Thursday, June 28, 2012

City of Bones


Akhirnya baca juga seri The Mortal Instruments. Akhirnya kenalan juga sama Jace dan Clary. Jadi itulah alasan kenapa gw menghilang dari blog ini. Gw sibuk ngebut baca TMI dan sekarang baru selesein City of Fallen Angels, yang adalah buku keempat. Sambil nungguin jatah beli buku bulan depan buat beli City of Lost Souls, gw mo nulis tentang City of Bones dulu. 

City of Bones adalah buku pertama dari seri The Mortal Instruments karangan Cassandra Clare. Asli, buku ini (dan seri The Mortal Instruments, secara keseluruhan) bener-bener bikin gw ketagihan. Menurut gw review tentang apapun, kalo isinya cuma kata sifat yang bagus-bagus, adalah review kosong. Tapi sekarang gw baru ngerasain, gw segitu terpesonanya sama satu buku, sampe yang gw punya cuma, ya itu tadi, kata sifat yang bagus-bagus buat menggambarkan buku ini. Gw berkali-kali berniat nulis review tentang City of Bones karena pengen banget berbagi cerita tentang betapa kerennya buku ini. Tapi berkali-kali batal nulis, saking ga tau mo nulis apa, selain: "Buku ini keren banget."

Gw ga mau nulis sinopsis buku ini secara detail, biar tetep penasaran sebelom baca. Tapi kurang lebih sih begini:
"Clary, gadis mundane, ga sengaja ketemu sama rombongan Shadowhunters yang lagi demon-hunting, terdiri dari Jace, Alec dan Isabelle.  Para Shadowhunters saat itu sedang pake glamour, yang mana harusnya Clary ga bisa liat mereka. Tapi kenyataannya, Clary bisa. Berawal dari situ, Clary mulai kenalan dengan dunia Shadowhunter, yang ternyata ada hubungannya dengan ibunya, temen ibunya yang bernama Luke dan bahkan almarhum ayahnya. Temen deket Clary yang selalu bareng dari kecil, Simon, pun ikut terbawa dalam petualangan Clary dan para Shadowhunters. Dan itu baru awal dari City of Bones"

Sebagai orang yang salah kaprah dan malah baca The Infernal Devices duluan, gw udah keburu fanatik sama dunianya Will, Jem dan Tessa. Jujur aja, walopun menikmati bukunya waktu pertama baca, gw tetep pede jaya kalo City of Bones ga bakal ngalahin kerennya Clockwork Prince. Nah gini deh kalo salah kaprah. Karena The Mortal Instruments adalah seri yang pertama terbit, di awal banyak dijelasin tentang kehidupan Shadowhunter dan penjelasannya lebih detail dari The Infernal Devices. Ya bosenlah eike. Kurang lebihnya kan udah tau dari seri The Infernal Devices.


Tapi tapi tapi... Lama-lama ceritanya jadi tambah menarik. Dikit-dikit bandingin sama seri The Infernal Devices. Kalo The Infernal Devices ceritanya lebih fokus ke para Shadowhunters, seri The Mortal Instruments ini lebih divergen, melibatkan segala mahluk. Semua Downworlders punya cerita disini. Ada Magnus Bane, High Warlock of Brooklyn, yang juga muncul di The Infernal Devices mengingat warlock hidup selamanya. Juga para vampires dan kumpulan werewolves. Seru banget!!! Gw selalu suka cerita dengan twisted ending. Tapi buku ini bukan twisted ending lagi namanya, tapi twisted stories. Ahaha.. Gak, bukan maksudnya ceritanya membingungkan. Maksud gw, saking jalan ceritanya ga bisa ditebak, semua tokoh yang muncul di cerita ini bikin gw bertanya-tanya: Siapa nih? Dia temen apa musuh? Apa nih sejarahnya? Ada aja yang bikin penasaran! Dan cara nulisnya Cassie Clare bisa banget bikin gw terbawa suasana sampe tegang sendiri. Seakan-akan waktu Jace dan Clary nyusup ke Hotel Dumort, gw juga ikutan. Ceritanya banyak sub-plot. Semuanya seru dan bikin penasaran, karena ada aja twist baru dan misteri baru di tiap halaman.

Kalo soal penulisan dan kosakata yang dipilih, untungnya cerita The Mortal Instruments ini ber-setting di kota New York pada abad 21. Jadi kalo baca bahasa Inggrisnya, setelah setengah mati pegang Clockwork Prince di tangan kanan dan kamus di tangan kiri, gw bisa agak santai baca City of Bones yang kosakatanya lebih akrab di telinga. Selain itu percakapan mereka pun lebih apa adanya dan slebor. Humornya pun pas.

He squinted at her. “Do you remember back at the hotel when you promised that if we lived, you’d get dressed up in a nurse’s outfit and give me a sponge bath?"
"Actually I think you misheard.” Clary said. “It was Simon who promised you the sponge bath."
Jace looked involuntarily over at Simon, who smiled at him widely. "As soon as I’m back on my feet, handsome."

Di City of Bones, dua tokoh utama yang jadi pasangan adalah Jace dan Clary. Coba deh google kata kunci Jace dan Clary, banyak banget fan art cantik-cantik lengkap dengan quotes dan semacemnya. Nah, ini nih salahnya gw. Belom mulai baca, udah euforia duluan sama Jace dan Clary. Akhirnya pas baca gw jadi terlalu semangat dan bacanya jadi ga sabaran. Hahaha.. Secara ini bukunya Cassie Clare, ga afdol rasanya kalo ga bikin pembacanya jadi harap-harap cemas. Ternyata segala antisipasi gw untuk suka sama pasangan Jace - Clary berujung blunder karena gw malah nge-fans berat sama Simon. Bahkan sampe buku kedua, gw masih head over heels sama Simon.


Jujur aja, gw ga nangkep chemistry di awal-awal ketemunya Clary dan Jace. Ga nangkep kapan Jace mulai suka sama Clary, dan sebaliknya. Emang sih, Jace selalu nawarin untuk nemenin Clary dalam misi-misi berbahaya. Tapi untuk seorang Shadowhunter yang hobi cari mati macem Jace, kesannya itu semua untuk kesenengan dia sendiri. Terutama di awal cerita, obrolan Jace ke Clary selalu berhubungan dengan urusan Shadowhunters, selain itu dicuekin. Sedangkan Simon? *dramatic sigh* Dari awal buku udah keliatan banget manisnya Simon sama Clary. Kalo bisa, rasanya gw pengen goncang-goncang Clary sambil ngomong, "Clary, buka mata!"


Nah diatas tuh quote-nya Simon yang jadi favorit gw. Baca sendiri bukunya biar tau apa adegannya. Gw sendiri sampe sedih pas baca.

Mungkin pendapat gw kalo City of Bones ga bakal ngalahin Clockwork Angel atau Clockwork Prince akhirnya terbukti salah besar. Tapi setelah selesai baca buku pertama, setidaknya satu pendapat gw yang ga berubah.


Daripada gw ngoceh lebih panjang lagi dan mulai spoiler ga penting (gw mati-matian menahan diri loh ini), mendingan gw kembali menyatakan kesimpulan yang udah gw tulis di awal: "Buku ini keren banget!" Biar lebih meyakinkan, gemana kalo gw bilang, gw mulai baca buku ini tanggal 11 Juni dan selesai tanggal 12 Juni? Iyes, gw selesein buku ini dalam semalem aja saking ga rela berenti baca. Setelah selesai, tutup bukunya, tarik napas sambil bengong, terus nge-tweet:

Saturday, June 9, 2012

Sunshine Becomes You


Sunshine Becomes You adalah novel kelima karya Ilana Tan. Gw sendiri belum pernah baca buku-buku Ilana Tan walaupun berkali-kali liat Tetralogi 4 Musim dipajang di toko buku. Setelah sekian lama melewatkan novel-novel Metropop, iseng-iseng gw menambahkan novel ini ke dalam daftar belanjaan gw. Cap "National Bestseller" di sampul bukunya itu lumayan menggoda. Lagian, akhir-akhir ini gw udah terlalu banyak membaca buku-buku ber-genre fantasi, sepertinya gw butuh selingan. Dari judulnya yang mellow dan bahkan dari gambar sampulnya, bisa ditebak lah kalau novel ini genre-nya romantis.
"Dengan kota New York sebagai setting, dua tokoh utama dalam cerita ini adalah Alex Hirano yang adalah seorang pianis terkenal dan Mia Clark yang adalah seorang penari. Mereka bertemu di studio tari kecil tempat Mia dan Ray, adik Alex, mengajar tari. Pertemuan pertama berkesan buruk karena diawali dengan Mia yang jatuh dari tangga dan menimpa Alex sehingga pergelangan tangannya cedera. Sebagai pianis, pergelangan tangan yang tidak berfungsi tentunya berpengaruh sangat buruk. Semua konsernya hingga akhir tahun terpaksa dibatalkan. Tapi bukan cuma masalah konsernya, untuk kehidupan sehari-hari pun gerakan Alex terbatas. Merasa tidak enak terhadap dampak yang dihasilkannya, walaupun ketakutan melihat sikap Alex yang dingin dan ketus, Mia menawarkan untuk membantu Alex menjadi pengurus rumahnya selama tangannya dalam perawatan.
Alex awalnya cuma menganggap Mia sebagai malaikat maut yang berusaha menebus kesalahannya dengan membantunya dan Mia hanya berusaha membantu Alex hanya didorong oleh rasa bersalah dan kewajiban untuk bertanggungjawab. Tapi seiring berjalannya waktu, sering menghabiskan waktu berdua dan saling mengenal satu sama lain, akhirnya mereka saling tertarik.
Setelah hubungan mereka makin dekat, Alex harus mengatur perasaannya karena Ray, adiknya, juga menyukai Mia. Selain itu, Mia ternyata menyembunyikan kenyaataan bahwa dia menderita sakit yang mempengaruhi karir tarinya." 

Gw sendiri suka sama dua tokoh utamanya. Alex yang dingin dan ga banyak ngomong, tapi perhatian. Dan Mia yang ceria, tegar dan baik hati. Dua tokoh ini memang sering berdebat, berantem dan gondok-gondokan tapi masih dalam batas normal, bahkan malah berkesan manis.

Satu hal yang langsung gw perhatiin dari awal baca buku adalah bahasa dan dialognya yang terasa seperti buku terjemahan. Walaupun gw ngerti setting ceritanya adalah di New York dan tokoh-tokohnya di dalamnya dimaksudkan berdialog dalam bahasa Inggris, tapi tetep aja terasa aneh buat gw mengingat ini adalah novel Indonesia. Beberapa frase bahkan bener-bener terjemahan kata per kata dari bahasa Inggris. Sepanjang cerita, gw lewatin aja. Sampai Alex ngomong, "Wow.. tahan pikiran itu (hold that thought)" gw ga tahan untuk ga ketawa. Di kepala gw, mau ga mau gw ngebayangin tokoh-tokoh ini ngomong dengan intonasi dubber di film-film seri impor. 

Satu lagi yang mau ga mau gw perhatiin, sepertinya semua klise dalam cerita romantis dimasukin disini. Dari dua orang yang saling ga suka lama-lama jadi suka, cemburu-cemburuan padahal saling ga mengakui perasaan satu sama lain, cinta segitiga sampe sakit berat ada semua disini. Agak gengges tiap kali Alex berusaha mengingkari perasaannya sendiri dalam pikirannya. Berapa kali dia mikir, "Tunggu tunggu.. Masa gw gini (*masukan gesture perasaan sayang*) sih? Ah gak lah, pasti karena ini (*masukan alasan denial*)." Yah, kalo tokohnya remaja labil macam Tita di Eiffel... I'm in Love masih cocok lah yah. Tapi untuk cowok cool macem Alex koq rasanya ga pas aja sama karakternya.

Selanjutnya ceritanya mengalir manis. Ilana Tan ngasih waktu yang cukup untuk membangun chemistry antara dua tokohnya, bikin pembaca jadi suka sama Mia dan Alex. Pelan-pelan kita bisa ngerasain perubahan perasaan Mia dan Alex. Dan para pembaca perempuan (yang pastinya mayoritas) pasti menempatkan posisi sebagai Mia, dibikin klepek-klepek (matilah bahasa gw!) sama Alex. Favorit gw adalah saat Alex menyatakan perasaannya secara ga langsung pada Mia.

Seperti yang gw bilang, skenarionya tipikal cerita romantis lah. Tapi selama digunakan dan diolah dengan benar, tetep aja bisa menarik hati pembaca. Dan sebagai seorang penggemar cerita romantis, dari awal sampe pertengahan gw bener-bener terbawa sama ceritanya karena pengarangnya piawai menciptakan adegan-adegan manis antara Mia dan Alex. Beruntunglah gw baca buku ini di rumah karena beberapa kali gw senyum-senyum sendiri.


Sayangnya, semua resep tipikal yang awalnya diolah dengan bagus, jadi terlalu berlebihan. Rasanya pengarangnya berusaha terlalu keras memancing emosi sedih pembacanya.

Buat gw, nambahin penyakit ke dalam sebuah cerita itu tricky ya, karena pengarangnya setidaknya harus tahu tentang penyakit. At least, kasih diagnosis lah. Penyakit apakah ini yang diderita Mia? Tapi dari awal sampai akhir buku ini ga ada satupun keterangan tentang penyakitnya. Gali lah penyakitnya lebih dalam supaya pembaca ngerasa 'ngeh' dan ngerasa berapa parah penyakit itu. Sebaliknya, pengarangnya bikin jalan keluar mudah dengan menyatakan bahwa penyakit ini adalah penyakit keturunan yang tidak bisa didiagnosa karena Mia adalah anak adopsi yang keberadaan orang tua kandungnya tidak diketahui. Seakan-akan penyakit ini sekedar bumbu yang ditambahin supaya tokoh wanitanya punya alasan untuk pingsan sesering mungkin dan pembaca bisa liat betapa cemas, perhatian dan cintanya tokoh laki-laki terhadap tokoh perempuan. Too easy. Semua sinetron Indonesia menggunakan resep yang sama.

Selanjutnya, kalau belom baca bukunya silakan skip paragraf berikut karena mengandung spoiler.
.
.
.
Dan gw ga suka endingnya karena terlalu menyedihkan. Bukan karena Mia akhirnya mati. Definisi sad ending, menurut gw, ga sesimpel: "tokoh utamanya mati". Banyak cerita yang tokoh utamanya mati tapi tetep berkesan buat gw. Yang saat ini langsung kepikir di kepala gw, Ps. I Love You dan A Walk To Remember.  Memang sedih waktu nonton. Tapi secara garis besar, ceritanya indah.

Saat kondisi Mia makin buruk, otomatis pembaca menempatkan diri sebagai Alex yang jatuh cinta sepenuh hati sama Mia, harap-harap cemas dengan kondisinya. Sayangnya sampai akhir hayat Mia, Alex ga tau kalau Mia ternyata cinta sama dia. Dan ga sempet ngerasain momennya dimana mereka berdua udah nyatain perasaan mereka. Itu lah sad ending buat gw. Kalopun dua bulan kemudian Alex nerima camcorder yang berisi pernyataan cinta Mia, terus dia bisa apa? Udah bagus dalam dua bulan itu dia ga keburu jadi gila karena stress (Now that's a depressing ending).
.
.
.
 End of spoiler

Buku ini banyak penggemarnya, apalagi melihat cap National Bestseller di sampulnya. Gw sih ga heran karena Ilana Tan mengambil semua skenario klise yang jadi jaminan sukses cerita romantis. Sayangnya, terlalu berlebihan. Menurut gw, endingnya ditambahkan hanya untuk melengkapi segala skenario generik yang sudah ada dari awal, supaya pembacanya terharu. Reaksi gw? Sambil baca, keceplosan ngomong, "Halah! Males banget.." Untuk sebuah novel romantis, buku ini berawal dengan ramuan yang standar dan berakhir dengan basi. Beneran, waktu mulai baca gw sama sekali ga nyangka bakal bilang buku ini not recommended. Tapi sekarang kenyataannya ya begitu.

Wednesday, June 6, 2012

Heaven, Texas



Heaven, Texas falls in romantic genre. Romantic comedy, I’d say. I am a huge fan of romantic comedy myself, but I know better than to expect more in those stories. To me, romantic comedy stories will always fall in mediocre level thus make it prone to fall into below average. I rarely find new recipe. It’s usually a guy, a girl, some conflicts and in the end they end up together. Cliché yet addictive. Because just admit it, everybody wants their life to be like some kind of romantic comedy stories. So if someone says that a romantic comedy story is predictable, I say, what do you expect? Don’t overthink it, it’s just for fun. It’s like eating candy. It’s sweet but obviously it won’t satisfy your hunger. Still, who doesn’t like candy?

The story involves Gracie Snow and Bobby Tom Denton. Of course they’ll end up together. But sometimes it’s not about the end. It’s about the journey, right?
“Bobby Tom Denton is a football player forced to retired early because of a knee injury. Being completely lost, grumpy Bobby Tom decided to sign a contract to do a movie only to find out afterwards that he reluctant to do it. He started to act up to prolong the making of the movie. That’s when the movie company sends Gracie Snow to be his chaperone. Bobby Tom detested her at first of course, insisting he doesn’t need a chaperone, only to find out how interesting Gracie has become to him and made peace with her.

Doing a movie in his own birthplace, Telarosa, formerly known as Heaven, he was attacked by a barrage of girls, wanting to be future Mrs. Booby Tom Denton. So to keep him from trouble, he asked Gracie to cooperate with him and tell people of Telarosa that they are engaged. So what started as fake-engagement apparently made impact on Bobby Tom’s feeling.

In the end he realized that, despite their constant fights, Bobby Tom wants to be around Gracie all the time.”
Oh my God. Even I managed to make the synopsis sounds tacky. Anyway, when it comes to romantic stories, I think characters and chemistry play huge roles. I mean, we already now the ending. So better make the journey worth it. It’s important that readers must desperately want the two main characters to be together. They must fit.

Gracie Snow is a prim and proper girl who turns neurotic when it comes to her job. She's a type a girl who likes to take care of everything. Not really an original idea. But everybody loves neurotic Sunday School teacher (Katherine Heigl, everyone? She might be in 27 Dresses and The Ugly Truth, but let’s be real, Jane and Abby really are just a same character). Here’s what Bobby Tom said to Gracie when she insisted to drag Bobby Tom to his work place, “Just out of curiosity, sweetheart; did you ever talk to your doctor about givin' you some tranquilizers?”

Bobby Tom, however, in his own words, "I happen to be immature, undisciplined, and self-centered, pretty much a little boy in a man's body, although I'd appreciate it if you didn't quote me on that." He knows his way around women, knows how treat them and says what the ladies want to hear. And of course, never settle with one girl.

The setting is in Telarosa, Texas. A small city on the brink of bankruptcy. The city tries to survive by expanding their tourism sector, using Bobby Tom’s popularity. Bobby Tom of course reluctant to do it, while angelic Gracie tries to help everybody. The interactions between the two main character starts cute and interesting. How Gracie is a bit scared of bit Bobby Tom yet she forced herself to be brave is so adorable. She threw herself into Bobby Tom’s Thunderbird when he tried to leave her. And when Bobby Tom’s purposely teased her and made her buy him condoms, she fought back by inviting fangirls into his trailer. Bobby Tom’s careless attitude and the way he teases Gracie results in comical dialogues.

It was enjoyable but somehow Susan Elizabeth Phillips, the author, decided to take it too far. Gracie falls too hard and too easily for Bobby Tom that at one point it’s just borderline pathetic. Bobby Tom is very consistent in his role as a ladies man who wants to settle with noone, he makes fun of Gracie even though he’s sure Gracie is in love with him. And that’s how you turn a man into a jerk. You know when you read a book, you have this access to read the character’s mind so you know what the character actually think when he’s doing something? Even when we’re in Bobby Tom’s mind, we know he annoys Gracie just to annoy her. Not because he secretly likes her or whatever. It’s just mean, I had to push myself to read this part. The idea about a goody-two-shoes girl desperately chases after a jerk is just not entertaining. Now tell me if this conversation below is not disgusting.
He tilted the brim of his Stetson back with his thumb. “The thing of it is, for me to make certain this is going to be a good experience for you, I’d have to pretty much take control of your body right from the beginning. I’d have to own it, so to speak.”
She sounded vaguely hoarse. “You’d have to own my body?”
“Uh-huh.”
“Own it?”
“Yep. Your body’d belong to me instead of to you. It’d be just like I took a big ole Magic Marker and put my initials on every little part of you.”
Somewhat to his surprise, she seemed more stunned than insulted. “It sounds like slavery.”
Of course things slowly turned near the end. And the humorous dialogues helped a lot. But it was still annoying. Thankfully there is a secondary romance plot between Suzy Denton, Bobby Tom’s mother, and Way Sawyer, Telarosa’s public enemy. The story of course doesn’t get a lot of portion. But I love the background story about Suzy who has been a widow for four years, trying to fight her feelings when she realized she might be betraying her late husband and falls for a guy who used to be a high school brat. The story is beautiful and graceful. 

The last scene where the guy tries to woo the girl, which to me is a defining moment in every romantic stories, is just fine. It's too public and involves too many people meddling so I don't really like it. But that's personal preference. In general, it's still cute and so Bobby Tom (you'll know what I mean when you read the book). The author wrote an epilogue for this book but ended up cutting it. However, the epilogue was published on her website.

The book that I purchased is published by GagasMedia. The translation is good and very much enjoyable. But they really need to work on the typos. It's everywhere. I even found an English word, untranslated. I also love the casual cover. Just because it's a love story it doesn't mean the cover have to be tacky, right? I won't look twice at the book if it came with Harlequin-type of cover. By the way, the love scene in this book is pretty graphic. Call me old-fashioned but I think this book should come with such information to prevent underage kids from reading it. Unfortunately I see no information whatsoever on the cover.

As a romantic book, I think this book is okay. I don't mind spending my time reading it since it's quite entertaining. But it's not memorable either. If you have a heart for romantic story, it won't hurt to add this to your collection.

Monday, May 28, 2012

Clockwork Prince



Clockwork Prince adalah buku kedua dari trilogi Infernal Devices karangan Cassandra Clare yang adalah prequel dari seri The Mortal Instruments. Berbeda dengan Clockwork Angel yang sarat kisah petualangan dengan sedikit cerita romantis, Clockwork Prince seperti menjawab keinginan pembaca untuk menggali lebih dalam cerita seputar kisah cinta Tessa, Jem dan Will dan latar belakang mereka, terutama Will. Gw pengen ngerangkum resume ceritanya juga bingung karena cerita yang menyambung tentang Pandemonium Club dan pencarian The Magister sedikit sekali, lebih banyak fokus ke karakter tokoh-tokohnya. However, in short:

“Dalam Clockwork Prince, posisi Charlotte sebagai kepala Institusi London, tempat para Shadowhunter tinggal, terancam digantikan karena dianggap tidak mampu menangani kasus Pandemonium Club, dimana The Magister berhasil kabur dan Institusi London bahkan sempat kemasukan mata-mata. Untuk mempertahankan kedudukannya, Charlotte dan para Shadowhunter diberi kesempatan selama dua minggu untuk melacak keberadaan The Magister. Dalam pencarian ini lah, banyak kisah pengkhianatan yang akhirnya terbongkar dan ketahuan siapa yang berpihak pada siapa.

Di buku ini lebih banyak cerita tentang latar belakang tokoh-tokohnya, termasuk sedikit tentang Charlotte dan suaminya, Henry. Bukan hanya cerita antara Tessa dan Will atau Tessa dan Jem, tapi juga Jem dan Will dan kisah mereka saat memutuskan untuk jadi parabatai

Dislikes
Biar klimaks, gw tulis dislikesnya dulu. Haha..
  • Kalau mau baca Clockwork Prince dengan harapan bukunya akan banyak cerita tentang petualangan dan adegan ‘berantem-beranteman’ macam Clockwork Angel, mungkin akan kecewa. Clockwork Prince kentel banget adegan-adegan romantisnya. Intrik - intriknya pun lebih banyak tentang pengkhianatan jadi ga ada deh adegan seru, labrak-labrakan antara Shadowhunters dan Underworlders. 
  • Cerita tentang cinta segitiga emang agak-agak tricky ya. Tiap baca adegan antara Jem dan Tessa, abis itu Will dan Tessa, gw jadi geregetan sendiri. It was like, "Come on, Tessa! Make up your mind. Pick one, and I'll take the other!" Disini Tessa terkesan kaya ga bisa nentuin pilihan, walopun ga bisa disalahin juga secara cowok yang bener-bener dia suka sikapnya ga jelas. Sementara yang dianggap temen ternyata nganggep dia lebih dari sekedar temen.
  • Di buku kedua ini cerita tentang Will lebih banyak diungkap. Terutama kisah tentang keluarganya, kenapa dia dateng ke Institute dan alasan kenapa dia bertingkah menyebalkan ke semua orang, kecuali Jem. Pas ceritanya keungkap, menurut gw kisahnya kurang seru bahkan cenderung antiklimaks.

Likes
Argh, who am I kidding?! Despite all the dislikes, I think it's pretty obvious that I am in love with this book. Walopun buku ini temanya beda dari buku pertama, buat gw intrik-intriknya tetep bikin penasaran. And the romantic scenes? Oh I just couldn't get enough. Settingnya pas, emosi yang dialamin oleh tokoh-tokohnya digambarkan detail dan dialognya juga indah. Bukannya gombal ga jelas yang bikin mo muntah. Cassandra Clare bisa banget bikin gw kebawa suasana. Karakter-karakter tokoh-tokohnya pun mendukung. Jem yang gentleman dan lemah lembut. Sedangkan Will yang kasar dan nyeleneh, trus tiba-tiba perhatian, abis itu cuek lagi. After all, if you wanna make a triangle love story, give two equally difficult options. That'll spice things up!

Cerita antara Will dan Jem pun digali lebih dalem. Berkali-kali Cassandra Clare menggunakan kata 'parabatai' atau 'brother', bukan 'best friend' setiap membahas Will dan Jem, menunjukan dekatnya hubungan mereka dan banyak nunjukin sisi lembutnya Will yang ga banyak ditunjukin saat dia berhadapan dengan orang lain.

Dialog-dialog antara tokoh-tokohnya juga terasa lebih santai dan banyak diselipin humor, terkesan kalo penghuninya udah lebih deket satu sama lain, terutama Tessa. Mungkin karena awal ceritanya ga segelap Clockwork Angel.



Verdict
Jadi intinya.. ah, sudahlah. Tulisan ini terlalu eksplisit. Selama gw baca, berkali-kali gw ngomongin buku ini di twitter dan timeline pun gw banjirin dengan quotes dari buku. At one point, gw rasa mungkin gw di-mute orang.



Ini baru quotes-nya. Belom pendapat-pendapat gw tentang bukunya. Bahkan pernah dalam satu hari, tweets gw tentang Clockwork Prince semua. I am obsessed with this book. Bahkan selesai baca bukunya pun gw masih baca-baca ulang bagian favorit gw. Haha.. Ga sabar nungguin Clockwork Princess!


Tuesday, May 22, 2012

Clockwork Angel


Clockwork Angel adalah buku pertama dari trilogi Infernal Devices, karangan Cassandra Clare.
"Bercerita tentang Tessa Gray, gadis yang ternyata bisa merubah diri jadi siapa saja. Tessa datang ke London atas undangan kakaknya, Nate. Alih-alih bertemu Nate, Tessa justru diculik dan disekap oleh kelompok yang menamakan dirinya Pandemonium Club. Hingga tanpa sengaja dia diselamatkan oleh Will Herondale, seorang Shadowhunter, yang sedang mengadakan penyelidikan tentang Pandemonium Club.  Shadowhunter yang disebut juga Nephilim adalah mahluk titisan malaikat yang bertugas menjaga perdamaian di bumi antara manusia (yang disebut mundane) dan mahluk Underwold, termasuk di dalamnya vampire, warlocks, werewolf dan mahluk aneh lainnya. Tessa akhirnya dibawa ke Institusi tempat Shadowhunter lainnya berada, termasuk diantaranya Jem Carstairs yang adalah teman Will dalam melaksanakan tugasnya sebagai Shadowhunter.

Petualangan dimulai saat Tessa dan para Shadowhunter berusaha memecahkan misteri mengenai Pandemonium Club dengan kepentingan mereka masing-masing. Para Shadowhunter melaksanakan tugas mereka untuk mencegah kejahatan yang disebabkan para penghuni Underworld sedangkan Tessa berusaha mencari kakaknya."

Tokoh sentral dari cerita ini tentunya Tessa, Will dan Jem. Walaupun dari jumlah tokoh sentralnya dan slogannya "Magic is dangerous - but love is more dangerous still" terkesan bukunya banyak bercerita tentang cinta segitiga yang super klise, untungnya kisah petualangan memakan lebih banyak porsi dalam cerita ini.

Gw suka betapa lovable dan kuat karakter semua tokoh utama di buku ini. Tessa adalah gadis yang berani, pintar dan banyak akal. Dia digambarkan sebagai gadis yang suka membaca novel dan sering mengutip frase-frase dari buku dan puisi favoritnya yang mengingatkan gw pada Belle dari Beauty and the Beast.

Will dan Jem adalah sepasang sahabat dengan sifat yang bagaikan langit dan bumi. Will adalah tipe pemberontak, cuek, to-the-point dan cenderung kasar. Yang membuat dia unik, sama seperti Tessa, Will ternyata juga penggemar puisi dan novel. Sikap cuek dan kasar Will sepertinya adalah caranya untuk menjaga jarak dari orang di sekitarnya dan menyimpan rahasia tentang masa lalunya. Jem sendiri adalah tipe gentleman. Sifatnya sopan, baik hati dan segala yang indah-indah. Kalau dibandingin sama komik Candy Candy, bisa dibilang kalo Will itu Therius sedangkan Jem itu Anthony. Haha..

Likes
Ceritanya seru banget! Setiap halaman bikin gw penasaran untuk terus baca. Bukan cuma kisah seputar petualangannya aja yang seru tapi juga latar belakang tokoh-tokohnya yang bikin penasaran. Dialog-dialognya pun disisipin humor di saat-saat yang ga diduga, terutama dialog Will dan Jem. Gw sampe kebawa suasana. Ikutan seneng, bengong (berapa kali ngomong "haahh? sumpah lo?!" depan buku), ngomel dan ketawa-ketawa sendiri pas baca bukunya.

Spoiler alert sesedikit mungkin, gw suka cerita dengan twisted ending. Dan Clockwork Angel menyajikan ending yang ga disangka-sangka, bikin bukunya jauh dari membosankan. Keren lah!

Walaupun ga mendominasi, cerita cinta di buku ini diceritain dengan porsi yang pas. Chemistry-nya dapet, tapi ga menye-menye.


Dislikes
  • Berhubung gw orangnya agak cemen kalo urusan darah-berdarah, menurut gw buku ini termasuk teralu graphic ya. Gw aja agak mual waktu baca bagian-bagian yang berhubungan dengan iris-mengiris, mengingat buku ini melibatkan vampir. Jadi yah, a little heads up aja.
  • Gak semua misteri dalam cerita selesai di buku ini. Cerita utamanya tentang Pandemonium Club sih tuntas. Tapi banyak kisah-kisah seputar tokoh utamanya yang tetep jadi misteri sampai bukunya selesai (yang berdasarkan sinopsisnya, sepertinya akan lebih dalam dibahas di buku kedua). Ya agak males aja sih. Untungnya gw baca buku ini  setelah buku keduanya terbit jadi ga perlu nunggu lama-lama.
  • Kalo poin ini sih agak-agak personal. Gw baca buku versi bahasa Inggrisnya dan menurut gw perbendaharaan katanya agak susah. Sedikit terkesan seperti British English, mengingat ceritanya pun berlatar belakang kota London. Padahal pengarangnya sendiri orang Amerika. Gw baca buku ini sambil diselipin buka kamus. Mungkin ga jadi masalah sih buat mereka yang perbendaharaan katanya luas. Gw sih berusaha menikmati aja karena pada akhirnya gw dapet banyak tambahan kata-kata baru.

Things I don't get
Judulnya. Clockwork Angel adalah kalung milik Tessa yang dulunya adalah kepunyaan ibunya. Sepanjang cerita, clockwork angel ini ga banyak berperan dan ga banyak diceritain. Gw ga ngerti kenapa dijadiin judul.

Things to note
Seri Infernal Devices adalah prequel dari Seri The Mortal Instruments. Sayangnya gw ga perhatiin, malah beli Clockwork Angel duluan. Gw ga bisa bilang gw rekomen The Mortal Instruments secara gw belom baca bukunya, tapi kalo bisa baca buku sesuai urutan, kenapa enggak?

Verdict
Suka banget! Highly recommended. Kalo suka kisah fantasi dan petualangan, silakan baca ini.

Saturday, May 5, 2012

Aku dan Buku

Pengalaman gw dengan buku dimulai sejak gw SD. Dengan bokap yang hidungnya hampir selalu tenggelam di antara halaman-halaman buku, ga heran kalo sekarang anak-anaknya pun punya hobi yang sama. Buku pertama gw pun adalah pemberian bokap gw. Buku pertama disini maksudnya buku yang gw bener-bener baca sendiri, bukannya dibacain bokap. Seperti anak-anak generasi 90an pada umumnya, buku pertama gw adalah karangan Enid Blyton, judulnya Petualangan di Gunung Bencana (yang sayangnya sekarang udah hilang). Gw inget gw baru baca beberapa halaman udah mengeluh sama bokap, gw bosen dan ga bisa selesain baca karena bukunya ga ada gambarnya. Untungnya waktu itu bokap kekeuh mendorong gw untuk nyelesain baca sambil ngebayangin ceritanya menggunakan imajinasi. Dan untungnya gw waktu itu nurut sama kata-kata bokap. Karena kalo gak, malah gw yang sekarang rugi. Hehe.. Buku-buku Enid Blyton emang pas banget untuk melatih imajinasi anak-anak karena dia selalu menggambarkan segala sesuatu dengan detail dan menggunakan banyak kata. Apalagi kalo mendeskripsikan pemandangan dan makanan. Dulu gw sampe ngiler-ngiler kepengen limun jahe, walopun gw ga ngerti itu minuman apa dan ga tau panasnya rasa jahe.

Beberapa buku karangan Enid Blyton yang berhasil gw dapet setelah menjelajahi toko buku bekas di internet

Dari satu buku, akhirnya ketagihan gw akan buku pun dimulai. Awalnya cuma terbatas dengan buku-buku Enid Blyton, akhirnya meluas ke segala jenis buku. Waktu gw SD, gw bahkan gw suka baca buku cerita rakyat. Beruntunglah gw yang sekolahnya waktu SD memfasilitasi perpustakaannya dengan banyak sekali buku petualangan anak-anak. Dari yang males baca buku ga bergambar, gw bisa dengan rakusnya melahap Seri Pasukan Mau Tahu, seri Lima Sekawan yang gw koleksi lengkap dan cerita-cerita lepas Enid Blyton. Satu orang pengarang ini punya karya yang cukup banyak untuk menemani masa kecil gw. Dari Enid Blyton, gw kenalan dengan Edith Unnerstad dengan karya-karya terkenalnya tentang keluarga Larsson seperti O Mungil, Si Bandel dan Tamasya Panci Ajaib (ada juga Tamasya Laut, sayangnya gw belom pernah baca). Juga Astrid Lindgren dengan cerita-ceritanya tentang si Pippi Kaus Kaki Panjang. Selain itu, tentunya masa kecil seseorang belum lengkap kalo belum baca dongeng-dongeng klasik macam Pangeran Bahagia, Angsa-angsa Liar, Gadis Penjual Korek Api atau Prajurit Timah (semuanya karya HC. Andersen kecuali Pangeran Bahagia yang adalah karangan Oscar Wilde). Tentunya ada banyak sekali kisah dongeng, tapi gw selalu jatuh cinta sama karya-karyanya Andersen.

Mungkin karena kisah gw sendiri berawal dari buku petualangan anak-anak, ga tau kenapa sampai sekarang buku petualangan anak dan praremaja masih jadi favorit gw walopun umur gw udah sangat ga cocok dikategorikan remaja. Dan dengan berbangga hati gw bisa bilang gw percaya sama insting gw terhadap buku anak. Yah setidaknya temen-temen gw puas kalo gw rekomendasiin buku. Hehe.. Karena sayang sekali era Blyton dan Unnerstad udah lewat (walopun sampe saat ini gw masih mengharapkan supaya buku-buku mereka dicetak ulang), gw menemukan kepuasan terhadap petualangan anak-anak dalam buku-buku Rick Riordan dan JK. Rowling, walopun sayangnya karya-karya mereka belom cukup banyak. Percy Jackson dan Dewa-Dewi Olympia adalah hasil temuan kebanggan gw. Secara pertama kali liat, bukunya terkubur diantara buku-buku lain dan volume pertamanya bahkan cuma sisa satu. Tapi melihat ramuannya yang menggabungkan petualangan dan dewa dewi Yunani, dua hal yang amat sangat menarik buat gw, akhirnya gw memutuskan untuk beli. Dan sampai sekarang gw selalu ngikutin karya-karya Riordan. Dari buku yang terkubur di antara tumpukan buku, sekarang hasil karya Riordan berjejeran di rak gw dan adek gw, yang dengan suksesnya gw racunin untuk baca buku-buku Riordan.


Karya Rick Riordan koleksi gw, selain seri Percy Jackson and The Olympians.
The Heroes of Olympus dan Kane Chronicles.

Gw selalu merasa kalo gw tumbuh sebagai anak pecinta buku yang beruntung karena di masa kecil gw tersedia buku-buku cerita yang topiknya beragam mulai dari dongeng sampai kisah tentang keluarga sehari-hari. Seaneh-anehnya pengalaman mereka pun, palingan jadi detektif. Sejujurnya gw agak prihatin dengan buku-buku anak jaman sekarang yang ceritanya jauh lebih condong ke arah fantasi. Seakan-akan ga ada genre lain yang lebih menarik daripada fantasi. Terutama sejak boomingnya Harry Potter dan diikuti Twilight. Ya ga salah sih. Yang penting inti dari cerita itu bisa ngasih pesan untuk pembacanya. Apalagi kita ini ngomongin buku untuk anak-anak, jadi harus pilih-pilih juga dalam menyampaikan topik. Misalnya Harry Potter dan Percy Jackson yang banyak mengajarkan tentang persahabatan dan kerjasama. Atau Twilight yang mengajarkan betapa pentingnya punya pacar. Tapi alangkah baiknya kalo anak-anak ini dikasih pilihan lain selain fantasi. Cerita tentang keluarga manusia normal juga menarik koq. I grew up with that kind of stories!

Sebenernya postingan ini gw tulis cuma untuk berbagi cerita gw tentang pengalaman gw dengan buku. Tapi semoga tulisan ini mewakili suara para pecinta buku lainnya supaya buku-buku lama bisa dicetak ulang. Secara tiap kali ngobrol tentang Blyton atau Unnerstad, selalu ujung-ujungnya nyeritain susahnya berburu buku lama di toko buku bekas atau berharap bukunya dicetak ulang.

Saturday, April 28, 2012

Pride & Prejudice. TV vs. Film: Penokohan.


Pride & Prejudice 1995


Pride & Prejudice 2005



Setelah selesai baca buku Pride & Prejudice, tentunya yang gw lakukan selanjutnya adalah membandingkan dengan filmnya. Gw harus nahan diri supaya ga tergoda nonton filmnya dulu, sebelum nyelesein filmnya. Mengingat betapa lamanya gw selesein novelnya.

Pride & Prejudice sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film. Tapi yang paling diinget adalah versi mini seri sebanyak 6 episode yang ditayangkan tahun 1995 dengan Jennifer Ehle berperan jadi Elizabeth Bennet dan Colin Firth berperan jadi Mr Darcy. Versi selanjutnya adalah film tahun 2005 dengan Keira Knightley sebagai Elizabeth Bennet dan Matthew MacFadyen sebagai Mr Darcy. Kali ini gw mo ngebandingin kedua adaptasi tersebut.

Ada banyak banget sudut pandang yang bisa diangkat saat membahas Pride & Prejudice. Jalan ceritanya, settingnya, tokoh utama dan tokoh - tokoh penunjangnya menarik untuk dibahas. Gw ngerti banget kalau mengharapkan sebuah film yang cuma berdurasi sekitar 2 jam bisa sedetil film seri yang ditayangkan sebanyak 6 episode itu ga masuk akal. Buat gw, film adaptasi yang bagus adalah yang bisa diikuti bahkan oleh mereka yang ga baca bukunya. Gapapa lah ada adegan yang terpaksa dipotong atau tokoh yang dihilangkan, asalkan inti ceritanya tetep dapet. Tapi lain ceritanya sama penokohan. Buat gw, bagaimanapun dimodifikasinya jalan cerita, karakter setiap tokoh harusnya bisa tetap dipertahankan. Walaupun ga menutup kemungkinan kalau setiap aktor punya persepsi sendiri – sendiri tentang karakter tokoh yang diperankannya.

Mengingat Pride & Prejudice sendiri banyak banget subplotnya, ga heran kalau di filmnya banyak cerita yang terpaksa dipotong atau justru dimampatkan jadi satu dan ada beberapa tokoh minor yang kalau ga diikutsertakan dalam film ga akan mengganggu jalan cerita. Misalnya Mr & Mrs Hurst yang adalah saudara Mr Bingley. Atau Denny, prajurit yang ngenalin Mr Wickham ke keluarga Bennet. Bahkan Miss Caroline Bingley dan Miss Georgiana Darcy ga banyak tampil di film. Begitu juga tokoh–tokoh lain yang kalau muncul justru bikin filmnya making panjang ga keruan karena harus ngenalin latar belakang mereka masing-masing.

Disini gw mau ngebandingin tokoh–tokoh yang khas dalam cerita. Dan pastinya dua tokoh utama gw tempatin di urutan terakhir. Save the best for last, begitulah.



Mr & Mrs Bennet
Film: Donald Sutherland & Brenda Blethyn
TV: Benjamin Whitrow & Alison Steadman

Gw bener-bener angkat topi buat Alison Steadman dalam berperan jadi Mrs Bennet di TV. Bahkan denger suaranya aja gw jadi kebawa emosi dan ikutan kesel. Mrs Bennet versi film juga nyebelin, tapi nyebelinnya masih tipe ibu-ibu yang kepo sama urusan keluarganya. Sedangkan Mrs Bennet versi TV dapet banget karakter Mrs Bennet yang kepo, berpikiran dangkal, suka maksain maunya sendiri, selalu nyalah-nyalahin orang dan selalu ngerengek-rengek ga jelas. 

Kalau Mr Bennet, dari versi film dan TV kesan yang ditangkep agak beda. Kalau Mr Bennet versi film terkesan sebagai ayah penyayang dan omongannya terkesan becanda-becanda sama istrinya. Sedangkan versi TV, sesuai bukunya, Mr Bennet lebih banyak mengabaikan istrinya yang banyak maunya, menganggap konyol tiga anak dan paling sayang sama Elizabeth (dan Jane?) Dua-duanya sih impresif dengan sifat yang berbeda, walopun sayang dialog antara Mr dan Mrs Bennet di film ga terlalu banyak. Karena komentar-komentar sarkastik Mr Bennet ini yang suka bikin gw ketawa.



Jane Bennet
Film: Rosamund Pike
TV: Susannah Harker
Sayang banget karena cerita film-nya jauh lebih banyak fokus ke Elizabeth, akhirnya cerita Jane ga terlalu detail dibahas dan tokoh Jane di film pun ga banyak disorot. Padahal Jane adalah salah satu tokoh favorit gw dan ceritanya pun menarik.

Jane versi TV lebih mendekati karakter Jane di buku. Lebih tenang, anggun, ga pernah berprasangka jelek sama orang dan angelic, seperti yang berkali-kali digambarin oleh Lizzy. Sedangkan Jane versi film sama manisnya, tapi karakternya lebih lepas dan lebih terkesan ceria dibanding Jane versi TV yang lebih banyak senyum aja dan sering keliatan serius. Gw suka gemana dua aktris ini menggambarkan versi Jane mereka masing-masing dan kalau Jane versi film dapat lebih banyak porsi di layar, gw lebih suka Jane versi Rosamund Pike.


Mr Bingley
Film: Simon Woods
TV: Crispin Bonham-Carter
Langsung aja, gw ga suka versi filmnya. Menurut gw, Mr Bingley adalah orang yang ramah, supel, percaya diri dan pintar. Dan yang jelas dia ga kikuk. Gambaran Mr Bingley versi TV lebih pas daripada Mr Bingley versi film yang, walopun ramah dan terkesan menyenangkan, menurut gw keliatan bingung dan salah tingkah. Ngomong sama Jane pun sampe salah-salah. Ga suka lah.. Dan kenapa juga sih rambutnya mesti berjambul aneh gitu?


Mr Wickham
Film: Rupert Friend
TV: Adrian Lukis
Nah, ini yang gw heran koq ga banyak dibahas secara Mr Wickham ini lah biang kerok yang secara ga langsung ngerecokin hubungan Elizabeth dan Mr Darcy. Di buku, Mr Wickham digambarkan sebagai orang yang supel, ramah dan pinter bersosialisasi. Luwes dalam memulai pertemanan, tapi kemampuan mempertahankan pertemanannya meragukan, itu kalau kata Mr Darcy. Elizabeth, yang ga tau belangnya Mr Wickham, suka sama Mr Wickham karena pembawaan Mr Wickham yang ramah dan supel ini, juga gemana dia bisa dengan tenangnya cerita tentang Mr Darcy yang, menurut cerita versi Mr Wickham, jahat dan menyebabkan dia jatuh miskin.

Secara Mr Wickham versi film nongolnya sebentar banget dan lebih banyak digambarin lewat narasi, sifat supelnya ini ga banyak keliatan. Dan dari sedikitnya dia muncul, kesan yang gw tangkep malah agak-agak tebar pesona. Tapi yah ngebandingin Mr Wickham versi film yang munculnya sebentar banget sama Mr Wickham versi TV yang muncul di 5 episode, dari total 6 episode, kayanya ga fair. Walopun kalo main fisik, gw ga suka Mr Wickham versi film yang penampilanya terlalu manis dan ngingetin gw sama Legolas.

  

Mr Collins
Film: Tom Hollander
TV: David Bamber
Lagi-lagi versi TV menang JAUH dari versi film. Dari awal muncul, ngeliat Mr Collins versi TV seakan-akan Mr Collins di buku lompat dan langsung masuk ke dalam TV. Begitulah bayangan Mr Collins saat gw baca bukunya. Sok tau, konyol, cengengesan gengges dan selalu ngerasa penting. Belom lagi ekspresinya yang salah tingkah. Aduh.. beneran bikin ketawa geli. Aktornya pun chubby dan innocent yang bikin gambaran karakter Mr Collins tambah pas! Mantep lah pokokqnya... Mr Collins versi film biasa banget dan ga berkesan.


Lady Catherine de Bourg
Film: Judy Dench
TV: Barbara Leigh-Hunt
Akhirnya ada juga karakter yang seri antara versi film dam TV. Walopun sejujurnya kesan pertama liat Lady Catherine de Bourg versi TV agak kurang meyakinkan. Ga segagah yang digambarkan buku. Atau bisa dibilang, yang digambarkan oleh Mr Collins dengan penuh dengan bumbu – bumbu lebayatun. Karakter Lady Catherine de Bourg pada dasarnya memang kepo dan tipe ngatur-ngatur. Awalnya, Lady Catherine de Bourg versi film terlihat lebih berkuasa sedangkan versi TV-nya cuma terkesan kepo. Mau gemana pun, menurut gw tetep begitulah karakternya. Tapi di adegan dia mengkonfrontasi Elizabeth, baru keliatan ketegasan karakter Lady Catherine. Baik yang TV maupun film menurut gw pas ngebawain karakter tokoh Lady Catherine.


Dan.. akhirnya sampe juga ke pemeran utamanya.


Elizabeth Bennet
Film: Keira Knightley
TV: Jennifer Ehle
Sama seperti Jane Bennet, karakter Elizabeth versi TV dan film dibawain dengan agak berbeda. Tapi buat gw, dua-duanya tetep ga melenceng jauh dari gambaran karakter Elizabeth di buku. Pintar, punya pendirian, berani, perhatian dan lebih santai apalagi kalau dibandingin dengan pembawaan Jane yang lemah gemulai. Tapi bahkan sebelum gw nonton filmnya, waktu gw baca bukunya gw ngebayangin Elizabeth ya seperti gambaran yang di film gitu lah. Lebih lepas dan bisa ketawa-ketawa cekikikan. Cara ngomongnya pun lebih santai dan ga se’tertata’ Elizabeth versi TV. Jadi yah, Elizabeth versi film maupun TV sama-sama pas, cuma gw lebih suka versi film.


Mr. Darcy
Film: Matthew MacFadyen
TV: Colin Firth
"Pertama-tama, gw harus mengakui mungkin pendapat gw tentang yang mana Mr Darcy favorit gw agak-agak bias, karena salah satu alasan yang mendorong gw untuk baca Pride and Prejudice adalah saat gw tau film Bridget Jones’ Diary ternyata terinspirasi dari Pride & Prejudice. Dan di film itu gw jatuh cinta setengah mati sama karakter yang diperankan oleh Colin Firth, yaitu Mark Darcy (yang diciptakan oleh Helen Fielding dengan terinspirasi oleh Mr Darcy di Pride and Prejudice). Yang kemudian berujung dengan gw jadi ngefans membabi buta sama Colin Firth yang adalah pemeran Mr Darcy versi TV. Jadi yah, begitu lah... One small world. "

Eniweeeiii...
Berdasarkan bukunya, kesan pertama tentang Mr Darcy adalah angkuh, ga ada basa-basi, sangat yakin pada dirinya sendiri sehingga terkesan arogan dan tertutup. Yang tentunya bukan kesan utama yang impresif, sampai dia belom buka mulut aja orang udah ga suka sama dia. Bahkan satu desa pun (Hertfordshire?) ga suka sama dia, apalagi kalo dijejerin sebelahan sama Mr Bingley. Tentunya itu sebelum sifat aslinya yang baik, dermawan dan lalala yang indah-indah ketauan. Dan menurut gw, disitulah kuncinya karakter Mr Darcy. Dia dibenci kemudian disayang.

Kalau liat karakter Mr Darcy di TV saat pertama kali muncul, emang bener-bener aura sepa’-nya keliatan banget. Keliatan banget dari ekspresi mukanya yang cemberut kalau dia angkuh dan ga suka berada di situasi yang banyak dikelilingi orang asing dan ga mau susah-susah berusaha membaur. Dia memperhatikan Jane dan keluarganya pun karena Mr Bingley keliatan tertarik sama Jane. Dan kesan angkuh ini dipertahanin terus sampai akhirnya sifat-sifat baiknya mulai disebut-sebut. Tapi kesan pertamanya dapet banget. Saat pertama kali diperkenalkan sama keluarga Bennet pun, tiba-tiba dia pergi saat masih diajak ngomong oleh Mrs Bennet. Nah, itu dia belagunya dan ga heran kalo orang jadi benci. Mrs Bennet menggambarkan Mr Darcy saat itu sebagai “proud disagreeable man”

Sedangkan, kesan pertama yang gw dapet dari Mr Darcy versi film adalah tertutup, banyak pikiran bahkan terkesan sedih, agak sombong tapi ga menyebalkan. Pertama kali ngeliat Mr Darcy, Elizabeth menggambarkan dia sebagai “miserable”, yang dari sudut pandang gw bukannya bikin jadi benci malah kesian. Masalahnya dengan Mr Darcy di film adalah, dia tidak cukup angkuh untuk dibenci yang kalau kemudian dia jadi disukain ya ga heran. Intinya sih, menurut gw, karakter yang diperankan MacFayden ini  loveable.. tapi siapapun itu, dia bukan Mr Darcy.

--o0o--

Phew! Banyak juga.. Dan begitulah pendapat gw tentang tokoh-tokoh Pride & Prejudice di film dan TV. Walaupun lebih banyak karakter di TV yang gw suka, dibandingkan dengan di film, tetep aja gw ga bisa (ga tega, tepatnya) bilang kalo versi TV-nya  lebih bagus. Buat gw ga bisa dibandinginlah. Apalagi banyak tokoh yang ga sempet nunjukin karakternya karena ga dapet banyak porsi di film. Jadi yah gw menikmati dua-duanya.

Seperti yang gw bilang, banyak yang bisa dibahas dari Pride & Prejudice. Dan selanjutnya gw mo nulis perbandingan berdasarkan adegan-adegannya. Hope you enjoy!