkan adegan berikut. Kita lagi jalan-jalan di Roma dan kebingungan cari pintu keluar. Setelah bingung sana-sini, kita mencolek salah satu orang Italia dan bertanya, “Sori, bro, pintu keluar dimana ya?” Dan si Italia mendengus tidak sabar lalu menjawab, “Jelas-jelas itu ada tulisan ‘Uscita’ segede gaban, ya di situlah pintu keluarnya!” Jengkel? Tapi kenyataanya, kadang kita begitu terbiasa dengan dunia kita sendiri sampai kita lupa bahwa dokter dan pasien sebenernya bicara dalam bahasa yang berbeda. Gw pernah ketemu ibu-ibu yang, setelah ketemu dosis obat hipertensi yang pas, malah menolak melanjutkan minum obat. Alasannya, takut kalau lanjut minum obat hipertensi setiap hari, tensinya yang sudah normal justru akan semakin turun. Gw sempet merasa lucu. Tapi itu hanya salah satu dari sekian banyak contoh yang menunjukan bahwa apa yang logis buat dokter, belum tentu logis buat pasien. Sedangkan kalau bicara soal kesehatan, semua orang, dari yang tua, muda, kaya, miskin, sekolah, ga sekolah, pasti mau sehat. Yang artinya, mau gak mau, dokter akan berinteraksi dengan manusia dari berbagai macam lapisan dan latar belakang. Dan sebagai orang yang dianggap ilmunya lebih tinggi, pastinya dokter lah yang dituntut untuk bisa mensejajarkan cara berkomunikasi dengan lawan bicaranya. 

Jadi, sejawat, sebelum kita tertawa mendengar komentar-komentar "konyol" pasien kita, coba yuk introspeksi dulu. Sudahkah kita mengedukasi pasien kita dengan baik? Apakah semua informasi yang diperlukan sudah diterima tanpa ada miskomunikasi? Kalau jawabannya "sudah" dan masih aja pasien ngeyel, apalagi ditambah dengan ilmu-ilmu sesat a la internet, nah, baru deh kita mulai ketawa.

Setelah bekerja, barulah gw inget kata-kata para sesepuh di kampus dulu, bahwa pekerjaan dokter bukan sekedar mengobati penyakit, tapi mengobati manusia. Dan jadi dokter berarti harus siap belajar seumur hidup. Karena butuh pengertian mendalam untuk bisa menyederhanakan sesuatu. Seperti kata opa Einstein, if you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.

Setelah sedikit berefleksi, gw rasa artikel kocak pagi ini cukup dibagi di kalangan sejawat aja. Batal deh berbagi ke linimasa.