Insurgent adalah buku kedua dari trilogi Divergent oleh Veronica Roth.
Serangan dari Erudite dan pengkhianatan para petinggi Dauntless memaksa Tris dan Tobias serta para Abnegation dan Dauntless untuk mencari perlindungan pada faction lainnya, yakni Amity dan Candor. Yang kemudian justru membawa kedua faction tersebut dalam masalah karena mereka dianggap melawan Erudite. Maka konflik antar faction pun terjadi. Penyerangan terjadi, para Divergent menjadi mangsa utama dari Erudite.
Dalam perjalanannya mencari perlindungan, Tris dan Tobias bertemu dengan para factionless yang ternyata punya misi yang sama untuk melawan Erudite. Tobias, bersama para factionless, setuju untuk melawan Erudite dengan menghancurkan mereka. Sementara Tris percaya bahwa ada alasan dibalik serangan-serangan Erudite dan bertekad mencari jawabannya, walaupun harus mengkhianati Tobias.
Sebenernya
ga banyak yang gw protes dari buku ini. Tapi karena ini yang langsung gw inget,
jadi langsung gw tulis. I HATE CLIFFHANGER, dammit! Insurgent dimulai tepat di
adegan yang sama dimana Divergent berakhir. Bayangin rasanya harus nunggu
setahun sambil penasaran apa yang akan langsung terjadi. Hiks. Kalo menurut om
Rick Riordan, yang juga hobi mengakhiri buku-bukunya dengan cliffhanger,
teknisnya, akhir sebuah buku disebut cliffhanger kalo ada nyawa tokohnya yang
terancam. Blah blah blah.. Po-tay-to po-tah-to. Tentunya cliffhanger ini ga
bikin gw berhenti baca trilogi Divergent. Yang ada malah jadi tambah penasaran.
Tapi sekedar mengingatkan saja. Kalo suka gemes sama ending yang gantung, yang
siap-siap gemes aja baca Insurgent (dan Divergent).
Selain
protes gw di atas, gw rasa gw ga punya kritik berarti buat Insurgent. Seperti
yang udah sempet gw singgung di review gw tentang Divergent, gw sangat terkesan
sama Insurgent. Gw beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan buku kedua
(beberapa diantaranya adalah The Sea Monster, City of Ashes, Catching Fire).
Bahkan Becca Fitzpatrick, pengarang Hush Hush saga, mengakui kalau para
pengarang biasanya mengalami kesulitan menulis buku kedua. Tapi rupanya
Insurgent adalah salah satu pengecualian, setidaknya menurut gw.
Di
Insurgent, bukan cuma kelima factions yang terlibat dalam cerita. Kita bahkan
berkenalan dengan para factionless! Dan buat gw, ini adalah salah satu poin
yang menarik. Buat apa menciptakan sistem factions kalo tidak dilibatkan dalam
cerita? Walaupun dari awal gw ga terlalu bisa terima ide tentang pembagian
factions ini, tetep aja mengenal masing-masing factions dan cara mereka
menghadapi konflik yang terjadi jadi salah satu daya tarik Insurgent.
Kalau
mengharapkan banyak adegan romantis antara Tris dan Tobias di Insurgent,
siap-siap aja kecewa. Bukan cuma tidak banyak adegan romantis, Tris dan Tobias
pun banyak kali berantem. Tapi untuk mengobati kekecewaan gw, di buku ini gw bener-bener
terkagum-kagum sama Tris. Kalau di buku sebelumnya peran Divergent belum
terlalu jelas –despite the title– di
Insurgent mulai bermunculan tokoh-tokoh Divergent lainnya, dan mereka lebih
memegang peran dalam cerita. Terutama Tris. Sesuai hasil aptitude test-nya, dia
pemberani, tidak memikirkan dirinya sendiri dan pintar. Jadi bisa dibayangkan
seperti apa tokoh Tris yang taktis, apalagi karena harus berhadapan dengan
petinggi Erudite. Dan dia sendiri dengan beraninya menjalankan
rencana-rencananya yang lebih cocok disebut “Misi Cari Mati.” I’m all about
smart dan brave heroine jadi ga heran kalo gw jatuh cinta setengah mati sama
tokoh Tris. Bisa dibilang, Tobias sedikit terlupakan di cerita ini.
Dari segi cerita, menurut gw Insurgent WOKEH
banget. Divergent is not at all bad, tapi sebenernya ceritanya ringan banget.
Mostly cuma tentang masa-masa inisiasi Tris. Dimana kita kenalan sama Dauntless
dan tokoh Tris. Sementara Insurgent ceritanya lebih twisted. Bukan cuma bikin kita tertarik untuk mengikuti konflik
yang sedang terjadi, tapi bikin kita jadi penasaran dan berusaha nebak-nebak
apa yang jadi asal muasal konfliknya, dan siapa yang beneran kawan atau lawan.
Gw paling suka cerita yang ga ketebak kaya gini! Oh ya, sekedar peringatan, if
you're easily attached to characters in books, siap-siap aja sering patah hati.
Sama seperti buku sebelumnya, Veronica Roth ga kira-kira kalo ngebunuh tokoh
ceritanya. You’d think, "Oh, ini tokoh yang banyak berperan. She’ll stick until
the end." Umm.. think again.
Secara keseluruhan gw bener-bener impressed sama
Insurgent! Ga nyangka gw bisa segitu attached sama buku distopian, padahal gw
sendiri bukan penggemar distopian. Insurgent really sets the bar up high. Gw
harap buku ketiga dari trilogi ini sama kerennya, bahkan lebih!

No comments:
Post a Comment