Monday, October 1, 2012

Divergent




Divergent adalah buku pertama dari trilogi Divergent yang ber-genre distopian karangan Veronica Roth. Buku ini ber-setting di Amerika di masa depan dimana, untuk menjaga kedamaian, penduduknya dibagi dalam lima factions, berdasarkan sifat positif yang diutamakan masing-masing faction : Candor (kejujuran), Erudite (kecerdasan), Dauntless (keberanian), Amity (kedamaian) dan Abnegation (ketidakegoisan).

Adalah Beatrice Prior, yang menginjak usia enam belas tahun, yang berarti saatnya mengikuti Choosing Ceremony untuk memilih faction. Sebelum menentukan pilihan, setiap peserta diwajibkan mengikuti aptitude test untuk mengetahui faction yang cocok untuk mereka. Saat menjalani aptitude test ini lah, Beatrice mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Divergent. Sebuah istilah yang asing di telinganya, tapi ternyata membahayakan nyawanya sehingga dia harus merahasiakannya dari siapapun.

Terlepas dari hasil aptitude test, Beatrice akhirnya menentukan faction pilihannya dan mengganti namanya menjadi Tris. Sesuai tradisi, para peserta baru, yang disebut Initiates, harus menjalani serangkaian proses inisiasi. Pada proses ini lah Tris bertemu dengan teman-teman baru, belajar bertahan dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya, juga bertemu Four, yang adalah instrukturnya. Dimana, bisa ditebak, Tris akhirnya dekat dengan Four.

Selama berusaha bertahan dalam proses inisiasi, tersiar berita yang tidak mengenakan yang menyerang ayah Tris yang duduk di pemerintahan, yang membuat dia curiga bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memprovokasi pemberontakan. 

Review ini berangkat dari kenyataan bahwa gw bukanlah penggemar distopian. Gw  bukan penggemar cerita yang berlatar belakang masa depan. Lagian, The Hunger Games dan Catching Fire udah cukup bikin gw ilfil terhadap genre distopian.  Terus kenapa gw baca Divergent? Jawaban gw sederhana aja. Because I want to know what the fuss is all about. Jujur aja, gw sempet stuck di tiga bab pertama dalam waktu yang cukup lama. Kenapa sih awal cerita dystopian harus gloomy? Bikin males baca. Tapi gw memutuskan untuk terus baca sampai habis. Lagian, buku ini menang Goodreads Choice Award Favorite Book. There has got to be something. 

Kesan pertama, mau ga mau, gw menganggap sebuah masa dimana penduduknya dibagi berdasarkan factions, yang mana factions ini dibedakan berdasarkan sifat utama para penduduknya, adalah ide yang konyol dan ga masuk akal. Bahkan aptitude test yang digunakan untuk menentukan factions terlalu sederhana untuk mengategorikan sifat manusia yang sangat kompleks. Tapi ya udahlah, namanya juga fiksi. Lagian, pembagian factions ini yang jadi dasar cerita, jadi gw ikutin aja.

Kurang lebih dua pertiga porsi cerita menceritakan tentang proses inisiasi Tris sambil kita kenalan sama dunia distopian a la Veronica Roth. Ceritanya ringan, ga terlalu banyak twist-nya tapi cukup seru  untuk diikutin. Menurut gw, yang bikin proses inisiasi ini jadi menarik adalah tokoh Tris yang disini jadi underdog. Tris sering dianggap remeh, bahkan temen-temennya menganggap dia harus selalu ditolong dan dilindungi. Tapi Tris terus-terusan menunjukan hasil yang ga disangka-sangka dalam menghadapi serangkaian ujian dalam proses inisiasi.  

Selama inisiasi ini tujuannya mengajarkan para Initiates tentang sifat utama dari faction mereka. Sebenernya banyak banget quote-quote bagus yang berhubungan dengan faction yang dipilih Tris. Tapi kalo gw nge-quote yang ada malah jadi spoiler. So I’m just gonna keep it for myself (Not easy, guys!). Tapi gw suka cara nulisnya Victoria Roth.

Satu lagi yang bikin gw betah baca Divergent adalah cerita Tris dan Four yang bikin gw smitten ga keruan. Iya tau, gw gampang banget naksir sama karakter di buku. Haha.. Tapi Four ini unik. Secara dia instruktur inisiasi, pembawaannya tegas, pinter, jago berantem, ganteng (kalo menurut Tris). Tapi aslinya dia punya sifat yang cenderung pemalu, dan ga takut untuk nunjukin rasa takutnya pada Tris. Selain itu, dia percaya Tris itu pemberani dan bisa diandalin. That’s what I love about Tris and Four. That they are both equal. And they equally need each other.

Memasuki sepertiga akhir cerita, tema ceritanya tiba-tiba loncat ke permasalahan antar faction. Di awal udah sempet disinggung-singgung tentang pemberontakan tapi tetep aja rasanya koq penempatan urutan ceritanya agak terkesan dipaksain.  Walaupun disini lah misteri tentang Divergent baru mulai terbuka. Dan menurut gw, penyelesaian konfliknya terlalu biasa. 

Hal remeh yang menurut gw mengganggu tapi mungkin ga penting untuk orang lain adalah buuaaanyaknya tokoh dalam cerita ini yang berarti banyak nama yang harus gw inget. Pada dasarnya gw selalu butuh waktu lama untuk mengingat nama tokoh-tokoh utama dalam cerita. Tapi tokoh-tokoh Divergent ini beneran rame banget! Selain itu, dari lima factions yang ada, ga semuanya terlibat dalam cerita. Tapi ternyata itu semua dibahas di buku selanjutnya, Insurgent.

Menurut gw, secara garis besar, distopian atau bukan, cerita Divergent ini menghibur. Ide ceritanya menarik, walopun ga terlalu spesial. Cukup menyita perhatian gw untuk menyelesaikan membaca tapi ga segitu serunya sampe bikin gw deg-degan dan penasaran. Tapi balik lagi ke atas, gw bukan lah penggemar distopian. Jadi kalo gw sampe menikmati buku ini, I think that statement means more.

Kalau gw belum baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Divergent cukup menghibur, boleh dibaca untuk mengisi waktu luang. Tapi karena gw sudah baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Baca lah Divergent supaya bisa lanjutin ke Insurgent. Sepertinya selama menulis Divergent, Veronica Roth menyimpan ilmu menulis-cerita-super-seru untuk kemudian dilimpahkan habis-habisan di Insurgent! Jadi kalo lagi baca Divergent dan berasa biasa aja, KEEP READING! 

Friday, September 21, 2012

Anna and The French Kiss


Anna and The French Kiss adalah buku pertama karangan Stephanie Perkins yang bergenre komedi romantis. Gak tau kenapa, sebelom baca bukunya pun gw udah penasaran dan punya perasaan bukunya bakalan bagus. Mungkin pengaruh gambar sampulnya. Hehe..

Baca Anna and The French Kiss itu seperti pengalaman cinta pada pandangan pertama jadi kenyataan. Secara ini ngomongin baca buku, mungkin tepatnya cinta pada bab pertama? Sebagai penggemar berat genre komedi romantis, setelah akhir-akhir ini maraton baca buku genre fantasi, baca Anna and The French Kiss serasa seperti pulang ke rumah. Gw pernah bilang sebelomnya bahwa genre komedi romantis ini genre paling ringan. Bisa dengan mudahnya menyentuh perasaan sekaligus menghibur, tapi bisa juga dengan mudahnya  jadi klise dan membosankan.

Dan dengan senang hati gw bilang, Anna and The French Kiss masuk dalam kategori pertama!

This book is exactly what I expect from a romantic comedy! Pasangan yang lovable dan bikin pembaca gemes karena pengeeennn banget mereka jadian? Ada! Cerita yang bikin ketawa, senyum-senyum sendiri atau tanpa sadar miringin kepala sambil mendesah “Aaaw...”? Ada!  

Kedua tokoh utama dalam cerita Anna and The French Kiss bikin gw jatuh cinta setengah mati. Anna Oliphant yang teratur dan neat-freak, pinter tapi sedikit insecure. Sedangkan Étienne St.Clair yang adalah cowok ganteng dan baik hati yang banyak disukai di sekolah. Walaupun digambarin sebagai favorit cewek-cewek, tokoh St.Clair justru terasa 'real' karena Stephanie Perkins menambahkan kekurangan-kekurangan seperti tinggi badannya yang di bawah rata-rata, punya acrophobia, dan masalah keluarga yang jadi konflik buat tokoh St.Clair. Itu semua bikin tokoh St.Clair lebih mendekati kenyataan, bukan sekedar idola sempurna cewek-cewek. Dan karakter dan sifat Anna dan St.Clair bikin mereka cocok satu sama lain.

Menurut gw chemistry itu penting banget dalam cerita komedi romantis. Dan chemistry antara Anna dan St.Clair dapet banget.  Mereka mulai sebagai temen. Bercandanya kocak banget dan kerasa banget mereka deket sebagai teman. Saat perasaan mereka berubah pun, gw bisa ngerasain. Okelah, karena ceritanya diceritain oleh Anna sebagai narator, kita bisa dengan mudahnya nebak perasaan Anna. Tapi dari narasi Anna pun kita bisa kenal dalem sama St.Clair. Bukan cuma adegan-adegannya, tapi dialog-dialog mereka pun dapet banget! Gw ikutan senyum-senyum saat St.Clair nunjukin perhatian ke Anna tapi Anna ga sadar. Perut gw berasa melilit kaya ada kupu-kupu saat St.Clair dan Anna saling salah paham dan patah hati. Manis banget! Stephanie Perkins bisa banget ngebawa pembacanya ke dalam cerita St.Clair dan Anna!

Paling males kalo ada pengarang yang nganggep bahwa kota yang eksotis sebagai setting cerita udah cukup untuk membuat sebuah buku jadi menarik, sampai-sampai lupa fokus ke jalan ceritanya. Tapi kota Paris yang jadi latar belakang cerita Anna and The French Kiss cukup jadi bumbu pemanis cerita tanpa mencuri semua perhatian. Kekuatan buku ini tetep di jalan cerita dan karakter tokoh-tokohnya. 

Apa yang gw ga suka dari buku ini? TIDAK ADA. Tapi kayanya ga fair kalo suatu review isinya positif doang. Jadi gw mo protes penampilan fisik bukunya aja deh. Baru kali ini gw dapet buku yang potongan tepinya bergerigi begini. Udah juga ga enak diliat, bikin susah kalo mo balik halaman.

By the way, setelah baca buku ini sampai setengah, gw baru nyadar ternyata di sampulnya ada kutipan dari Cassandra Clare. Whoa! Setuju banget sama kata-katanya!


Pokoknya gw suka banget banget banget Anna and The French Kiss. Buat yang suka cerita komedi romantis, buku ini WAJIB DIBACA!



Will you please tell me you love me? I'm dying here - Étienne St.Clair

Thursday, August 2, 2012

Character Crush: Will Herondale


Menyambung obsesi gw terhadap The Infernal Devices karya Cassandra Clare, terutama diantara hingar bingar Young Adults Crush Tourney, seperti biasa kalo udah terlalu banyak kalimat bersliweran di otak gw, lebih baik dikumpulin jadi satu blog post.

Bulan Juli gw jadi Shadowhunter of The Month di TMIndo lho... *angkat-angkat alis* Kalo ga tau apa itu Shadowhunter of The Month atau SoTM, itu adalah kuis yang digelar di twitter setiap tiga kali seminggu oleh @TMIndo, yang adalah akun twitter resmi untuk fanbase The Mortal Instruments di Indonesia. Mereka akan melempar tiga pertanyaan, dan followernya mesti cepet-cepetan jawab, bener atau salah. Jadi kalo sepanjang bulan Agustus sempet main ke website-nya TMIndo, jangan kaget ya kalo liat muka gw. Itu bukan buat ngusir tikus koq.

Waktu gw menang, gw dikirimin form feedback dan ditanyain siapa tokoh favorit gw dan alasannya. Wah, ga pake pikir panjang dong jawabnya. For I swoon at Will Herondale’s finery! Masalahnya, kalo mo dijabarin kenapa gw suka sama Will, jawabannya panjang banget. Hahaha.. Untung gw bisa menahan diri waktu ngisi form. Padahal, kalo mo ikutan puisinya Tatiana nih..

“You will never know, sweet William /
How many are the million /
ways in which I love you”

Sebenernya gak heran kalo kesan pertama seorang William Owen Herondale langsung bikin gw tertarik. Sebagai gambaran standar, dia ganteng. Ya tokoh cowok mana sih yang ga dideskripsiin sebagai ganteng? (Ga dideskripsiin ganteng pun gw tetep nyebayangin ganteng!). Pertama kali Tessa ketemu Will pun dia langsung terpesona.

He had the most beautiful face she had ever seen. Tangled black hair and eyes like blue glass. Elegant cheekbones, a full mouth, and long, thick lashes. Even the curve of his throat was perfect.
(Clockwork Angel)

(Ada apa sih antara Cassie Clare dan bulu mata dan tenggorokan? Kayanya dia seneng banget deskripsiin bulu mata sama tenggorokan). Ciri khas tokoh-tokohnya Cassie Clare, biasanya mereka punya warna mata yang kuat. Nah, silakan berimajinasi sendiri seperti apa gantengnya Will Herondale yang berambut gelap dan bermata sangat biru.

Dari awal, gaya ngomong Will yang nyeleneh dan sarkastik udah menonjol. Dan selalu bikin gw cekikikan. Mulai dari Clockwork Angel sampe Clockwork Prince (tepatnya, apalagi Clockwork Prince). Sebagai Shadowhunter, Will itu berani, taktis tapi juga nekad. Keren banget lah pokoqnya. Makanya selama baca The Infernal Devices, gw selalu menikmati membaca tentang Will. Secara Will itu vokal banget, selalu maen nyamber aja tiap ada percakapan, kalo baru awal-awal baca tentang Will, mungkin definisinya Sophie lebih kedengeran pas

Will has always been the brighter burning star, the one to catch attention.
(Sophie, Clockwork Prince)

 Terus apa yang bikin gw suka banget sama Will Herondale padahal disampingnya ada Jem Carstairs yang notabene paling tepat dideskripsiin dengan kata-kata ‘nothing but goodness’?

Semakin berjalannya cerita, semakin gw tertarik sama Will karena lama-lama gw ngerasa Will itu misterius. Bahwa semua aksi nekadnya waktu bertarung dan segala ungkapan-ungkapan sarkastiknya cuma sekedar tembok yang dibangun untuk nutupin sesuatu. Kadang-kadang dia judes, kadang-kadang dia lembut banget.


There is a wall you have built about yourself, Will, and I have never asked you why. But no one should shoulder every burden alone.
(Jem, Clockwork Prince)

Di Clockwork Prince, kita lebih banyak diceritain tentang konflik para tokohnya masing-masing. Dan di buku ini, dengan adanya kunjungan-kunjungan Will ke Magnus Bane, kita kenalan lebih jauh seperti apa aslinya seorang Will di balik dinding sarkasme yang dia bangun. Dan apa yang ada di balik tembok ini lah yang jadi alasan gw berada di barisan penggemar Will Herondale, barengan sama Tatiana!

Ternyata Will yang di luarnya keliatan cuek, kuat dan berani, dalemnya sangat peduli sama orang lain, sensitif bahkan dia takut hidup sendirian. And when he falls, he falls hard. In love, that is.


No one can live with nothing
(Will, Clockwork Prince)

Karena kutukannya, dibalik dinding yang dia bangun, Will terpaksa hidup kesepian, bahkan ninggalin keluarganya di Wales. Dan setiap hari selama lima tahun di Institut London, dia berusaha keras bikin orang-orang sekitarnya -kecuali Jem- benci sama dia. Tapi segitu kuatnya dia, sampe bisa ngejalanin kutukannya. And that’s how a Will Herondale caught my heart.

This is a fresh wound everyday.
(Will, Clockwork Prince)

Kalo mo tau seperti seorang Will yang peduli sama orang lain, bisa diliat dari perlakuan dia terhadap Jem.


James, you are all the family I have. I would die for you. You know that. I would die without you.
(Will, Clockwork Prince)

Dan saat dia jatuh cinta sama Tessa, dia rela ngelakuin apa aja. Termasuk diantaranya bikin Tessa jadi benci sama dia. Bahkan nekad minta dikirim ke demon world demi mengakhiri kutukannya. Ah.. gemana ga trenyuh? Sometimes I think it's not fair that I am not Tessa.


I had to make you hate me Tessa. So I tried. And then I wanted to die. I had thought I could bear it if you hated me, but I couldn’t
(Will, Clockwork Prince)

Kalo udah kenal jauh sama Will, sepertinya deskripsi Magnus Bane lebih cocok untuk menggambarkan Will.

Like a lovely vase that someone has smashed. Only luck and skill can put it back together the way it was before
(Magnus, Clockwork Prince)

Satu tambahan lagi yang jadi poin plus Will di mata gw yaitu, Will hobi baca dan pinter mengutip puisi. Kondisi apa aja, ada aja literatur atau puisi yang dia kutip, yang sesuai sama situasi saat itu. Ya walopun dia pake rune memori sih. Jadi ga usah ngimpi bisa ngutip literatur sefasih dia ya.


"Will, you pay so little attention at lessons, can you tell  a binding spell from a soufflé recipe?" 

Will leaned back in his chair and said dreamily, "I am but mad north-north-west; when the wind is southerly I know a hawk from a handsaw."

(Clockwork Prince)

Dan siapa sih yang ga tau pernyataan cinta Will yang maha-pasaran, yang udah dipajang di semua fan art The Infernal Devices?


“You and I, Tess, we’re alike. We live and breathe words. It was books that kept me from taking my own life after I thought I could never love anyone, never be loved by anyone again. It was books that made me feel that perhaps I was not completely alone. They could be honest with me and I with them.

... I dreamed what you dreamed, wanted what you wanted — and then I realized that truly I just wanted you. The girl behind the scrawled letters. I loved you from the moment I read them. I love you still.”

(Will, Clockwork Prince)

Apa yang gw tangkep dari kutipan diatas? 1.) Will pinter merangkai kata-kata 2.) Segitu cintanya sama buku, bahkan saat menyatakan perasaannya, Will mengacu pada kecintaannya pada buku 3.) Dibalik semua ungkapan-ungkapan sarkastiknya, Will sebenernya sensitif sampai cuma baca surat-suratnya Tessa aja bisa memprovokasi perasaan dia. *dramatic sigh*

So that's a William Herondale. Someone tough and snarky on the outside, yet vulnerable on the inside. Cassandra Clare has created one heck of a character there!


Picture is taken from TMISoure