Monday, May 28, 2012

Clockwork Prince



Clockwork Prince adalah buku kedua dari trilogi Infernal Devices karangan Cassandra Clare yang adalah prequel dari seri The Mortal Instruments. Berbeda dengan Clockwork Angel yang sarat kisah petualangan dengan sedikit cerita romantis, Clockwork Prince seperti menjawab keinginan pembaca untuk menggali lebih dalam cerita seputar kisah cinta Tessa, Jem dan Will dan latar belakang mereka, terutama Will. Gw pengen ngerangkum resume ceritanya juga bingung karena cerita yang menyambung tentang Pandemonium Club dan pencarian The Magister sedikit sekali, lebih banyak fokus ke karakter tokoh-tokohnya. However, in short:

“Dalam Clockwork Prince, posisi Charlotte sebagai kepala Institusi London, tempat para Shadowhunter tinggal, terancam digantikan karena dianggap tidak mampu menangani kasus Pandemonium Club, dimana The Magister berhasil kabur dan Institusi London bahkan sempat kemasukan mata-mata. Untuk mempertahankan kedudukannya, Charlotte dan para Shadowhunter diberi kesempatan selama dua minggu untuk melacak keberadaan The Magister. Dalam pencarian ini lah, banyak kisah pengkhianatan yang akhirnya terbongkar dan ketahuan siapa yang berpihak pada siapa.

Di buku ini lebih banyak cerita tentang latar belakang tokoh-tokohnya, termasuk sedikit tentang Charlotte dan suaminya, Henry. Bukan hanya cerita antara Tessa dan Will atau Tessa dan Jem, tapi juga Jem dan Will dan kisah mereka saat memutuskan untuk jadi parabatai

Dislikes
Biar klimaks, gw tulis dislikesnya dulu. Haha..
  • Kalau mau baca Clockwork Prince dengan harapan bukunya akan banyak cerita tentang petualangan dan adegan ‘berantem-beranteman’ macam Clockwork Angel, mungkin akan kecewa. Clockwork Prince kentel banget adegan-adegan romantisnya. Intrik - intriknya pun lebih banyak tentang pengkhianatan jadi ga ada deh adegan seru, labrak-labrakan antara Shadowhunters dan Underworlders. 
  • Cerita tentang cinta segitiga emang agak-agak tricky ya. Tiap baca adegan antara Jem dan Tessa, abis itu Will dan Tessa, gw jadi geregetan sendiri. It was like, "Come on, Tessa! Make up your mind. Pick one, and I'll take the other!" Disini Tessa terkesan kaya ga bisa nentuin pilihan, walopun ga bisa disalahin juga secara cowok yang bener-bener dia suka sikapnya ga jelas. Sementara yang dianggap temen ternyata nganggep dia lebih dari sekedar temen.
  • Di buku kedua ini cerita tentang Will lebih banyak diungkap. Terutama kisah tentang keluarganya, kenapa dia dateng ke Institute dan alasan kenapa dia bertingkah menyebalkan ke semua orang, kecuali Jem. Pas ceritanya keungkap, menurut gw kisahnya kurang seru bahkan cenderung antiklimaks.

Likes
Argh, who am I kidding?! Despite all the dislikes, I think it's pretty obvious that I am in love with this book. Walopun buku ini temanya beda dari buku pertama, buat gw intrik-intriknya tetep bikin penasaran. And the romantic scenes? Oh I just couldn't get enough. Settingnya pas, emosi yang dialamin oleh tokoh-tokohnya digambarkan detail dan dialognya juga indah. Bukannya gombal ga jelas yang bikin mo muntah. Cassandra Clare bisa banget bikin gw kebawa suasana. Karakter-karakter tokoh-tokohnya pun mendukung. Jem yang gentleman dan lemah lembut. Sedangkan Will yang kasar dan nyeleneh, trus tiba-tiba perhatian, abis itu cuek lagi. After all, if you wanna make a triangle love story, give two equally difficult options. That'll spice things up!

Cerita antara Will dan Jem pun digali lebih dalem. Berkali-kali Cassandra Clare menggunakan kata 'parabatai' atau 'brother', bukan 'best friend' setiap membahas Will dan Jem, menunjukan dekatnya hubungan mereka dan banyak nunjukin sisi lembutnya Will yang ga banyak ditunjukin saat dia berhadapan dengan orang lain.

Dialog-dialog antara tokoh-tokohnya juga terasa lebih santai dan banyak diselipin humor, terkesan kalo penghuninya udah lebih deket satu sama lain, terutama Tessa. Mungkin karena awal ceritanya ga segelap Clockwork Angel.



Verdict
Jadi intinya.. ah, sudahlah. Tulisan ini terlalu eksplisit. Selama gw baca, berkali-kali gw ngomongin buku ini di twitter dan timeline pun gw banjirin dengan quotes dari buku. At one point, gw rasa mungkin gw di-mute orang.



Ini baru quotes-nya. Belom pendapat-pendapat gw tentang bukunya. Bahkan pernah dalam satu hari, tweets gw tentang Clockwork Prince semua. I am obsessed with this book. Bahkan selesai baca bukunya pun gw masih baca-baca ulang bagian favorit gw. Haha.. Ga sabar nungguin Clockwork Princess!


Tuesday, May 22, 2012

Clockwork Angel


Clockwork Angel adalah buku pertama dari trilogi Infernal Devices, karangan Cassandra Clare.
"Bercerita tentang Tessa Gray, gadis yang ternyata bisa merubah diri jadi siapa saja. Tessa datang ke London atas undangan kakaknya, Nate. Alih-alih bertemu Nate, Tessa justru diculik dan disekap oleh kelompok yang menamakan dirinya Pandemonium Club. Hingga tanpa sengaja dia diselamatkan oleh Will Herondale, seorang Shadowhunter, yang sedang mengadakan penyelidikan tentang Pandemonium Club.  Shadowhunter yang disebut juga Nephilim adalah mahluk titisan malaikat yang bertugas menjaga perdamaian di bumi antara manusia (yang disebut mundane) dan mahluk Underwold, termasuk di dalamnya vampire, warlocks, werewolf dan mahluk aneh lainnya. Tessa akhirnya dibawa ke Institusi tempat Shadowhunter lainnya berada, termasuk diantaranya Jem Carstairs yang adalah teman Will dalam melaksanakan tugasnya sebagai Shadowhunter.

Petualangan dimulai saat Tessa dan para Shadowhunter berusaha memecahkan misteri mengenai Pandemonium Club dengan kepentingan mereka masing-masing. Para Shadowhunter melaksanakan tugas mereka untuk mencegah kejahatan yang disebabkan para penghuni Underworld sedangkan Tessa berusaha mencari kakaknya."

Tokoh sentral dari cerita ini tentunya Tessa, Will dan Jem. Walaupun dari jumlah tokoh sentralnya dan slogannya "Magic is dangerous - but love is more dangerous still" terkesan bukunya banyak bercerita tentang cinta segitiga yang super klise, untungnya kisah petualangan memakan lebih banyak porsi dalam cerita ini.

Gw suka betapa lovable dan kuat karakter semua tokoh utama di buku ini. Tessa adalah gadis yang berani, pintar dan banyak akal. Dia digambarkan sebagai gadis yang suka membaca novel dan sering mengutip frase-frase dari buku dan puisi favoritnya yang mengingatkan gw pada Belle dari Beauty and the Beast.

Will dan Jem adalah sepasang sahabat dengan sifat yang bagaikan langit dan bumi. Will adalah tipe pemberontak, cuek, to-the-point dan cenderung kasar. Yang membuat dia unik, sama seperti Tessa, Will ternyata juga penggemar puisi dan novel. Sikap cuek dan kasar Will sepertinya adalah caranya untuk menjaga jarak dari orang di sekitarnya dan menyimpan rahasia tentang masa lalunya. Jem sendiri adalah tipe gentleman. Sifatnya sopan, baik hati dan segala yang indah-indah. Kalau dibandingin sama komik Candy Candy, bisa dibilang kalo Will itu Therius sedangkan Jem itu Anthony. Haha..

Likes
Ceritanya seru banget! Setiap halaman bikin gw penasaran untuk terus baca. Bukan cuma kisah seputar petualangannya aja yang seru tapi juga latar belakang tokoh-tokohnya yang bikin penasaran. Dialog-dialognya pun disisipin humor di saat-saat yang ga diduga, terutama dialog Will dan Jem. Gw sampe kebawa suasana. Ikutan seneng, bengong (berapa kali ngomong "haahh? sumpah lo?!" depan buku), ngomel dan ketawa-ketawa sendiri pas baca bukunya.

Spoiler alert sesedikit mungkin, gw suka cerita dengan twisted ending. Dan Clockwork Angel menyajikan ending yang ga disangka-sangka, bikin bukunya jauh dari membosankan. Keren lah!

Walaupun ga mendominasi, cerita cinta di buku ini diceritain dengan porsi yang pas. Chemistry-nya dapet, tapi ga menye-menye.


Dislikes
  • Berhubung gw orangnya agak cemen kalo urusan darah-berdarah, menurut gw buku ini termasuk teralu graphic ya. Gw aja agak mual waktu baca bagian-bagian yang berhubungan dengan iris-mengiris, mengingat buku ini melibatkan vampir. Jadi yah, a little heads up aja.
  • Gak semua misteri dalam cerita selesai di buku ini. Cerita utamanya tentang Pandemonium Club sih tuntas. Tapi banyak kisah-kisah seputar tokoh utamanya yang tetep jadi misteri sampai bukunya selesai (yang berdasarkan sinopsisnya, sepertinya akan lebih dalam dibahas di buku kedua). Ya agak males aja sih. Untungnya gw baca buku ini  setelah buku keduanya terbit jadi ga perlu nunggu lama-lama.
  • Kalo poin ini sih agak-agak personal. Gw baca buku versi bahasa Inggrisnya dan menurut gw perbendaharaan katanya agak susah. Sedikit terkesan seperti British English, mengingat ceritanya pun berlatar belakang kota London. Padahal pengarangnya sendiri orang Amerika. Gw baca buku ini sambil diselipin buka kamus. Mungkin ga jadi masalah sih buat mereka yang perbendaharaan katanya luas. Gw sih berusaha menikmati aja karena pada akhirnya gw dapet banyak tambahan kata-kata baru.

Things I don't get
Judulnya. Clockwork Angel adalah kalung milik Tessa yang dulunya adalah kepunyaan ibunya. Sepanjang cerita, clockwork angel ini ga banyak berperan dan ga banyak diceritain. Gw ga ngerti kenapa dijadiin judul.

Things to note
Seri Infernal Devices adalah prequel dari Seri The Mortal Instruments. Sayangnya gw ga perhatiin, malah beli Clockwork Angel duluan. Gw ga bisa bilang gw rekomen The Mortal Instruments secara gw belom baca bukunya, tapi kalo bisa baca buku sesuai urutan, kenapa enggak?

Verdict
Suka banget! Highly recommended. Kalo suka kisah fantasi dan petualangan, silakan baca ini.

Saturday, May 5, 2012

Aku dan Buku

Pengalaman gw dengan buku dimulai sejak gw SD. Dengan bokap yang hidungnya hampir selalu tenggelam di antara halaman-halaman buku, ga heran kalo sekarang anak-anaknya pun punya hobi yang sama. Buku pertama gw pun adalah pemberian bokap gw. Buku pertama disini maksudnya buku yang gw bener-bener baca sendiri, bukannya dibacain bokap. Seperti anak-anak generasi 90an pada umumnya, buku pertama gw adalah karangan Enid Blyton, judulnya Petualangan di Gunung Bencana (yang sayangnya sekarang udah hilang). Gw inget gw baru baca beberapa halaman udah mengeluh sama bokap, gw bosen dan ga bisa selesain baca karena bukunya ga ada gambarnya. Untungnya waktu itu bokap kekeuh mendorong gw untuk nyelesain baca sambil ngebayangin ceritanya menggunakan imajinasi. Dan untungnya gw waktu itu nurut sama kata-kata bokap. Karena kalo gak, malah gw yang sekarang rugi. Hehe.. Buku-buku Enid Blyton emang pas banget untuk melatih imajinasi anak-anak karena dia selalu menggambarkan segala sesuatu dengan detail dan menggunakan banyak kata. Apalagi kalo mendeskripsikan pemandangan dan makanan. Dulu gw sampe ngiler-ngiler kepengen limun jahe, walopun gw ga ngerti itu minuman apa dan ga tau panasnya rasa jahe.

Beberapa buku karangan Enid Blyton yang berhasil gw dapet setelah menjelajahi toko buku bekas di internet

Dari satu buku, akhirnya ketagihan gw akan buku pun dimulai. Awalnya cuma terbatas dengan buku-buku Enid Blyton, akhirnya meluas ke segala jenis buku. Waktu gw SD, gw bahkan gw suka baca buku cerita rakyat. Beruntunglah gw yang sekolahnya waktu SD memfasilitasi perpustakaannya dengan banyak sekali buku petualangan anak-anak. Dari yang males baca buku ga bergambar, gw bisa dengan rakusnya melahap Seri Pasukan Mau Tahu, seri Lima Sekawan yang gw koleksi lengkap dan cerita-cerita lepas Enid Blyton. Satu orang pengarang ini punya karya yang cukup banyak untuk menemani masa kecil gw. Dari Enid Blyton, gw kenalan dengan Edith Unnerstad dengan karya-karya terkenalnya tentang keluarga Larsson seperti O Mungil, Si Bandel dan Tamasya Panci Ajaib (ada juga Tamasya Laut, sayangnya gw belom pernah baca). Juga Astrid Lindgren dengan cerita-ceritanya tentang si Pippi Kaus Kaki Panjang. Selain itu, tentunya masa kecil seseorang belum lengkap kalo belum baca dongeng-dongeng klasik macam Pangeran Bahagia, Angsa-angsa Liar, Gadis Penjual Korek Api atau Prajurit Timah (semuanya karya HC. Andersen kecuali Pangeran Bahagia yang adalah karangan Oscar Wilde). Tentunya ada banyak sekali kisah dongeng, tapi gw selalu jatuh cinta sama karya-karyanya Andersen.

Mungkin karena kisah gw sendiri berawal dari buku petualangan anak-anak, ga tau kenapa sampai sekarang buku petualangan anak dan praremaja masih jadi favorit gw walopun umur gw udah sangat ga cocok dikategorikan remaja. Dan dengan berbangga hati gw bisa bilang gw percaya sama insting gw terhadap buku anak. Yah setidaknya temen-temen gw puas kalo gw rekomendasiin buku. Hehe.. Karena sayang sekali era Blyton dan Unnerstad udah lewat (walopun sampe saat ini gw masih mengharapkan supaya buku-buku mereka dicetak ulang), gw menemukan kepuasan terhadap petualangan anak-anak dalam buku-buku Rick Riordan dan JK. Rowling, walopun sayangnya karya-karya mereka belom cukup banyak. Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia adalah hasil temuan kebanggan gw. Secara pertama kali liat, bukunya terkubur diantara buku-buku lain dan volume pertamanya bahkan cuma sisa satu. Tapi melihat ramuannya yang menggabungkan petualangan dan dewa dewi Yunani, dua hal yang amat sangat menarik buat gw, akhirnya gw memutuskan untuk beli. Dan sampai sekarang gw selalu ngikutin karya-karya Riordan. Dari buku yang terkubur di antara tumpukan buku, sekarang hasil karya Riordan berjejeran di rak gw dan adek gw, yang dengan suksesnya gw racunin untuk baca buku-buku Riordan.


Karya Rick Riordan koleksi gw, selain seri Percy Jackson and The Olympians.
The Heroes of Olympus dan Kane Chronicles.

Gw selalu merasa kalo gw tumbuh sebagai anak pecinta buku yang beruntung karena di masa kecil gw tersedia buku-buku cerita yang topiknya beragam mulai dari dongeng sampai kisah tentang keluarga sehari-hari. Seaneh-anehnya pengalaman mereka pun, palingan jadi detektif. Sejujurnya gw agak prihatin dengan buku-buku anak jaman sekarang yang ceritanya jauh lebih condong ke arah fantasi. Seakan-akan ga ada genre lain yang lebih menarik daripada fantasi. Terutama sejak boomingnya Harry Potter dan diikuti Twilight. Ya ga salah sih. Yang penting inti dari cerita itu bisa ngasih pesan untuk pembacanya. Apalagi kita ini ngomongin buku untuk anak-anak, jadi harus pilih-pilih juga dalam menyampaikan topik. Misalnya Harry Potter dan Percy Jackson yang banyak mengajarkan tentang persahabatan dan kerjasama. Atau Twilight yang mengajarkan betapa pentingnya punya pacar. Tapi alangkah baiknya kalo anak-anak ini dikasih pilihan lain selain fantasi. Cerita tentang keluarga manusia normal juga menarik koq. I grew up with that kind of stories!

Sebenernya postingan ini gw tulis cuma untuk berbagi cerita gw tentang pengalaman gw dengan buku. Tapi semoga tulisan ini mewakili suara para pecinta buku lainnya supaya buku-buku lama bisa dicetak ulang. Secara tiap kali ngobrol tentang Blyton atau Unnerstad, selalu ujung-ujungnya nyeritain susahnya berburu buku lama di toko buku bekas atau berharap bukunya dicetak ulang.

Saturday, April 28, 2012

Pride & Prejudice. TV vs. Film: Penokohan.


Pride & Prejudice 1995


Pride & Prejudice 2005



Setelah selesai baca buku Pride & Prejudice, tentunya yang gw lakukan selanjutnya adalah membandingkan dengan filmnya. Gw harus nahan diri supaya ga tergoda nonton filmnya dulu, sebelum nyelesein filmnya. Mengingat betapa lamanya gw selesein novelnya.

Pride & Prejudice sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film. Tapi yang paling diinget adalah versi mini seri sebanyak 6 episode yang ditayangkan tahun 1995 dengan Jennifer Ehle berperan jadi Elizabeth Bennet dan Colin Firth berperan jadi Mr Darcy. Versi selanjutnya adalah film tahun 2005 dengan Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennet dan Matthew MacFadyen sebagai Mr Darcy. Kali ini gw mo ngebandingin kedua adaptasi tersebut.

Ada banyak banget sudut pandang yang bisa diangkat saat membahas Pride & Prejudice. Jalan ceritanya, settingnya, tokoh utama dan tokoh - tokoh penunjangnya menarik untuk dibahas. Gw ngerti banget kalau mengharapkan sebuah film yang cuma berdurasi sekitar 2 jam bisa sedetil film seri yang ditayangkan sebanyak 6 episode itu ga masuk akal. Buat gw, film adaptasi yang bagus adalah yang bisa diikuti bahkan oleh mereka yang ga baca bukunya. Gapapa lah ada adegan yang terpaksa dipotong atau tokoh yang dihilangkan, asalkan inti ceritanya tetep dapet. Tapi lain ceritanya sama penokohan. Buat gw, bagaimanapun dimodifikasinya jalan cerita, karakter setiap tokoh harusnya bisa tetap dipertahankan. Walaupun ga menutup kemungkinan kalau setiap aktor punya persepsi sendiri – sendiri tentang karakter tokoh yang diperankannya.

Mengingat Pride & Prejudice sendiri banyak banget subplotnya, ga heran kalau di filmnya banyak cerita yang terpaksa dipotong atau justru dimampatkan jadi satu dan ada beberapa tokoh minor yang kalau ga diikutsertakan dalam film ga akan mengganggu jalan cerita. Misalnya Mr & Mrs Hurst yang adalah saudara Mr Bingley. Atau Denny, prajurit yang ngenalin Mr Wickham ke keluarga Bennet. Bahkan Miss Caroline Bingley dan Miss Georgiana Darcy ga banyak tampil di film. Begitu juga tokoh–tokoh lain yang kalau muncul justru bikin filmnya making panjang ga keruan karena harus ngenalin latar belakang mereka masing-masing.

Disini gw mau ngebandingin tokoh–tokoh yang khas dalam cerita. Dan pastinya dua tokoh utama gw tempatin di urutan terakhir. Save the best for last, begitulah.



Mr & Mrs Bennet
Film: Donald Sutherland & Brenda Blethyn
TV: Benjamin Whitrow & Alison Steadman

Gw bener-bener angkat topi buat Alison Steadman dalam berperan jadi Mrs Bennet di TV. Bahkan denger suaranya aja gw jadi kebawa emosi dan ikutan kesel. Mrs Bennet versi film juga nyebelin, tapi nyebelinnya masih tipe ibu-ibu yang kepo sama urusan keluarganya. Sedangkan Mrs Bennet versi TV dapet banget karakter Mrs Bennet yang kepo, berpikiran dangkal, suka maksain maunya sendiri, selalu nyalah-nyalahin orang dan selalu ngerengek-rengek ga jelas. 

Kalau Mr Bennet, dari versi film dan TV kesan yang ditangkep agak beda. Kalau Mr Bennet versi film terkesan sebagai ayah penyayang dan omongannya terkesan becanda-becanda sama istrinya. Sedangkan versi TV, sesuai bukunya, Mr Bennet lebih banyak mengabaikan istrinya yang banyak maunya, menganggap konyol tiga anak dan paling sayang sama Elizabeth (dan Jane?) Dua-duanya sih impresif dengan sifat yang berbeda, walopun sayang dialog antara Mr dan Mrs Bennet di film ga terlalu banyak. Karena komentar-komentar sarkastik Mr Bennet ini yang suka bikin gw ketawa.



Jane Bennet
Film: Rosamund Pike
TV: Susannah Harker
Sayang banget karena cerita film-nya jauh lebih banyak fokus ke Elizabeth, akhirnya cerita Jane ga terlalu detail dibahas dan tokoh Jane di film pun ga banyak disorot. Padahal Jane adalah salah satu tokoh favorit gw dan ceritanya pun menarik.

Jane versi TV lebih mendekati karakter Jane di buku. Lebih tenang, anggun, ga pernah berprasangka jelek sama orang dan angelic, seperti yang berkali-kali digambarin oleh Lizzy. Sedangkan Jane versi film sama manisnya, tapi karakternya lebih lepas dan lebih terkesan ceria dibanding Jane versi TV yang lebih banyak senyum aja dan sering keliatan serius. Gw suka gemana dua aktris ini menggambarkan versi Jane mereka masing-masing dan kalau Jane versi film dapat lebih banyak porsi di layar, gw lebih suka Jane versi Rosamund Pike.


Mr Bingley
Film: Simon Woods
TV: Crispin Bonham-Carter
Langsung aja, gw ga suka versi filmnya. Menurut gw, Mr Bingley adalah orang yang ramah, supel, percaya diri dan pintar. Dan yang jelas dia ga kikuk. Gambaran Mr Bingley versi TV lebih pas daripada Mr Bingley versi film yang, walopun ramah dan terkesan menyenangkan, menurut gw keliatan bingung dan salah tingkah. Ngomong sama Jane pun sampe salah-salah. Ga suka lah.. Dan kenapa juga sih rambutnya mesti berjambul aneh gitu?


Mr Wickham
Film: Rupert Friend
TV: Adrian Lukis
Nah, ini yang gw heran koq ga banyak dibahas secara Mr Wickham ini lah biang kerok yang secara ga langsung ngerecokin hubungan Elizabeth dan Mr Darcy. Di buku, Mr Wickham digambarkan sebagai orang yang supel, ramah dan pinter bersosialisasi. Luwes dalam memulai pertemanan, tapi kemampuan mempertahankan pertemanannya meragukan, itu kalau kata Mr Darcy. Elizabeth, yang ga tau belangnya Mr Wickham, suka sama Mr Wickham karena pembawaan Mr Wickham yang ramah dan supel ini, juga gemana dia bisa dengan tenangnya cerita tentang Mr Darcy yang, menurut cerita versi Mr Wickham, jahat dan menyebabkan dia jatuh miskin.

Secara Mr Wickham versi film nongolnya sebentar banget dan lebih banyak digambarin lewat narasi, sifat supelnya ini ga banyak keliatan. Dan dari sedikitnya dia muncul, kesan yang gw tangkep malah agak-agak tebar pesona. Tapi yah ngebandingin Mr Wickham versi film yang munculnya sebentar banget sama Mr Wickham versi TV yang muncul di 5 episode, dari total 6 episode, kayanya ga fair. Walopun kalo main fisik, gw ga suka Mr Wickham versi film yang penampilanya terlalu manis dan ngingetin gw sama Legolas.

  

Mr Collins
Film: Tom Hollander
TV: David Bamber
Lagi-lagi versi TV menang JAUH dari versi film. Dari awal muncul, ngeliat Mr Collins versi TV seakan-akan Mr Collins di buku lompat dan langsung masuk ke dalam TV. Begitulah bayangan Mr Collins saat gw baca bukunya. Sok tau, konyol, cengengesan gengges dan selalu ngerasa penting. Belom lagi ekspresinya yang salah tingkah. Aduh.. beneran bikin ketawa geli. Aktornya pun chubby dan innocent yang bikin gambaran karakter Mr Collins tambah pas! Mantep lah pokokqnya... Mr Collins versi film biasa banget dan ga berkesan.


Lady Catherine de Bourg
Film: Judy Dench
TV: Barbara Leigh-Hunt
Akhirnya ada juga karakter yang seri antara versi film dam TV. Walopun sejujurnya kesan pertama liat Lady Catherine de Bourg versi TV agak kurang meyakinkan. Ga segagah yang digambarkan buku. Atau bisa dibilang, yang digambarkan oleh Mr Collins dengan penuh dengan bumbu – bumbu lebayatun. Karakter Lady Catherine de Bourg pada dasarnya memang kepo dan tipe ngatur-ngatur. Awalnya, Lady Catherine de Bourg versi film terlihat lebih berkuasa sedangkan versi TV-nya cuma terkesan kepo. Mau gemana pun, menurut gw tetep begitulah karakternya. Tapi di adegan dia mengkonfrontasi Elizabeth, baru keliatan ketegasan karakter Lady Catherine. Baik yang TV maupun film menurut gw pas ngebawain karakter tokoh Lady Catherine.


Dan.. akhirnya sampe juga ke pemeran utamanya.


Elizabeth Bennet
Film: Keira Knightley
TV: Jennifer Ehle
Sama seperti Jane Bennet, karakter Elizabeth versi TV dan film dibawain dengan agak berbeda. Tapi buat gw, dua-duanya tetep ga melenceng jauh dari gambaran karakter Elizabeth di buku. Pintar, punya pendirian, berani, perhatian dan lebih santai apalagi kalau dibandingin dengan pembawaan Jane yang lemah gemulai. Tapi bahkan sebelum gw nonton filmnya, waktu gw baca bukunya gw ngebayangin Elizabeth ya seperti gambaran yang di film gitu lah. Lebih lepas dan bisa ketawa-ketawa cekikikan. Cara ngomongnya pun lebih santai dan ga se’tertata’ Elizabeth versi TV. Jadi yah, Elizabeth versi film maupun TV sama-sama pas, cuma gw lebih suka versi film.


Mr. Darcy
Film: Matthew MacFadyen
TV: Colin Firth
"Pertama-tama, gw harus mengakui mungkin pendapat gw tentang yang mana Mr Darcy favorit gw agak-agak bias, karena salah satu alasan yang mendorong gw untuk baca Pride and Prejudice adalah saat gw tau film Bridget Jones’ Diary ternyata terinspirasi dari Pride & Prejudice. Dan di film itu gw jatuh cinta setengah mati sama karakter yang diperankan oleh Colin Firth, yaitu Mark Darcy (yang diciptakan oleh Helen Fielding dengan terinspirasi oleh Mr Darcy di Pride and Prejudice). Yang kemudian berujung dengan gw jadi ngefans membabi buta sama Colin Firth yang adalah pemeran Mr Darcy versi TV. Jadi yah, begitu lah... One small world. "

Eniweeeiii...
Berdasarkan bukunya, kesan pertama tentang Mr Darcy adalah angkuh, ga ada basa-basi, sangat yakin pada dirinya sendiri sehingga terkesan arogan dan tertutup. Yang tentunya bukan kesan utama yang impresif, sampai dia belom buka mulut aja orang udah ga suka sama dia. Bahkan satu desa pun (Hertfordshire?) ga suka sama dia, apalagi kalo dijejerin sebelahan sama Mr Bingley. Tentunya itu sebelum sifat aslinya yang baik, dermawan dan lalala yang indah-indah ketauan. Dan menurut gw, disitulah kuncinya karakter Mr Darcy. Dia dibenci kemudian disayang.

Kalau liat karakter Mr Darcy di TV saat pertama kali muncul, emang bener-bener aura sepa’-nya keliatan banget. Keliatan banget dari ekspresi mukanya yang cemberut kalau dia angkuh dan ga suka berada di situasi yang banyak dikelilingi orang asing dan ga mau susah-susah berusaha membaur. Dia memperhatikan Jane dan keluarganya pun karena Mr Bingley keliatan tertarik sama Jane. Dan kesan angkuh ini dipertahanin terus sampai akhirnya sifat-sifat baiknya mulai disebut-sebut. Tapi kesan pertamanya dapet banget. Saat pertama kali diperkenalkan sama keluarga Bennet pun, tiba-tiba dia pergi saat masih diajak ngomong oleh Mrs Bennet. Nah, itu dia belagunya dan ga heran kalo orang jadi benci. Mrs Bennet menggambarkan Mr Darcy saat itu sebagai “proud disagreeable man”

Sedangkan, kesan pertama yang gw dapet dari Mr Darcy versi film adalah tertutup, banyak pikiran bahkan terkesan sedih, agak sombong tapi ga menyebalkan. Pertama kali ngeliat Mr Darcy, Elizabeth menggambarkan dia sebagai “miserable”, yang dari sudut pandang gw bukannya bikin jadi benci malah kesian. Masalahnya dengan Mr Darcy di film adalah, dia tidak cukup angkuh untuk dibenci yang kalau kemudian dia jadi disukain ya ga heran. Intinya sih, menurut gw, karakter yang diperankan MacFayden ini  loveable.. tapi siapapun itu, dia bukan Mr Darcy.

--o0o--

Phew! Banyak juga.. Dan begitulah pendapat gw tentang tokoh-tokoh Pride & Prejudice di film dan TV. Walaupun lebih banyak karakter di TV yang gw suka, dibandingkan dengan di film, tetep aja gw ga bisa (ga tega, tepatnya) bilang kalo versi TV-nya  lebih bagus. Buat gw ga bisa dibandinginlah. Apalagi banyak tokoh yang ga sempet nunjukin karakternya karena ga dapet banyak porsi di film. Jadi yah gw menikmati dua-duanya.

Seperti yang gw bilang, banyak yang bisa dibahas dari Pride & Prejudice. Dan selanjutnya gw mo nulis perbandingan berdasarkan adegan-adegannya. Hope you enjoy!

Thursday, April 26, 2012

The Hunger Games

*SPOILER ALERT*


Bersetting jauh di masa depan dimana Amerika Utara sudah musnah dan sebagai gantinya berdiri negara Panem dengan Capitol sebagai ibukotanya dan dikelilingi dua belas distrik. The Hunger Games adalah nama 'permainan' yang diciptakan oleh Capitol, terinspirasi dari pemberontakan di masa lalu. Dimana peraturannya adalah, setiap distrik mengirim satu orang anak laki - laki dan satu orang anak perempuan untuk bertarung dalam arena, saling membunuh satu sama lain sampai keluar satu orang pemenang. Pemeran utama dalam cerita ini adalah Katniss Everdeen. Anak perempuan dari Distrik 12 yang adiknya terpilih  untuk menjadi peserta sehingga Katniss mengajukan diri untuk menggantikan adiknya.
Gw telat banget denger tentang novel ini, padahal udah booming dari kapan tau. Gw baru mulai denger tentang bukunya setelah film-nya mulai disebut-sebut. Mengingat bukunya dinobatkan jadi New York Times Notable Children's Book of 2008 dan gw adalah penggemar berat buku petualangan anak-anak dan remaja, mulai lah gw nyari-nyari buku ini. Jujur aja, waktu baca sinopsisnya gw ga langsung tertarik sama bukunya. Dari ringkasan di belakang bukunya, gw ngebayangin gemana kejamnya buku ini. Tapi setelah beberapa kali bolak balik ke toko buku, akhirnya gw beli juga ini buku, dengan pemikiran kalau buku ini banyak yang suka sampai booming, mestinya gw juga suka lah..

Pemikiran yang sangat salah.

Okey, jadi dari sekarang gw cuma mo kasih tau kalau gw ga suka buku ini dan ga ngerti kenapa bukunya bisa heboh. Pemikiran gw kalau buku ini kejam beneran terbukti, tapi bukan cuma itu yang bikin gw ga suka. Beginilah tweet gw begitu gw selesai baca bukunya.


Asumsi gw, semua orang udah baca buku ini jadi gw agak-agak spoiler dikit boleh ya. Walopun gw sangat menyarankan untuk baca entry ini setelah baca bukunya, atau emang ga berminat baca bukunya. I can be very annoying when I trash a book, jadi mending mulai dari bagus-bagusnya dulu, walopun ga banyak.

Pertama, alasan gw mungkin agak-agak sexist, tapi gw suka Katniss sebagai pemeran utama perempuan yang tangguh, taktis dan pinter main panah (atau diganti perlengkapan perang apapun, gw suka lah). Di awal permainan Katniss berhasil bertahan sendirian dengan kemampuannya, pokoqnya oke deh. Selain itu gw suka gemana pengarangnya, Suzanne Collins, menggambarkan suatu negara yang bener-bener baru dengan detail penduduknya yang aneh-aneh. Gambaran tentang arena permainan Hunger Games dan mahluk-mahluk hybrid di dalamnya pun menarik dan imajinatif. Dan sampai disini saja hal yang gw suka tentang buku The Hunger Games (ini pun nyarinya maksa).

Ada dua tokoh laki-laki yang berhubungan sama Katniss, yaitu Gale dan Peeta. Gale adalah teman berburu Katniss di Distrik 12 sedangkan Peeta adalah anak laki-laki yang terpilih dari Distrik 12 untuk ikut dalam Hunger Games. Gale mungkin karakter yang menarik dan sama tangguhnya dengan Katniss, sayangnya dia ga banyak dibahas di buku karena settingnya lebih banyak di Capitol dan arena permainan. Jadi otomatis kita lebih kenal sama Peeta. Peeta lebih ke tipe cowok lemah lembut dan sensitif dan ketangkasan yang dimiliki adalah, ehm, melempar benda berat dan melukis, yang kemudian di arena berguna buat kamuflase. Tapi gw suka sifat Peeta yang lemah lembut dan perhatian sama Katniss. Intinya, gw suka Peeta dan Katniss dengan alasan yang sangat bertolak belakang.

Jadi bisa dibayangkan betapa gemesnya gw saat Peeta dan Katniss bekerjasama dalam Hunger Games. Rasanya Peeta langsung berubah jadi cowok cemen yang mesti diurus-urusin. Mana juga dia luka dan harus dirawat sama Katniss. Bahkan berburu pun Peeta ga bisa dan Katniss sampe stress berburu sama dia. Seinget gw, selama Peeta dan Katniss bareng-bareng, selalu Katniss yang berjasa nolongin Peeta. What the? Gw sampe bingung koq cowo-cowo bisa suka sama buku ini? Gentlemen, can't you tell that a girl is kicking you right in the ass?!

Taktik yang dipakai oleh Katniss dan Peeta dengan beradegan romantis untuk dapetin sponsor pun bener-bener cemen, terutama untuk cerita yang bersetting perang dan pemeran utama setangguh Katniss. Adegan selama di gua ga dapet chemistry-nya dan ditambah dengan narasi Katniss, adegannya malah jadi terkesan norak, sampe gw mencibir berkali-kali. Ciuman mereka dibesar-besarin banget, seperti waktu Katniss bujuk-bujuk Peeta untuk makan dengan ciuman dan kalimat "Tidak ada ciuman sampai kau makan!" Aposeehhh?? Awkward city!

Selain itu tentang suspense yang dipanjang-panjangin. Mulai dari adegan dengan Cato di Cornucopia. Itu peserta udah tinggal terakhir. Kalo Cato mati, permainan selesai. Tapi nungguin Cato mati aja lama banget. Terhitung 5 halaman dari sejak Cato jatuh sampai akhirnya Cato mati. Lebih garing lagi begitu yang tersisa cuma peserta terakhir, gw udah penasaran tingkat tinggi, gemana kira-kira serunya akhir dari permainan sadis yang dielu-elukan oleh Capitol? Yang ada, peserta terakhir malah bingung nungguin pengumuman dan di kepala gw terdengar bunyi jangkrik, krik.. krik.. krik.. Akhirnya Capitol mengumumkan pengumuman tentang peraturan permainan yang bikin gw mo berhenti baca saat itu juga. Boleh lah membangun suspense. Tapi kalau klimaksnya diulur-ulur, yang ada malah bikin males lanjutin baca.

Dan seperti yang gw khawatirkan dari awal, ceritanya kejam. Dari ringkasan bukunya udah ketebak lah kira-kira buku ini bakal gahar dengan adegan bunuh-bunuhan. Tapi menurut gw, adegan paling kejam adalah saat sisa tiga peserta terakhir dan tiba-tiba mereka diserang kawanan mutt serigala. Begitu tau apa mutt itu sebenernya, rasanya pengen gw buang ini buku. Koq bisa sih genrenya ditujukan buat anak dan pra-remaja?!

Pada intinya, kayanya ga perlu dirangkum lagi deh, secara postingan ini lebih cocok dijudulin "My Rants About The Hunger Games." Sejujurnya sih gw ga ngerti kenapa bukunya bisa booming.

Pride & Prejudice


Akhirnya setelah menunda-nunda untuk posting, gw memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada Pride and Prejudice untuk postingan pertama di blog ini. Gw baru aja selesai baca bukunya dan lagi di dalam tahap tergila-gila sama Mr. Darcy dan berhalusinasi kalau gw saat ini tinggal di Pemberley.

Sepertinya judul bukunya udah cukup untuk ngasih gambaran tentang isi ceritanya. Dengan dua tokoh utama yang terkenal, Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy. Well, Mr. Darcy is the pride one and Elizabeth is the one who holds prejudice. Ceritanya tentang Mr. Darcy yang jatuh cinta sama Elizabeth tapi ragu-ragu untuk bertindak karena sadar kalau kelas sosial Elizabeth berada dibawahnya. Sedangkan Elizabeth sendiri benci sama Mr. Darcy karena pembawaannya yang terkesan angkuh, ditambah gosip yang beredar tentang Mr. Darcy.

Jujur aja, ini pertama kalinya gw baca literatur klasik. Setidaknya begitulah seinget gw. Buat gw, perbedaan yang menyolok antara buku ini dengan buku-buku roman modern yang gw baca, buku ini ga cuma fokus pada dua tokoh utamanya aja. Bahkan dalam buku ini ada banyak banget tokoh dan jalan cerita yang dibahas, sampai gw agak lambat baca buku pada awalnya karena ga hafal-hafal nama tokohnya (Rumah mereka pun punya nama!) Tapi setelah hafal sama tokoh-tokohnya, gw jadi semakin ketagihan baca bukunya. Jane Austen bener-bener ngasih kepribadian yang khas untuk karakter-karakter di dalam buku dan cerita mereka pun menarik untuk diikutin, selain cerita Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet. Misalnya, cerita tentang Jane, kakaknya Elizabeth, dan Mr. Bingley yang cerita cintanya tarik ulur dan serba ribet karena direcokin oleh Mr. Darcy dan saudara-saudara Mr. Bingley sendiri. Atau karakter Mr. Collins yang bodoh tapi menilai tinggi dirinya sendiri dan hobi banget ngasih puji - pujian berlebihan sampe gw ketawa- ketawa sendiri bacanya. Semua karakter dan cerita mereka bikin bukunya makin menarik buat gw.

Walaupun ceritanya tentang prasangka yang biasanya jadi topik umum dalam kisah percintaan dan di sampul bukunya di tulis ini cerita 'Roman' jangan mengharapkan kisah tarik ulur super romantis dan berapi-api seperti novel cinta jaman sekarang. Lagian kalau mengacu ke definisinya, kata guru bahasa Indonesia, Roman adalah jenis karya sastra dalam bentuk prosa yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Mungkin karena ceritanya juga bersetting di jaman dulu (tahun 1800-an. Bukunya sendiri pertama kali diterbitin tahun 1813) dengan tata krama yang beda banget, jadi cara mereka mengekspresikan perasaan dan pikiran pun berbeda.

Kesimpulannya, gw suka bukunya! Dan ga nyangka semua cerita dan tokoh di dalemnya bikin gw penasaran terus baca sampe abis, walopun tokoh favorit tetep, tak lain tak bukan, Mr. Darcy!
 
Buku Pride and Prejudice yang gw beli adalah versi bahasa Indonesia terbitan Qanita. Bukunya besar dan tebal. Begitu liat versi bahasa Inggrisnya yang mini dan enteng, gw jadi mikir kenapa mereka ga nyetak yang sekecil itu supaya lebih praktis dibaca dimana-mana? 


atas: versi bahasa Inggris; bawah: versi bahasa Indonesia