Showing posts with label Personal. Show all posts
Showing posts with label Personal. Show all posts

Wednesday, February 19, 2014

Someday You Will Miss Today



Maybe days, weeks, years, even decades from now you will forget the feeling of the wind caressing your face, or the soft sand under your feet, or how the waves envelop your body and hurl you to the beach. But the emotions remain. That ineffable blissfulness amidst our exchanged stories, our jokes and our laughs in those times we shared stays forever for us to keep.

Everyday we are creating memories. So make each day count to make sure we make beautiful memories worth to remember. 

Thanks for giving me plenty, guys.

Tuesday, February 11, 2014

My Kinda Miracles



Since I moved back to Jayapura, I've developed this habit of looking up at the sky in so many random moments. Simply to enjoy the view of clear night sky dotted with twinkling stars. Or shades of pink and purple staining the twilight sky.

But there was this one time when I had few of my friends came to my house. We were chatting when the electricity suddenly went out, so we decided to move our group chat outside the house. Out of habit, I glanced up at the sky and that was when I saw the most beautiful night sky. The darkness, enhanced by the absence of electricity across town, goaded more stars to make appearances. The sky wasn't just dotted, it was scattered with stars. It was the first time I saw so many stars in the sky, I was awed. So awed that I excitedly told my friends to have a look. It was as if glitters were messily sprinkled across a vast velvet black carpet. I wasn't so eloquent then, using the word chicken-pox to described the starry sky.

Living in a small town has rendered me more appreciative towards things I previously tend to overlook, like  the changing colors of the sky, that unique scent that lingers in the break of dawn, the silver water reflecting the sunlight on its surface. You cannot help feeling amazed and belittled at the same time. It is impossible to deny that there are mighty Hands that created this colossal universe and that everything can be encapsulated into one word: miracle.

I now find it ridiculous how we have our own complicated concept of miracles. We demand to see water turns into wine to challenge the existence of God. When every single day there are so many miracles unfolding before our very eyes. And that our lives are series of miracles. You just have to notice and appreciate.

Anyway.

A blackout is occurring as I'm writing. This is just my rhapsody, composed out of disappointment as I found rolls of clouds hanging on the sky, denied me of the stars.

Saturday, May 5, 2012

Aku dan Buku

Pengalaman gw dengan buku dimulai sejak gw SD. Dengan bokap yang hidungnya hampir selalu tenggelam di antara halaman-halaman buku, ga heran kalo sekarang anak-anaknya pun punya hobi yang sama. Buku pertama gw pun adalah pemberian bokap gw. Buku pertama disini maksudnya buku yang gw bener-bener baca sendiri, bukannya dibacain bokap. Seperti anak-anak generasi 90an pada umumnya, buku pertama gw adalah karangan Enid Blyton, judulnya Petualangan di Gunung Bencana (yang sayangnya sekarang udah hilang). Gw inget gw baru baca beberapa halaman udah mengeluh sama bokap, gw bosen dan ga bisa selesain baca karena bukunya ga ada gambarnya. Untungnya waktu itu bokap kekeuh mendorong gw untuk nyelesain baca sambil ngebayangin ceritanya menggunakan imajinasi. Dan untungnya gw waktu itu nurut sama kata-kata bokap. Karena kalo gak, malah gw yang sekarang rugi. Hehe.. Buku-buku Enid Blyton emang pas banget untuk melatih imajinasi anak-anak karena dia selalu menggambarkan segala sesuatu dengan detail dan menggunakan banyak kata. Apalagi kalo mendeskripsikan pemandangan dan makanan. Dulu gw sampe ngiler-ngiler kepengen limun jahe, walopun gw ga ngerti itu minuman apa dan ga tau panasnya rasa jahe.

Beberapa buku karangan Enid Blyton yang berhasil gw dapet setelah menjelajahi toko buku bekas di internet

Dari satu buku, akhirnya ketagihan gw akan buku pun dimulai. Awalnya cuma terbatas dengan buku-buku Enid Blyton, akhirnya meluas ke segala jenis buku. Waktu gw SD, gw bahkan gw suka baca buku cerita rakyat. Beruntunglah gw yang sekolahnya waktu SD memfasilitasi perpustakaannya dengan banyak sekali buku petualangan anak-anak. Dari yang males baca buku ga bergambar, gw bisa dengan rakusnya melahap Seri Pasukan Mau Tahu, seri Lima Sekawan yang gw koleksi lengkap dan cerita-cerita lepas Enid Blyton. Satu orang pengarang ini punya karya yang cukup banyak untuk menemani masa kecil gw. Dari Enid Blyton, gw kenalan dengan Edith Unnerstad dengan karya-karya terkenalnya tentang keluarga Larsson seperti O Mungil, Si Bandel dan Tamasya Panci Ajaib (ada juga Tamasya Laut, sayangnya gw belom pernah baca). Juga Astrid Lindgren dengan cerita-ceritanya tentang si Pippi Kaus Kaki Panjang. Selain itu, tentunya masa kecil seseorang belum lengkap kalo belum baca dongeng-dongeng klasik macam Pangeran Bahagia, Angsa-angsa Liar, Gadis Penjual Korek Api atau Prajurit Timah (semuanya karya HC. Andersen kecuali Pangeran Bahagia yang adalah karangan Oscar Wilde). Tentunya ada banyak sekali kisah dongeng, tapi gw selalu jatuh cinta sama karya-karyanya Andersen.

Mungkin karena kisah gw sendiri berawal dari buku petualangan anak-anak, ga tau kenapa sampai sekarang buku petualangan anak dan praremaja masih jadi favorit gw walopun umur gw udah sangat ga cocok dikategorikan remaja. Dan dengan berbangga hati gw bisa bilang gw percaya sama insting gw terhadap buku anak. Yah setidaknya temen-temen gw puas kalo gw rekomendasiin buku. Hehe.. Karena sayang sekali era Blyton dan Unnerstad udah lewat (walopun sampe saat ini gw masih mengharapkan supaya buku-buku mereka dicetak ulang), gw menemukan kepuasan terhadap petualangan anak-anak dalam buku-buku Rick Riordan dan JK. Rowling, walopun sayangnya karya-karya mereka belom cukup banyak. Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia adalah hasil temuan kebanggan gw. Secara pertama kali liat, bukunya terkubur diantara buku-buku lain dan volume pertamanya bahkan cuma sisa satu. Tapi melihat ramuannya yang menggabungkan petualangan dan dewa dewi Yunani, dua hal yang amat sangat menarik buat gw, akhirnya gw memutuskan untuk beli. Dan sampai sekarang gw selalu ngikutin karya-karya Riordan. Dari buku yang terkubur di antara tumpukan buku, sekarang hasil karya Riordan berjejeran di rak gw dan adek gw, yang dengan suksesnya gw racunin untuk baca buku-buku Riordan.


Karya Rick Riordan koleksi gw, selain seri Percy Jackson and The Olympians.
The Heroes of Olympus dan Kane Chronicles.

Gw selalu merasa kalo gw tumbuh sebagai anak pecinta buku yang beruntung karena di masa kecil gw tersedia buku-buku cerita yang topiknya beragam mulai dari dongeng sampai kisah tentang keluarga sehari-hari. Seaneh-anehnya pengalaman mereka pun, palingan jadi detektif. Sejujurnya gw agak prihatin dengan buku-buku anak jaman sekarang yang ceritanya jauh lebih condong ke arah fantasi. Seakan-akan ga ada genre lain yang lebih menarik daripada fantasi. Terutama sejak boomingnya Harry Potter dan diikuti Twilight. Ya ga salah sih. Yang penting inti dari cerita itu bisa ngasih pesan untuk pembacanya. Apalagi kita ini ngomongin buku untuk anak-anak, jadi harus pilih-pilih juga dalam menyampaikan topik. Misalnya Harry Potter dan Percy Jackson yang banyak mengajarkan tentang persahabatan dan kerjasama. Atau Twilight yang mengajarkan betapa pentingnya punya pacar. Tapi alangkah baiknya kalo anak-anak ini dikasih pilihan lain selain fantasi. Cerita tentang keluarga manusia normal juga menarik koq. I grew up with that kind of stories!

Sebenernya postingan ini gw tulis cuma untuk berbagi cerita gw tentang pengalaman gw dengan buku. Tapi semoga tulisan ini mewakili suara para pecinta buku lainnya supaya buku-buku lama bisa dicetak ulang. Secara tiap kali ngobrol tentang Blyton atau Unnerstad, selalu ujung-ujungnya nyeritain susahnya berburu buku lama di toko buku bekas atau berharap bukunya dicetak ulang.