Sunday, January 13, 2013

Virtuosity

Carmen Bianchi adalah pemain biola berbakat dengan penghargaan Grammy yang berhasil diraihnya pada usia enam belas tahun. Di usianya yang ke tujuh belas Carmen harus memfokuskan diri untuk mengikuti kompetisi bergengsi, Guarneri. Dalam perjalanannya menuju kompetisi, Carmen berkenalan dengan Jeremy King, saingan terberatnya. Walaupun sempat kesal dengan pembawaan Jeremy yang menurutnya arogan, seiring berjalannya waktu dan mereka semakin dekat, Carmen menyadari sebagai sesama musisi, Jeremy justru bisa mengerti kehidupan Carmen. Tapi posisi Jeremy sebagai pesaing terberatnya justru membuat hubungan mereka menjadi ruwet. Belum lagi ibu Carmen yang berulang kali mengingatkan Carmen bahwa Jeremy hanya akan memanfaatkannya demi memenangkan kompetisi Guarneri.
Waktu gw memutuskan untuk beli buku ini, sebenernya gw ga punya ekspektasi apa-apa. Bahkan gambar sampul a la iklan sampo sempat bikin buku ini terlantar di rak buku gw untuk waktu yang lumayan lama. Hampir seperti Bunheads, dimana pengarang dan tokoh utama ceritanya berprofesi sama, Jessica Martinez juga pemain biola solo. Gw ga tau sejauh mana buku ini mendekati kenyataan yang terjadi dalam dunia musik klasik, tapi gw suka membaca buku yang membawa gw mengintip lebih jauh tentang dunia yang ga bakal gw tau. Dan dari selera pribadi, walopun bukan pendengar musik klasik, somehow musik klasik selalu terdengar indah dan anggun kalo dideskripsiin, makanya gw suka buku dan film seputar itu (Hello, August Rush!)

Mengawali baca Virtuosity, ceritanya banyak membahas tentang kehidupan Carmen sebagai violinist dan statusnya sebagai 'Child Prodigy' serta dunia musik. Mungkin sekilas Carmen terlihat sebagai tokoh yang spineless dan ga bisa membela dirinya sendiri. Tapi dengan cara bercerita Martinez, gw bisa melihat bahwa seorang performer berskala internasional harus bekerja dengan tim dan semua keputusannya harus dibicarakan bersama-sama. Belum lagi latar belakang ibunya yang adalah penyanyi opera yang harus kehilangan karirnya karena penyakitnya.

Cerita Carmen sendiri sudah cukup complicated. Cerita jadi tambah seru saat pembaca diperkenalkan dengan Jeremy King. Gw kira buku ini bakalan lebih banyak membahas tentang Carmen. Tapi ternyata ceritanya juga banyak unsur romance. Hubungan antara Carmen dan Jeremy yang adalah saingan berat bikin gw penasaran. Gw suka saat mereka saling bercanda dan kadang-kadang sisi kompetitif mereka keluar. Dan gw berkali-kali menebak-nebak apa Jeremy punya motif lain saat mendekati Carmen, serta apa yang bakal terjadi sama hubungan mereka di akhir buku? Semua masalah antara Carmen dan ibunya, kompetisi Guarneri serta hubungan Carmen dengan Jeremy diakhiri dengan klimaks yang seru sekaligus manis. Gw sampe setengah kecewa saat bukunya selesai karena gw masih pengen membaca tentang Carmen dan Jeremy.

Since Carmen was described as Italian, my mind automatically thought about Ariana Grande. And I like that she has that innocent look that really matches Carmen's personality.


By the by, Freddie Stroma is my Jeremy King. And he's British! Yum, eh?
 

Pada kesimpulannya, gw menikmati banget membaca Virtuosity. Lebih puas lagi, karena awalnya gw ga punya ekspektasi apa-apa terhadap buku ini. Setelah kurang puas dengan beberapa buku yang gw baca di awal tahun ini, Virtuosity justru jadi buku pertama yang paling gw nikmatin. Bahkan saat baca novel lain setelah ini, gw masih aja kebayang-bayang ceritanya Carmen dan Jeremy. Highly recommended.

Sunday, January 6, 2013

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Most Favorite Books of 2012


Dan akhirnya, ini dia 'gong' dari postingan Book Kaleidoscope. Jaraknya agak jauh dari postingan sebelumnya karena... Err.. Ternyata sulit memilih lima buku. However, dari seluruh bacaan gw selama tahun 2012, ini dia lima buku -dalam urutan acak- yang memorable buat gw. 

Top Five Most Favorite Books of 2012

Perahu Kertas - (Dewi Lestari)
 Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh - Luhde

Setelah berkali-kali kejebak dan kecewa baca novel Indonesia sejenis Metropop dan kawan-kawannya dalam genre romance, setidaknya Perahu Kertas berhasil merubah image. Penulisannya ngingetin gw sama gaya cerpen dan novel singkat jaman 90an. Ceritanya lucu sekaligus mengharukan.

 
I'm not Dauntless. I'm Divergent. I am whatever I choose to be - Tris

Divergent dan Insurgent berkesan buat gw karena dua buku berasal dari genre yang bukan favorit gw, dystopian. Tapi Veronica Roth berhasil menciptakan dunia masa depan dan membuat gw tertarik mengikuti ceritanya. Kedua bukunya bagus, tapi buat gw Insurgent jauh lebih keren. Sampai saat ini sih gw masih bukan penggemar dystopian. Tapi yang pasti gw ga sabar nunggu buku ketiga dari trilogi Divergent.

Life is only precious because it ends, kid. Take it from a god. You mortals don't know how lucky you are - Mars

List buku favorit gw belum lengkap kalau belum ada buku karangan Rick Riordan. Gw baca ulang The Son of Neptune dalam rangka menunggu The Mark of Athena terbit. Walaupun suka sama The Mark of Athena, sampai saat ini The Son of Neptune masih jadi buku favorit gw dari seri Heroes of Olympus.

You don't get to choose if you get hurt in this world, old man, but you do have some say in who hurts you. I like my choices. - Augustus

Walaupun ini adalah karya terbaru, The Fault in Our Stars adalah pengalaman pertama gw dengan John Green. Dalam review gw, gw mendeskripsikan buku ini sebagai 'heartwarming'. Kalau gw bilang ceritanya 'agak sedih' sepertinya understatement ya (temen gw sampe nolak baca buku ini waktu gw rekomendasiin, karena ga mau baca buku sedih *sigh*). Bahkan sekarang, sekedar baca sekilas bukunya atau quotes-nya masih bikin gw terharu. Setelah membaca beberapa karya John Green lainnya, The Fault in Our Stars masih menempati urutan pertama sebagai buku karangan John Green favorit gw.

Mercy breeds mercy as slaughter breeds slaughter. We can’t expect the world to be better than we make it. - Akiva

Tahun ini gw banyak berpetualang di dunia fantasi. Banyak yang berkesan jadi susah pilih satu. However, ini bacaan fantasi terakhir yang gw baca di 2012 dan gw bener-bener dibuat terpesona sama dunia karangan Laini Taylor. 


Favorite Author 2012
 One must always be careful of books, and what is inside them,
 for words have the power to change us - Tessa, Clockwork Angel

Karena genre YA Fantasy sudah diisi Days of Blood and Starlight, terpaksa buku-buku karya Cassandra Clare tersingkirkan dari daftar. Tapi sepertinya ga mungkin membuat postingan Book Kaleidoscope tanpa menyebut nama Cassandra Clare secara selama dua bulan gw marathon melahap tujuh buku dan berpetualang di dunia Shadowhunter. And loved every minute of it! The Mortal Instruments dan The Infernal Devices adalah dua seri yang menarik gw ke dalam dunia TMI fandom. Beneran, sebelum ini sama sekali ga pernah ikutan yang namanya fandom-fandoman apalagi fangirling malu sama umur!

Gw pernah nulis di twitter bahwa, "Gw bisa buka buku Cassie Clare yang mana aja, dan buka halaman mana aja secara acak, pasti ada aja quote yang bagus." Segitu sukanya dengan cerita dan tulisannya, gw sampai membuat satu akun twitter khusus untuk memposting kutipan-kutipan dari buku-buku Cassie Clare. 

Yang sesama penggemar buku-bukunya Cassie Clare, boleh lho follow @TMIwords, for your daily dose of Cassandra Clare's The Mortal Instruments and The Infernal Devices quotations. *uhuk*iya,promosi*uhuk*

*** 

And.. that's a wrap for Book Kaleidoscope 2012! Terima kasih mba Fanda dari klasikfanda yang udah ngadain event ini. I really had fun.

Walaupun telat, gw mo ngucapin Selamat Tahun Baru 2013 buat yang siapa aja yang membaca postingan ini. Selamat memulai petualangan baru lewat buku-bukunya. Kalau ada buku bagus, boleh ya diinfoin kesini :)

Bunheads

Hannah Ward adalah salah satu penari Corps de Ballet di Manhattan Ballet Academy, karir yang dimulainya sejak menginjak usia empat belas tahun. Lima tahun yang dilewatinya di MBA tidak lah mudah. Hari-harinya dilewati dengan jadwal latihan dan disiplin keras. Juga tekanan dari para pelatihnya untuk menjaga bentuk tubuhnya, karena dunia ballet punya standar sendiri. Semua itu ditambah dengan persaingan ketat di antara para penari untuk mendapat kesempatan dipromosikan menjadi soloist. Dunia yang Hannah kenal hanyalah dunia di dalam studio dan teater ballet.

Hingga suatu hari Hannah bertemu Jacob Cohen, seorang mahasiswa/musisi/guru les. Hal-hal sederhana seperti keinginan mencoba hal-hal lain di luar ballet, waktu untuk menyelesaikan membaca Frankenstein dan lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama Jacob membuat Hannah mempertanyakan kecintaannya pada dunia ballet.
Dari catatan pengarangnya: Bunheads is an insider ballet term for a dancer who's obsessed with ballet and who always has her hair pulled up in a bun.

Dari awal membaca sudah kerasa banget gemana Sophie Flack bisa membawa gw ke balik layar pertunjukan ballet. Dengan fasihnya pengarangnya menggambarkan kehebohan yang terjadi di balik layar sebelum pertunjukan. Tidak lupa istilah-istilah asing mengenai gerakan-gerakan ballet. Bahkan cara diet para penari. Waktu baca biografi singkat pengarangnya baru lah gw tau kalau ternyata Sophie Flack pun mantan penari ballet di New York City Ballet. Wow!

Secara keseluruhan, Bunheads adalah cerita tentang dunia ballet. Ada bumbu-bumbu romance, tapi mostly tentang perjuangan seorang anggota Corps de Ballet. Iya, bukan mau lebay tapi beneran 'perjuangan'. Di sini Hannah menceritakan bahwa di balik pertunjukan ballet yang luar biasa indahnya, di baliknya ada kerja keras yang menuntut fokus 100% dan jauh dari keindahan panggung ballet.

Tokoh Hannah mungkin sedikit terinspirasi dari penulisnya sendiri yang juga mantan penari ballet dan hobi menulis. Tapi hanya sejauh itu yang gw tau tentang pengarangnya. Overall, gw suka tokoh-tokoh yang diciptakan Sophie Flack dalam buku ini. Para penari dengan berbagai kepribadian. Yang terang-terangan berusaha mengintimidasi saingannya. Atau yang langsung stress-eating begitu ada sesama penari yang dipromosikan. Atau yang menjalani karirnya dengan pasrah aja dan ga mengharapkan lebih. Tokoh Jacob pun menarik dan lovable. Sayangnya, karena ceritanya lebih fokus ke ballet, Jacob tidak muncul sesering teman-teman Hannah. Tapi gw suka interaksi antara Hannah dan Jacob. Buat gw, Jacob mewakili apa yang Hannah liat di luar dunia ballet (mahasiswa yang bisa juggling tiga pekerjaan sekaligus) dan bagaimana orang luar melihat dunia ballet (Hannah yang hampir tidak mengenal New York sama sekali dan hampir tidak pernah punya waktu untuk berkencan)

Tentunya butuh lebih dari sekedar pengalaman di dunia ballet untuk menulis novel tentang ballet. Gw udah males aja kalo ceritanya bakalan full deskripsi dan ga kuat di plot. Ternyata Sophie Flack bukan cuma bisa menari tapi juga menulis. Cara berceritanya sederhana tapi jalan ceritanya menarik. Dan gw suka endingnya yang ga klise. Walaupun dibuat bingung dengan istilah-istilah gerakan ballet, gw menikmati baca Bunheads.

Saturday, January 5, 2013

Days of Blood & Starlight

Setelah kembali mendapatkan memori tentang masa lalunya, Karou memutuskan untuk kembali ke Loramendi dan menggantikan Brimstone menjadi resurrectionist, berharap bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Berkali-kali Karou berusaha meyakinkan dirinya bahwa rasa cintanya pada Akiva di masa lalu hanyalah kebodohan semata. Sementara itu, para chimaera tidak begitu saja menerima kembalinya Karou di antara mereka, bahkan mengucilkannya. Satu-satunya yang mau menerima Karou hanya Thiago.

Akiva, tidak berhasil menemukan Karou di Loramendi, menyangka Karou sudah mati dan memutuskan kembali ke pasukannya dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya, Hazael dan Liraz. Ingin meneruskan impian yang direncanakannya bersama Madrigal, Akiva pelan-pelan menyabotase gerakan pasukannya sendiri, melindungi penduduk chimaera sebanyak yang dia bisa.
Para penggemar Akiva dan Karou, silahkan kecewa kalau mengharapkan banyak adegan romantis di buku ini. Bukan hanya karena Karou yang berusaha keras membuat dirinya membenci Akiva. Tapi interaksi antara Karou dan Akiva di buku ini sedikit sekali. Keduanya lebih banyak berurusan dengan bangsanya masing-masing. Tapi ga masalah sama sekali buat gw. Setelah mengenal Akiva sebagai serafim yang jatuh cinta dan kabur dari pasukannya di Daughter of Smoke and Bone (and admit it, that's not very manly of him), Akiva versi Days of Blood and Starlight adalah Akiva versi pejuang tangguh. Misbegotten. Beast's Bane. The Prince of Bastards. Basically he fits every scary names given to him. Sejujurnya, gw lebih suka Akiva versi Days of Blood and Starlight.

Selain itu, tipikal Laini Taylor yang dengan kemampuannya menciptakan tokoh-tokoh yang lovable, di buku ini kita kenal lebih jauh dengan saudara-saudara Akiva, Hazael dan Liraz. Hazael yang sedikit licik sekaligus peacemaker. Liraz yang tangguh, galak, uncontrollable, dan sangat sayang pada kedua saudaranya. I love both Hazael and Liraz! Not happy with what Laini Taylor did to Hazael, though (HOW COULD YOU!!!!). Saat setting cerita berpindah ke Eretz, gw sempet khawatir Zuzana bakalan menghilang dari cerita. Tapi ternyata kekhawatiran gw bisa disingkirkan. Tentunya Zuzana yang setengah gila itu akan menyusul Karou, sahabatnya, lengkap dengan membawa Mik! Gw puas dibuat ketawa dan terharu oleh Zuzana dan Mik yang sangat setia pada Karou.

Kalau Daughter of Smoke and Bone lebih condong ke cerita romantis, Days of Blood of Starlight punya tema yang jauh berbeda. Ceritanya kental dengan kisah peperangan dan politik. Untuk mendapatkan sudut pandang dari para penduduk chimaera yang tertindas oleh perang, Laini Taylor menciptakan beberapa tokoh minor dan menyelipkan cerita tentang para chimaera yang melarikan diri dari tentara serafim. Dari situ gw kenal lebih jauh dengan kehidupan para chimaera, dan mengerti bahwa para chimaera lebih dari sekedar mahluk-mahluk menyeramkan tidak berperasaan di bawah pimpinan The White Wolf. Kita pun berkenalan lebih jauh dengan pemimpin kekaisaran serafim yang haus kekuasaan dan menyerang para chimaera hanya sekedar untuk  memperluas kerajaannya.

Dengan Days of Blood of Starlight sepertinya Laini Taylor berhasil membuktikan kalau buku kedua tidak selalu gagal. Sejujurnya, gw bahkan lebih suka Days of Blood of Starlight dari buku pertamanya.

Monday, December 31, 2012

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Best Book Covers

Tema kedua dalam Book Kaleidoscope adalah Best Book Cover. Secara jaman sekarang istilah don't judge a book by its cover udah ga berlaku lagi. Sebenernya gw bukan tipe yang terlalu memusingkan gambar sampul, selama ga mengganggu kenyamanan gw membaca di tempat umum (makanya kalo baca buku romance yang covernya pasangan yang terlalu hot gitu mending gw baca di iPod atau sampulnya, entah gemana caranya, ditutup-tutupin), tapi seneng juga liat gambar sampul buku sekarang yang makin kreatif dan menarik.  

So, here's my version of top five book covers. In no particular order.
 
Bunheads ini bener-bener kasus 'judge a book by its cover' Biasanya gw ribet cari-cari review dulu di Goodreads sebelum memutuskan untuk beli buku. Tapi gambar Corps de ballet (yang kalo diperhatiin dari dekat ternyata copy paste) dengan tutu putih langsung menarik perhatian gw.

Unearthly (Cynthia Hand)
Secara gw belum selesai baca bukunya, tebakan gw gadis yang ada di sampul buku ini adalah Clara, tokoh utama Unearthly. Gw ga tau sih Clara lagi ngapain pake gaun panjang di tengah hutan. Tapi gaunnya, gradasi warna ungu dan font yang digunakan bikin sampul buku ini terlihat anggun.

Sebenernya konsep sampulnya The Infernal Devices sama semua. Bangunan khas London sebagai latar (untuk Clockwork Prince ini gw ga tau bangunan apa yang jadi latar. Pastinya sih jembatan), stamp gambar transparan yang jadi terkesan seperti kabut, dan tokoh utamanya (Will di Clockwork Angel, Jem di Clockwork Prince dan Tessa di Clockwork Princess). Sebenernya gw pengen masukin Clockwork Princess di list ini, tapi bukunya baru terbit tahun depan. 

Gw suka Clockwork Prince karena stamp gambar mesin jam tidak terlalu mendominasi, sehingga latar belakangnya masih kelihatan. Dan wajah Jem yang keliatan jelas. Overall, gw suka kesan misterius pada gambar sampul ini. Imajinasi gw langsung terbang ke dunia para Shadowhunter di London pada Victorian era.


Walaupun super kecewa sama ceritanya dan Patch bisa diikutsertakan dalam nominasi Top-Five-Guys-Girls-Should-Never-Date, tapi gw mengakui kalau cover Hush, Hush ini cantik banget. Latar belakang awan abu-abu yang simpel kontras dengan sang Fallen Angels dan sayap-sayap hitamnya. Pilihan warnanya pun pas untuk menggambarkan tokoh Patch yang misterius.

Seperti yang udah gw mention di review bukunya, The Night Circus ini buku tercantik yang gw punya. Sampul depannya aja udah cantik. Bayangin kertanya glossy dan lengkung-lengkung di sekitar judulnya itu hologram. Tidak hanya sampai di situ, halaman-halaman di dalamnya pun dilengkapi garis-garis hitam putih dan taburan bintang. Cantik!

[Book Kaleidoscope 2012] Top Five Book Boyfriends


Jadi ceritanya postingan ini ditulis sebagai postingan pertama dari tiga postingan dalam rangka ikutan Book Kaleidoscope 2012 blog klasikfanda. Sebagai pembaca yang ngakunya gampang banget jatuh cinta sama tokoh dalam buku, event ini seru banget. Dan pastinya gw langsung tertarik pengen ikutan. Sayangnya gw baca postingan mbak Fanda udah telat, jadi postingan ini pun munculnya telat. But better late than never, they say.

Selama tahun 2012 ini sepertinya ga terlalu banyak buku yang gw baca. Secara gw baru kembali mulai maraton baca novel setelah dunia koas gw mendekati akhir dan gw punya lebih banyak waktu untuk fangirling baca novel. Tapi tetep aja, pilih Top Five Book Boyfriends ga mudah juga.

Untuk menghindari review gw yang udah panjang jadi semakin panjang, biasanya gw jarang membahas mendalam tentang tokoh-tokoh dalam buku. Kecuali tokohnya beneran stand out. Dan ternyata lima tokoh yang gw pilih di list ini udah gw bahas di review bukunya. So in this post I won't have to explain and convinced you as to why these guys are on this list.  Tadinya list ini mau dibikin in no particular order. But where's the fun in that? So, with no further ado, ini dia pria-pria fiktif yang berhasil bikin gw jatuh cinta.

 What? Jace Wayland who? That's right. Jace and his I-was-born-amazing attitude could step aside and make room for the nerdy Simon Lewis.

Seperti yang gw bilang di review gw tentang City of Bones, instead of falling for Jace, gw malah lebih suka sama Simon yang nerdy dan agak clumsy. He's loyal. Dia jatuh cinta sama Clary selama sepuluh tahun, bahkan setelah Clary cuekin dia dan swoon over Jace, Simon tetep ada buat Clary. Hastajim. Selama baca City of Bones, gw sibuk mengirimkan toyoran-toyoran mental buat Clary yang ga nyadar ada cowok sebaik Simon di deketnya, dan dicuekin gitu aja.

Yang ngikutin fandom The Mortal Instruments pasti udah denger kalau film City of Bones akan ditayaningin Agustus 2013. Waktu gw liat Robert Sheehan didandanin pake kacamata dan rambut ikal.... Argh! Gemes banget liatnya. Serasa Simon Lewis di buku lompat ke layar! GREAT CAST! Even more reason to love Simon!

4.  Augustus Waters (The Fault In Our Stars)
Think about rollercoaster; unlit cigarette; 17-year old guys with one leg. Did those words remind you of a specific guy?

Sepertinya Gus disebut-sebut di hampir semua postingan Top 5 Book Boyfriends. Rasanya ga mungkin bikin list ini tanpa Augustus yang berhasil membuat gw menghabiskan persediaan tissue di rumah setelah dua kali baca The Fault In Our Stars. Optimisme, selera humor bahkan gombalannya jadi daya tarik Augustus. Hell, I'm terrified of roller coaster but if Augustus is on the roller coaster that only goes up then count me in!

3. Étienne St Clair (Anna and the French Kiss)
Kalau Anna mendeskripsikan Étienne sebagai 'English French American Boy Masterpiece' terus gemana gw ga head over heels gitu? Étienne ini tipe-tipe boyfriend/bestfriend gitu. Despite his issue with his family, his height and his acrophobia, he's kind of cocky. But he's really fun to be with. He has a great sense of humor and he made me Anna laugh.

2. Jase Garret (My Life Next Door)
Ini dia pacar paling sempurna edisi 2012. Serba bisa, dewasa, pinter ngurusin anak kecil dan super baik hati. Samantha Reed beruntung banget punya pacar macam Jase. Sekarang tinggal nyari kopiannya Jase di dunia nyata. Cari dimana ya?

1. Will Herondale (The Infernal Devices)
Sebenernya, dari awal gw udah tau siapa yang jadi pemegang urutan pertama dalam list ini. Tinggal ngisi urutan dua sampai lima aja. Ini dia satu-satunya tokoh fiksi yang khusus gw buatin postingan sendiri di bawah label 'Character Crush' jadi gw ga perlu panjang lebar njelasin kenapa Will ada di urutan pertama.

Selain itu, gw punya alasan personal. Will Herondale (dan The Infernal Devices) menemani gw saat melewati masa-masa putus pacar yang ribet dan bikin jengkel. In a way,  gw bersimpati sama Will Herondale yang patah hati karena cintanya pada Tessa terpaksa mentok.

Buku ketiga The Infernal Devices, Clockwork Princess, bakal terbit Maret 2013 dan gw ga sabar baca Will versi bebas-kutukan-tapi-tetep-makan-hati-karena-Tessa-udah-tunangan-sama-Jem. Kira-kira seperti apa ya dia? Masih sinis dan sarkastik kah? Apa jadi perhatian sama penghuni lain di Institut? Apa dia udah bisa ketawa? Ah, penasaran!

Sunday, December 16, 2012

The Night Circus

The circus arrives without warning. No announcements precede it. It is simply there, when yesterday it was not.

Memasuki The Circus of Dreams, seperti namanya, seperti memasuki dunia mimpi penuh keajaiban. Di balik setiap tenda bergaris hitam putih menanti berbagai wahana unik yang tidak terlupakan. Tidak heran pengunjungnya selalu menanti-nantikan The Circus of Dreams yang kedatangannya tidak diduga-duga dan hanya buka setelah matahari terbenam. Namun tidak banyak yang tahu tentang kompetisi antara dua illusionis di balik The Circus of Dreams.

Sejak kecil, tanpa mengenal satu sama lain, Marco dan Celia dilatih untuk menjadi illusionis hebat dan terikat dalam kompetisi aneh yang mereka sendiri tidak tahu peraturannya. Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya Celia mengetahui bahwa Marco adalah kompetitornya. Masalah menjadi pelik saat Celia dan Marco saling jatuh cinta dan ingin melepaskan diri dari kompetisi yang mengikat mereka. Tapi satu-satunya cara mengakhiri kompetisi berarti mengakhiri kelangsungan The Circus of Dreams.

Walaupun gw jarang membahas bentuk fisik dari buku yang gw review, tapi khusus untuk buku The Night Circus ini, perlu banget dibuat pengecualian. Without a doubt, The Night Circus hardcover US edition adalah buku paling cantik yang pernah gw punyai. Bukan hanya sekedar menampilkan gambar tenda sirkus  di sampulnya, buku ini juga dihiasi dengan warna yang menjadi tema The Circus of Dreams yaitu hitam putih/perak, lengkap dengan hologram dan taburan bintang. Cetakan UK edition pun tidak kalah cantik dengan gambar siluet Marco dan Celia pada sampulnya. Tepian kertasnya yang berwarna hitam bikin gw naksir berat! Bukunya sungguh berhasil menampilkan keajaiban dari The Circus of Dreams.

Onto the content, honestly, I was in a love/hate relationship with this book. Dari awal, buku The Night Circus sudah terasa sarat dengan deskripsi dan minim dialog. Lebih dari sekedar minim dialog, dalam beberapa bagian, saat tokohnya berdialog pun ditulis dalam kalimat pasif. Erin Morgenstern sangat mencurahkan perhatian terhadap detail, sampai yang terkecil sekalipun, seperti warna tenda, wahana dalam sirkus, warna api dalam belanga di tengah-tengah sirkus, tempat para pemain akrobat berdiri. Bahkan ada satu bab sendiri khusus untuk menceritakan proses pembuatan dan detail jam yang dipajang di gerbang sirkus! Dari awal, love/hate relationship antara gw dengan buku ini sudah dimulai. Saat membaca, gw merasa bosan dengan deskripsi panjang lebar yang terlalu mendetail dalam buku ini. Tapi saat berhenti membaca, gw kembali terbayang-bayang keajaiban The Circus of Dreams dan kepingin lanjut baca. Begitu terus, macem lingkaran setan.

Terlepas dari penulisan sarat deskripsi yang super panjang, harus diakui kalau pengarangnya punya imajinasi yang luar biasa indahnya. Dan dengan suksesnya menginterpretasikan imajinasinya kepada para pembacanya. Di awal setiap bagian pun diselipkan kisah pendek yang ditulis dengan sudut pandang orang kedua, dimana kita, pembacanya, dilibatkan sebagai pengunjung sirkus. Yang membuat gw semakin takjub, setelah membaca sekian halaman, gw menyadari bahwa kosakata yang digunakan cukup sederhana. Setidaknya gw ga bolak-balik buka kamus waktu membaca buku ini. Ga nyangka pilihan kata yang begitu sederhana bisa menerjemahkan imajinasi pengarangnya dengan begitu rinci dan nyata.

Para penulis memang punya cara sendiri untuk menyihir pembacanya. Dalam buku ini, Erin Morgestern menggunakan sirkusnya untuk menyita perhatian gw. Setelah dibuat terpesona dengan proses awal pembuatan sirkus, dari konsepnya, proses mengumpulkan para pemainnya hingga berbagai atraksi di dalam lingkungan sirkus seperti labirin awan, taman es, pohon permohonan dan pembaca tarot, setengah buku sudah gw lalui saat gw nyadar... Kok cerita tentang Marco dan Celia serta kompetisi mereka ga maju-maju ya?!

Ringkasan cerita di sampul belakang buku ini yang menggunakan kata-kata yang cukup provokatif macam  'fierce competition' dan 'duel' sebaiknya tidak usah terlalu diambil hati. Tidak ada duel saling mengacungkan tongkat a la Harry dan Draco disini. Kata 'fierce' mungkin lebih mengacu pada kemampuan Marco dan Celia. Tetep aja, ga bisa disalahin juga sih kalau banyak yang protes gara-gara ringkasan bukunya.

However, selama baca buku ini, sejujurnya gw ga terlalu menikmati jalan ceritanya yang maha lambat. Kompetisi yang sepertinya jadi inti cerita terus jadi tanda tanya sampai hampir mendekati akhir buku. Bahkan sampai sejarah dari kompetisi aneh ini dibahas, tidak banyak yang diceritakan. Latar belakang kedua pelatih yang menciptakan kompetisi ini pun tidak diceritakan. Yang gw tangkap hanya: Ya pokoknya ada kompetisi dari jaman dulu kala, titik. Hubungan antara Marco dan Celia pun tidak kalah lambatnya. Buku ini diceritakan dengan alur bolak-balik dengan setting waktu dan tempat yang berpindah-pindah, ditandai oleh tanggal yang dicantumkan di setiap awal bab. Lambatnya plot antara Marco dan Celia bukan hanya terasa lambat karena sedikitnya interaksi mereka tapi memang lambat, dilihat dari tahun-tahun yang mereka lalui.
Prague, 1894. 
Marco: "I would very much like to speak with you, if you care to join me for a drink."
Celia: "Of course you would. Perhaps another time."

London, 1896.
Marco: "I was hoping I could trouble you for that drink we did not have in Prague"

London, 1899.
But before she can vocalize her surprise, his lip close over hers and she is lost in wordless bliss. Marco kisses her as though they are the only two people in the world.

Apa yang terjadi antara Marco dan Celia di antara tahun-tahun di atas? Jawabannya: tidak dibahas. Dengan plot yang begitu lambat di dua pertiga awal buku, seakan-akan mau mengejar ketertinggalan, plot baru dikejar habis-habisan di sepertiga akhir buku. Saat menuju akhir cerita, baru lah buku ini dipenuhi dengan dialog dan interaksi antar para tokohnya.

Pada akhirnya, sepertinya terlalu berlebihan kalau gw mengategorikan buku ini sebagai 'jelek'. Toh ada saat-saat dimana gw menikmati membaca buku ini dan terbawa dalam keajaiban The Circus of Dreams. Kontras dengan setting tempat yang begitu kuat, plot dan penokohan di buku ini sangat lemah. Gw tau banyak juga pembaca yang menikmati The Night Circus. Mungkin pada akhirnya, bagus atau tidaknya buku ini lebih ditentukan oleh selera pribadi. Sedangkan pendapat gw, sepertinya buku ini bukan buat gw.