Monday, October 1, 2012

Divergent




Divergent adalah buku pertama dari trilogi Divergent yang ber-genre distopian karangan Veronica Roth. Buku ini ber-setting di Amerika di masa depan dimana, untuk menjaga kedamaian, penduduknya dibagi dalam lima factions, berdasarkan sifat positif yang diutamakan masing-masing faction : Candor (kejujuran), Erudite (kecerdasan), Dauntless (keberanian), Amity (kedamaian) dan Abnegation (ketidakegoisan).

Adalah Beatrice Prior, yang menginjak usia enam belas tahun, yang berarti saatnya mengikuti Choosing Ceremony untuk memilih faction. Sebelum menentukan pilihan, setiap peserta diwajibkan mengikuti aptitude test untuk mengetahui faction yang cocok untuk mereka. Saat menjalani aptitude test ini lah, Beatrice mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Divergent. Sebuah istilah yang asing di telinganya, tapi ternyata membahayakan nyawanya sehingga dia harus merahasiakannya dari siapapun.

Terlepas dari hasil aptitude test, Beatrice akhirnya menentukan faction pilihannya dan mengganti namanya menjadi Tris. Sesuai tradisi, para peserta baru, yang disebut Initiates, harus menjalani serangkaian proses inisiasi. Pada proses ini lah Tris bertemu dengan teman-teman baru, belajar bertahan dari orang-orang yang berusaha menjatuhkannya, juga bertemu Four, yang adalah instrukturnya. Dimana, bisa ditebak, Tris akhirnya dekat dengan Four.

Selama berusaha bertahan dalam proses inisiasi, tersiar berita yang tidak mengenakan yang menyerang ayah Tris yang duduk di pemerintahan, yang membuat dia curiga bahwa ada pihak-pihak yang berusaha memprovokasi pemberontakan. 

Review ini berangkat dari kenyataan bahwa gw bukanlah penggemar distopian. Gw  bukan penggemar cerita yang berlatar belakang masa depan. Lagian, The Hunger Games dan Catching Fire udah cukup bikin gw ilfil terhadap genre distopian.  Terus kenapa gw baca Divergent? Jawaban gw sederhana aja. Because I want to know what the fuss is all about. Jujur aja, gw sempet stuck di tiga bab pertama dalam waktu yang cukup lama. Kenapa sih awal cerita dystopian harus gloomy? Bikin males baca. Tapi gw memutuskan untuk terus baca sampai habis. Lagian, buku ini menang Goodreads Choice Award Favorite Book. There has got to be something. 

Kesan pertama, mau ga mau, gw menganggap sebuah masa dimana penduduknya dibagi berdasarkan factions, yang mana factions ini dibedakan berdasarkan sifat utama para penduduknya, adalah ide yang konyol dan ga masuk akal. Bahkan aptitude test yang digunakan untuk menentukan factions terlalu sederhana untuk mengategorikan sifat manusia yang sangat kompleks. Tapi ya udahlah, namanya juga fiksi. Lagian, pembagian factions ini yang jadi dasar cerita, jadi gw ikutin aja.

Kurang lebih dua pertiga porsi cerita menceritakan tentang proses inisiasi Tris sambil kita kenalan sama dunia distopian a la Veronica Roth. Ceritanya ringan, ga terlalu banyak twist-nya tapi cukup seru  untuk diikutin. Menurut gw, yang bikin proses inisiasi ini jadi menarik adalah tokoh Tris yang disini jadi underdog. Tris sering dianggap remeh, bahkan temen-temennya menganggap dia harus selalu ditolong dan dilindungi. Tapi Tris terus-terusan menunjukan hasil yang ga disangka-sangka dalam menghadapi serangkaian ujian dalam proses inisiasi.  

Selama inisiasi ini tujuannya mengajarkan para Initiates tentang sifat utama dari faction mereka. Sebenernya banyak banget quote-quote bagus yang berhubungan dengan faction yang dipilih Tris. Tapi kalo gw nge-quote yang ada malah jadi spoiler. So I’m just gonna keep it for myself (Not easy, guys!). Tapi gw suka cara nulisnya Victoria Roth.

Satu lagi yang bikin gw betah baca Divergent adalah cerita Tris dan Four yang bikin gw smitten ga keruan. Iya tau, gw gampang banget naksir sama karakter di buku. Haha.. Tapi Four ini unik. Secara dia instruktur inisiasi, pembawaannya tegas, pinter, jago berantem, ganteng (kalo menurut Tris). Tapi aslinya dia punya sifat yang cenderung pemalu, dan ga takut untuk nunjukin rasa takutnya pada Tris. Selain itu, dia percaya Tris itu pemberani dan bisa diandalin. That’s what I love about Tris and Four. That they are both equal. And they equally need each other.

Memasuki sepertiga akhir cerita, tema ceritanya tiba-tiba loncat ke permasalahan antar faction. Di awal udah sempet disinggung-singgung tentang pemberontakan tapi tetep aja rasanya koq penempatan urutan ceritanya agak terkesan dipaksain.  Walaupun disini lah misteri tentang Divergent baru mulai terbuka. Dan menurut gw, penyelesaian konfliknya terlalu biasa. 

Hal remeh yang menurut gw mengganggu tapi mungkin ga penting untuk orang lain adalah buuaaanyaknya tokoh dalam cerita ini yang berarti banyak nama yang harus gw inget. Pada dasarnya gw selalu butuh waktu lama untuk mengingat nama tokoh-tokoh utama dalam cerita. Tapi tokoh-tokoh Divergent ini beneran rame banget! Selain itu, dari lima factions yang ada, ga semuanya terlibat dalam cerita. Tapi ternyata itu semua dibahas di buku selanjutnya, Insurgent.

Menurut gw, secara garis besar, distopian atau bukan, cerita Divergent ini menghibur. Ide ceritanya menarik, walopun ga terlalu spesial. Cukup menyita perhatian gw untuk menyelesaikan membaca tapi ga segitu serunya sampe bikin gw deg-degan dan penasaran. Tapi balik lagi ke atas, gw bukan lah penggemar distopian. Jadi kalo gw sampe menikmati buku ini, I think that statement means more.

Kalau gw belum baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Divergent cukup menghibur, boleh dibaca untuk mengisi waktu luang. Tapi karena gw sudah baca Insurgent, gw akan mengakhiri review ini dengan bilang: Baca lah Divergent supaya bisa lanjutin ke Insurgent. Sepertinya selama menulis Divergent, Veronica Roth menyimpan ilmu menulis-cerita-super-seru untuk kemudian dilimpahkan habis-habisan di Insurgent! Jadi kalo lagi baca Divergent dan berasa biasa aja, KEEP READING! 

Friday, September 21, 2012

Anna and The French Kiss


Anna and The French Kiss adalah buku pertama karangan Stephanie Perkins yang bergenre komedi romantis. Gak tau kenapa, sebelom baca bukunya pun gw udah penasaran dan punya perasaan bukunya bakalan bagus. Mungkin pengaruh gambar sampulnya. Hehe..

Baca Anna and The French Kiss itu seperti pengalaman cinta pada pandangan pertama jadi kenyataan. Secara ini ngomongin baca buku, mungkin tepatnya cinta pada bab pertama? Sebagai penggemar berat genre komedi romantis, setelah akhir-akhir ini maraton baca buku genre fantasi, baca Anna and The French Kiss serasa seperti pulang ke rumah. Gw pernah bilang sebelomnya bahwa genre komedi romantis ini genre paling ringan. Bisa dengan mudahnya menyentuh perasaan sekaligus menghibur, tapi bisa juga dengan mudahnya  jadi klise dan membosankan.

Dan dengan senang hati gw bilang, Anna and The French Kiss masuk dalam kategori pertama!

This book is exactly what I expect from a romantic comedy! Pasangan yang lovable dan bikin pembaca gemes karena pengeeennn banget mereka jadian? Ada! Cerita yang bikin ketawa, senyum-senyum sendiri atau tanpa sadar miringin kepala sambil mendesah “Aaaw...”? Ada!  

Kedua tokoh utama dalam cerita Anna and The French Kiss bikin gw jatuh cinta setengah mati. Anna Oliphant yang teratur dan neat-freak, pinter tapi sedikit insecure. Sedangkan Étienne St.Clair yang adalah cowok ganteng dan baik hati yang banyak disukai di sekolah. Walaupun digambarin sebagai favorit cewek-cewek, tokoh St.Clair justru terasa 'real' karena Stephanie Perkins menambahkan kekurangan-kekurangan seperti tinggi badannya yang di bawah rata-rata, punya acrophobia, dan masalah keluarga yang jadi konflik buat tokoh St.Clair. Itu semua bikin tokoh St.Clair lebih mendekati kenyataan, bukan sekedar idola sempurna cewek-cewek. Dan karakter dan sifat Anna dan St.Clair bikin mereka cocok satu sama lain.

Menurut gw chemistry itu penting banget dalam cerita komedi romantis. Dan chemistry antara Anna dan St.Clair dapet banget.  Mereka mulai sebagai temen. Bercandanya kocak banget dan kerasa banget mereka deket sebagai teman. Saat perasaan mereka berubah pun, gw bisa ngerasain. Okelah, karena ceritanya diceritain oleh Anna sebagai narator, kita bisa dengan mudahnya nebak perasaan Anna. Tapi dari narasi Anna pun kita bisa kenal dalem sama St.Clair. Bukan cuma adegan-adegannya, tapi dialog-dialog mereka pun dapet banget! Gw ikutan senyum-senyum saat St.Clair nunjukin perhatian ke Anna tapi Anna ga sadar. Perut gw berasa melilit kaya ada kupu-kupu saat St.Clair dan Anna saling salah paham dan patah hati. Manis banget! Stephanie Perkins bisa banget ngebawa pembacanya ke dalam cerita St.Clair dan Anna!

Paling males kalo ada pengarang yang nganggep bahwa kota yang eksotis sebagai setting cerita udah cukup untuk membuat sebuah buku jadi menarik, sampai-sampai lupa fokus ke jalan ceritanya. Tapi kota Paris yang jadi latar belakang cerita Anna and The French Kiss cukup jadi bumbu pemanis cerita tanpa mencuri semua perhatian. Kekuatan buku ini tetep di jalan cerita dan karakter tokoh-tokohnya. 

Apa yang gw ga suka dari buku ini? TIDAK ADA. Tapi kayanya ga fair kalo suatu review isinya positif doang. Jadi gw mo protes penampilan fisik bukunya aja deh. Baru kali ini gw dapet buku yang potongan tepinya bergerigi begini. Udah juga ga enak diliat, bikin susah kalo mo balik halaman.

By the way, setelah baca buku ini sampai setengah, gw baru nyadar ternyata di sampulnya ada kutipan dari Cassandra Clare. Whoa! Setuju banget sama kata-katanya!


Pokoknya gw suka banget banget banget Anna and The French Kiss. Buat yang suka cerita komedi romantis, buku ini WAJIB DIBACA!



Will you please tell me you love me? I'm dying here - Étienne St.Clair

Thursday, August 2, 2012

Character Crush: Will Herondale


Menyambung obsesi gw terhadap The Infernal Devices karya Cassandra Clare, terutama diantara hingar bingar Young Adults Crush Tourney, seperti biasa kalo udah terlalu banyak kalimat bersliweran di otak gw, lebih baik dikumpulin jadi satu blog post.

Bulan Juli gw jadi Shadowhunter of The Month di TMIndo lho... *angkat-angkat alis* Kalo ga tau apa itu Shadowhunter of The Month atau SoTM, itu adalah kuis yang digelar di twitter setiap tiga kali seminggu oleh @TMIndo, yang adalah akun twitter resmi untuk fanbase The Mortal Instruments di Indonesia. Mereka akan melempar tiga pertanyaan, dan followernya mesti cepet-cepetan jawab, bener atau salah. Jadi kalo sepanjang bulan Agustus sempet main ke website-nya TMIndo, jangan kaget ya kalo liat muka gw. Itu bukan buat ngusir tikus koq.

Waktu gw menang, gw dikirimin form feedback dan ditanyain siapa tokoh favorit gw dan alasannya. Wah, ga pake pikir panjang dong jawabnya. For I swoon at Will Herondale’s finery! Masalahnya, kalo mo dijabarin kenapa gw suka sama Will, jawabannya panjang banget. Hahaha.. Untung gw bisa menahan diri waktu ngisi form. Padahal, kalo mo ikutan puisinya Tatiana nih..

“You will never know, sweet William /
How many are the million /
ways in which I love you”

Sebenernya gak heran kalo kesan pertama seorang William Owen Herondale langsung bikin gw tertarik. Sebagai gambaran standar, dia ganteng. Ya tokoh cowok mana sih yang ga dideskripsiin sebagai ganteng? (Ga dideskripsiin ganteng pun gw tetep nyebayangin ganteng!). Pertama kali Tessa ketemu Will pun dia langsung terpesona.

He had the most beautiful face she had ever seen. Tangled black hair and eyes like blue glass. Elegant cheekbones, a full mouth, and long, thick lashes. Even the curve of his throat was perfect.
(Clockwork Angel)

(Ada apa sih antara Cassie Clare dan bulu mata dan tenggorokan? Kayanya dia seneng banget deskripsiin bulu mata sama tenggorokan). Ciri khas tokoh-tokohnya Cassie Clare, biasanya mereka punya warna mata yang kuat. Nah, silakan berimajinasi sendiri seperti apa gantengnya Will Herondale yang berambut gelap dan bermata sangat biru.

Dari awal, gaya ngomong Will yang nyeleneh dan sarkastik udah menonjol. Dan selalu bikin gw cekikikan. Mulai dari Clockwork Angel sampe Clockwork Prince (tepatnya, apalagi Clockwork Prince). Sebagai Shadowhunter, Will itu berani, taktis tapi juga nekad. Keren banget lah pokoqnya. Makanya selama baca The Infernal Devices, gw selalu menikmati membaca tentang Will. Secara Will itu vokal banget, selalu maen nyamber aja tiap ada percakapan, kalo baru awal-awal baca tentang Will, mungkin definisinya Sophie lebih kedengeran pas

Will has always been the brighter burning star, the one to catch attention.
(Sophie, Clockwork Prince)

 Terus apa yang bikin gw suka banget sama Will Herondale padahal disampingnya ada Jem Carstairs yang notabene paling tepat dideskripsiin dengan kata-kata ‘nothing but goodness’?

Semakin berjalannya cerita, semakin gw tertarik sama Will karena lama-lama gw ngerasa Will itu misterius. Bahwa semua aksi nekadnya waktu bertarung dan segala ungkapan-ungkapan sarkastiknya cuma sekedar tembok yang dibangun untuk nutupin sesuatu. Kadang-kadang dia judes, kadang-kadang dia lembut banget.


There is a wall you have built about yourself, Will, and I have never asked you why. But no one should shoulder every burden alone.
(Jem, Clockwork Prince)

Di Clockwork Prince, kita lebih banyak diceritain tentang konflik para tokohnya masing-masing. Dan di buku ini, dengan adanya kunjungan-kunjungan Will ke Magnus Bane, kita kenalan lebih jauh seperti apa aslinya seorang Will di balik dinding sarkasme yang dia bangun. Dan apa yang ada di balik tembok ini lah yang jadi alasan gw berada di barisan penggemar Will Herondale, barengan sama Tatiana!

Ternyata Will yang di luarnya keliatan cuek, kuat dan berani, dalemnya sangat peduli sama orang lain, sensitif bahkan dia takut hidup sendirian. And when he falls, he falls hard. In love, that is.


No one can live with nothing
(Will, Clockwork Prince)

Karena kutukannya, dibalik dinding yang dia bangun, Will terpaksa hidup kesepian, bahkan ninggalin keluarganya di Wales. Dan setiap hari selama lima tahun di Institut London, dia berusaha keras bikin orang-orang sekitarnya -kecuali Jem- benci sama dia. Tapi segitu kuatnya dia, sampe bisa ngejalanin kutukannya. And that’s how a Will Herondale caught my heart.

This is a fresh wound everyday.
(Will, Clockwork Prince)

Kalo mo tau seperti seorang Will yang peduli sama orang lain, bisa diliat dari perlakuan dia terhadap Jem.


James, you are all the family I have. I would die for you. You know that. I would die without you.
(Will, Clockwork Prince)

Dan saat dia jatuh cinta sama Tessa, dia rela ngelakuin apa aja. Termasuk diantaranya bikin Tessa jadi benci sama dia. Bahkan nekad minta dikirim ke demon world demi mengakhiri kutukannya. Ah.. gemana ga trenyuh? Sometimes I think it's not fair that I am not Tessa.


I had to make you hate me Tessa. So I tried. And then I wanted to die. I had thought I could bear it if you hated me, but I couldn’t
(Will, Clockwork Prince)

Kalo udah kenal jauh sama Will, sepertinya deskripsi Magnus Bane lebih cocok untuk menggambarkan Will.

Like a lovely vase that someone has smashed. Only luck and skill can put it back together the way it was before
(Magnus, Clockwork Prince)

Satu tambahan lagi yang jadi poin plus Will di mata gw yaitu, Will hobi baca dan pinter mengutip puisi. Kondisi apa aja, ada aja literatur atau puisi yang dia kutip, yang sesuai sama situasi saat itu. Ya walopun dia pake rune memori sih. Jadi ga usah ngimpi bisa ngutip literatur sefasih dia ya.


"Will, you pay so little attention at lessons, can you tell  a binding spell from a soufflĂ© recipe?" 

Will leaned back in his chair and said dreamily, "I am but mad north-north-west; when the wind is southerly I know a hawk from a handsaw."

(Clockwork Prince)

Dan siapa sih yang ga tau pernyataan cinta Will yang maha-pasaran, yang udah dipajang di semua fan art The Infernal Devices?


“You and I, Tess, we’re alike. We live and breathe words. It was books that kept me from taking my own life after I thought I could never love anyone, never be loved by anyone again. It was books that made me feel that perhaps I was not completely alone. They could be honest with me and I with them.

... I dreamed what you dreamed, wanted what you wanted — and then I realized that truly I just wanted you. The girl behind the scrawled letters. I loved you from the moment I read them. I love you still.”

(Will, Clockwork Prince)

Apa yang gw tangkep dari kutipan diatas? 1.) Will pinter merangkai kata-kata 2.) Segitu cintanya sama buku, bahkan saat menyatakan perasaannya, Will mengacu pada kecintaannya pada buku 3.) Dibalik semua ungkapan-ungkapan sarkastiknya, Will sebenernya sensitif sampai cuma baca surat-suratnya Tessa aja bisa memprovokasi perasaan dia. *dramatic sigh*

So that's a William Herondale. Someone tough and snarky on the outside, yet vulnerable on the inside. Cassandra Clare has created one heck of a character there!


Picture is taken from TMISoure

Wednesday, July 18, 2012

City of Ashes


City of Ashes adalah buku kedua dari serial The Mortal Instruments. Kalo udah bahas City of Ashes, pasti udah selesai baca City of Bones ya? Jadi disini pasti ada spoiler-spoilernya City of Bones.
Setelah di City of Bones kita tahu bahwa Jace ternyata adalah anak dari Valentine, Jace dituduh sebagai mata-mata Valentine sampai diusir dari Institut oleh Maryse Lightwood, yang adalah ibu angkatnya sendiri. Kemudian Jace berhadapan dengan Inquisitor Herondale, yang kayaknya niat banget nyusahin Jace. Jace juga bergumul dengan perasaannya terhadap Valentine, seorang ayah yang dikasihi dan dikaguminya. Tapi saat ini, dia menghadapi seorang Valentine dengan pemikiran-pemikiran fanatiknya untuk menguasai dunia, dan meminta Jace untuk bergabung di pihaknya. Sekan hidupnya belom cukup ribet, masih ada urusan dengan Clary. Jace dan Clary harus berusaha menahan perasaan mereka sejak Valentine memberi tahu bahwa Jace dan Clary ternyata kakak beradik.
Simon, setelah sempat menggigit vampir di hotel Dumort (City of Bones), berusaha menekan rasa ga nyaman karena terus-terusan teringat pada kejadian itu. Selain itu, dia berusaha memperjuangkan perasaannya terhadap Clary dan berusaha mencegah Clary untuk terlibat lebih jauh dalam dunia Shadowhunter. Sementara Clary, sejak tahu dirinya adalah Shadowhunter, merasa dunianya berubah total. Bahaya-bahaya yang terjadi di sekitar hidupnya memaksa Clary untuk memperlengkapi dirinya dengan Shadowhunter Marks. Bahkan Luke memberinya stele, yang dulunya adalah milik Jocelyn, ibunya. Dan walaupun ingatannya belum kembali sepenuhnya, pelan-pelan Clary mulai menemukan keahlian yang tidak terduga dalam dirinya.
Selain itu, tentunya perlawanan Shadowhunter terhadap Valentine masih terus berlanjut. Para Shadowhunter harus menghadapi kasus dimana beberapa kali terjadi penyerangan terhadap Downworlders di bawah umur. Bahkan serangan ke Silent City.
Kalau dibandingin dengan buku sebelumnya, yang seru karena banyak action dan kejutan -terutama karena Clary dan Simon baru kenalan dengan Shadowhunters dan Downworlders,- menurut gw auranya City of Ashes ini agak gelap. Mulai dari masalah-masalah yang dialami tokoh-tokohnya. Masalah yang dialamin Jace di buku ini kompleks banget. Gw yang baca pun bisa ngerasain betapa stress-nya Jace, karena dia jadi lebih menyebalkan dari biasanya. Dan sepanjang cerita gw kangen komentar-komentar sarkastik khas Jace. Karena masalah Jace ini dimulai dari awal buku dan berlangsung terus-terusan sampai mendekati akhir buku, jadi kebawa lah gw ikutan gloomy baca buku ini. Sementara buat penggemar Simon, siap-siap bersedih hati baca cerita Simon disini. Oke, mungkin konfliknya Simon ga sebanyak Jace, tapi bukan berarti lebih ringan. Sementara kisahnya Clary ga banyak makan porsi cerita, kecuali menjelang akhir.

Walopun dari ide cerita, Cassandra Clare, seperti biasa, ga mengecewakan, tapi gw ga suka efek yang ditimbulkan selama dan setelah gw baca buku ini. Yang gw rasain selama baca City of Ashes adalah, kebawa perasaan tokoh-tokoh di dalam cerita, gw ga dikasih kesempatan untuk ngerasa seneng. Dari awal sampe akhir, ceritanya terkesan gelap dan suram. Bener-bener bikin depresi. Bahkan sampe ke endingnya! Astagah! I think it's safe to say that City of Ashes is my least favorite book out of The Mortal Instruments trilogy. Buat gw, City of Ashes adalah sekedar jembatan yang harus gw lewatin untuk ngelengkapin petunjuk-petunjuk untuk lanjut ke petualangan di buku selanjutnya. So, if you are following The Mortal Instuments series, you've been warned!



Saturday, July 14, 2012

The Fault in Our Stars


Gw sebenernya ga yakin gw cukup mampu merangkum buku The Fault in Our Stars dan menceritakan buku ini sebagaimana John Green mau bukunya diceritakan. But, what the heck, if I were as good as John Green, I'd be a writer now. But I'm not. Gw cuma pengen berbagi tentang buku ini, simply because it's beautiful.

Hazel Grace adalah seorang gadis 16 tahun penderita kanker tiroid terminal yang sudah menyebar ke paru-paru. Sehari-hari Hazel harus menyeret-nyeret tangki oksigen dan menggunakan kanula untuk membantu pernapasannya karena paru-parunya yang tidak lagi bisa berfungsi sempurna. Karena kondisi kesehatannya, Hazel harus keluar dari sekolah. Bahkan ibunya memutuskan untuk berhenti bekerja supaya bisa mengawasi Hazel sepenuhnya. Hazel berusaha menjalani hidupnya senormal mungkin. Benci pada rasa kasihan yang ditujukan orang-orang karena penyakitnya. Dan menganalogikan dirinya sebagai granat. Siap meledak kapan saja, meninggalkan orang-orang terdekatnya dan membuat mereka sedih.

Hingga suatu hari, Augustus Waters masuk dalam kehidupan Hazel. Agustus Waters adalah penderita ostesarkoma yang setelah kaki kanannya diamputasi, dinyatakan bebas kanker selama satu setengah tahun terakhir. Berawal dari buku favorit Hazel, The Imperial Affliction, Hazel dan Augustus semakin dekat. Bahkan melakukan perjalanan untuk bertemu pengarang favorit Hazel, Peter Van Houten. Awalnya Hazel ragu-ragu terhadap hubungannya karena tidak mau menjadi "granat" bagi Augustus. Apalagi mantan pacar Augustus pun meninggal karena kanker. Tapi bersama Augustus justru Hazel belajar tentang kesempatan untuk mencintai.

Quick! Character crush? Definitely Augustus Waters!!!
Hazel menggambarkan Augustus Waters sebagai HOT. Oke lah, gambaran standar. Selain itu, pinter. Optimis. Jawaban khas Augustus kalo ditanya kabarnya adalah, "Oh, I'm grand. I'm on a rollercoaster that only goes up, my friend." dan high-spirited. Impian Augustus adalah melakukan sesuatu yang besar sehingga namanya selalu diingat. Dan ketakutan terbesarnya adalah suatu hari dia akan dilupakan, "I fear oblivion. I fear it like a proverbial blind man who's afraid of the dark."

Untuk ngimbangin karakter sedalem Augustus Waters, tentunya kita harus punya seorang Hazel Grace. Saat Augustus menyatakan ketakutannya, Hazel menjawab apa adanya: "There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you." Hazel adalah karakter yang pantang menyerah dan berani. Dia menjalani hidupnya dengan praktis dan logis. Kalau kata Augustus, "She walks lightly upon the earth." Secara fisik, Augustus mendeskripsikan Hazel seperti Natalie Portman di V For Vendetta.

Peter Van Houten adalah pengarang The Imperial Affliction, buku favorit Hazel. Menurut gw, karakter Van Houten diikutsertakan untuk menambah pelajaran-pelajaran hidup dalam buku ini. Hazel sangat mengagumi Van Houten dan mendeskripsikannya sebagai "My third best friend was an author who did not know I existed." Walaupun ternyata saat ketemu, Van Houten ga seperti yang dia harapkan. Sekedar peringatan, dialog Van Houten ini cukup bikin gw pusing. Bukan cuma mesti bolak-balik buka kamus untuk mengartikan kata-katanya satu persatu, abis itu gw masih harus mikir untuk mengartikan keseluruhan kalimatnya. Tapi kata-kata Van Houten banyak dikutip oleh Hazel dan Augustus. Salah satunya yang dikutip Hazel adalah, "Some infinities are bigger than other infinities." (Btw, Hazel dan Augustus juga banyak ga nangkep maksud kata-kata Van Houten. Jadi lumayan lah, gw ga ngerasa bego-bego banget.)

Kalau mau menggambarkan buku ini dalam satu kata, mungkin kata yang gw pilih adalah "heartwarming". Karakter Hazel dan Augustus bikin gw kagum. Don't worry, I am not gonna pull the "this book has changed my life and my perspective" kind of crap, tapi membaca cerita orang-orang yang kuat menghadapi hidup itu jadi hiburan tersendiri buat gw. Walopun pada kenyataannya gw yang baca mungkin ga sekuat mereka. Hazel dan Augustus menerima kenyataan bahwa mereka hidup dengan kanker. Mereka bercanda tentang penyakit mereka, sementara gw yang baca malah merasa bersalah tiap mo ketawa. Tapi Hazel dan Augustus menolak menerima bahwa mereka dikalahkan oleh kanker. Makanya mereka benci dengan anggapan klise orang-orang bahwa penderita kanker adalah orang-orang yang berani dan kuat berperang menjalani penyakit mereka bla bla bla. Kalo kata Augustus, "Don't tell me you're one of those people who becomes their disease. I know so many people like that. It's disheartening."

Intinya sih, The Fault in Our Stars bercerita tentang kehidupan remaja yang menderita kanker, apa adanya. Gemana mereka menjalani hubungan satu sama lain. Juga  hubungan mereka dengan orang-orang terdekat yang ga sakit, tapi hidupnya berubah karena mereka. Cara berceritanya John Green enak untuk diikutin. Encouraging tapi ga terkesan menggurui. Agak ngingetin gw sama Tuesdays With Morrie (karangan Mitch Albom) tapi karena ini genre-nya buat Young Adults, cara berceritanya lebih santai. Berkali-kali gw ketawa-nangis-ketawa-nangis baca buku ini. Bagus banget!

Favorite quote? Argh! Ga bisa pilih. Terlalu banyak kata-kata indah di dalam buku ini. Tapi gw pilih satu yang berkesan buat gw dan semoga bikin penasaran.
 

Trust me, that's not just random nonsense though it might look like one. Read the book and you'll find out what makes the quote beautiful.

By the way, judul buku ini diambil dari Julius Caesar, karya Shakespeare. Yang aslinya berbunyi, "The fault, dear Brutus, is not in our stars. But in ourselves, that we are underlings." Tapi Peter Van Houten ternyata punya pendapat yang berbeda, hence the title of this book.

The Fault in Our Stars berkesan banget buat gw. Jadi penasaran pengen baca buku-buku John Green yang lain.

Friday, July 13, 2012

Hush, Hush


Seiring dengan tren cerita fantasi berseri, gw memutuskan untuk menambahkan Hush, Hush kedalam koleksi gw. Alasannya cukup superfisial: Patch Cipriano, tokoh utama pria di buku ini, terdaftar dalam lima besar nominasi YA Crush Tourney. Bahkan posisinya sempat naik diatas James Carstairs (The Infernal Devices). Ya ya ya.. Superfisial, gw tau. Seakan memang jodoh, bukunya ternyata didiskon di Periplus jadi seharga lima puluh ribu rupiah saja.

Hush, Hush adalah buku pertama dari Hush, Hush Saga yang terdiri dari 4 buku, karangan Becca Fitzpatrick.

Pertemuan Nora dengan Patch berawal di kelas Biologi sebagai partner praktikum. Tugas mereka adalah saling mengenal satu sama lain untuk kemudian dibuat laporan. Mau tidak mau, Nora berusaha mengenal Patch yang masa lalunya misterius dan pintar bermain kata-kata untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Nora. Lebih menyebalkan lagi, entah bagaimana, Patch justru tahu banyak tentang Nora bahkan melebihi teman dekatnya sendiri.
Sejak berpartner dengan Patch, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi dalam hidup Nora. Berkali-kali Nora merasa diikuti orang asing. Bahkan sosok misterius bertopeng ski berkali-kali muncul dan berusaha mencelakainya. Lebih aneh lagi, kemanapun Nora pergi, dia selalu bertemu Patch. Dengan daya tarik Patch, Nora bimbang antara rasa tertarik dan rasa takutnya terhadap Patch. 
Perlahan-lahan, Nora mulai mengenal Patch. Masa lalu Patch. Siapa Patch sebenarnya. Bahkan siapa Nora sebenarnya. Dan pada akhirnya Nora harus memilih, siapakah yang bisa dia percaya?

Karena gw sangat suka menulis kesimpulan gw di awal review, jadi gw bilang aja dari sekarang kalo menurut gw buku ini membosankan. Okei. Let's start.

Pertama-tama, dari alur ceritanya yang menurut gw sangat lambat dan terasa diseret-seret. Sepertinya Fitzpatrick berusaha keras membangun chemistry antara Patch dan Nora, sampai-sampai setengah buku pertama cuma diisi pertemuan Patch dan Nora. Intinya cuma: kemana pun Nora pergi, termasuk ke dalam toilet perempuan yang dikunci, ada Patch! Disertai dengan dialog tarik ulur antara Patch dan Nora. Karena gw ga tau genre buku ini, sepanjang awal sampai setengah buku gw kira buku ini masuk dalam kategori buku romantis. Kejadian-kejadian aneh sedikit sekali terjadi, tapi ga segitu hebohnya mempengaruhi jalan cerita. Pokoknya, intinya, cuma tentang Patch dan Nora dan pendapat Nora tentang Patch, that at one point I was like, "Okay, I get it. Give me something else to be excited about!"

Kejadian-kejadian misterius baru mulai di-follow up di pertengahan buku, yang sebelumnya gw udah mati-matian menahan ngantuk. Bahkan sampai disini pun, gregetnya cuma sebatas curiga-curigaan aja, tentang siapa yang jahat dan siapa yang bisa dipercaya. Tapi ga ada petunjuk-petunjuk seru yang menyita perhatian untuk kemudian pembacanya bisa merangkai petunjuk-petunjuk tersebut dan menebak-nebak jalan ceritanya. Sebaliknya, semua misteri baru dibeberkan sekaligus di sepertiga akhir buku dan karena tidak ada jejak-jejak untuk diingat diawal-awal cerita, ya otomatis ceritanya terlupakan begitu aja. Plot-nya fokus disitu-situ aja, ga ada subplot seru yang bisa mengalihkan perhatian pembaca dari investigasi Nora terhadap Patch yang ga maju-maju sepanjang cerita. Bosan. Bahkan tokoh-tokoh lain yang pada akhirnya mempengaruhi jalan cerita ga banyak dikasih porsi di awal, jadi ga meninggalkan kesan.

Tokoh Patch sebenernya punya potensi untuk jadi character-crush. Secara dia digambarkan sebagai misterius, sexy, ganteng, percaya diri dan eloquent (ga bisa menemukan istilah bahasa Indonesia yang tepat. help!). Tapi karena ceritanya diceritakan dari sudut pandang Nora dan mungkin Fitzpatrick berusaha menjaga agar karakter Patch tetap terkesan misterius, untuk mengenal Patch kita lebih banyak bergantung pada pendapat Nora tentang Patch, sementara dialog Patch sendiri pendek-pendek aja. "Dialog" ini pun kebanyakan cuma sekedar flirting-flirting ga jelas, yang sama sekali ga membangun karakter Patch. Buat gw ini malah bikin tokoh Patch jadi agak-agak detached, ga memorable. Tokoh Nora ga jadi favorit gw. Mungkin positifnya, Nora punya karakter yang perhatian sama orang-orang terdekatnya. Tapi keseluruhan, Nora terlalu lemah dan ga taktis.

Akhirnya, mungkin ide cerita Hush, Hush lumayan berpotensi untuk dibikin jadi cerita yang seru. Sayangnya cara penulisannya membuat gw bosan. Selain itu, begitu ceritanya selesai, ceritanya bener-bener selesai. Ga ada jalan cerita yang perlu di-follow up. Did you realize where am I going with this? Yes, gw ga ngerti kenapa mesti ada tiga buku selanjutnya (Dan sayangnya gw udah beli buku kedua, Crescendo, dengan alasan yang sama dengan Hush, Hush. Diskon.)