Friday, October 19, 2012

Insurgent


Insurgent adalah buku kedua dari trilogi Divergent oleh Veronica Roth.
Serangan dari Erudite dan pengkhianatan para petinggi Dauntless memaksa Tris dan Tobias serta para Abnegation dan Dauntless untuk mencari perlindungan pada faction lainnya, yakni Amity dan Candor. Yang kemudian justru membawa kedua faction tersebut dalam masalah karena mereka dianggap melawan Erudite. Maka konflik antar faction pun terjadi. Penyerangan terjadi, para Divergent menjadi mangsa utama dari Erudite.
Dalam perjalanannya mencari perlindungan, Tris dan Tobias bertemu dengan para factionless yang ternyata punya misi yang sama untuk melawan Erudite. Tobias, bersama para factionless, setuju untuk melawan Erudite dengan menghancurkan mereka. Sementara Tris percaya bahwa ada alasan dibalik serangan-serangan Erudite dan bertekad mencari jawabannya, walaupun harus mengkhianati Tobias.

Sebenernya ga banyak yang gw protes dari buku ini. Tapi karena ini yang langsung gw inget, jadi langsung gw tulis. I HATE CLIFFHANGER, dammit! Insurgent dimulai tepat di adegan yang sama dimana Divergent berakhir. Bayangin rasanya harus nunggu setahun sambil penasaran apa yang akan langsung terjadi. Hiks. Kalo menurut om Rick Riordan, yang juga hobi mengakhiri buku-bukunya dengan cliffhanger, teknisnya, akhir sebuah buku disebut cliffhanger kalo ada nyawa tokohnya yang terancam. Blah blah blah.. Po-tay-to po-tah-to. Tentunya cliffhanger ini ga bikin gw berhenti baca trilogi Divergent. Yang ada malah jadi tambah penasaran. Tapi sekedar mengingatkan saja. Kalo suka gemes sama ending yang gantung, yang siap-siap gemes aja baca Insurgent (dan Divergent).

Selain protes gw di atas, gw rasa gw ga punya kritik berarti buat Insurgent. Seperti yang udah sempet gw singgung di review gw tentang Divergent, gw sangat terkesan sama Insurgent. Gw beberapa kali mengalami pengalaman buruk dengan buku kedua (beberapa diantaranya adalah The Sea Monster, City of Ashes, Catching Fire). Bahkan Becca Fitzpatrick, pengarang Hush Hush saga, mengakui kalau para pengarang biasanya mengalami kesulitan menulis buku kedua. Tapi rupanya Insurgent adalah salah satu pengecualian, setidaknya menurut gw.

Di Insurgent, bukan cuma kelima factions yang terlibat dalam cerita. Kita bahkan berkenalan dengan para factionless! Dan buat gw, ini adalah salah satu poin yang menarik. Buat apa menciptakan sistem factions kalo tidak dilibatkan dalam cerita? Walaupun dari awal gw ga terlalu bisa terima ide tentang pembagian factions ini, tetep aja mengenal masing-masing factions dan cara mereka menghadapi konflik yang terjadi jadi salah satu daya tarik Insurgent.

Kalau mengharapkan banyak adegan romantis antara Tris dan Tobias di Insurgent, siap-siap aja kecewa. Bukan cuma tidak banyak adegan romantis, Tris dan Tobias pun banyak kali berantem. Tapi untuk mengobati kekecewaan gw, di buku ini gw bener-bener terkagum-kagum sama Tris. Kalau di buku sebelumnya peran Divergent belum terlalu jelas –despite the title– di Insurgent mulai bermunculan tokoh-tokoh Divergent lainnya, dan mereka lebih memegang peran dalam cerita. Terutama Tris. Sesuai hasil aptitude test-nya, dia pemberani, tidak memikirkan dirinya sendiri dan pintar. Jadi bisa dibayangkan seperti apa tokoh Tris yang taktis, apalagi karena harus berhadapan dengan petinggi Erudite. Dan dia sendiri dengan beraninya menjalankan rencana-rencananya yang lebih cocok disebut “Misi Cari Mati.” I’m all about smart dan brave heroine jadi ga heran kalo gw jatuh cinta setengah mati sama tokoh Tris. Bisa dibilang, Tobias sedikit terlupakan di cerita ini.

Dari segi cerita, menurut gw Insurgent WOKEH banget. Divergent is not at all bad, tapi sebenernya ceritanya ringan banget. Mostly cuma tentang masa-masa inisiasi Tris. Dimana kita kenalan sama Dauntless dan tokoh Tris. Sementara Insurgent ceritanya lebih twisted. Bukan cuma bikin kita tertarik untuk mengikuti konflik yang sedang terjadi, tapi bikin kita jadi penasaran dan berusaha nebak-nebak apa yang jadi asal muasal konfliknya, dan siapa yang beneran kawan atau lawan. Gw paling suka cerita yang ga ketebak kaya gini! Oh ya, sekedar peringatan, if you're easily attached to characters in books, siap-siap aja sering patah hati. Sama seperti buku sebelumnya, Veronica Roth ga kira-kira kalo ngebunuh tokoh ceritanya. You’d think, "Oh, ini tokoh yang banyak berperan. She’ll stick until the end." Umm.. think again.

Secara keseluruhan gw bener-bener impressed sama Insurgent! Ga nyangka gw bisa segitu attached sama buku distopian, padahal gw sendiri bukan penggemar distopian. Insurgent really sets the bar up high. Gw harap buku ketiga dari trilogi ini sama kerennya, bahkan lebih!

Monday, October 1, 2012

Divergent




Divergent adalah buku pertama dari trilogi Divergent yang ber-genre distopian karangan Veronica Roth. Buku ini ber-setting di Amerika di masa depan dimana, untuk menjaga kedamaian, penduduknya dibagi dalam lima factions, berdasarkan sifat positif yang diutamakan masing-masing faction : Candor (kejujuran), Erudite (kecerdasan), Dauntless (keberanian), Amity (kedamaian) dan Abnegation (ketidakegoisan).

Adalah Beatrice Prior, yang menginjak usia enam belas tahun, yang berarti saatnya mengikuti Choosing Ceremony untuk memilih faction. Sebelum menentukan pilihan, setiap peserta diwajibkan mengikuti aptitude test untuk mengetahui faction yang cocok untuk mereka. Saat menjalani aptitude test ini lah, Beatrice mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Divergent. Sebuah istilah yang asing di telinganya, tapi ternyata membahayakan nyawanya sehingga dia harus merahasiakannya dari siapapun.

Terlepas dari hasil aptitude test, Beatrice akhirnya menentukan faction pilihannya dan mengganti namanya menjadi Tris. Sesuai tradisi, para peserta baru, yang disebut Initiates, harus menjalani serangkaian proses inisiasi. Pada proses ini lah Tris bertemu dengan teman-teman baru, belajar bertahan dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya, juga bertemu Four, yang adalah instrukturnya. Dimana, bisa ditebak, Tris akhirnya dekat dengan Four.

Selama berusaha bertahan dalam proses inisiasi, tersiar berita yang tidak mengenakan yang menyerang ayah Tris yang duduk di pemerintahan, yang membuat dia curiga bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memprovokasi pemberontakan. 

Review ini berangkat dari kenyataan bahwa gw bukanlah penggemar distopian. Gw  bukan penggemar cerita yang berlatar belakang masa depan. Lagian, The Hunger Games dan Catching Fire udah cukup bikin gw ilfil terhadap genre distopian.  Terus kenapa gw baca Divergent? Jawaban gw sederhana aja. Because I want to know what the fuss is all about. Jujur aja, gw sempet stuck di tiga bab pertama dalam waktu yang cukup lama. Kenapa sih awal cerita dystopian harus gloomy? Bikin males baca. Tapi gw memutuskan untuk terus baca sampai habis. Lagian, buku ini menang Goodreads Choice Award Favorite Book. There has got to be something. 

Kesan pertama, mau ga mau, gw menganggap sebuah masa dimana penduduknya dibagi berdasarkan factions, yang mana factions ini dibedakan berdasarkan sifat utama para penduduknya, adalah ide yang konyol dan ga masuk akal. Bahkan aptitude test yang digunakan untuk menentukan factions terlalu sederhana untuk mengategorikan sifat manusia yang sangat kompleks. Tapi ya udahlah, namanya juga fiksi. Lagian, pembagian factions ini yang jadi dasar cerita, jadi gw ikutin aja.

Kurang lebih dua pertiga porsi cerita menceritakan tentang proses inisiasi Tris sambil kita kenalan sama dunia distopian a la Veronica Roth. Ceritanya ringan, ga terlalu banyak twist-nya tapi cukup seru  untuk diikutin. Menurut gw, yang bikin proses inisiasi ini jadi menarik adalah tokoh Tris yang disini jadi underdog. Tris sering dianggap remeh, bahkan temen-temennya menganggap dia harus selalu ditolong dan dilindungi. Tapi Tris terus-terusan menunjukan hasil yang ga disangka-sangka dalam menghadapi serangkaian ujian dalam proses inisiasi.  

Selama inisiasi ini tujuannya mengajarkan para Initiates tentang sifat utama dari faction mereka. Sebenernya banyak banget quote-quote bagus yang berhubungan dengan faction yang dipilih Tris. Tapi kalo gw nge-quote yang ada malah jadi spoiler. So I’m just gonna keep it for myself (Not easy, guys!). Tapi gw suka cara nulisnya Victoria Roth.

Satu lagi yang bikin gw betah baca Divergent adalah cerita Tris dan Four yang bikin gw smitten ga keruan. Iya tau, gw gampang banget naksir sama karakter di buku. Haha.. Tapi Four ini unik. Secara dia instruktur inisiasi, pembawaannya tegas, pinter, jago berantem, ganteng (kalo menurut Tris). Tapi aslinya dia punya sifat yang cenderung pemalu, dan ga takut untuk nunjukin rasa takutnya pada Tris. Selain itu, dia percaya Tris itu pemberani dan bisa diandalin. That’s what I love about Tris and Four. That they are both equal. And they equally need each other.

Memasuki sepertiga akhir cerita, tema ceritanya tiba-tiba loncat ke permasalahan antar faction. Di awal udah sempet disinggung-singgung tentang pemberontakan tapi tetep aja rasanya koq penempatan urutan ceritanya agak terkesan dipaksain.  Walaupun disini lah misteri tentang Divergent baru mulai terbuka. Dan menurut gw, penyelesaian konfliknya terlalu biasa. 

Hal remeh yang menurut gw mengganggu tapi mungkin ga penting untuk orang lain adalah buuaaanyaknya tokoh dalam cerita ini yang berarti banyak nama yang harus gw inget. Pada dasarnya gw selalu butuh waktu lama untuk mengingat nama tokoh-tokoh utama dalam cerita. Tapi tokoh-tokoh Divergent ini beneran rame banget! Selain itu, dari lima factions yang ada, ga semuanya terlibat dalam cerita. Tapi ternyata itu semua dibahas di buku selanjutnya, Insurgent.

Menurut gw, secara garis besar, distopian atau bukan, cerita Divergent ini menghibur. Ide ceritanya menarik, walopun ga terlalu spesial. Cukup menyita perhatian gw untuk menyelesaikan membaca tapi ga segitu serunya sampe bikin gw deg-degan dan penasaran. Tapi balik lagi ke atas, gw bukan lah penggemar distopian. Jadi kalo gw sampe menikmati buku ini, I think that statement means more.

Kalau gw belum baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Divergent cukup menghibur, boleh dibaca untuk mengisi waktu luang. Tapi karena gw sudah baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Baca lah Divergent supaya bisa lanjutin ke Insurgent. Sepertinya selama menulis Divergent, Veronica Roth menyimpan ilmu menulis-cerita-super-seru untuk kemudian dilimpahkan habis-habisan di Insurgent! Jadi kalo lagi baca Divergent dan berasa biasa aja, KEEP READING! 

Friday, September 21, 2012

Anna and The French Kiss


Anna and The French Kiss adalah buku pertama karangan Stephanie Perkins yang bergenre komedi romantis. Gak tau kenapa, sebelom baca bukunya pun gw udah penasaran dan punya perasaan bukunya bakalan bagus. Mungkin pengaruh gambar sampulnya. Hehe..

Baca Anna and The French Kiss itu seperti pengalaman cinta pada pandangan pertama jadi kenyataan. Secara ini ngomongin baca buku, mungkin tepatnya cinta pada bab pertama? Sebagai penggemar berat genre komedi romantis, setelah akhir-akhir ini maraton baca buku genre fantasi, baca Anna and The French Kiss serasa seperti pulang ke rumah. Gw pernah bilang sebelomnya bahwa genre komedi romantis ini genre paling ringan. Bisa dengan mudahnya menyentuh perasaan sekaligus menghibur, tapi bisa juga dengan mudahnya  jadi klise dan membosankan.

Dan dengan senang hati gw bilang, Anna and The French Kiss masuk dalam kategori pertama!

This book is exactly what I expect from a romantic comedy! Pasangan yang lovable dan bikin pembaca gemes karena pengeeennn banget mereka jadian? Ada! Cerita yang bikin ketawa, senyum-senyum sendiri atau tanpa sadar miringin kepala sambil mendesah “Aaaw...”? Ada!  

Kedua tokoh utama dalam cerita Anna and The French Kiss bikin gw jatuh cinta setengah mati. Anna Oliphant yang teratur dan neat-freak, pinter tapi sedikit insecure. Sedangkan Étienne St.Clair yang adalah cowok ganteng dan baik hati yang banyak disukai di sekolah. Walaupun digambarin sebagai favorit cewek-cewek, tokoh St.Clair justru terasa 'real' karena Stephanie Perkins menambahkan kekurangan-kekurangan seperti tinggi badannya yang di bawah rata-rata, punya acrophobia, dan masalah keluarga yang jadi konflik buat tokoh St.Clair. Itu semua bikin tokoh St.Clair lebih mendekati kenyataan, bukan sekedar idola sempurna cewek-cewek. Dan karakter dan sifat Anna dan St.Clair bikin mereka cocok satu sama lain.

Menurut gw chemistry itu penting banget dalam cerita komedi romantis. Dan chemistry antara Anna dan St.Clair dapet banget.  Mereka mulai sebagai temen. Bercandanya kocak banget dan kerasa banget mereka deket sebagai teman. Saat perasaan mereka berubah pun, gw bisa ngerasain. Okelah, karena ceritanya diceritain oleh Anna sebagai narator, kita bisa dengan mudahnya nebak perasaan Anna. Tapi dari narasi Anna pun kita bisa kenal dalem sama St.Clair. Bukan cuma adegan-adegannya, tapi dialog-dialog mereka pun dapet banget! Gw ikutan senyum-senyum saat St.Clair nunjukin perhatian ke Anna tapi Anna ga sadar. Perut gw berasa melilit kaya ada kupu-kupu saat St.Clair dan Anna saling salah paham dan patah hati. Manis banget! Stephanie Perkins bisa banget ngebawa pembacanya ke dalam cerita St.Clair dan Anna!

Paling males kalo ada pengarang yang nganggep bahwa kota yang eksotis sebagai setting cerita udah cukup untuk membuat sebuah buku jadi menarik, sampai-sampai lupa fokus ke jalan ceritanya. Tapi kota Paris yang jadi latar belakang cerita Anna and The French Kiss cukup jadi bumbu pemanis cerita tanpa mencuri semua perhatian. Kekuatan buku ini tetep di jalan cerita dan karakter tokoh-tokohnya. 

Apa yang gw ga suka dari buku ini? TIDAK ADA. Tapi kayanya ga fair kalo suatu review isinya positif doang. Jadi gw mo protes penampilan fisik bukunya aja deh. Baru kali ini gw dapet buku yang potongan tepinya bergerigi begini. Udah juga ga enak diliat, bikin susah kalo mo balik halaman.

By the way, setelah baca buku ini sampai setengah, gw baru nyadar ternyata di sampulnya ada kutipan dari Cassandra Clare. Whoa! Setuju banget sama kata-katanya!


Pokoknya gw suka banget banget banget Anna and The French Kiss. Buat yang suka cerita komedi romantis, buku ini WAJIB DIBACA!



Will you please tell me you love me? I'm dying here - Étienne St.Clair