Thursday, August 2, 2012

Character Crush: Will Herondale


Menyambung obsesi gw terhadap The Infernal Devices karya Cassandra Clare, terutama diantara hingar bingar Young Adults Crush Tourney, seperti biasa kalo udah terlalu banyak kalimat bersliweran di otak gw, lebih baik dikumpulin jadi satu blog post.

Bulan Juli gw jadi Shadowhunter of The Month di TMIndo lho... *angkat-angkat alis* Kalo ga tau apa itu Shadowhunter of The Month atau SoTM, itu adalah kuis yang digelar di twitter setiap tiga kali seminggu oleh @TMIndo, yang adalah akun twitter resmi untuk fanbase The Mortal Instruments di Indonesia. Mereka akan melempar tiga pertanyaan, dan followernya mesti cepet-cepetan jawab, bener atau salah. Jadi kalo sepanjang bulan Agustus sempet main ke website-nya TMIndo, jangan kaget ya kalo liat muka gw. Itu bukan buat ngusir tikus koq.

Waktu gw menang, gw dikirimin form feedback dan ditanyain siapa tokoh favorit gw dan alasannya. Wah, ga pake pikir panjang dong jawabnya. For I swoon at Will Herondale’s finery! Masalahnya, kalo mo dijabarin kenapa gw suka sama Will, jawabannya panjang banget. Hahaha.. Untung gw bisa menahan diri waktu ngisi form. Padahal, kalo mo ikutan puisinya Tatiana nih..

“You will never know, sweet William /
How many are the million /
ways in which I love you”

Sebenernya gak heran kalo kesan pertama seorang William Owen Herondale langsung bikin gw tertarik. Sebagai gambaran standar, dia ganteng. Ya tokoh cowok mana sih yang ga dideskripsiin sebagai ganteng? (Ga dideskripsiin ganteng pun gw tetep nyebayangin ganteng!). Pertama kali Tessa ketemu Will pun dia langsung terpesona.

He had the most beautiful face she had ever seen. Tangled black hair and eyes like blue glass. Elegant cheekbones, a full mouth, and long, thick lashes. Even the curve of his throat was perfect.
(Clockwork Angel)

(Ada apa sih antara Cassie Clare dan bulu mata dan tenggorokan? Kayanya dia seneng banget deskripsiin bulu mata sama tenggorokan). Ciri khas tokoh-tokohnya Cassie Clare, biasanya mereka punya warna mata yang kuat. Nah, silakan berimajinasi sendiri seperti apa gantengnya Will Herondale yang berambut gelap dan bermata sangat biru.

Dari awal, gaya ngomong Will yang nyeleneh dan sarkastik udah menonjol. Dan selalu bikin gw cekikikan. Mulai dari Clockwork Angel sampe Clockwork Prince (tepatnya, apalagi Clockwork Prince). Sebagai Shadowhunter, Will itu berani, taktis tapi juga nekad. Keren banget lah pokoqnya. Makanya selama baca The Infernal Devices, gw selalu menikmati membaca tentang Will. Secara Will itu vokal banget, selalu maen nyamber aja tiap ada percakapan, kalo baru awal-awal baca tentang Will, mungkin definisinya Sophie lebih kedengeran pas

Will has always been the brighter burning star, the one to catch attention.
(Sophie, Clockwork Prince)

 Terus apa yang bikin gw suka banget sama Will Herondale padahal disampingnya ada Jem Carstairs yang notabene paling tepat dideskripsiin dengan kata-kata ‘nothing but goodness’?

Semakin berjalannya cerita, semakin gw tertarik sama Will karena lama-lama gw ngerasa Will itu misterius. Bahwa semua aksi nekadnya waktu bertarung dan segala ungkapan-ungkapan sarkastiknya cuma sekedar tembok yang dibangun untuk nutupin sesuatu. Kadang-kadang dia judes, kadang-kadang dia lembut banget.


There is a wall you have built about yourself, Will, and I have never asked you why. But no one should shoulder every burden alone.
(Jem, Clockwork Prince)

Di Clockwork Prince, kita lebih banyak diceritain tentang konflik para tokohnya masing-masing. Dan di buku ini, dengan adanya kunjungan-kunjungan Will ke Magnus Bane, kita kenalan lebih jauh seperti apa aslinya seorang Will di balik dinding sarkasme yang dia bangun. Dan apa yang ada di balik tembok ini lah yang jadi alasan gw berada di barisan penggemar Will Herondale, barengan sama Tatiana!

Ternyata Will yang di luarnya keliatan cuek, kuat dan berani, dalemnya sangat peduli sama orang lain, sensitif bahkan dia takut hidup sendirian. And when he falls, he falls hard. In love, that is.


No one can live with nothing
(Will, Clockwork Prince)

Karena kutukannya, dibalik dinding yang dia bangun, Will terpaksa hidup kesepian, bahkan ninggalin keluarganya di Wales. Dan setiap hari selama lima tahun di Institut London, dia berusaha keras bikin orang-orang sekitarnya -kecuali Jem- benci sama dia. Tapi segitu kuatnya dia, sampe bisa ngejalanin kutukannya. And that’s how a Will Herondale caught my heart.

This is a fresh wound everyday.
(Will, Clockwork Prince)

Kalo mo tau seperti seorang Will yang peduli sama orang lain, bisa diliat dari perlakuan dia terhadap Jem.


James, you are all the family I have. I would die for you. You know that. I would die without you.
(Will, Clockwork Prince)

Dan saat dia jatuh cinta sama Tessa, dia rela ngelakuin apa aja. Termasuk diantaranya bikin Tessa jadi benci sama dia. Bahkan nekad minta dikirim ke demon world demi mengakhiri kutukannya. Ah.. gemana ga trenyuh? Sometimes I think it's not fair that I am not Tessa.


I had to make you hate me Tessa. So I tried. And then I wanted to die. I had thought I could bear it if you hated me, but I couldn’t
(Will, Clockwork Prince)

Kalo udah kenal jauh sama Will, sepertinya deskripsi Magnus Bane lebih cocok untuk menggambarkan Will.

Like a lovely vase that someone has smashed. Only luck and skill can put it back together the way it was before
(Magnus, Clockwork Prince)

Satu tambahan lagi yang jadi poin plus Will di mata gw yaitu, Will hobi baca dan pinter mengutip puisi. Kondisi apa aja, ada aja literatur atau puisi yang dia kutip, yang sesuai sama situasi saat itu. Ya walopun dia pake rune memori sih. Jadi ga usah ngimpi bisa ngutip literatur sefasih dia ya.


"Will, you pay so little attention at lessons, can you tell  a binding spell from a soufflĂ© recipe?" 

Will leaned back in his chair and said dreamily, "I am but mad north-north-west; when the wind is southerly I know a hawk from a handsaw."

(Clockwork Prince)

Dan siapa sih yang ga tau pernyataan cinta Will yang maha-pasaran, yang udah dipajang di semua fan art The Infernal Devices?


“You and I, Tess, we’re alike. We live and breathe words. It was books that kept me from taking my own life after I thought I could never love anyone, never be loved by anyone again. It was books that made me feel that perhaps I was not completely alone. They could be honest with me and I with them.

... I dreamed what you dreamed, wanted what you wanted — and then I realized that truly I just wanted you. The girl behind the scrawled letters. I loved you from the moment I read them. I love you still.”

(Will, Clockwork Prince)

Apa yang gw tangkep dari kutipan diatas? 1.) Will pinter merangkai kata-kata 2.) Segitu cintanya sama buku, bahkan saat menyatakan perasaannya, Will mengacu pada kecintaannya pada buku 3.) Dibalik semua ungkapan-ungkapan sarkastiknya, Will sebenernya sensitif sampai cuma baca surat-suratnya Tessa aja bisa memprovokasi perasaan dia. *dramatic sigh*

So that's a William Herondale. Someone tough and snarky on the outside, yet vulnerable on the inside. Cassandra Clare has created one heck of a character there!


Picture is taken from TMISoure

Wednesday, July 18, 2012

City of Ashes


City of Ashes adalah buku kedua dari serial The Mortal Instruments. Kalo udah bahas City of Ashes, pasti udah selesai baca City of Bones ya? Jadi disini pasti ada spoiler-spoilernya City of Bones.
Setelah di City of Bones kita tahu bahwa Jace ternyata adalah anak dari Valentine, Jace dituduh sebagai mata-mata Valentine sampai diusir dari Institut oleh Maryse Lightwood, yang adalah ibu angkatnya sendiri. Kemudian Jace berhadapan dengan Inquisitor Herondale, yang kayaknya niat banget nyusahin Jace. Jace juga bergumul dengan perasaannya terhadap Valentine, seorang ayah yang dikasihi dan dikaguminya. Tapi saat ini, dia menghadapi seorang Valentine dengan pemikiran-pemikiran fanatiknya untuk menguasai dunia, dan meminta Jace untuk bergabung di pihaknya. Sekan hidupnya belom cukup ribet, masih ada urusan dengan Clary. Jace dan Clary harus berusaha menahan perasaan mereka sejak Valentine memberi tahu bahwa Jace dan Clary ternyata kakak beradik.
Simon, setelah sempat menggigit vampir di hotel Dumort (City of Bones), berusaha menekan rasa ga nyaman karena terus-terusan teringat pada kejadian itu. Selain itu, dia berusaha memperjuangkan perasaannya terhadap Clary dan berusaha mencegah Clary untuk terlibat lebih jauh dalam dunia Shadowhunter. Sementara Clary, sejak tahu dirinya adalah Shadowhunter, merasa dunianya berubah total. Bahaya-bahaya yang terjadi di sekitar hidupnya memaksa Clary untuk memperlengkapi dirinya dengan Shadowhunter Marks. Bahkan Luke memberinya stele, yang dulunya adalah milik Jocelyn, ibunya. Dan walaupun ingatannya belum kembali sepenuhnya, pelan-pelan Clary mulai menemukan keahlian yang tidak terduga dalam dirinya.
Selain itu, tentunya perlawanan Shadowhunter terhadap Valentine masih terus berlanjut. Para Shadowhunter harus menghadapi kasus dimana beberapa kali terjadi penyerangan terhadap Downworlders di bawah umur. Bahkan serangan ke Silent City.
Kalau dibandingin dengan buku sebelumnya, yang seru karena banyak action dan kejutan -terutama karena Clary dan Simon baru kenalan dengan Shadowhunters dan Downworlders,- menurut gw auranya City of Ashes ini agak gelap. Mulai dari masalah-masalah yang dialami tokoh-tokohnya. Masalah yang dialamin Jace di buku ini kompleks banget. Gw yang baca pun bisa ngerasain betapa stress-nya Jace, karena dia jadi lebih menyebalkan dari biasanya. Dan sepanjang cerita gw kangen komentar-komentar sarkastik khas Jace. Karena masalah Jace ini dimulai dari awal buku dan berlangsung terus-terusan sampai mendekati akhir buku, jadi kebawa lah gw ikutan gloomy baca buku ini. Sementara buat penggemar Simon, siap-siap bersedih hati baca cerita Simon disini. Oke, mungkin konfliknya Simon ga sebanyak Jace, tapi bukan berarti lebih ringan. Sementara kisahnya Clary ga banyak makan porsi cerita, kecuali menjelang akhir.

Walopun dari ide cerita, Cassandra Clare, seperti biasa, ga mengecewakan, tapi gw ga suka efek yang ditimbulkan selama dan setelah gw baca buku ini. Yang gw rasain selama baca City of Ashes adalah, kebawa perasaan tokoh-tokoh di dalam cerita, gw ga dikasih kesempatan untuk ngerasa seneng. Dari awal sampe akhir, ceritanya terkesan gelap dan suram. Bener-bener bikin depresi. Bahkan sampe ke endingnya! Astagah! I think it's safe to say that City of Ashes is my least favorite book out of The Mortal Instruments trilogy. Buat gw, City of Ashes adalah sekedar jembatan yang harus gw lewatin untuk ngelengkapin petunjuk-petunjuk untuk lanjut ke petualangan di buku selanjutnya. So, if you are following The Mortal Instuments series, you've been warned!



Saturday, July 14, 2012

The Fault in Our Stars


Gw sebenernya ga yakin gw cukup mampu merangkum buku The Fault in Our Stars dan menceritakan buku ini sebagaimana John Green mau bukunya diceritakan. But, what the heck, if I were as good as John Green, I'd be a writer now. But I'm not. Gw cuma pengen berbagi tentang buku ini, simply because it's beautiful.

Hazel Grace adalah seorang gadis 16 tahun penderita kanker tiroid terminal yang sudah menyebar ke paru-paru. Sehari-hari Hazel harus menyeret-nyeret tangki oksigen dan menggunakan kanula untuk membantu pernapasannya karena paru-parunya yang tidak lagi bisa berfungsi sempurna. Karena kondisi kesehatannya, Hazel harus keluar dari sekolah. Bahkan ibunya memutuskan untuk berhenti bekerja supaya bisa mengawasi Hazel sepenuhnya. Hazel berusaha menjalani hidupnya senormal mungkin. Benci pada rasa kasihan yang ditujukan orang-orang karena penyakitnya. Dan menganalogikan dirinya sebagai granat. Siap meledak kapan saja, meninggalkan orang-orang terdekatnya dan membuat mereka sedih.

Hingga suatu hari, Augustus Waters masuk dalam kehidupan Hazel. Agustus Waters adalah penderita ostesarkoma yang setelah kaki kanannya diamputasi, dinyatakan bebas kanker selama satu setengah tahun terakhir. Berawal dari buku favorit Hazel, The Imperial Affliction, Hazel dan Augustus semakin dekat. Bahkan melakukan perjalanan untuk bertemu pengarang favorit Hazel, Peter Van Houten. Awalnya Hazel ragu-ragu terhadap hubungannya karena tidak mau menjadi "granat" bagi Augustus. Apalagi mantan pacar Augustus pun meninggal karena kanker. Tapi bersama Augustus justru Hazel belajar tentang kesempatan untuk mencintai.

Quick! Character crush? Definitely Augustus Waters!!!
Hazel menggambarkan Augustus Waters sebagai HOT. Oke lah, gambaran standar. Selain itu, pinter. Optimis. Jawaban khas Augustus kalo ditanya kabarnya adalah, "Oh, I'm grand. I'm on a rollercoaster that only goes up, my friend." dan high-spirited. Impian Augustus adalah melakukan sesuatu yang besar sehingga namanya selalu diingat. Dan ketakutan terbesarnya adalah suatu hari dia akan dilupakan, "I fear oblivion. I fear it like a proverbial blind man who's afraid of the dark."

Untuk ngimbangin karakter sedalem Augustus Waters, tentunya kita harus punya seorang Hazel Grace. Saat Augustus menyatakan ketakutannya, Hazel menjawab apa adanya: "There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you." Hazel adalah karakter yang pantang menyerah dan berani. Dia menjalani hidupnya dengan praktis dan logis. Kalau kata Augustus, "She walks lightly upon the earth." Secara fisik, Augustus mendeskripsikan Hazel seperti Natalie Portman di V For Vendetta.

Peter Van Houten adalah pengarang The Imperial Affliction, buku favorit Hazel. Menurut gw, karakter Van Houten diikutsertakan untuk menambah pelajaran-pelajaran hidup dalam buku ini. Hazel sangat mengagumi Van Houten dan mendeskripsikannya sebagai "My third best friend was an author who did not know I existed." Walaupun ternyata saat ketemu, Van Houten ga seperti yang dia harapkan. Sekedar peringatan, dialog Van Houten ini cukup bikin gw pusing. Bukan cuma mesti bolak-balik buka kamus untuk mengartikan kata-katanya satu persatu, abis itu gw masih harus mikir untuk mengartikan keseluruhan kalimatnya. Tapi kata-kata Van Houten banyak dikutip oleh Hazel dan Augustus. Salah satunya yang dikutip Hazel adalah, "Some infinities are bigger than other infinities." (Btw, Hazel dan Augustus juga banyak ga nangkep maksud kata-kata Van Houten. Jadi lumayan lah, gw ga ngerasa bego-bego banget.)

Kalau mau menggambarkan buku ini dalam satu kata, mungkin kata yang gw pilih adalah "heartwarming". Karakter Hazel dan Augustus bikin gw kagum. Don't worry, I am not gonna pull the "this book has changed my life and my perspective" kind of crap, tapi membaca cerita orang-orang yang kuat menghadapi hidup itu jadi hiburan tersendiri buat gw. Walopun pada kenyataannya gw yang baca mungkin ga sekuat mereka. Hazel dan Augustus menerima kenyataan bahwa mereka hidup dengan kanker. Mereka bercanda tentang penyakit mereka, sementara gw yang baca malah merasa bersalah tiap mo ketawa. Tapi Hazel dan Augustus menolak menerima bahwa mereka dikalahkan oleh kanker. Makanya mereka benci dengan anggapan klise orang-orang bahwa penderita kanker adalah orang-orang yang berani dan kuat berperang menjalani penyakit mereka bla bla bla. Kalo kata Augustus, "Don't tell me you're one of those people who becomes their disease. I know so many people like that. It's disheartening."

Intinya sih, The Fault in Our Stars bercerita tentang kehidupan remaja yang menderita kanker, apa adanya. Gemana mereka menjalani hubungan satu sama lain. Juga  hubungan mereka dengan orang-orang terdekat yang ga sakit, tapi hidupnya berubah karena mereka. Cara berceritanya John Green enak untuk diikutin. Encouraging tapi ga terkesan menggurui. Agak ngingetin gw sama Tuesdays With Morrie (karangan Mitch Albom) tapi karena ini genre-nya buat Young Adults, cara berceritanya lebih santai. Berkali-kali gw ketawa-nangis-ketawa-nangis baca buku ini. Bagus banget!

Favorite quote? Argh! Ga bisa pilih. Terlalu banyak kata-kata indah di dalam buku ini. Tapi gw pilih satu yang berkesan buat gw dan semoga bikin penasaran.
 

Trust me, that's not just random nonsense though it might look like one. Read the book and you'll find out what makes the quote beautiful.

By the way, judul buku ini diambil dari Julius Caesar, karya Shakespeare. Yang aslinya berbunyi, "The fault, dear Brutus, is not in our stars. But in ourselves, that we are underlings." Tapi Peter Van Houten ternyata punya pendapat yang berbeda, hence the title of this book.

The Fault in Our Stars berkesan banget buat gw. Jadi penasaran pengen baca buku-buku John Green yang lain.

Friday, July 13, 2012

Hush, Hush


Seiring dengan tren cerita fantasi berseri, gw memutuskan untuk menambahkan Hush, Hush kedalam koleksi gw. Alasannya cukup superfisial: Patch Cipriano, tokoh utama pria di buku ini, terdaftar dalam lima besar nominasi YA Crush Tourney. Bahkan posisinya sempat naik diatas James Carstairs (The Infernal Devices). Ya ya ya.. Superfisial, gw tau. Seakan memang jodoh, bukunya ternyata didiskon di Periplus jadi seharga lima puluh ribu rupiah saja.

Hush, Hush adalah buku pertama dari Hush, Hush Saga yang terdiri dari 4 buku, karangan Becca Fitzpatrick.

Pertemuan Nora dengan Patch berawal di kelas Biologi sebagai partner praktikum. Tugas mereka adalah saling mengenal satu sama lain untuk kemudian dibuat laporan. Mau tidak mau, Nora berusaha mengenal Patch yang masa lalunya misterius dan pintar bermain kata-kata untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Nora. Lebih menyebalkan lagi, entah bagaimana, Patch justru tahu banyak tentang Nora bahkan melebihi teman dekatnya sendiri.
Sejak berpartner dengan Patch, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi dalam hidup Nora. Berkali-kali Nora merasa diikuti orang asing. Bahkan sosok misterius bertopeng ski berkali-kali muncul dan berusaha mencelakainya. Lebih aneh lagi, kemanapun Nora pergi, dia selalu bertemu Patch. Dengan daya tarik Patch, Nora bimbang antara rasa tertarik dan rasa takutnya terhadap Patch. 
Perlahan-lahan, Nora mulai mengenal Patch. Masa lalu Patch. Siapa Patch sebenarnya. Bahkan siapa Nora sebenarnya. Dan pada akhirnya Nora harus memilih, siapakah yang bisa dia percaya?

Karena gw sangat suka menulis kesimpulan gw di awal review, jadi gw bilang aja dari sekarang kalo menurut gw buku ini membosankan. Okei. Let's start.

Pertama-tama, dari alur ceritanya yang menurut gw sangat lambat dan terasa diseret-seret. Sepertinya Fitzpatrick berusaha keras membangun chemistry antara Patch dan Nora, sampai-sampai setengah buku pertama cuma diisi pertemuan Patch dan Nora. Intinya cuma: kemana pun Nora pergi, termasuk ke dalam toilet perempuan yang dikunci, ada Patch! Disertai dengan dialog tarik ulur antara Patch dan Nora. Karena gw ga tau genre buku ini, sepanjang awal sampai setengah buku gw kira buku ini masuk dalam kategori buku romantis. Kejadian-kejadian aneh sedikit sekali terjadi, tapi ga segitu hebohnya mempengaruhi jalan cerita. Pokoknya, intinya, cuma tentang Patch dan Nora dan pendapat Nora tentang Patch, that at one point I was like, "Okay, I get it. Give me something else to be excited about!"

Kejadian-kejadian misterius baru mulai di-follow up di pertengahan buku, yang sebelumnya gw udah mati-matian menahan ngantuk. Bahkan sampai disini pun, gregetnya cuma sebatas curiga-curigaan aja, tentang siapa yang jahat dan siapa yang bisa dipercaya. Tapi ga ada petunjuk-petunjuk seru yang menyita perhatian untuk kemudian pembacanya bisa merangkai petunjuk-petunjuk tersebut dan menebak-nebak jalan ceritanya. Sebaliknya, semua misteri baru dibeberkan sekaligus di sepertiga akhir buku dan karena tidak ada jejak-jejak untuk diingat diawal-awal cerita, ya otomatis ceritanya terlupakan begitu aja. Plot-nya fokus disitu-situ aja, ga ada subplot seru yang bisa mengalihkan perhatian pembaca dari investigasi Nora terhadap Patch yang ga maju-maju sepanjang cerita. Bosan. Bahkan tokoh-tokoh lain yang pada akhirnya mempengaruhi jalan cerita ga banyak dikasih porsi di awal, jadi ga meninggalkan kesan.

Tokoh Patch sebenernya punya potensi untuk jadi character-crush. Secara dia digambarkan sebagai misterius, sexy, ganteng, percaya diri dan eloquent (ga bisa menemukan istilah bahasa Indonesia yang tepat. help!). Tapi karena ceritanya diceritakan dari sudut pandang Nora dan mungkin Fitzpatrick berusaha menjaga agar karakter Patch tetap terkesan misterius, untuk mengenal Patch kita lebih banyak bergantung pada pendapat Nora tentang Patch, sementara dialog Patch sendiri pendek-pendek aja. "Dialog" ini pun kebanyakan cuma sekedar flirting-flirting ga jelas, yang sama sekali ga membangun karakter Patch. Buat gw ini malah bikin tokoh Patch jadi agak-agak detached, ga memorable. Tokoh Nora ga jadi favorit gw. Mungkin positifnya, Nora punya karakter yang perhatian sama orang-orang terdekatnya. Tapi keseluruhan, Nora terlalu lemah dan ga taktis.

Akhirnya, mungkin ide cerita Hush, Hush lumayan berpotensi untuk dibikin jadi cerita yang seru. Sayangnya cara penulisannya membuat gw bosan. Selain itu, begitu ceritanya selesai, ceritanya bener-bener selesai. Ga ada jalan cerita yang perlu di-follow up. Did you realize where am I going with this? Yes, gw ga ngerti kenapa mesti ada tiga buku selanjutnya (Dan sayangnya gw udah beli buku kedua, Crescendo, dengan alasan yang sama dengan Hush, Hush. Diskon.)

Thursday, June 28, 2012

City of Bones


Akhirnya baca juga seri The Mortal Instruments. Akhirnya kenalan juga sama Jace dan Clary. Jadi itulah alasan kenapa gw menghilang dari blog ini. Gw sibuk ngebut baca TMI dan sekarang baru selesein City of Fallen Angels, yang adalah buku keempat. Sambil nungguin jatah beli buku bulan depan buat beli City of Lost Souls, gw mo nulis tentang City of Bones dulu. 

City of Bones adalah buku pertama dari seri The Mortal Instruments karangan Cassandra Clare. Asli, buku ini (dan seri The Mortal Instruments, secara keseluruhan) bener-bener bikin gw ketagihan. Menurut gw review tentang apapun, kalo isinya cuma kata sifat yang bagus-bagus, adalah review kosong. Tapi sekarang gw baru ngerasain, gw segitu terpesonanya sama satu buku, sampe yang gw punya cuma, ya itu tadi, kata sifat yang bagus-bagus buat menggambarkan buku ini. Gw berkali-kali berniat nulis review tentang City of Bones karena pengen banget berbagi cerita tentang betapa kerennya buku ini. Tapi berkali-kali batal nulis, saking ga tau mo nulis apa, selain: "Buku ini keren banget."

Gw ga mau nulis sinopsis buku ini secara detail, biar tetep penasaran sebelom baca. Tapi kurang lebih sih begini:
"Clary, gadis mundane, ga sengaja ketemu sama rombongan Shadowhunters yang lagi demon-hunting, terdiri dari Jace, Alec dan Isabelle.  Para Shadowhunters saat itu sedang pake glamour, yang mana harusnya Clary ga bisa liat mereka. Tapi kenyataannya, Clary bisa. Berawal dari situ, Clary mulai kenalan dengan dunia Shadowhunter, yang ternyata ada hubungannya dengan ibunya, temen ibunya yang bernama Luke dan bahkan almarhum ayahnya. Temen deket Clary yang selalu bareng dari kecil, Simon, pun ikut terbawa dalam petualangan Clary dan para Shadowhunters. Dan itu baru awal dari City of Bones"

Sebagai orang yang salah kaprah dan malah baca The Infernal Devices duluan, gw udah keburu fanatik sama dunianya Will, Jem dan Tessa. Jujur aja, walopun menikmati bukunya waktu pertama baca, gw tetep pede jaya kalo City of Bones ga bakal ngalahin kerennya Clockwork Prince. Nah gini deh kalo salah kaprah. Karena The Mortal Instruments adalah seri yang pertama terbit, di awal banyak dijelasin tentang kehidupan Shadowhunter dan penjelasannya lebih detail dari The Infernal Devices. Ya bosenlah eike. Kurang lebihnya kan udah tau dari seri The Infernal Devices.


Tapi tapi tapi... Lama-lama ceritanya jadi tambah menarik. Dikit-dikit bandingin sama seri The Infernal Devices. Kalo The Infernal Devices ceritanya lebih fokus ke para Shadowhunters, seri The Mortal Instruments ini lebih divergen, melibatkan segala mahluk. Semua Downworlders punya cerita disini. Ada Magnus Bane, High Warlock of Brooklyn, yang juga muncul di The Infernal Devices mengingat warlock hidup selamanya. Juga para vampires dan kumpulan werewolves. Seru banget!!! Gw selalu suka cerita dengan twisted ending. Tapi buku ini bukan twisted ending lagi namanya, tapi twisted stories. Ahaha.. Gak, bukan maksudnya ceritanya membingungkan. Maksud gw, saking jalan ceritanya ga bisa ditebak, semua tokoh yang muncul di cerita ini bikin gw bertanya-tanya: Siapa nih? Dia temen apa musuh? Apa nih sejarahnya? Ada aja yang bikin penasaran! Dan cara nulisnya Cassie Clare bisa banget bikin gw terbawa suasana sampe tegang sendiri. Seakan-akan waktu Jace dan Clary nyusup ke Hotel Dumort, gw juga ikutan. Ceritanya banyak sub-plot. Semuanya seru dan bikin penasaran, karena ada aja twist baru dan misteri baru di tiap halaman.

Kalo soal penulisan dan kosakata yang dipilih, untungnya cerita The Mortal Instruments ini ber-setting di kota New York pada abad 21. Jadi kalo baca bahasa Inggrisnya, setelah setengah mati pegang Clockwork Prince di tangan kanan dan kamus di tangan kiri, gw bisa agak santai baca City of Bones yang kosakatanya lebih akrab di telinga. Selain itu percakapan mereka pun lebih apa adanya dan slebor. Humornya pun pas.

He squinted at her. “Do you remember back at the hotel when you promised that if we lived, you’d get dressed up in a nurse’s outfit and give me a sponge bath?"
"Actually I think you misheard.” Clary said. “It was Simon who promised you the sponge bath."
Jace looked involuntarily over at Simon, who smiled at him widely. "As soon as I’m back on my feet, handsome."

Di City of Bones, dua tokoh utama yang jadi pasangan adalah Jace dan Clary. Coba deh google kata kunci Jace dan Clary, banyak banget fan art cantik-cantik lengkap dengan quotes dan semacemnya. Nah, ini nih salahnya gw. Belom mulai baca, udah euforia duluan sama Jace dan Clary. Akhirnya pas baca gw jadi terlalu semangat dan bacanya jadi ga sabaran. Hahaha.. Secara ini bukunya Cassie Clare, ga afdol rasanya kalo ga bikin pembacanya jadi harap-harap cemas. Ternyata segala antisipasi gw untuk suka sama pasangan Jace - Clary berujung blunder karena gw malah nge-fans berat sama Simon. Bahkan sampe buku kedua, gw masih head over heels sama Simon.


Jujur aja, gw ga nangkep chemistry di awal-awal ketemunya Clary dan Jace. Ga nangkep kapan Jace mulai suka sama Clary, dan sebaliknya. Emang sih, Jace selalu nawarin untuk nemenin Clary dalam misi-misi berbahaya. Tapi untuk seorang Shadowhunter yang hobi cari mati macem Jace, kesannya itu semua untuk kesenengan dia sendiri. Terutama di awal cerita, obrolan Jace ke Clary selalu berhubungan dengan urusan Shadowhunters, selain itu dicuekin. Sedangkan Simon? *dramatic sigh* Dari awal buku udah keliatan banget manisnya Simon sama Clary. Kalo bisa, rasanya gw pengen goncang-goncang Clary sambil ngomong, "Clary, buka mata!"


Nah diatas tuh quote-nya Simon yang jadi favorit gw. Baca sendiri bukunya biar tau apa adegannya. Gw sendiri sampe sedih pas baca.

Mungkin pendapat gw kalo City of Bones ga bakal ngalahin Clockwork Angel atau Clockwork Prince akhirnya terbukti salah besar. Tapi setelah selesai baca buku pertama, setidaknya satu pendapat gw yang ga berubah.


Daripada gw ngoceh lebih panjang lagi dan mulai spoiler ga penting (gw mati-matian menahan diri loh ini), mendingan gw kembali menyatakan kesimpulan yang udah gw tulis di awal: "Buku ini keren banget!" Biar lebih meyakinkan, gemana kalo gw bilang, gw mulai baca buku ini tanggal 11 Juni dan selesai tanggal 12 Juni? Iyes, gw selesein buku ini dalam semalem aja saking ga rela berenti baca. Setelah selesai, tutup bukunya, tarik napas sambil bengong, terus nge-tweet:

Saturday, June 9, 2012

Sunshine Becomes You


Sunshine Becomes You adalah novel kelima karya Ilana Tan. Gw sendiri belum pernah baca buku-buku Ilana Tan walaupun berkali-kali liat Tetralogi 4 Musim dipajang di toko buku. Setelah sekian lama melewatkan novel-novel Metropop, iseng-iseng gw menambahkan novel ini ke dalam daftar belanjaan gw. Cap "National Bestseller" di sampul bukunya itu lumayan menggoda. Lagian, akhir-akhir ini gw udah terlalu banyak membaca buku-buku ber-genre fantasi, sepertinya gw butuh selingan. Dari judulnya yang mellow dan bahkan dari gambar sampulnya, bisa ditebak lah kalau novel ini genre-nya romantis.
"Dengan kota New York sebagai setting, dua tokoh utama dalam cerita ini adalah Alex Hirano yang adalah seorang pianis terkenal dan Mia Clark yang adalah seorang penari. Mereka bertemu di studio tari kecil tempat Mia dan Ray, adik Alex, mengajar tari. Pertemuan pertama berkesan buruk karena diawali dengan Mia yang jatuh dari tangga dan menimpa Alex sehingga pergelangan tangannya cedera. Sebagai pianis, pergelangan tangan yang tidak berfungsi tentunya berpengaruh sangat buruk. Semua konsernya hingga akhir tahun terpaksa dibatalkan. Tapi bukan cuma masalah konsernya, untuk kehidupan sehari-hari pun gerakan Alex terbatas. Merasa tidak enak terhadap dampak yang dihasilkannya, walaupun ketakutan melihat sikap Alex yang dingin dan ketus, Mia menawarkan untuk membantu Alex menjadi pengurus rumahnya selama tangannya dalam perawatan.
Alex awalnya cuma menganggap Mia sebagai malaikat maut yang berusaha menebus kesalahannya dengan membantunya dan Mia hanya berusaha membantu Alex hanya didorong oleh rasa bersalah dan kewajiban untuk bertanggungjawab. Tapi seiring berjalannya waktu, sering menghabiskan waktu berdua dan saling mengenal satu sama lain, akhirnya mereka saling tertarik.
Setelah hubungan mereka makin dekat, Alex harus mengatur perasaannya karena Ray, adiknya, juga menyukai Mia. Selain itu, Mia ternyata menyembunyikan kenyaataan bahwa dia menderita sakit yang mempengaruhi karir tarinya." 

Gw sendiri suka sama dua tokoh utamanya. Alex yang dingin dan ga banyak ngomong, tapi perhatian. Dan Mia yang ceria, tegar dan baik hati. Dua tokoh ini memang sering berdebat, berantem dan gondok-gondokan tapi masih dalam batas normal, bahkan malah berkesan manis.

Satu hal yang langsung gw perhatiin dari awal baca buku adalah bahasa dan dialognya yang terasa seperti buku terjemahan. Walaupun gw ngerti setting ceritanya adalah di New York dan tokoh-tokohnya di dalamnya dimaksudkan berdialog dalam bahasa Inggris, tapi tetep aja terasa aneh buat gw mengingat ini adalah novel Indonesia. Beberapa frase bahkan bener-bener terjemahan kata per kata dari bahasa Inggris. Sepanjang cerita, gw lewatin aja. Sampai Alex ngomong, "Wow.. tahan pikiran itu (hold that thought)" gw ga tahan untuk ga ketawa. Di kepala gw, mau ga mau gw ngebayangin tokoh-tokoh ini ngomong dengan intonasi dubber di film-film seri impor. 

Satu lagi yang mau ga mau gw perhatiin, sepertinya semua klise dalam cerita romantis dimasukin disini. Dari dua orang yang saling ga suka lama-lama jadi suka, cemburu-cemburuan padahal saling ga mengakui perasaan satu sama lain, cinta segitiga sampe sakit berat ada semua disini. Agak gengges tiap kali Alex berusaha mengingkari perasaannya sendiri dalam pikirannya. Berapa kali dia mikir, "Tunggu tunggu.. Masa gw gini (*masukan gesture perasaan sayang*) sih? Ah gak lah, pasti karena ini (*masukan alasan denial*)." Yah, kalo tokohnya remaja labil macam Tita di Eiffel... I'm in Love masih cocok lah yah. Tapi untuk cowok cool macem Alex koq rasanya ga pas aja sama karakternya.

Selanjutnya ceritanya mengalir manis. Ilana Tan ngasih waktu yang cukup untuk membangun chemistry antara dua tokohnya, bikin pembaca jadi suka sama Mia dan Alex. Pelan-pelan kita bisa ngerasain perubahan perasaan Mia dan Alex. Dan para pembaca perempuan (yang pastinya mayoritas) pasti menempatkan posisi sebagai Mia, dibikin klepek-klepek (matilah bahasa gw!) sama Alex. Favorit gw adalah saat Alex menyatakan perasaannya secara ga langsung pada Mia.

Seperti yang gw bilang, skenarionya tipikal cerita romantis lah. Tapi selama digunakan dan diolah dengan benar, tetep aja bisa menarik hati pembaca. Dan sebagai seorang penggemar cerita romantis, dari awal sampe pertengahan gw bener-bener terbawa sama ceritanya karena pengarangnya piawai menciptakan adegan-adegan manis antara Mia dan Alex. Beruntunglah gw baca buku ini di rumah karena beberapa kali gw senyum-senyum sendiri.


Sayangnya, semua resep tipikal yang awalnya diolah dengan bagus, jadi terlalu berlebihan. Rasanya pengarangnya berusaha terlalu keras memancing emosi sedih pembacanya.

Buat gw, nambahin penyakit ke dalam sebuah cerita itu tricky ya, karena pengarangnya setidaknya harus tahu tentang penyakit. At least, kasih diagnosis lah. Penyakit apakah ini yang diderita Mia? Tapi dari awal sampai akhir buku ini ga ada satupun keterangan tentang penyakitnya. Gali lah penyakitnya lebih dalam supaya pembaca ngerasa 'ngeh' dan ngerasa berapa parah penyakit itu. Sebaliknya, pengarangnya bikin jalan keluar mudah dengan menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit keturunan yang tidak bisa didiagnosa karena Mia adalah anak adopsi yang keberadaan orang tua kandungnya tidak diketahui. Seakan-akan penyakit ini sekedar bumbu yang ditambahin supaya tokoh wanitanya punya alasan untuk pingsan sesering mungkin dan pembaca bisa liat betapa cemas, perhatian dan cintanya tokoh laki-laki terhadap tokoh perempuan. Too easy. Semua sinetron Indonesia menggunakan resep yang sama.

Selanjutnya, kalau belom baca bukunya silakan skip paragraf berikut karena mengandung spoiler.
.
.
.
Dan gw ga suka endingnya karena terlalu menyedihkan. Bukan karena Mia akhirnya mati. Definisi sad ending, menurut gw, ga sesimpel: "tokoh utamanya mati". Banyak cerita yang tokoh utamanya mati tapi tetep berkesan buat gw. Yang saat ini langsung kepikir di kepala gw, Ps. I Love You dan A Walk To Remember.  Memang sedih waktu nonton. Tapi secara garis besar, ceritanya indah.

Saat kondisi Mia makin buruk, otomatis pembaca menempatkan diri sebagai Alex yang jatuh cinta sepenuh hati sama Mia, harap-harap cemas dengan kondisinya. Sayangnya sampai akhir hayat Mia, Alex ga tau kalau Mia ternyata cinta sama dia. Dan ga sempet ngerasain momennya dimana mereka berdua udah nyatain perasaan mereka. Itu lah sad ending buat gw. Kalopun dua bulan kemudian Alex nerima camcorder yang berisi pernyataan cinta Mia, terus dia bisa apa? Udah bagus dalam dua bulan itu dia ga keburu jadi gila karena stress (Now that's a depressing ending).
.
.
.
 End of spoiler

Buku ini banyak penggemarnya, apalagi melihat cap National Bestseller di sampulnya. Gw sih ga heran karena Ilana Tan mengambil semua skenario klise yang jadi jaminan sukses cerita romantis. Sayangnya, terlalu berlebihan. Menurut gw, endingnya ditambahkan hanya untuk melengkapi segala skenario generik yang sudah ada dari awal, supaya pembacanya terharu. Reaksi gw? Sambil baca, keceplosan ngomong, "Halah! Males banget.." Untuk sebuah novel romantis, buku ini berawal dengan ramuan yang standar dan berakhir dengan basi. Beneran, waktu mulai baca gw sama sekali ga nyangka bakal bilang buku ini not recommended. Tapi sekarang kenyataannya ya begitu.

Wednesday, June 6, 2012

Heaven, Texas



Heaven, Texas falls in romantic genre. Romantic comedy, I’d say. I am a huge fan of romantic comedy myself, but I know better than to expect more in those stories. To me, romantic comedy stories will always fall in mediocre level thus make it prone to fall into below average. I rarely find new recipe. It’s usually a guy, a girl, some conflicts and in the end they end up together. ClichĂ© yet addictive. Because just admit it, everybody wants their life to be like some kind of romantic comedy stories. So if someone says that a romantic comedy story is predictable, I say, what do you expect? Don’t overthink it, it’s just for fun. It’s like eating candy. It’s sweet but obviously it won’t satisfy your hunger. Still, who doesn’t like candy?

The story involves Gracie Snow and Bobby Tom Denton. Of course they’ll end up together. But sometimes it’s not about the end. It’s about the journey, right?
“Bobby Tom Denton is a football player forced to retired early because of a knee injury. Being completely lost, grumpy Bobby Tom decided to sign a contract to do a movie only to find out afterwards that he reluctant to do it. He started to act up to prolong the making of the movie. That’s when the movie company sends Gracie Snow to be his chaperone. Bobby Tom detested her at first of course, insisting he doesn’t need a chaperone, only to find out how interesting Gracie has become to him and made peace with her.

Doing a movie in his own birthplace, Telarosa, formerly known as Heaven, he was attacked by a barrage of girls, wanting to be future Mrs. Booby Tom Denton. So to keep him from trouble, he asked Gracie to cooperate with him and tell people of Telarosa that they are engaged. So what started as fake-engagement apparently made impact on Bobby Tom’s feeling.

In the end he realized that, despite their constant fights, Bobby Tom wants to be around Gracie all the time.”
Oh my God. Even I managed to make the synopsis sounds tacky. Anyway, when it comes to romantic stories, I think characters and chemistry play huge roles. I mean, we already now the ending. So better make the journey worth it. It’s important that readers must desperately want the two main characters to be together. They must fit.

Gracie Snow is a prim and proper girl who turns neurotic when it comes to her job. She's a type a girl who likes to take care of everything. Not really an original idea. But everybody loves neurotic Sunday School teacher (Katherine Heigl, everyone? She might be in 27 Dresses and The Ugly Truth, but let’s be real, Jane and Abby really are just a same character). Here’s what Bobby Tom said to Gracie when she insisted to drag Bobby Tom to his work place, “Just out of curiosity, sweetheart; did you ever talk to your doctor about givin' you some tranquilizers?”

Bobby Tom, however, in his own words, "I happen to be immature, undisciplined, and self-centered, pretty much a little boy in a man's body, although I'd appreciate it if you didn't quote me on that." He knows his way around women, knows how treat them and says what the ladies want to hear. And of course, never settle with one girl.

The setting is in Telarosa, Texas. A small city on the brink of bankruptcy. The city tries to survive by expanding their tourism sector, using Bobby Tom’s popularity. Bobby Tom of course reluctant to do it, while angelic Gracie tries to help everybody. The interactions between the two main character starts cute and interesting. How Gracie is a bit scared of bit Bobby Tom yet she forced herself to be brave is so adorable. She threw herself into Bobby Tom’s Thunderbird when he tried to leave her. And when Bobby Tom’s purposely teased her and made her buy him condoms, she fought back by inviting fangirls into his trailer. Bobby Tom’s careless attitude and the way he teases Gracie results in comical dialogues.

It was enjoyable but somehow Susan Elizabeth Phillips, the author, decided to take it too far. Gracie falls too hard and too easily for Bobby Tom that at one point it’s just borderline pathetic. Bobby Tom is very consistent in his role as a ladies man who wants to settle with noone, he makes fun of Gracie even though he’s sure Gracie is in love with him. And that’s how you turn a man into a jerk. You know when you read a book, you have this access to read the character’s mind so you know what the character actually think when he’s doing something? Even when we’re in Bobby Tom’s mind, we know he annoys Gracie just to annoy her. Not because he secretly likes her or whatever. It’s just mean, I had to push myself to read this part. The idea about a goody-two-shoes girl desperately chases after a jerk is just not entertaining. Now tell me if this conversation below is not disgusting.
He tilted the brim of his Stetson back with his thumb. “The thing of it is, for me to make certain this is going to be a good experience for you, I’d have to pretty much take control of your body right from the beginning. I’d have to own it, so to speak.”
She sounded vaguely hoarse. “You’d have to own my body?”
“Uh-huh.”
“Own it?”
“Yep. Your body’d belong to me instead of to you. It’d be just like I took a big ole Magic Marker and put my initials on every little part of you.”
Somewhat to his surprise, she seemed more stunned than insulted. “It sounds like slavery.”
Of course things slowly turned near the end. And the humorous dialogues helped a lot. But it was still annoying. Thankfully there is a secondary romance plot between Suzy Denton, Bobby Tom’s mother, and Way Sawyer, Telarosa’s public enemy. The story of course doesn’t get a lot of portion. But I love the background story about Suzy who has been a widow for four years, trying to fight her feelings when she realized she might be betraying her late husband and falls for a guy who used to be a high school brat. The story is beautiful and graceful. 

The last scene where the guy tries to woo the girl, which to me is a defining moment in every romantic stories, is just fine. It's too public and involves too many people meddling so I don't really like it. But that's personal preference. In general, it's still cute and so Bobby Tom (you'll know what I mean when you read the book). The author wrote an epilogue for this book but ended up cutting it. However, the epilogue was published on her website.

The book that I purchased is published by GagasMedia. The translation is good and very much enjoyable. But they really need to work on the typos. It's everywhere. I even found an English word, untranslated. I also love the casual cover. Just because it's a love story it doesn't mean the cover have to be tacky, right? I won't look twice at the book if it came with Harlequin-type of cover. By the way, the love scene in this book is pretty graphic. Call me old-fashioned but I think this book should come with such information to prevent underage kids from reading it. Unfortunately I see no information whatsoever on the cover.

As a romantic book, I think this book is okay. I don't mind spending my time reading it since it's quite entertaining. But it's not memorable either. If you have a heart for romantic story, it won't hurt to add this to your collection.